Tembus pandang, ahli pengobatan, dan kekuatan tiada tara adalah sepasang mata dewa.
Menjadi buta demi membangkitkan kekuatan mata dewa membuat Ivan begitu menderita.
Namun semuanya terbayar setelah Ivan mendapatkan mata dewa yang sinarnya menembus kegelapan.
Gadis-gadis cantik perlahan jatuh hati kepadanya.
Bagaimana kelanjutannya dapat di baca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 14 BATU SAMPAH
Dari obrolan mereka, Julia terlihat terkejut karena ternyata Ivan pernah satu kampus dengannya.
"Julia kamu ingat saat aku sedang di buli di depan toilet kampus?" ujar Ivan.
Pada saat masih berkuliah, Ivan adalah mahasiswa miskin yang selalu ditindas oleh sesama mahasiswa.
Suatu ketika Ivan sedang di buli di depan toilet. Pada saat itu Ivan hanya diam saja dan tidak melawan. Ivan bukannya takut, hanya saja orang yang membulinya adalah anak-anak orang kaya, yang jika Ivan melawan tentu akan semakin menambah masalah kedepannya.
Hingga kemudian, tiba-tiba saja Julia datang dan membelanya. Julia bak seorang yang mengusir mereka dan menyelamatkan Ivan dari bulian tersebut. Sejak saat itu Ivan langsung jatuh hati kepada Julia.
"Kamu datang dan menolongku," sambung Ivan.
"Jadi waktu itu adalah kamu," Julia juga mengingatnya.
Karena mereka sudah mengetahui bahwa ternyata adalah teman satu kampus, mengobrol juga semakin panjang lebar.
"Tidak ku sangka Julia orang yang asik jika di ajak bicara, sudah cantik, kaya, baik, benar-benar sempurna," ucap Ivan dalam hati memandangi Julia yang sedang makan.
Kemudian ponsel milik Julia berdering. Melihat panggilan itu berasal dari kakeknya, Julia juga mengangkatnya.
"Halo kek," ujar Julia di telepon.
"Julia kamu cepat pulang, kakek ada sesuatu!" balas kakeknya.
"Baik kek," ujar Julia.
Panggilan itu juga berakhir. Julia juga memanggil Jeni untuk membayar makanan yang mereka pesan.
"Kakekku menyuruhku kembali, sepertinya ada sesuatu yang penting, bagaimana kamu ikut ke rumahku dulu, baru aku antar pulang?" ujar Julia kepada Ivan.
"Ikut kerumah mu..." ulang Ivan.
Ivan tidak menyangka bahwa Julia mengajaknya untuk ke rumahnya.
"Apa kamu ada pekerjaan lagi, atau kalau tidak aku bisa carikan taksi?" ujar Julia.
"Tidak... tidak... aku hari ini tidak ada kerjaan, aku ikut denganmu," balas Ivan.
Ivan malah sangat senang bisa ikut ke rumah Julia. Setengah jam kemudian, mereka berdua juga telah sampai di rumah Julia yang merupakan kediaman keluarga Mahendra.
Biasanya rumah orang kaya raya selalu mewah, akan tetapi rumah keluarga Mahendra berbeda. Bangunan rumah terlihat tradisional tapi estetik, sehingga membuatnya mempunyai ciri khas yang membawa ketenangan.
Ivan mengikuti Julia menuju ke sebuah saung yang ada di pekarangan rumah. Di sebelah saung itu ada kolam ikan yang airnya sangat jernih. Di saung tersebut ada seorang pria tua yang duduk sambil menikmati teh. Pria tersebut adalah kakek dari Julia yang di kenal dengan kakek Mahendra.
"Kakek, apa ada menyuruhku buru-buru untuk pulang?" tanya kakek Mahendra.
"Kakek dengar gubernur Leonardo minta di buatkan kalung oleh perusahaan kita, kakek juga dengar kamu kekurangan giok untuk bahan bakunya," jawab kakek Mahendra.
"Soal itu kakek tidak perlu khawatir, aku sudah mendapatkan giok nya," ujar Julia.
Julia kemudian mengeluarkan semua giok yang dia dapatkan dan menunjukkannya kepada kakeknya.
"Wah, banyak sekali giok nya," ujar kakek Mahendra.
"Ternyata kemampuanmu sudah lebih meningkat dari sebelumnya," sambung kakek Mahendra.
Julia juga menjelaskan yang sebenarnya bahwa giok ini bukanlah dirinya yang mendapatkan, melainkan temannya.
"Ini temanku, namanya Ivan, kemampuan hebat sekali kek, semua batu yang di pilihnya, selalu ada giok di dalamnya," sambung Julia.
"Ya...ya...ya..." balas kakek Mahendra.
Kakek Mahendra juga memperhatikan Ivan dari ujung kaki sampai ke kepala. Ivan juga tersenyum kepada kakek Mahendra.
"Kebetulan tadi kakek juga pergi ke pasar batu di temani Joni," ujar kakek Mahendra.
Joni adalah seorang sopir yang bekerja di keluarga Mahendra.
"Kakek kan sedang sakit, untuk apa pergi ke pasar judi batu, lebih baik kakek istrahat di rumah saja," balas Julia.
