GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Bintang Film, Troli Berjalan, dan Rahasia Peternakan
Arka mencondongkan tubuhnya ke depan, memicingkan mata, menatap lekat-lekat wajah mungil nan imut di balik tudung hoodie hitam tersebut. Detik demi detik berlalu hingga otak manusia Arka akhirnya berhasil mencocokkan wajah ubur-ubur neon di depannya dengan poster-poster raksasa yang sering ia lihat di stasiun orbital Bumi.
Mata Arka membulat sempurna. Ia menggebrak meja pualam itu dengan antusias.
"Bentar... kau yang main jadi agen rahasia di film Agent Wreck: Quantum Eclipse itu, kan?!" seru Arka tak tertahan.
"Itu film yang ketiganya," koreksi Hector santai sambil mengaduk minumannya.
"Woooo! Gila, aku ketemu artis cuy!" Suara Arka naik satu oktaf, benar-benar melupakan ejekan sarkas dari Tom beberapa saat yang lalu.
Mendengar volume suara Arka yang menggelegar di dalam restoran, Tom langsung panik. Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja dan mendesis tajam. "Ssshhh! Tenangin dirimu, Monyet nggak ada bulu! Nanti aku ketahuan sama pengunjung lain, tahu nggak?!"
Arka buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu tertawa pelan. "Oh, oh, maaf, maaf! Aku lupa kalau artis kelas galaksi itu pasti banyak paparazinya. Habisnya kaget banget. Btw, di film itu, adegan lompat dari orbital elevator yang meledak itu... beneran bukan pakai CGI?"
Tom memperbaiki posisi topi hitamnya, wajahnya kembali menampakkan senyum angkuh dan sarkas yang menjadi ciri khasnya. "Iya dongs. CGI itu cuma buat amatiran yang takut lecet. Semua aksi berbahayaku itu asli."
"Weeeeh, hebaaaat bener!" puji Arka takjub, lalu menoleh menepuk bahu Hector. "Gila, nggak nyangka aku temenmu itu artis papan atas loh, Hec."
Hector mendengus geli. "Lebih ke aku sih yang nggak nyangka kalau si bagong satu ini bisa main film dan sukses. Padahal pas muda kerjanya cuma tiduran nggak jelas."
"Enak aja kau ngomong," sungut Tom sambil menendang kaki kursi Hector dari bawah meja.
"Gimana kabarmu sendiri, Ka?" Hector mengalihkan pembicaraan, menatap sahabat manusianya itu dengan hangat. "Jadi kapten kapal logistik enak nggak?"
Arka tertawa renyah, lalu mulai menceritakan keluh kesahnya. Mulai dari insiden Pipi yang menghancurkan tengkorak kadal terbang raksasa, hingga omelan Direktur perusahaan. Di sudut restoran Ninovia yang remang-remang itu, ketiga pria beda ras itu pun menghabiskan sore dengan mengobrol lepas, menertawakan masa lalu, dan sekadar melepas kerinduan.
***
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di sebuah pusat perbelanjaan raksasa Ninovia Grand Galleria yang gemerlap di jantung Kota Cucurville...
Pemandangan yang cukup memprihatinkan sedang terjadi di tengah lautan alien yang berlalu-lalang di bawah pendar neon bertuliskan ZORVEX FASHION dan GLOOMIE TREATS.
Eiden, sang perwira operasi GPS Andromeda yang baru, berjalan gontai menyeret langkahnya. Pemuda dengan kulit biru pucat bertekstur kristal es tajam itu tampak sangat kewalahan. Meski ia sudah memakai hoodie hitam dan celana kargo yang nyaman, kedua tangannya penuh memeluk tas-tas belanjaan berlogo Celestial Threads dan butik-butik mahal lainnya. Wajah bersisik esnya berkerut menahan beban.
"Bu Lyra..." keluh Eiden dengan napas terengah-engah dari balik tumpukan belanjaan. "Serius nanya nih, kenapa harus saya yang bawa semua barang-barang ini?"
Di depannya, Lyra melangkah dengan sangat percaya diri. Rambut tebal menyerupai sulur-sulur dreadlock bergoyang pelan mengikuti langkahnya, sementara cincin-cincin emas yang menghiasinya sesekali beradu mengeluarkan bunyi nyaring. Deretan mata ungu di dahinya menoleh singkat ke arah Eiden, membuat pemuda itu refleks menelan ludah. Crop top hitam yang dipadukan dengan celana kargo penuh rantai semakin memperkuat kesan liar sekaligus percaya diri yang selalu melekat pada sang pilot.
