Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014: Penyelamat
Bayangan itu berhenti di depannya.
Keira masih belum bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, tetapi ia mengenali satu hal lebih dulu daripada matanya.
Aroma cedar yang dingin.
Napasnya yang tertahan langsung lepas.
"Pak Darren..."
Sebelum suaranya selesai, pria itu sudah berlutut di tanah. Jas berkudanya yang gelap menyentuh rumput basah, tetapi ia seolah tidak merasakannya. Tangannya menangkup bahu Keira, tidak keras, tetapi cukup kuat untuk menahan tubuhnya yang hampir roboh lagi.
"Jangan bergerak."
Suara Darren rendah.
Terlalu rendah.
Keira pernah mendengar nada dinginnya ketika menghadapi Om Yuwono, pernah melihat wajahnya tanpa ekspresi di depan anggota keluarga Hendrawan. Namun kali ini berbeda. Di bawah ketenangan itu ada sesuatu yang hampir retak.
"Kepalamu terbentur?"
"Tidak tahu." Keira mencoba tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. "Sepertinya tanahnya yang lebih sakit."
Darren tidak tersenyum.
Matanya turun memeriksa wajahnya, lalu lengan, lutut, dan telapak tangan. Saat melihat darah di telapak tangan Keira, rahangnya mengeras begitu jelas sampai Keira lupa bernapas.
"Siapa yang mengizinkanmu bercanda?"
"Saya hanya..."
"Diam dulu."
Kata itu terdengar seperti perintah, tetapi tangannya sangat hati-hati ketika mengangkat telapak tangan Keira. Ia mengeluarkan saputangan putih dari saku dalam, melipatnya cepat, lalu menekannya pada luka kecil yang berdarah.
Keira mendesis pelan.
Jari Darren berhenti sepersekian detik.
"Sakit?"
"Sedikit."
Di belakangnya, suara langkah berlari semakin dekat. Rio Kurniawan muncul lebih dulu bersama dua petugas keamanan, disusul Pak Ji, Ningsih, dan beberapa orang dari arena. Wajah Ningsih pucat ketika melihat Keira duduk di tanah.
"Mbak Keira!"
"Saya tidak apa-apa," kata Keira cepat.
Namun suara itu bahkan tidak sampai membuat Darren menoleh.
Rio menunduk. "Pak Darren, area sudah diamankan."
Darren membantu Keira berdiri. Satu tangannya menopang punggung Keira, satu lagi menjaga tangan Keira yang dibalut saputangan. Gerakannya tidak terburu-buru, tetapi setiap orang di sana otomatis memberi jalan.
Ketika mereka kembali ke area tengah, keramaian yang tadi penuh bisik-bisik mendadak sunyi.
Diana Anggraeni berdiri di dekat pagar dengan wajah dibuat khawatir. Felicia Tanuwidjaja berada di sisinya, bibirnya rapat, matanya menilai situasi terlalu cepat untuk disebut panik.
"Ko Darren," Diana membuka suara lebih dulu. "Tadi benar-benar menakutkan. Untung Keira tidak..."
"Siapa yang bertanggung jawab atas pemeriksaan perlengkapan hari ini?"
Suara Darren memotongnya.
Tidak keras.
Justru karena tidak keras, semua orang seperti kehilangan keberanian untuk bernapas.
Manajer klub bergegas maju dengan wajah berkeringat. "Kami, Pak Darren. Semua pelana diperiksa pagi ini. Saya bisa pastikan..."
"Periksa lagi."
Rio tidak menunggu perintah kedua. Ia memberi isyarat pada petugas keamanan dan dua staf kandang. Pelana yang dipakai Keira segera dibawa ke sisi arena. Semua orang menonton ketika Rio membalik bantalan pelana dan memeriksa bagian bawahnya.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Rio berhenti.
Ia mengangkat sesuatu dengan pinset kecil dari kotak peralatan staf.
Sebuah jarum logam tipis.