"Gubernur Leonardo adalah orang nomor satu di kota ini, mengetahui dia memesan kalung di perusahaan kita, kakek juga tidak tenang bila terjadi masalah," ujar kakek Mahendra.
"Kakek juga membeli sebuah batu dari pasar, dapat di pastikan ada giok di dalamnya," sambung kakek Mahendra.
Kakek Mahendra kemudian memanggil Joni untuk membawakan batu yang telah di belinya.
Joni juga datang dengan membawa nampan yang di atasnya ada sebuah batu dan alat potong batu.
"Wah batu ini..." Julia langsung tertarik melihatnya.
"Kristalisasi nya begitu banyak dan hampir tembus ke dalam, hampir seluruh bagian batu ada retakan yang mengeluarkan cahaya dari dalamnya, kemungkinan besar pasti ada giok di dalamnya," sambung Julia.
"Nona Julia, anda juga mengetahui bahwa kakek Mahendra pernah menjadi penilai batu terbaik di kota ini selama beberapa tahun, jadi tidak perlu di ragukan lagi," ujar Joni.
Beberapa tahun yang lalu kakek Mahendra adalah yang nomor satu dalam hal menilai batu di kota Neo. Hal tersebut jugalah yang membuat perusahaan Mahendra grup menjadi begitu besar sampai dengan sekarang.
"Haha..." kakek Mahendra tertawa puas.
"Kakek membelinya dengan harga 2 milyar, jelas ini sangat sepadan," sambung kakek Mahendra.
Kakek Mahendra begitu yakin bahwa di dalam batu tersebut ada giok. Julia juga menanyakan pendapat Ivan mengenai batu tersebut.
Ivan memandang ke arah batu itu dan seketika sekilas cahaya terlihat di kedua matanya. Pandangan Ivan langsung menembus kedalam kedua batu itu.
"Penilai batu terbaik, aku rasa karena sudah tua jadi wajar saja jika kemampuannya mulai menurun, menghabiskan 2 milyar untuk membelinya, benar-benar buang uang saja," ucap Ivan dalam hati.
Dengan kemampuan mata dewanya, Ivan dapat mengetahui bahwa tidak ada apapun di dalam batu tersebut. Bisa di katakan batu itu sama sekali tidak berharga.
"Menurutku tidak ada giok di dalam batu itu," ujar Ivan.
Seketika Julia, kakek Mahendra, Joni langsung terkejut mendengar perkataan Ivan. Mereka begitu yakin ada giok di dalamnya, tapi Ivan justru mengatakan tidak.
"Lancang kamu, beraninya mengatakan bahwa batu ini zonk, batu ini di pilih langsung oleh kakek Mahendra, kakek Mahendra belum pernah sekalipun membeli batu sampah, kamu masih begitu muda, harus bisa menjaga sikap," ujar Joni tidak terima.
"Ivan, kakekku adalah penilai batu terbaik di masanya, entah sudah berapa banyak giok yang telah di dapatkannya, aku rasa tidak mungkin batu tersebut tidak ada giok di dalamnya," ujar Julia.
"Ehem, anak muda, atas dasar apa kamu mengatakan demikian, aku sudah menggeluti dunia batu puluhan tahun, pengalamanku juga sangat banyak, kamu masih begitu muda, masih perlu berproses, aku menghargai mu karena kamu teman Julia, tapi jika kamu seperti ini, aku juga tidak akan sungkan," ujar kakek Mahendra.
"Bukankah hanya perlu membelahnya saja untuk mengetahuinya?" balas Ivan.
"Ya kamu benar," ujar kakek Mahendra.
Kakek Mahendra meminta Joni untuk membelah batu tersebut. Joni dengan mesin potong juga mulai membelah batunya. Hingga beberapa saat kemudian batu itu telah terbelah menjadi dua bagian.
Terlihat seperti apa yang telah di katakan oleh Ivan, batu tersebut benar-benar kosong dan tidak berharga.
"Apa... ini tidak mungkin, batu yang telah di pilih oleh kakek Mahendra ternyata adalah batu tidak berharga, sulit untuk di percaya," ujar Joni.
"Kakek adalah penilai batu terbaik di masanya, aku baru pertama ini melihat kakek gagal, bagaimana bisa?" ujar Julia.
Kakek Mahendra juga langsung terdiam seolah tidak percaya bahwa batu pilihannya sama sekali tidak ada giok di dalamnya.
Situasi juga menjadi hening sejenak. Mereka bertiga masih sulit mempercayai kenyataan yang ada, hingga kemudian tiba-tiba saja kakek Mahendra mulai tertawa.
"Haha..." kakek Mahendra tertawa kecil.
"Tampaknya kali ini aku telah melakukan kesalahan, tidak di sangka yang kamu katakan benar," ujar kakek Mahendra kepada Ivan dengan canggung.
"Hanya kebetulan saja kakek, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tidak ada yang sempurna di dunia ini," balas Ivan merendah.
"Haha... kamu benar," ujar kakek Mahendra.
"Mari duduk, kita minum teh bersama," sambung kakek Mahendra juga mulai tertarik terhadap Ivan.