Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAMUAN MAKAN MALAM YANG DINGIN
Pukul lima sore, ponsel Barra yang tergeletak di atas meja kerja berdering nyaring. Nama Kakek Sanjaya tertera di layar gawai mahal tersebut. Barra yang baru saja keluar dari kamar mandi ruang istirahat bersama Davina segera mengangkat panggilan itu.
"Ya, Kakek?" sapa Barra, suaranya kembali formal dan tegas.
"Barra, bawa Davina ke kediaman utama malam ini," suara bariton Sanjaya terdengar tegas dari seberang telepon. "Kakek mengadakan makan malam keluarga besar. Sudah saatnya istrimu diperkenalkan secara resmi kepada seluruh dinasti Alfarizi agar tidak ada lagi kecoa seperti Surya dan Asnita yang berani bertindak lancang."
Barra melirik Davina yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Baik, Kakek. Kami akan datang sebelum jam tujuh malam."
Malam harinya, sebuah sedan mewah Rolls-Royce hitam memasuki gerbang besi raksasa kediaman utama keluarga Alfarizi. Rumah besar bergaya klasik Eropa itu tampak megah dengan lampu-lampu kristal yang berpendar terang dari balik jendela kaca besar. Namun bagi Davina, kemegahan itu justru terasa mencekam.
Barra yang menyadari kegugupan istrinya segera menggenggam erat jemari Davina. "Tenang, Sayang. Ada aku di sampingmu. Kamu tidak perlu memedulikan siapa pun di dalam sana."
Davina tersenyum tipis, mencoba mengusir rasa sesak yang mulai merayap di dadanya. Ia mengenakan gamis satin premium berwarna hijau zamrud dipadukan dengan hijab senada, terlihat sangat anggun dan berkelas tanpa perlu berlebihan.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang makan utama yang berukuran sangat luas, atmosfer dingin langsung menyambut mereka. Di sekeliling meja makan panjang berbahan kayu ek kuno, telah berkumpul keluarga besar Alfarizi. Ada Surya dan Asnita yang menatap mereka dengan sisa kekesalan kemarin, serta kedua anak mereka, Bagas yang berwajah kecut dan Bella, adik tiri Barra yang tampak sibuk memoles kuku jarinya. Tidak hanya mereka, paman, bibi, serta sepupu-sepupu Barra dari jalur keluarga besar juga turut hadir.
"Ah, ini dia pengantin baru kita yang menghebohkan kota," sindir Bibi Ratna, salah satu adik perempuan Surya, dengan senyum palsu yang mengembang di bibirnya.
"Selamat malam, semuanya," sapa Davina dengan sangat santun, membungkukkan badannya sedikit menghormati orang-orang tua di sana.
Namun, sapaan tulus itu hanya dibalas dengan tatapan mata yang dingin, meremehkan, dan penuh sinisme dari sebagian besar anggota keluarga. Mereka hanya tampak bersikap ramah sekilas, lalu buru-buru memalingkan wajah untuk mencari perhatian dan bermanis muka di hadapan Sanjaya yang duduk di kursi kebesaran di ujung meja.
Makan malam yang menyiksa itu pun dimulai. Alih-alih dipenuhi kehangatan sebuah keluarga, suasana di meja makan tersebut jauh dari kata nyaman. Davina merasa dadanya semakin sesak saat melihat bagaimana sepupu-sepupu perempuan Barra dan bibi-bibinya mulai melancarkan aksi sindiran halus.
"Kakek, ini sup sarang burungnya sangat segar, Bagas sengaja membelikannya khusus dari importir terbaik untuk Kakek," ucap Bagas dengan gaya bicaranya yang dibuat-buat, mencoba mencari muka di depan Sanjaya.
Sanjaya hanya mengangguk datar tanpa ekspresi. "Letakkan saja."
Melihat usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, Bella, sang adik tiri, melirik Davina dengan pandangan sinis. "Oh ya, Davina. Di kampungmu dulu... apakah ada makanan seperti sup sarang burung atau daging wagyu ini? Atau kalian hanya makan singkong rebus dan sayur pakis hasil memetik di hutan?"
Mendengar sindiran tajam yang keluar dari mulut Bella, beberapa sepupu perempuan Barra di sudut meja langsung tertawa cekikikan, menutupi mulut mereka dengan sapu tangan.
"Betul juga ya, Bella. Kudengar jurnalis dari daerah itu gajinya tidak seberapa, bahkan tidak cukup untuk beli satu tas bermerek," timpal salah satu sepupu perempuan bernama Chantika, memandang Davina dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
Davina mencengkeram sendok di tangannya dengan erat. Dadanya bergemuruh menahan rasa terhina. Namun sebelum ia sempat membalas, sebuah dentingan tajam memecah keheningan.
Ting!
Barra meletakkan pisau pemotong dagingnya di atas piring porselen dengan sengaja, menimbulkan suara tajam yang menggema di seluruh ruang makan. Pria itu mengangkat kepalanya, lalu mengedarkan pandangan mata elangnya yang luar biasa tajam, dingin, dan menusuk ke arah Bella dan Chantika. Aura membunuh yang pekat seketika memancar dari tubuh tegap Barra.
"Chantika, jika mulutmu tidak bisa digunakan untuk mengunyah makanan dengan benar, aku bisa meminta pengawal di luar untuk menjahitnya sekarang juga," ancam Barra dengan suara bariton yang sangat rendah namun sarat akan bahaya yang mematikan. Pria itu beralih menatap Bella. "Dan kamu, Bella. Jangan lupa siapa yang membiayai perawatan kuku dan seluruh barang mewah yang melekat di tubuhmu itu. Satu kata tidak sopan lagi keluar dari mulutmu pada istriku, aku akan memotong seluruh fasilitas kartu kreditmu malam ini juga."
"Sudahlah jangan membuat keributan di meja makan," timpal Sanjaya tegas. "Kalian semua jangan pernah meremehkan atau merendahkan cucu mantuku, kalau tak ingin aku panggil pengawal dan mengusir kalian dari sini!"
Seketika, Chantika dan Bella langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan wajah pucat pasi. Ketakutan yang amat sangat membuat mereka tidak berani lagi menatap mata Barra, maupun Sanjaya. Suasana di ruang makan mendadak hening mencekam bagai kuburan.
Di sudut meja yang lain, ada seorang wanita muda bernama Vera ia adalah anak dari keponakan jauh Bibi Ratna yang sengaja dibawa malam itu. Sejak awal kedatangan Barra, mata Vera tidak pernah lepas menatap ketampanan dan kegagahan sang CEO. Ia berkali-kali mencoba mencari perhatian Barra dengan membetulkan rambutnya atau menawarkan minuman.
"Kak Barra, mau aku tuangkan anggur non alkoholnya?" tanya Vera dengan suara yang mendayu-dayu penuh harap.
Namun, Barra sama sekali tidak menoleh. Pria itu mengabaikan Vera sepenuhnya seolah wanita itu hanyalah angin lalu. Fokus Barra tetap seratus persen tertuju pada Davina, mengusap punggung tangan istrinya di bawah meja untuk memberikan ketenangan.
Setelah makan malam yang penuh drama dan intrik itu selesai, Sanjaya bangkit berdiri dari kursinya dibantu oleh tongkat peraknya.
"Malam ini sudah terlalu larut untuk kalian kembali ke mansion di pusat kota," ujar Sanjaya tegas, menatap Barra dan Davina bergantian. "Kakek sudah menyuruh pelayan menyiapkan kamar utama lama milikmu di lantai dua. Kalian berdua menginaplah di sini malam ini."
Barra langsung mengernyitkan dahi, bersiap untuk melayangkan penolakan karena ia tahu betul rumah ini dipenuhi oleh orang-orang bermuka dua yang bisa membahayakan ketenangan istrinya. "Kakek, kami sebaiknya pulang saja. Jaraknya tidak terlalu..."
Sebelum Barra menyelesaikan kalimatnya, Davina dengan lembut menyenggol lengan suaminya. Ia menatap Barra dengan pandangan memohon, menggelengkan kepalanya pelan agar Barra tidak membantah keinginan sang Kakek yang sudah terlihat lelah. Davina tidak ingin memperkeruh suasana atau membuat Sanjaya kecewa setelah pembelaan yang diberikan malam ini.
Melihat tatapan lembut dari istrinya, Barra akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengalah. Pria itu menatap kakeknya kembali. "Baiklah, Kakek. Kami akan menginap malam ini."
Sanjaya tersenyum puas, lalu melangkah pergi menuju kamarnya diiringi tatapan iri dari Surya dan Asnita yang masih tidak terima dengan perlakuan istimewa sang kepala keluarga terhadap Davina. Ketegangan baru kini telah menanti di balik dinding-dinding megah kediaman utama Alfarizi.