Mendengar keluhan juniornya, Lyra menoleh lewat bahu. Mata-mata ungunya menatap Eiden dengan raut tanpa dosa.
"Kamu kan anak baru, Eiden," jawab Lyra santai. "Hukum alam di kapal kita itu sederhana: junior harus patuh dan berbakti pada seniornya."
Di sebelah kiri Lyra, Brakkor berjalan santai dengan langkah-langkah besarnya. Penampilan Chief Engineer ras Raukhar ini sungguh berbanding terbalik dengan reputasi garangnya di ruang mesin. Kaos hitam bergambar truk heavy metal bertuliskan "BRULUK" tampak hampir kewalahan membungkus tubuh raksasanya yang berkulit merah gelap dan bertanduk tajam. Dengan santainya ia menyedot boba di tangan kanan seolah ukuran tubuhnya yang menjulang tidak cukup menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Mendengar perdebatan itu, Brakkor menyedot minumannya lalu menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu mah bukan berbakti namanya, Lyr. Itu pembulian," tegur Brakkor dengan suara beratnya, meski ujung bibirnya menyunggingkan tawa geli.
Lyra mendengus, merotasikan beberapa lengannya sekaligus. "Heh, aku ini kan perempuan. Masa kalian tega sih membiarkan gadis secantik dan seanggun ini harus angkat-angkat barang keliling mal?"
Eiden melirik gaya berpakaian Lyra yang lebih mirip anggota geng motor galaksi daripada putri keraton. "Anggun dari mananya coba..." gerutu Eiden pelan, nyaris berbisik pada dirinya sendiri.
Namun, telinga Lyra cukup tajam. Keenam mata ungunya langsung memicing tajam ke arah Eiden, membuat nyali pemuda kristal itu seketika ciut dan kembali fokus menyeimbangkan tas belanjaannya.
"Lagian, tumben kau belanja kalap begini, Lyr?" Brakkor kembali bertanya. "Biasanya di kapal kaulah yang paling pelit dan perhitungan soal pengeluaran."
"Barang-barang di Ninovia tuh kualitasnya beda, tahu," dalih Lyra, matanya kembali berbinar melihat etalase gadget di depan mereka. "Rute kita kan nggak menentu. Belum tentu kita mampir ke planet metropolitan kayak gini lagi. Jadi mumpung di sini, ya sekalian aja diborong. Lagian ngapain sih Bapak ikutan ngintil? Aku kan cuma ngajak Eiden ke mal ini buat kujadiin troli berjalan."
"Hei..." Eiden memprotes lemah, merasa harga dirinya sebagai perwira benar-benar hancur.
Brakkor tertawa lepas, tawanya terdengar bergemuruh ringan. "Aku juga mau mampir ke toko baju anak. Mau beliin oleh-oleh buat anak-anakku di rumah. Lihat nih, anak-anakku udah pada gede semua sekarang, tambah imut-imut pula."
Brakkor meletakkan gelas bobanya di tangan kiri, lalu merogoh saku besarnya dan mengeluarkan sebuah sabak digital. Ia membuka kunci Private Data layarnya dan menunjukkan sebuah foto keluarga holografik ke arah Lyra dan Eiden.
Foto holografik itu langsung muncul melayang di atas tablet. Di tengahnya berdiri seorang wanita Raukhar bergaun hitam elegan dengan senyum hangat. Di sekelilingnya berjejer tiga belas anak bertanduk kecil yang semuanya menyeringai lebar ke arah kamera dengan pakaian kasual yang seragam. Di belakang mereka tampak padang rumput luas tempat beberapa sapi alien putih bercorak ungu sedang merumput dengan tenang.
"Waaah..." gumam Eiden takjub. "Banyak banget anak Bapak?! Emangnya gaji Chief Engineer di GPS cukup buat ngasih makan sebanyak ini, Pak?"
Brakkor menyimpan kembali tabletnya dengan senyum kebapakan. "Yah, kalau cuma ngandelin gaji dari kapal kargo mah mana cukup, Den. Kau tahu kan ras Raukhar itu dari sananya suka beternak. Aku di rumah juga punya lahan peternakan yang lumayan luas. Pas aku lagi dinas antar-galaksi begini, istriku yang ngurus semuanya."
