NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Hari ketiga turnamen dimulai dengan langit yang lebih cerah dari dua hari sebelumnya.

Kabut yang kemarin masih menggantung di atas lembah Jiuyang sudah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh langit biru bersih yang terasa seperti kontradiksi dengan situasi yang semakin tidak sederhana di bawahnya.

Lin Chen menyiapkan sarapan dengan ritme yang tidak berubah.

Di ruang makan, suasananya berbeda dari dua pagi sebelumnya. Bukan tegang seperti hari pertama, bukan lelah seperti hari kedua. Ini sesuatu yang lebih susah didefinisikan — keheningan orang-orang yang sudah melewati cukup banyak untuk tidak lagi perlu mengisi keheningan dengan kata-kata yang tidak perlu.

Wei Peng makan dengan tangan kanan — tangan kirinya tidak terangkat sama sekali ke meja. Kemarin dia kalah. Lawannya dari Sekte Pedang Selatan menghantam bahunya dengan teknik yang merusak meridian di satu titik, bukan parah tapi cukup untuk membuatnya tidak bisa bertarung selama beberapa hari ke depan.

Lin Chen meletakkan sup hangat di depannya tanpa berkata apapun.

Wei Peng tidak mengucapkan terima kasih. Tapi tangannya langsung mengambil sendok.

Cukup.

Rombongan berangkat seperti biasa.

Tapi kali ini formasi berjalannya berbeda — Wei Peng tidak ikut ke arena, dia ditinggal di penginapan atas perintah Sesepuh Duan. Tujuh orang yang pergi, satu yang tertinggal bersama Lin Chen.

Pintu menutup.

Lin Chen menatap Wei Peng yang duduk di kursi ruang makan dengan bahu kiri yang sedikit membungkuk — bukan karena sakit yang tidak tertahankan, tapi karena cara tubuh seseorang duduk saat harga dirinya yang lebih sakit dari lukanya.

'Kalah di hari kedua. Tidak bisa melanjutkan,' Lin Chen menyimpulkan dengan sangat datar. 'Untuk murid yang sudah berlatih bertahun-tahun, itu bukan sekadar kekalahan pertandingan.'

Dia masuk ke dapur, mulai membereskan peralatan sarapan.

"Kau tidak perlu terus mondar-mandir di dapur itu," suara Wei Peng keluar tiba-tiba — bukan kasar, tapi tidak ramah juga. Nada orang yang tidak dalam kondisi untuk basa-basi. "Aku tidak butuh diawasi."

"Pelayan tidak mengawasi," Lin Chen menjawab dari balik pintu dapur. "Pelayan mencuci piring."

Keheningan.

Lalu suara kursi yang bergeser.

Setengah jam kemudian, Wei Peng berdiri di ambang pintu dapur dengan ekspresi yang sudah sedikit lebih terkontrol.

"Ada yang bisa kulakukan?" tanyanya pelan. Bukan menawarkan bantuan — lebih seperti orang yang tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya yang menganggur dan tidak tahan dengan perasaan itu.

Lin Chen meliriknya sekilas.

"Bisa kupas bawang dengan satu tangan?"

Wei Peng menatapnya selama dua detik.

"Bisa."

"Duduk di sana."

Mereka bekerja dalam keheningan yang berbeda dari keheningan tadi — bukan keheningan orang yang menghindari sesuatu, tapi keheningan orang yang sedang sibuk dengan sesuatu yang konkret dan membiarkan hal-hal lain menunggu sebentar.

Wei Peng mengupas bawang dengan tangan kanannya saja, pelan tapi tidak berantakan. Lin Chen memotong bahan lain, menyiapkan kaldu untuk makan siang.

Tidak ada yang berbicara selama hampir satu jam.

Siang hari, kabar pertama dari arena masuk melalui Sesepuh Duan yang kembali sebentar untuk mengambil sesuatu.

Chen Hao menang. Lawan dari Sekte Harimau Besi — sekte kelas dua yang muridnya terkenal dengan teknik tubuh yang keras. Chen Hao menang bukan dengan kekuatan tapi dengan kecepatan, memanfaatkan ketidakstabilan kultivasinya yang selama ini jadi kelemahan sebagai sesuatu yang tidak bisa diprediksi lawan.

Fang Rui menang tipis. Luo Mei menang dengan bersih menggunakan formasi.

Zhou Bin kalah.

Su Qingxue belum turun — pertandingannya dijadwalkan sore hari.

Sesepuh Duan pergi lagi tanpa banyak bicara.

Wei Peng yang mendengar semuanya dari kursinya di ruang makan tidak berkata apapun. Tangannya yang tadi mengupas bawang berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi.

Lin Chen mengaduk kaldu dengan ritme yang tidak berubah.

