Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Yasmin melintas di pinggir dua orang yang sedang tegang itu, setelah sempat melihat pemandangan yang menjijikan. Terus berlalu tanpa sepatah kata pun berbicara. Begitu tiba di pinggir jalan, Yasmin lantas berhenti menunggu angkut yang sudah terlihat dari jauh. Ia tidak menoleh sedikit pun ketika Marco memanggilnya.
Marco melihat itu merasa cemas, tujuannya datang kemari hendak menyampaikan perasaannya kepada Yasmin tapi usahanya takut gagal karena ulah Rina. Ia segera menepis tangan Rina dengan perasaan campur aduk.
"Marco, bukankah selama ini kamu tidak menyukai wanita yang berpakaian seperti mak-mak begitu? Tapi kenapa kamu mengejar-ngejar Yasmin?" Rina masih ingat kata-kata Marco ketika itu.
"Bukan urusan Kamu!" Bentaknya menggelegar lalu melangkah hendak mengejar Yasmin.
Sementara Rina menatap Yasmin dari belakang dengan wajah masam karena menurutnya wanita itu selalu menjadi pengganggu.
"Marco, tidak usah dikejar," cegahnya, tapi Marco tidak lagi mendengarkan.
"Yasmin! Tunggu!" seru Marco menghentikan Yasmin yang hendak melambaikan tangan menyetop angkutan umum. Marco segera berdiri di depan Yasmin, menghalangi pandangannya ke arah jalan.
Yasmin mendengus kesal, gara-gara Marco angkutan tadi sudah tidak lagi terlihat.
"Yasmin, jangan naik angkutan. Biarkan aku yang mengantarmu pulang," ucapnya dengan napas terengah.
"Jangan pedulikan saya Tuan, sebaiknya selesaikan masalahmu dengan Bu Rina," Yasmin merasa capek menghadapi Rina yang terus-menerus menyalahkan.
"Masalah apa? Saya tidak peduli dengan wanita murahan itu. Sudahlah ayo masuk, nanti aku jelaskan di dalam mobil."
Yasmin tidak bisa menolak lagi ketika pintu mobil di hadapannya sudah terbuka. Tanpa menoleh lagi ke arah Rina yang sudah pasti emosi melihat ia melangkah masuk ke dalam mobil.
Yasmin sebenarnya bingung untuk menyikapi antara kemarahan Rina dan kedua anaknya yang selama satu bulan ini selalu menanyakan Marco. Yasmin tidak mau egois karena kebahagiaan anak-anak akan ia kedepankan.
Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang terasa mencekam di antara mereka. Marco duduk di kursi pengemudi, menoleh sekilas ke arah Yasmin, sebelum kendaraan berjalan sedang. Namun, Yasmin tetap membuang pandangan ke luar jendela, menatap gedung dan pepohonan yang melintas tanpa terjeda sedikit pun. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
Marco fokus mengendara, tapi dalam hatinya menyimpan rangakaian kata yang seharusnya segera ia ucap. Tetapi semua ambyar lantaran ingat kelakuan Rina tadi, semua keberanian yang sudah ia susun rapi pun lenyap karena rasa takut dan khawatir akan ditolak Yasmin.
"Bagaimana kabar Fatir dan Fathia Yas?" Tanya Marco akhirnya membuka percakapan.
"Baik," jawab Yasmin satu kata.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu mereka Yas," Marco tersenyum, ingat anak-anaknya yang lucu itu sebenarnya ingin menemuinya sejak seminggu setelah sunat, tapi menurut dokter, ia harus istirahat dulu. Satu bulan di dalam rumah membuatnya stres, tapi semua ini ia lakukan agar mendapatkan hasil yang baik.
"Bagaimana juga kabar anak-anak kamu di New York?" Yasmin balik bertanya ingat kata-kata Rina bahwa Marco sudah mempunyai anak di New York.
"Anak-anak?" Marco menoleh cepat dan balik ke arah depan dengan cepat pula.
"Bukankah kamu sudah punya anak laki-laki di New York? Kok kaget gitu..." Yasmin menoleh Marco.
"Kamu pasti mendengar dari Rina bukan? Jangan dengarkan Dia. Aku memang pernah mengatakan itu kepadanya sebenarnya hanya berbohong agar wanita itu menjauh dari aku."
Marco memang pernah berbohong kepada Rina jika ia punya anak di New York agar wanita itu tidak mengejar-ngejar lagi. Setelah ia mendapat laporan dari anak buahnya tentang hasil penyelidikan bahwa Yasmin mempunyai anak kembar darinya. Marco yang saat itu masih dekat dengan Rina menutup rapat masalah ini. Jika sampai Rina tahu, gagal sudah rencananya untuk mendekati Yasmin dan anak-anak.
"Yas, di mana tempat tinggal orang tua kamu?" Tanya Marco. Selama ini ia sudah minta anak buahnya untuk menyelidiki di mana orang tua Yasmin, tapi untuk yang satu ini sulit mereka tembus.
"Ada, untuk apa kamu tanyakan beliau?" Yasmin mengerutkan kening.
Tiba-tiba Marco menghentikan mobilnya di tepi jalan, membuat Yasmin kaget dan bingung. "Mau apa berhenti di sini?"
"Aku ingin melamar kamu ke orang tuamu, Yas, tapi sebelumnya aku ingin tahu jawaban kamu. Mau kan kamu menjadi istriku?"
...~Bersambung~...