NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Dua hari menjelang dimulainya ronde pertandingan berikutnya.

Suasana di dalam penginapan sudah sepi sejak lewat tengah malam. Hanya suara angin malam yang sesekali berdesir menyapa dinding kayu bangunan itu.

Di ruang paling belakang, Lin Chen berbaring tenang di atas tikarnya dengan mata terpejam, namun ia belum tertidur. Mata Dewa Kekacauan miliknya bekerja dengan sabar, memindai setiap sudut ruangan dan mendengarkan detak napas teratur dari seluruh penghuni di lantai atas.

Sesepuh Bai sedang beristirahat dalam kondisi kultivasi aktif—energinya tetap mengalir, namun kesadarannya lebih terfokus ke dalam dirinya sendiri, bukan mengamati lingkungan sekitar.

Begitu pula dengan Sesepuh Duan.

Sedangkan Su Qingxue tidur lebih nyenyak dibanding malam-malam sebelumnya. Meridian di dalam tubuhnya yang sudah pulih sepenuhnya kini mengalirkan energi dengan lancar dan stabil, khas seorang kultivator tingkat Inti Emas Tingkat 3.

Chen Hao terlelap sambil tetap menggenggam erat sesuatu di bawah bantalnya—bisa jadi catatan teknik, bisa juga jimat pelindung. Bagi Lin Chen, hal itu bukanlah hal yang penting.

Begitu juga Fang Rui, Zhou Bin, Luo Mei, dan Wei Peng; semuanya sudah terlelap dalam tidur yang lelap.

Setelah memastikan keadaan aman, Lin Chen perlahan membuka matanya.

“Cukup.”

Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang sama sekali tidak menimbulkan suara sedikit pun.

 

Waktu yang tercatat dalam benaknya sudah habis sejak kemarin.

Sudah sebulan berlalu sejak ia melakukan pengecekan keberadaan terakhirnya di kuil kecil di pinggiran Kota Jiuyang. Namun, lokasi tujuan berikutnya justru sudah diketahui Lin Chen sejak malam pertama ia menginjakkan kaki di kota ini—sebuah altar kuno yang terletak tepat di bawah dasar Arena Utama. Benda di atas altar itu memancarkan energi yang tidak dapat diukur dengan cara biasa, dan sudah dua kali merespons kehadirannya. Ia berdenyut perlahan, layaknya detak jantung makhluk yang sangat tua namun tetap sabar menunggu.

Malam ini adalah waktu yang paling tepat untuk bergerak.

Dua hari sebelum ronde baru dimulai, arena sudah ditutup untuk umum. Penjagaan juga dikurangi seminimal mungkin, sebab perhatian seluruh pihak kini terfokus pada persiapan pertandingan, bukan pada bangunan yang sedang tidak digunakan.

Lin Chen melangkah keluar melalui jendela dapur.

Srak...

Suara gesekan kain yang sangat samar itu segera lenyap tertelan keheningan di gang belakang.

 

Kota Jiuyang pada pukul ketiga malam terasa sangat berbeda dibandingkan saat siang hari.

Tidak ada suara pedagang yang berteriak menawarkan dagangan, tidak ada keramaian, dan tentu saja tidak ada sorak sorai penonton turnamen. Hanya tersisa beberapa lampu minyak yang masih menyala di sudut-sudut jalan, melemparkan bayangan panjang di atas lantai batu yang sudah berdiri kokoh selama ribuan tahun, menyimpan sejarah yang perlahan mulai terlupakan oleh zaman.

Lin Chen bergerak dengan langkah yang tidak meninggalkan jejak atau suara sedikit pun. Aura dan energinya disembunyikan sedemikian rapat hingga bahkan Sesepuh Bai yang sedang dalam kondisi istirahat aktif pun tidak akan mampu mendeteksi keberadaannya, sekalipun berada dalam jarak yang sangat dekat.

Tak lama kemudian, bangunan besar Arena Utama terlihat di ujung jalan. Malam itu, bangunan yang megah itu tampak gelap gulita. Dindingnya yang terbuat dari batu hitam, yang biasanya memantulkan cahaya matahari, kini hanya menyerap kegelapan malam. Di pintu depan terlihat dua orang penjaga sedang berjaga, dan satu orang lagi berada di sisi timur.

Lin Chen justru bergerak menuju sisi barat.

Ini adalah titik yang sudah ia hafal benar posisinya sejak malam pertama. Di sinilah energi dari dalam tanah merembes keluar dengan intensitas paling kuat. Ini juga merupakan titik buta yang tidak terjangkau pandangan penjaga mana pun. Bagian dinding ini ternyata memiliki struktur yang sedikit berbeda, sebab usianya jauh lebih tua dibandingkan bangunan arena yang berdiri di atasnya.