'Taixuan tiga menang dua kalah dari enam murid. Su Qingxue belum turun. Hasil sore ini akan sangat menentukan.'

'Dan luka di lengan kiri Su Qingxue belum sepenuhnya pulih.'

Sore hari datang dengan angin yang berubah arah — dari utara ke barat, membawa udara yang lebih dingin dari seharusnya.

Lin Chen berdiri di depan pintu penginapan, mengamati jalan yang mulai ramai dengan orang-orang bergerak ke arah arena.

Di belakangnya, Wei Peng berdiri dengan jaket yang sudah dipakai — siap pergi.

"Kau tidak boleh ke arena," Lin Chen berkata tanpa menoleh.

"Sesepuh Duan bilang tidak boleh bertarung. Tidak bilang tidak boleh menonton."

Lin Chen berbalik menatapnya.

Wei Peng menatap balik dengan ekspresi yang tidak memberi ruang untuk negosiasi.

'...Teknisnya benar.'

Mereka pergi ke arena bersama — pelayan dan murid yang tidak bisa bertarung, berdiri di antara kerumunan penonton di luar area resmi karena tidak punya tiket masuk tribun. Dari posisi mereka di luar, melalui celah pintu yang terbuka saat penonton masuk keluar, mereka bisa melihat sebagian arena — tidak sempurna, tidak jelas, tapi cukup.

Su Qingxue turun ke arena sore itu.

Lawannya adalah murid utama Sekte Langit Perak — Bai Ruochen, seorang pemuda berambut putih perak. Ranah Inti Emas Tingkat 3. Lebih tinggi dua tingkat dari Su Qingxue.

Dan dari cara dia berdiri di tengah arena — bahu rileks, tangan tidak memegang senjata meski pertandingan sudah hampir dimulai — dia tahu persis selisih tingkatan itu dan tidak merasa perlu menyembunyikannya.

"Kakak Senior Su," suaranya terdengar bahkan sampai ke posisi Lin Chen dan Wei Peng di luar. "Aku sudah mendengar banyak tentangmu. Terobosan mendadak ke Inti Emas — sangat tidak biasa."

Su Qingxue tidak menjawab. Menarik pedang gioknya.

"Sayang sekali," Bai Ruochen melanjutkan dengan nada yang tidak berubah ramahnya, "kondisimu hari ini sepertinya tidak sepenuhnya optimal."

Di sebelah Lin Chen, Wei Peng mengepalkan tangannya.

Pertandingan dimulai.

Dan sejak menit pertama, jelas bahwa Bai Ruochen bukan lawan yang bisa diselesaikan dengan cepat.

Gerakannya efisien tanpa celah — setiap serangan Su Qingxue yang tajam dan dingin selalu bertemu dengan pertahanan yang tepat di titik yang tepat. Niat Pedang Taixuan yang baru Su Qingxue pahami sebulan lalu memang kuat — tapi melawan seseorang yang dua tingkat lebih tinggi dan sudah jauh lebih lama mengolah kultivasinya, kekuatan teknik saja tidak cukup.

Dan luka di lengan kirinya mulai berbicara.

Bukan dramatis — tidak ada darah, tidak ada ekspresi kesakitan yang terlihat jelas. Hanya pergeseran sangat kecil dalam ritme gerakannya. Kecepatan serangan dari sisi kiri yang satu persen lebih lambat. Sudut pertahanan yang sedikit kurang optimal saat harus melindungi sisi kiri tubuhnya.

Bai Ruochen mulai secara konsisten menyerang dari sudut yang memaksa Su Qingxue bertahan dengan sisi kirinya — sangat sabar, sangat metodis, seperti seseorang yang sedang mengikis tembok dari titik yang paling lemah.

"Dia tahu," gumam Wei Peng di sebelah Lin Chen. "Dia tahu soal lukanya."

Lin Chen tidak menjawab.

'Tidak mungkin tahu dari pertandingan ini saja. Dia tahu sebelum turun ke arena.'

'Informasi dari luar.'

Di menit kelima puluh, Su Qingxue mundur setengah langkah untuk pertama kalinya.

Kerumunan penonton di tribun berdesis pelan.

Wei Peng menahan napas.

Bai Ruochen melepaskan pedang perak tipis dari balik punggungnya — begitu terang memantulkan cahaya sore sampai hampir terlihat seperti cahaya itu sendiri.

"Kau bertarung dengan sangat baik," ucapnya tulus. "Tapi sampai di sini saja."

Su Qingxue menatapnya dengan mata yang tidak menunjukkan niat untuk menyerah.

Tapi tangannya yang memegang pedang giok — tangan kirinya — gemetar sangat kecil.

Lin Chen melihatnya dari luar.

Wei Peng melihatnya.

'Su Qingxue bisa kalah di menit berikutnya,' Lin Chen menyimpulkan dengan sangat datar.

