NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 efek samping hati-hati

Pagi di Ibusya Flower Studio berjalan seperti biasanya.

Bel pintu berbunyi silih berganti. Aroma bunga segar memenuhi ruangan, sementara Sarah sibuk mengecek jadwal pengiriman di depan laptop.

Di sisi lain,Wulan sedang berdiri di depan rak mawar putih, Tangannya memang sedang merapikan bunga.

Tapi pikirannya entah ke mana.

"Guntingnya mana ya"

Ia malah memegang pita satin.

"Lho?"

Baru beberapa detik kemudian ia sadar. "Hah? Astaga..."

Ia menepuk pelan dahinya sendiri,

Kenapa akhir-akhir ini gampang banget melamun?

Yang lebih menyebalkan, Setiap melamun, Yang muncul malah wajah seseorang.

Seseorang yang selalu memasang ekspresi datar, Seseorang yang jarang bicara, seseorang yang bahkan senyumnya cuma sedikit, tapi entah kenapa masih teringat jelas.

Wulan langsung menggeleng keras.

"Ih apaan sih."

Fokus kerja, Wulan.

Fokus.

Belum sempat menenangkan diri, suara Siwi terdengar dari belakang.

"Woy."

Wulan refleks menoleh.

"Hah?"

Siwi menyipitkan mata.

"Lu kenapa?"

" Kenapa lu disini jirr ga kerja luu? ?"

" Malah nanya balik. dilibur in, jadi mampir ke sini."

"Oh..."

Siwi menyipitkan mata. "Sekarang jawab pertanyaan gue. Lu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Bohong."

"Nggak."

"Tadi gunting dicari sambil megang pita, terus lima menit lalu lu nyiram tanaman plastik kan pea yaa."

Wulan langsung membelalak. "Hah demi apa?!"

" Suer dahh, Untung gue lihat."

Wulan langsung menutup wajahnya sendiri. "Ya ampunn"

Siwi mulai melipat tangan.

"Coba ngaku."

"Ngaku apa?"

"Abis dari kerja kemaren ada apa aja?"

"Nggak ada apa-apa."

"Bener?"

"Iya."

"Terus kenapa kayak orang lagi jatuh..."

Belum selesai Siwi bicara.

"SIWI!"

Wulan langsung menutup mulut sahabatnya."Pelan-pelan!"

Siwi malah tertawa."Nah kan panik."

"Gue nggak panik."

"Terus?"

"Gugup."

"NAH."

Wulan mengembuskan napas panjang. "Ya ampun, Gue juga bingung."

Siwi menatapnya sambil tersenyum kecil. " gue yakin Lu mulai nyaman kan sama babang saka?"

Pertanyaan itu membuat Wulan terdiam, Nyaman, Iya.

Aneh memang, Padahal baru beberapa kali bertemu.

Tapi keluarga Saka terasa hangat, Oom Arman yang suka bercanda,

Tante Rina yang selalu perhatian.

Nara yang gampang akrab, Rafi yang seru diajak ngobrol.

Dan, Saka.

Cowok itu memang tidak banyak bicara, Tapi selalu hadir di saat yang tepat.

Entah menawarkan minum, Membawakan barang Atau sekadar berdiri di dekatnya tanpa membuat suasana canggung.

Tanpa sadar, Wulan tersenyum sendiri.

"NAH LOH!" Suara Siwi membuat Wulan langsung kaget.

"Hah?!"

"Baru juga gue diem, lu senyum sendiri."

"Aduh Siwi!"

"Gue ngerti sekarang."

"Apa?"

"Efek samping habis ketemu seseorang."

"Bukan!"

"Iya."

"Bukan!"

"Iya."

Mereka berdua kembali saling berdebat kecil hingga Sarah keluar dari ruang kerja.

"Kalian kalau udah mulai ribut berarti kerjaannya selesai ya?"

Langsung hening.

"Iya, Kak."

"Enggak, Kak."

Jawaban mereka bertabrakan.

Sarah tertawa kecil. "Siwi, kalau lagi nggak buru-buru pulang, temenin Wulan bentar ya. Dia dari tadi melamun terus."

" siap kak, cept aapa aja lan"

Sarah baru saja hendak berbicara ketika ponselnya berdering,Di layar tertulis nama yang cukup dikenalnya.

Nara.

Sarah segera mengangkat telepon.

"Halo, Nara."

Suara Nara terdengar ceria dari seberang sana. "Kak Sarah, ganggu nggak?"

"Nggak kok. Ada apa?"

"Aku sama Rafi udah mulai finalisasi persiapan nikah."

"Wah, selamat."

"Makasih."

"Nah, kita udah sepakat, buat dekorasi bunganya."

Sarah tersenyum. "Iya?"

"Kita maunya tetap pakai Ibusya Flower Studio."

Sarah sempat terdiam beberapa detik."Tentu saja kami senang."

"Serius?"

"Pastinya."

"Yeay!"