Tangannya menyentuh permukaan batu yang terasa sangat dingin. Di baliknya, ia merasakan denyutan halus yang teratur.

“Masih ada di sana.”

Energi dalam tubuhnya perlahan mengalir menuju celah-celah struktur batu itu—tidak dipaksakan, melainkan lebih seperti cara mengajak berkomunikasi. Satu detik, dua detik berlalu.

Perlahan, dinding batu itu membuka celah yang cukup lebar untuk dilewati satu orang.

Lin Chen segera melangkah masuk.

 

Ruang bawah tanah itu persis seperti gambaran yang terlihat dalam pengamatannya sebelumnya. Ruangannya tidak terlalu luas, namun dindingnya terbuat dari material batu yang usianya jauh melampaui fondasi arena di atasnya. Udara di dalam ruangan ini pun terasa berbeda—lebih padat, lebih sejuk, dan seolah memiliki nyawa sendiri.

Tepat di tengah ruangan berdiri sebuah altar batu besar yang kokoh.

Dan di atas altar itu, benda yang menjadi tujuannya masih tergeletak diam, memancarkan denyutan energi dengan irama yang sama persis seperti detak jantung, tidak pernah berhenti meskipun selama ribuan tahun tidak ada yang menyadarinya.

Lin Chen berdiri tegak di hadapan altar itu. Mata Dewa Kekacauannya diaktifkan sepenuhnya. Namun, seperti pengamatan-pengamatan sebelumnya, ia tidak mampu mengukur kedalaman energi yang dimiliki benda itu—seolah mencoba menghitung luas langit hanya dengan menggunakan penggaris biasa.

Namun malam ini ada perbedaan yang terasa jelas.

Energi yang biasanya berputar sangat lambat seperti makhluk yang sedang tidur nyenyak, kini bergerak sedikit lebih cepat. Bukan terasa mengancam atau bergejolak, melainkan lebih seperti seseorang yang mendengar kedatangan tamu yang sudah lama ditunggu, lalu mulai bangkit dari tempat duduknya.

Lin Chen menarik napas panjang, lalu mengucapkannya dalam hati.

“Sistem. Lakukan pengecekan keberadaan.”

 

[DING!]

⟨ Memproses pengecekan di: ALTAR PURBA BAWAH ARENA JIUYANG ⟩

⟨ Jejak energi terdeteksi: Tidak terklasifikasi — melampaui batas data Sistem ⟩

⟨ Tingkat keaslian dan usia: ★★★★★ TERTINGGI YANG PERNAH TERCATAT ⟩

⟨ Resonansi dengan Pemilik Sistem terdeteksi — penghitungan hadiah sedang disesuaikan... ⟩

...

...

...

[DING! DING! DING! DING! DING!]

HADIAH MELEBIHI KLASIFIKASI BIASA SISTEM!

⟨ Tingkat kultivasi Pemilik meningkat ⟩

⟨ Mencapai ranah: JIWA LAHIR TINGKAT 1 — KONDISI STABIL ⟩

▶ HADIAH TAMBAHAN TERDETEKSI

⟨ Sumber: Resonansi langsung dengan benda di altar ⟩

⟨ Status: DITANGGUHKAN — Pemilik harus membuka kunci akses terlebih dahulu ⟩

 

Aliran energi yang masuk ke dalam tubuh Lin Chen malam ini terasa sangat berbeda dibandingkan saat-saat peningkatan sebelumnya.

Bukan ledakan dahsyat yang terasa menyakitkan, bukan pula perubahan drastis yang mengubah bentuk tubuh. Rasanya lebih seperti aliran air sungai yang sangat besar dan dalam, yang akhirnya menemukan jalan menuju muaranya setelah melakukan perjalanan panjang selama ribuan kilometer.

Lokasi energi utama atau Dantian-nya, yang sebelumnya sudah luas bagaikan samudra tanpa batas, kini terasa seolah memiliki kedalaman baru yang tersembunyi di bawah dasarnya. Seluruh saluran energi atau meridian di dalam tubuhnya melebar, menebal, dan menguat secara alami—seolah sesuatu yang memang seharusnya ada sejak lama akhirnya menemukan tempat yang pas.

Jiwa Lahir Tingkat 1.

Lin Chen membuka matanya perlahan. Pupil matanya kini memancarkan kedalaman pandangan yang jauh melampaui usia fisiknya, namun tetap memandang altar di hadapannya dengan tenang.

“Jiwa Lahir Tingkat 1,” ia mencerna peningkatan itu dalam benaknya. “Shen Yufeng berada di Tingkat 3. Lei Zhen di Tingkat 1. Sedangkan Kaisar Kekaisaran Shenghuang sudah berada di tahap tengah ranah Transformasi Roh.”

“Jadi, masih jauh untuk bisa menandingi mereka semua.”

“Namun, setidaknya sekarang sudah cukup untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.”

 

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!