Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ice melangkah masuk ke dalam bangsal.
Keempat anggota keluarga Meng langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.
“Akhirnya kau datang juga. Ternyata kau masih ingat kalau punya keluarga,” sindir Ric.
“Dasar anak durhaka!” bentak Lulu. “Kami terluka sampai masuk rumah sakit, tapi kau tidak peduli. Bahkan biaya pengobatan kami pun kau tidak mau bayar.”
“Kak, hanya jadi simpanan pria kaya saja, apa yang perlu disombongkan?” ejek Nic sambil tertawa sinis. “Suatu saat kau juga akan dicampakkan setelah bosan dipakai.”
Tatapan Ice berubah dingin.
Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah menghampiri Nic.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Nic.
“Aah!”
Nic memegangi wajahnya dengan mata melotot.
“Kau... kau berani menamparku?”
“Kenapa? Kau lebih muda dariku,” jawab Ice dengan suara dingin. “Karena selama ini tidak ada yang mendidikmu, biar aku yang melakukannya. Mulutmu selalu merendahkan orang lain. Padahal biaya sekolahmu selama ini berasal dari hasil keringatku.”
“Ice! Apa kau sudah gila?” bentak Lulu.
“Dia adikmu! Anak laki-laki harapan keluarga Meng. Beraninya kau menyentuhnya!”
Lulu mengangkat tangan hendak menampar Ice.
Namun Ice menatapnya tanpa rasa takut.
“Silakan saja. Kalau bisa, bunuh aku sekalian. Selama ini, di mata kalian aku hanya mesin pencari uang.”
Ice tertawa pahit.
“Harapan keluarga? Mereka berdua?” Ia menunjuk ke arah Ric dan Nic.
“Yang satu pengangguran, setiap hari hanya makan dan tidur. Yang satu lagi nilai sekolahnya selalu paling rendah, tetapi terus dimanja. Terkadang aku berpikir... lebih baik uang hasil kerjaku kubelikan makanan untuk anjing liar di jalan. Setidaknya mereka tahu cara membalas kebaikan, tidak seperti kalian.”
“Ice, jaga mulutmu!” bentak Lowie. “Mereka adalah kakak dan adikmu. Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu kepada mereka?”
Ice menatap pria itu dengan tatapan kecewa.
“Ketika mereka menghina aku, kalian semua diam saja. Tapi ketika aku membela diri, kalian justru menyalahkanku. Apakah aku benar-benar dianggap sebagai manusia oleh kalian?”
Ice mengepalkan tangannya.
“Dan hari ini aku baru tahu... ternyata aku bukan anak kandung kalian.”
Ekspresi Lulu berubah sesaat.
“Walaupun bukan anak kandung, lalu kenapa?” sanggah Lulu cepat. “Kenyataannya kami yang membesarkanmu sejak kecil.”
Ice tersenyum pahit.
“Benar. Kalian membesarkanku. Tapi selama ini apa yang kalian lakukan? Kalian hanya tahu memanfaatkanku.”
Tatapannya beralih kepada Ric dan Nic.
“Kalian bahkan ingin menjualku kepada duda kaya hanya demi dua anak laki-laki kalian yang tidak berguna ini.”
“Kurang ajar!”
Lulu mengangkat tangan dengan marah.
Namun kali ini Ice langsung menangkap pergelangan tangan ibunya sebelum tamparan itu mengenai wajahnya.
“Jangan sentuh aku lagi.”
Suara Ice terdengar dingin.
“Kalian memiliki dua anak laki-laki, tapi kalian tetap tidak bisa membuat mereka menjadi orang yang bertanggung jawab. Sebaliknya, kalian menjadikan aku sebagai orang yang harus menanggung semuanya.”
Lowie langsung berdiri dengan marah.
“Apa kau sudah bosan hidup? Berani sekali kau berbicara seperti ini kepada kami!”
“Jangan merasa kalian berhak melakukan semua ini kepadaku,” jawab Ice dengan tatapan dingin.
“Karena aku bukan anak kandung kalian, aku bisa menolak untuk terus membayar semua biaya kalian.”
Lulu dan Lowie langsung terdiam.
Ice melanjutkan dengan suara tegas.
“Selain itu, aku juga bisa melaporkan kalian karena selama ini memperlakukanku seperti seorang alat. Kalian memaksaku bekerja, mengambil semua uangku, bahkan sekarang kalian ingin menjualku demi kepentingan kalian sendiri.”
Wajah Lulu berubah pucat.
“Ice, kau...”
“Selama ini aku selalu berpikir kalian adalah keluargaku,” potong Ice.
“Aku menahan semua penderitaan karena menganggap kalian adalah orang yang harus aku lindungi.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Tapi ternyata, bagi kalian aku hanya seseorang yang bisa dimanfaatkan.”
“Ice Meng, kalau bukan karena Papa dan Mama yang membawamu pulang dari panti asuhan, mana mungkin kau bisa memiliki keluarga seperti ini,” ketus Ric.
Ice menoleh perlahan, menatap mereka dengan tatapan yang penuh luka.
“Kau benar.Kalau bukan karena kalian membawaku keluar dari panti asuhan, mungkin aku tidak akan mengenal keluarga seperti ini.”
Ice tersenyum pahit.
“Tapi sekarang aku lebih memilih tidak pernah memiliki keluarga seperti kalian.”
Ric membelalakkan mata.
“Ice!”
“Aku lebih baik menjadi anak yatim daripada terus hidup sebagai alat untuk memenuhi keinginan kalian.”
Setelah berkata demikian, Ice berbalik dan melangkah pergi meninggalkan bangsal.
“Kalau dia pergi begitu saja, siapa yang akan membayar biaya pengobatan kita?” tanya Ric dengan panik.
“Dia tidak boleh pergi!” jawab Lulu.
Lulu segera mengejar langkah Ice hingga ke koridor rumah sakit.
“Ice Meng!”
Ice berhenti berjalan.
“Setelah dua puluh tahun kau menjadi anak kami, sekarang kau ingin pergi begitu saja?” bentak Lulu. “Siapa yang memberimu makan selama ini?”
Ice perlahan berbalik.
Tatapannya tidak lagi memiliki rasa takut.
“Kalian memberiku makan, tapi itu tidak sebanding dengan semua yang telah aku lakukan untuk kalian.”
Suara Ice terdengar penuh luka.
“Selama ini aku menanggung biaya hidup empat orang. Aku bekerja setiap hari, tapi bahkan aku sendiri tidak punya uang untuk membeli makanan. Aku harus menahan lapar agar kalian bisa makan.”
Lulu terdiam.
“Apa kalian pernah bertanya kepadaku apakah aku sudah makan? Tidak. Yang kalian pedulikan hanya uang. Uang dan uang. Ketika aku tidak punya tempat tinggal, kalian bahkan tidak mengizinkanku pulang. Kalian tahu aku bisa saja tidur di jalanan, tapi kalian tidak peduli.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Sekarang kalian masih berani mengatakan aku adalah anak kalian?”
"Ice Meng, jangan lupa apa margamu, kau bermarga Meng telah dua puluh tahun," ketus Lulu.
"Kalau begitu, aku akan menghapus margaku," jawab Ice yang langsung beranjak pergi.
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya