NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami Baik

Anjani terperanjat kaget, refleks mencengkeram selimut rumah sakit dengan jemarinya yang masih lemas. Oliver, di sisi lain, langsung menghentikan gerakan pisau di tangannya. Wajah pria itu berubah dingin seketika, rahangnya mengeras, dan sorot mata birunya menatap tajam ke arah wanita yang berdiri di hadapannya.

​Adele mengabaikan Oliver sejenak. Ia melangkah mendekati ranjang Anjani, menunjuk-nunjuk wajah istri Oliver dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi yang meluap-luap.

"Kau!" cibir Adele dengan nada suara yang penuh penghinaan dan kebencian yang mendalam. "Kau benar-benar wanita sial, Anjani! Tidak cukupkah kehancuran yang kaubawa ke dalam hidup Oliver?! Gara-gara keberadaanmu, rumah megah hancur, nyawa Tuan dan Nyonya Jones nyaris melayang, dan sekarang membawa masalah di pusat perbelanjaan diguncang kekacauan besar!"

​Suara Adele yang melengking membuat suasana di dalam ruangan rawat itu mendadak gaduh. Beberapa perawat dan petugas keamanan yang berjaga di luar koridor mulai mendekat karena mendengar keributan tersebut.

​"Kau cuma parasit murahan yang memanfaatkan kebaikan Oliver!" lanjut Adele semakin histeris, air mata kemarahan mulai mendesak di pelupuk matanya akibat rasa malu dan frustrasi yang menumpuk. "Seharusnya kau mati saja bersama ledakan kemarin! Kau tidak pantas berada di sisi pria sehebat Oliver!"

​"Cukup, Adele," suara Oliver keluar sangat rendah, datar, namun mengandung ancaman kematian yang begitu mutlak.

​Oliver berdiri perlahan dari kursinya. Ia menaruh pisau buah dan apel di atas meja kecil dengan gerakan yang sangat tenang, namun aura di sekitar tubuhnya memancarkan kemurkaan yang luar biasa. Ia melangkah maju, berdiri di antara Adele dan ranjang Anjani, menjadi perisai yang kokoh bagi istrinya.

****

​"Kau sudah melewati batas," geram Oliver, matanya menatap tajam wanita bule itu. "Keluar dari ruangan ini sekarang juga, atau aku pastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan keluar dari rumah sakit ini dengan kaki sendiri."

​Alih-alih merasa takut, Adele justru tertawa sumbang penuh keputusasaan. Ia memukul dadanya sendiri dengan frustrasi.

​"Kau mengusirku, Oliver?! Demi wanita ini?!" air mata Adele akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya yang masih menyisakan lebam. "Aku adalah tunanganmu! Keluarga kita sudah merencanakan masa depan kita selama bertahun-tahun di London! Seharusnya kau menceraikan wanita pembawa sial ini! Seharusnya kau sadar bahwa dia adalah racun yang akan menghancurkan seluruh sisa hidupmu!"

"Aku tidak pernah mencintai pilihan keluargaku, dan aku tidak akan pernah sudi menikahimu, Adele!" bentak Oliver, suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan rawat hingga membuat kaca jendela bergetar. "Paham?! Hubungan kita sudah mati sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di negeri ini!"

​"Kau sudah gila, Oliver! Kau tersihir oleh jalang ini!" teriak Adele histeris, kehilangan seluruh akal sehat dan etiket kaum bangsawan yang selama ini ia banggakan. Ia mencoba menerobos maju untuk mencakar Anjani, namun gerakannya langsung dihentikan oleh tangan besi Oliver yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

​"Satpam!" teriak Oliver lantang tanpa memedulikan rontokan Adele.

Dalam hitungan detik, dua orang petugas keamanan rumah sakit berseragam tegap langsung masuk ke dalam ruangan. Mereka langsung bergerak cepat membekap kedua lengan Adele yang terus meronta-ronta dengan liar.

​"Lepaskan aku! Lepaskan aku, keparat!" maki Adele sambil menendang-nendang udara, wajahnya merah padam karena amarah dan rasa malu yang teramat sangat. Saat ia diseret mundur keluar dari kamar rawat oleh para satpam, ia menoleh ke arah Oliver dan Anjani dengan tatapan mata yang melotot tajam penuh sumpah serapah.

​"Kau akan menyesal, Oliver! Kau akan menceraikannya saat kau sadar bahwa dia adalah kehancuranmu!" teriak Adele histeris, suaranya terus menggema di sepanjang koridor rumah sakit bahkan setelah pintu kamar rawat ditutup rapat oleh petugas keamanan.

​Keheningan yang tegang kembali menyelimuti ruangan V.I.P tersebut.

****

​Oliver menarik napas panjang, mencoba meredakan debar jantung dan amarah yang masih membara di dadanya. Ia berbalik, lalu melangkah kembali ke sisi ranjang Anjani. Ekspresi keras di wajahnya seketika melunak saat melihat mata Anjani yang berkaca-kaca menatapnya penuh rasa bersalah.

​"Maafkan aku, Jani..." ucap Oliver lembut, sambil meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat-erat. "Kau tidak seharusnya mendengarkan kata-kata sampah dari wanita gila itu."

​Anjani menggeleng pelan, seulas senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. Ia meremas tangan suaminya, menyalurkan ketenangan yang sama seperti yang selalu diberikan oleh pria itu kepadanya.

​"Aku baik-baik saja, Oliver," bisik Anjani lirih.

"Tapi... sampai kapan badai ini akan terus datang menghantam kita?"

​Oliver menatap dalam-dalam ke dalam manik mata istrinya, lalu mengecup punggung tangan Anjani dengan penuh keyakinan. "Selamanya jika memang diperlukan. Karena aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merenggutmu dariku."

****

Udara pagi di halaman depan Rumah Sakit Medika Sentra terasa begitu menyegarkan, membawa angin sepoi-sepoi yang menyapu dedaunan hijau di sepanjang jalanan kota Jakarta. Setelah beberapa hari dirawat intensif akibat keracunan asap dan luka-luka pasca-ledakan supermarket, Anjani Direja akhirnya dinyatakan pulih dan diizinkan oleh tim dokter untuk kembali pulang ke rumah.

​Bagi Anjani, hari kepulangan ini seharusnya menjadi sebuah momen kelegaan yang luar biasa—sebuah awal baru untuk meninggalkan mimpi buruk yang telah mencengkeram hidupnya selama berminggu-minggu.

Ia melangkah keluar dari pintu utama lobi rumah sakit dengan didampingi oleh Oliver Jones yang merangkul pinggangnya dengan sangat hati-hati dan penuh perlindungan. Di belakang mereka, Julian membawa tas perlengkapan medis dan pakaian ganti Anjani, sementara dua unit mobil SUV hitam berpelat nomor khusus sudah bersiap di area drop-off khusus untuk mengantar mereka kembali ke kediaman.

​Matahari bersinar cerah, memantul di kaca-kaca jendela mobil yang terparkir rapi di pelataran rumah sakit. Anjani menarik napas dalam-dalam, mencoba menikmati aroma kebebasan dan rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia menatap wajah suaminya dengan senyuman kecil yang tulus.

​"Terima kasih, Oliver," bisik Anjani lembut. "Karena tidak pernah meninggalkanku."

****

Oliver membalas tatapan itu dengan senyuman hangat yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Ia mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. "Aku tidak akan pernah pergi kemana-mana, Jani. Hari ini kita pulang, dan tidak ada lagi yang bisa menyakitimu."

​Ucapan itu belum sepenuhnya lenyap dari udara ketika dunia di sekitar mereka tiba-tiba berhenti berputar.

​Kring... kring... deru suara mesin motor yang melaju kencang, disusul oleh bunyi lonceng kecil penanda waktu yang berdetik di kepala setiap orang.

​Satu detik kemudian, sebuah cahaya terang benderang disertai suara sambaran api yang memekakkan telinga merobek ketenangan pagi di area parkiran rumah sakit.

​BOOM!

​Sebuah ledakan dahsyat yang bersumber dari sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tepat di barisan tengah pelataran tiba-tiba meledak berkeping-keping. Gelombang kejut yang luar biasa besar menghantam lantai beton rumah sakit seketika, menciptakan getaran hebat hingga kaca-kaca besar di lobi utama pecah berkeping-keping menjadi serpihan belati tajam yang menghujani udara

.​"Aaaaa!" teriak para pengunjung dan staf rumah sakit histeris, berlarian kocar-kacir menyelamatkan diri di tengah kepulan asap hitam pekat yang membubung tinggi.

1
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Adi Sudiro
cerita dibikin dramatis tapi penuh cela dan kebodohan
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....
Serena Muna: EMANG DIBIKIN DRAMATIS NAMANYA JUGA CERITA!
total 1 replies
Siti M Akil
g mati² ky tom Jery 🤣🤣
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!