Ukurannya tidak lebih panjang dari ruas jari, hampir tidak terlihat jika tidak dicari dengan sengaja. Tetapi ujungnya tajam, tersembunyi di bagian bawah pelana, tepat di posisi yang akan menekan punggung kuda saat tubuh penunggang bergerak.
Keira merasakan dingin naik dari telapak kakinya.
Jadi bukan kuda itu tiba-tiba gila.
Seseorang memang ingin ia jatuh.
Manajer klub langsung pucat. "Itu... itu tidak mungkin ada di sana saat pemeriksaan pagi, Pak. Kami tidak akan pernah..."
"Rekaman kandang."
Rio segera mengangkat tablet yang dibawa salah satu staf. Setelah beberapa menit yang terasa seperti satu musim hujan, ia berjalan ke arah Darren.
"Pak Darren, kamera samping tidak menangkap seluruh sudut. Tapi ada satu rekaman." Rio menatap Diana sebentar. "Asisten Nona Diana masuk ke kandang sebelum sesi dimulai. Sendirian. Dia mendekati kuda yang dipilih untuk Nona Keira."
Semua pandangan beralih ke Diana.
Wajah Diana berubah cepat. Terlalu cepat.
"Ini fitnah." Ia tertawa kecil, tetapi nadanya pecah. "Asisten saya mungkin hanya lewat. Lagi pula, apa urusannya saya dengan kuda itu? Keira sendiri yang tidak bisa berkuda. Semua orang melihatnya."
Keira menatapnya tanpa berkedip.
Kalimat itu seharusnya menyakitkan, tetapi saat ini yang ia rasakan hanya aneh. Seperti melihat seseorang menggali lubangnya sendiri sambil tetap yakin orang lain yang akan jatuh.
Darren melepas tangan dari punggung Keira, tetapi hanya setelah memastikan Pak Ji sudah berdiri di sisi lain untuk menopangnya.
Ia berjalan dua langkah ke depan.
Diana tanpa sadar mundur setengah langkah.
"Kamu boleh menjelaskan pada polisi," kata Darren.
Wajah Diana membeku. "Ko Darren, kamu tidak serius. Ini hanya kecelakaan kecil. Dia bahkan tidak terluka parah."
Udara di sekitar Darren turun beberapa derajat.
"Diana."
Satu nama.
Tidak ada kemarahan yang meledak, tidak ada ancaman panjang. Namun Keira melihat beberapa pria dewasa di belakang Diana menundukkan mata, seolah nama itu sudah berubah menjadi vonis.
"Mulai hari ini, kamu dan keluargamu bukan lagi rekan Hendrawan."
Sunyi.
"Ayahmu akan menerima pemberitahuan resmi besok pagi."
Wajah Diana kehilangan warna.
"Ko Darren..."
"Dan jangan panggil saya Ko."
Kalimat terakhir itu jatuh lebih pelan, tetapi efeknya lebih kejam daripada teriakan.
Keira mendengar seseorang menarik napas tajam di antara kerumunan. Orang-orang yang tadi menonton dengan rasa ingin tahu kini memandang Diana seperti melihat papan nama yang sudah dicopot dari pintu sebuah klub eksklusif.
Di Jakarta, ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan dengan dokumen.
Satu kalimat Darren sudah cukup.
Diana membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Felicia yang sejak tadi berdiri di sampingnya perlahan menurunkan pandangan. Tangannya mencengkeram tali tas kecilnya, buku-buku jarinya memutih, namun ia tidak maju membela.
Keira menangkap gerakan itu.
Felicia takut.
Bukan karena kasihan pada Diana.
Karena ia sadar jarak antara dirinya dan kehancuran hanya setipis bukti.
"Rio," kata Darren.
"Siap, Pak."
"Serahkan rekaman, jarum, dan staf terkait pada polisi. Klub akan mengirim laporan tertulis. Jangan ada yang keluar sebelum identitasnya dicatat."
"Baik."
Darren berbalik pada Keira. Semua dingin di wajahnya seolah terlipat rapi dan disimpan di tempat yang tidak bisa disentuh orang lain.