Suara Rafi bahkan terdengar samar dari belakang."Bilang makasih ya!"

Nara tertawa."Rafi juga titip makasih."

Sarah ikut tertawa kecil. "Baik. Nanti kita atur jadwal meeting konsepnya."

"Siap." Telepon pun berakhir.

Sarah masih tersenyum ketika kembali menghampiri Wulan dan Siwi.

"Ada kabar baik."

"Kabar apa, Kak?" tanya wulan.

"Nara sama Rafi resmi pilih Ibusya Flower Studio buat vendor bunga pernikahan mereka.

Wulan yang sejak tadi hanya mendengar perlahan ikut tersenyum. "jadi.."

Sarah mengangguk. "Kita bakal sering meeting sama mereka."

"Survey venue."

"Diskusi konsep."

"Mock up dekorasi."

"Sampai hari pernikahan."

Siwi langsung mengepalkan tangan sambil menatap wulan "Gas, best! Gue aja ikut semangat dengernya."

Sarah tersenyum."Iya, jadi mulai minggu depan kita bakal cukup sibuk."

Wulan mengangguk pelan.

"Siap, Kak."

Namun, Begitu Sarah kembali ke ruangannya dan siwi yang pergi keruang tunggu untuk bersantai.

Wulan diam beberapa saat, Entah kenapa, Dadanya terasa sedikit lebih ringan Bahkan, Ada rasa senang yang sulit dijelaskan.

Bukan hanya karena proyek besar itu, Bukan juga karena toko mereka dipercaya, Melainkan Karena tanpa sadar ia tahu Mulai sekarang Ia akan lebih sering bertemu keluarga Saka.

Dan entah sejak kapan, Pikiran itu terdengar seperti kabar yang paling membuatnya tersenyum hari ini.

Selesai merapikan pesanan pagi, Wulan membawa beberapa buket yang sudah jadi ke meja display depan toko.

Ia memperhatikan satu per satu susunannya, Mawar putih, Baby breath, Eucalyptus, Cantik.

Tapi, Tanpa sadar ia malah teringat halaman rumah Saka yang dipenuhi tanaman hias.

Rumah itu memang besar, tetapi yang paling ia ingat justru taman kecil di samping teras.

Beberapa pot bunga tertata rapi, ada tanaman gantung yang bergoyang pelan tertiup angin, dan aroma bunga melati yang samar masih terasa di ingatannya.

"Kenapa bisa keinget lagi sih kan jadi ngga konsen ini" Wulan menggumam pelan sambil menggeleng.

Padahal kunjungan itu sudah lewat beberapa hari, Namun bayangannya masih sering muncul begitu saja.

Mulai dari Tante Rina yang berkali-kali menyuruhnya menambah camilan.

Oom Arman yang terus melontarkan candaan, Nara yang ramah kepada semua orang.

Sampai, Saka.

Cowok itu bahkan tidak melakukan sesuatu yang istimewa, Ia hanya membuka pintu mobil, Membawakan kardus.

Sesekali memastikan Wulan tidak tertinggal saat mereka berkeliling rumah.

Hal-hal sederhana, Aneh ya Justru yang sederhana seperti itu malah paling sulit dilupakan.

"Wulan." Suara Sarah membuatnya buru-buru tersadar.

"Iya, Kak?"

"Buket yang itu nanti tolong difoto dulu sebelum dikirim."

"Oh, siap." Wulan segera mengambil kamera toko.

Beberapa kali ia mengatur posisi buket agar terlihat lebih menarik.

Klik.

Klik.

Klik.

"Hmm..." Ia memperbesar hasil fotonya. "Bagus."

Tanpa sadar, ia tersenyum puas.

Beberapa menit kemudian, Siwi yang sejak tadi duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya kembali menghampiri meja display. "Tuh kan senyum lagi kaya orgill"

Wulan refleks menoleh. "Ih! Kaget tau."

Siwi menyengir." sengaja wlee."

"Kenapa sih dari tadi gangguin gue mulu?"

"Soalnya lucu."

"Apa yang lucu?"

" lucu aja beti ku lagi bingung sama hatinya hahaha"

"apaan sihh jamet"

Siwi mengambil salah satu pita lalu mengibas-ngibaskannya ke arah Wulan. "Lu tuh lagi kena penyakit."

"Penyakit apaan?"

"Penyakit orang yang pikirannya lagi diisi satu orang."

"Bukan!"

"Iya."

Wulan mendengus kesal sambil mengambil pita dari tangan Siwi.

"Gue cuma capek."

"Oke."

"Serius."

"Oke."

"Jangan senyum gitu soalnya gue nggak percaya." Wulan akhirnya hanya bisa menghela napas panjang.

Dan entah sejak kapan, pikiran sederhana itu berhasil membuat sudut bibirnya kembali terangkat. Tanpa ia sadari, kabar tentang pekerjaan kini terasa seperti kabar yang paling ia tunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!