Tapi dia tidak bergerak dari posisinya.

'Ini bukan urusanku. Su Qingxue bukan orang yang perlu diselamatkan. Dia masuk ke arena dengan pemahamannya sendiri. Kalah atau menang — itu miliknya sepenuhnya.'

Di dalam arena, Bai Ruochen melangkah maju dengan pedang peraknya terangkat.

Su Qingxue tidak mundur lagi.

Sebaliknya — dia berhenti bergerak sama sekali.

Berdiri diam di tengah arena. Mata setengah terpejam. Pedang gioknya turun ke sisi tubuhnya, ujungnya hampir menyentuh tanah.

Bai Ruochen memperlambat langkahnya — bingung dengan perubahan yang tiba-tiba ini. Berdiri tiga langkah dari Su Qingxue, menunggu.

Penonton di tribun ikut terdiam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga—

BZZZZZT.

Gelombang niat pedang meledak keluar dari tubuh Su Qingxue dalam radius yang membuat seluruh udara di dalam arena terasa berubah — bukan ledakan yang kasar, bukan kekuatan yang brutal. Lebih seperti ribuan bilah pedang tak kasat mata yang tiba-tiba ada di setiap inci ruang di sekitarnya, diam, dingin, dan sangat sabar.

Bai Ruochen yang tadi berdiri tiga langkah darinya mundur satu langkah tanpa sadar.

Satu langkah — dari seseorang dua tingkat di atasnya.

Su Qingxue membuka matanya.

"Niat Pedang Taixuan Sejati," gumamnya sangat pelan — bukan untuk Bai Ruochen, bukan untuk penonton. Untuk dirinya sendiri. Konfirmasi bahwa apa yang dia pahami sebulan lalu di halaman Paviliun Kitab Suci, saat angin bertiup dan daun-daun merah gugur — masih ada di sini, masih hidup, masih miliknya.

Pedang gioknya terangkat kembali.

Dan kali ini gerakannya berbeda dari seluruh pertandingan sebelumnya — bukan menyerang, bukan bertahan. Hanya mengalir, seperti air yang menemukan jalannya sendiri di antara bebatuan.

Bai Ruochen merespons — tapi untuk pertama kalinya hari ini, responsnya terlambat setengah hitungan.

Pertarungan berlanjut selama empat puluh jurus lagi.

Empat puluh jurus yang terasa seperti pertarungan yang berbeda dari lima puluh jurus sebelumnya — Su Qingxue yang tadi semakin tertekan kini bergerak dengan ritme yang tidak bisa diprediksi Bai Ruochen, setiap serangannya lahir dari pemahaman yang sangat personal tentang sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang benar-benar menghidupinya.

Bai Ruochen mulai frustrasi.

Dan frustrasi membuat orang membuat kesalahan.

Kesalahannya datang di jurus keempat puluh dua — serangan yang terlalu kuat, sudut yang terlalu agresif, momentum yang terlalu dalam untuk ditarik kembali.

Su Qingxue tidak membuang momen itu.

Ujung pedang giok berhenti satu inci dari leher Bai Ruochen.

Arena hening selama dua detik penuh.

Lalu meledak.

Di luar arena, Wei Peng menghembuskan napas yang sudah dia tahan entah sejak kapan. Bahunya turun. Tangan yang tadi mengepal perlahan membuka.

Dia tidak mengatakan apapun.

Lin Chen juga tidak.

Mereka berdiri dalam keheningan yang terasa seperti kesepakatan diam-diam bahwa beberapa hal tidak perlu diucapkan untuk dipahami bersama.

Setelah beberapa saat, Wei Peng berbalik berjalan kembali ke penginapan. Langkahnya tidak sepenuhnya sama dengan langkah orang yang kalah.

Lin Chen mengikutinya dari belakang.

'Su Qingxue menang dengan kemampuannya sendiri,' pikirnya. 'Niat Pedang Taixuan Sejati

'Tapi Bai Ruochen tahu soal lukanya dari sumber luar.'

'Artinya Lin Hao sudah bermain lebih dalam dari yang aku perkirakan.'

Angin sore bertiup dari barat, membawa aroma hujan yang belum turun.

Lin Chen menatap langit sebentar.

'Besok Su Qingxue turun lagi.'

'Dan kali ini Lin Hao tidak akan mengirim pengintai.'

Di gedung mewah distrik utara, Lin Hao menerima laporan hasil pertandingan sore dengan ekspresi yang tidak berubah.

Su Qingxue menang.

Dia membaca laporan itu sekali, lalu meletakkannya.

"Niat Pedang Taixuan Sejati," gumamnya pelan. "Jadi benar — sekte itu menyimpan sesuatu."

Jarinya mengetuk meja tiga kali.

"Besok aku turun sendiri."

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!