"Kita pulang."
Keira ingin berkata ia masih bisa berjalan sendiri.
Namun ketika Darren menatapnya, kalimat itu hilang sebelum sempat lahir.
Ia hanya mengangguk.
Di dalam mobil, dunia menjadi lebih sempit.
Hanya ada aroma kulit jok, suara mesin yang halus, kotak P3K di pangkuan Darren, dan telapak tangan Keira yang dibuka perlahan di atas saputangan berdarah.
Ningsih duduk di depan bersama sopir, berkali-kali menoleh dengan mata cemas. Pak Ji dan Rio tertinggal di klub untuk mengurus laporan. Mobil yang membawa mereka keluar dari area berkuda terasa jauh lebih sunyi daripada saat datang.
Darren menuangkan antiseptik ke kapas.
Keira langsung menegakkan punggung.
"Pak Darren, mungkin tidak perlu terlalu..."
"Perlu."
"Lukanya kecil."
"Telapak tangan banyak bergerak. Kalau kotorannya tidak dibersihkan, besok bengkak."
Nada itu terdengar seperti dokter yang galak, meski wajahnya lebih pucat daripada dokter mana pun yang pernah Keira temui.
Kapas menyentuh luka.
Keira menggigit bibir, tetapi tetap mengeluarkan suara kecil.
Darren mengangkat mata.
"Jangan tahan."
"Sebenarnya tidak terlalu sakit."
Darren kembali menunduk, menekan kapas dengan lebih hati-hati di sekitar luka. "Sakit atau tidak, bukan kamu yang menentukan."
Keira terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Bahkan terdengar tidak masuk akal.
Dalam hidupnya, rasa sakit selalu menjadi urusannya sendiri. Kalau ia bilang tidak sakit, orang lain akan lega. Kalau ia bilang bisa tahan, orang lain akan pergi. Di Panti Harapan, di rumah keluarga Salim, bahkan dalam kehidupan yang ia ingat samar-samar seperti mimpi buruk panjang, ia belajar bahwa cara tercepat untuk bertahan adalah mengecilkan luka sampai tidak merepotkan siapa pun.
Tetapi pria ini justru marah karena ia mengecilkannya.
Marah karena ia terluka.
Marah karena ia berpura-pura tidak sakit.
Darren membalut telapak tangannya dengan kasa putih. Gerakannya teliti, hampir terlalu lembut untuk seseorang yang baru saja menghancurkan masa depan sosial Diana dengan satu kalimat.
Keira menatap puncak kepala pria itu, lalu garis bibirnya yang semakin pucat.
"Pak Darren."
"Hm."
"Tadi... terima kasih."
Jari Darren berhenti di simpul perban.
"Untuk apa?"
"Untuk datang lebih dulu."
Ia mengikat perban terakhir, lalu menutup kotak P3K. "Aku seharusnya tidak membiarkanmu jatuh."
Keira ingin tertawa, tetapi dadanya terasa penuh.
"Kuda yang disabotase bukan salah Pak Darren."
Darren menatapnya.
Matanya gelap, dalam, dan sulit dibaca.
"Selama kamu berada di sisiku, lukamu tetap tanggung jawabku."
Kali ini Keira benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Mobil terus melaju menuju Menteng. Matahari mulai turun, memantulkan warna jingga di kaca jendela. Keira menunduk pada perban di telapak tangannya, lalu diam-diam menyentuh ujung saputangan Darren yang masih bernoda darah di pangkuannya.
Untuk pertama kalinya, luka kecil itu tidak terasa memalukan.
Ia merasa dilihat.
Dan perasaan itu jauh lebih berbahaya daripada rasa sakit.
Ketika mobil memasuki gerbang compound, Keira baru menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari perhatiannya.
Darren bersandar lebih diam dari biasanya.
Wajahnya sangat pucat.
Bibirnya hampir tidak berwarna.
Keira menatap kalender kecil di layar ponsel Ningsih yang menyala di kursi depan.
Besok tanggal lima belas.