Mata Lyra mendadak berbinar rindu, melupakan sejenak ego belanjanya. "Duh, lihat foto istrimu aku jadi pengen main ke sana lagi rasanya. Kangen banget aku sama semur daging buatan istrimu."
"Mainlah ke sana kalau ekspedisi ini udah selesai nanti," tawar Brakkor hangat. "Kau juga boleh mampir kalau mau, Eiden."
"Oh iya, ras Raukhar itu memang peternak ya?" tanya Eiden penasaran, mencoba mengabaikan pegal di lengannya. "Di planet apa sih, Pak, peternakannya? Kalau ada jatah cuti, saya usahakan mampir deh."
"Di Planet Brumera, di galaksi Pegasus. Nanti kamu wajib cobain masakan buatan istri saya, Den. Si Lyra ini aja dulu pas mampir sampai nambah tiga piring makan semurnya. Hahaha."
"Wah, jadi makin penasaran saya, Pak," ucap Eiden.
Lyra tiba-tiba menyeletuk dengan nada yang mendadak serius. "Makanannya memang enak luar biasa, Den. Tapi... kalau kau ke sana, asal jangan coba-coba main ke area kandang peternakannya aja."
Brakkor menoleh ke arah Lyra, seringai usil muncul di wajah batunya. "Bwahahahaha! Ah, bener juga. Aku jadi ingat kejadian waktu kau nekat masuk ke kandang dan dikejar..."
Wajah biru keunguan Lyra mendadak pucat. Dalam gerakan secepat kilat, dua dari lengannya terulur ke depan dan membekap erat mulut raksasa Brakkor dengan panik.
"Mmmmm! Mmm! Mmmmm!" Brakkor memberontak pelan sambil tertawa tertahan di balik bungkaman tangan Lyra.
"NGGAK USAH DICERITAIN!!!" ancam Lyra dengan seluruh mata ungunya melotot panik, sebelum akhirnya melepaskan tangannya setelah Brakkor mengangguk mengalah.
"Hahaha, kenapa sih?" goda Brakkor, menyeka sudut bibirnya yang sedikit terkena boba. "Kan itu kejadian udah lama banget."
"Pokoknya nggak usah dibahas! Titik!" desis Lyra memalingkan wajahnya yang memerah, lalu mempercepat langkahnya masuk ke toko sebuah toko untuk mengalihkan rasa malunya.
Eiden hanya bisa berdiri mematung di tengah mal, kebingungan meraba-raba rahasia gelap apa yang sebenarnya terjadi pada sang pilot senior di kandang peternakan ras Raukhar itu. Sayangnya, tak ada waktu bagi Eiden untuk berpikir lebih jauh. Ia harus bergegas menyusul langkah Lyra, pasrah menerima takdirnya sebagai kuli panggul pribadi sang senior.
***
Dua jam kemudian.
Tepat ketika Arka baru saja memesan camilan ronde ketiga di restoran bersama Tom dan Hector, dan Eiden nyaris pingsan karena jumlah kantong belanjanya bertambah dua kali lipat di mal, sebuah notifikasi merah berbunyi serempak dari perangkat komunikator seluruh awak kapal GPS Andromeda yang sedang tersebar di Kota Cucurville.
Notifikasi itu memutar pesan siaran langsung dengan kualitas audio yang sangat tajam.
"Tes... tes. Perhatian kepada seluruh kru biologis rendahan yang saat ini sedang asyik menghamburkan uang gajinya di luar sana..." Suara YUI yang bernada datar namun dipenuhi ancaman pasif-agresif ala gadis gothic menggema di telinga mereka.
"Diharapkan untuk segera menyeret kaki kalian pulang ke kapal sekarang juga. Biaya parkir pelabuhan NSP ini dihitung per menit, dan argometernya sudah nyaris jebol limit perusahaan. Jika kalian tidak muncul di palka dalam waktu tiga puluh menit, aku bersumpah demi inti reaktor kapal, aku akan menyalakan mesin dan meninggalkan kalian semua membusuk di planet ubur-ubur neon ini. Sekian dan jangan sampai ada yang telat."
Di restoran, Arka langsung tersedak makanannya.
Di mal, Lyra mendengus kesal dan terpaksa membatalkan niatnya mencoba sepatu bot antigravitasi model terbaru.
Merekapun harus kembali ke realita kerasnya menjadi kurir paket antar-galaksi.