NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 14

... 14: AWAL PERJALANAN...

...****************...

Ketika penutup kotak kayu itu perlahan dibuka oleh Kenzie, seberkas pendaran cahaya biru keperakan yang dingin mendadak menyeruak keluar, menerangi wajah tampannya. Di atas bantalan kain sutra hitam yang halus, terbaring megah sebilah pedang panjang dengan sarung hitam legam yang dihiasi guratan ukiran logam magis yang rumit dan bernyawa.

Saat telapak tangan Kenzie menyentuh hulu pedang dan menariknya sedikit saja dari sarungnya...

*Sreeet!*

Udara di sekeliling pelataran air terjun mendadak memberat secara drastis. Efek otomatis dari Kristal Magic Gravitasi kuno yang tertanam di dalam intinya langsung aktif seketika, menciptakan tekanan tak kasat mata yang meremukkan tanah di bawah kaki Kenzie hingga membentuk retakan-retakan halus. Aura sedingin es dari baja hitam yang dilebur bersama tulang naga purba itu mengirimkan getaran magis yang dahsyat, meluncur lurus masuk ke dalam Lautan Dantiannya. Pedang itu bergetar halus, seolah-olah mengenali dan menyambut hangat sirkulasi darah di dalam diri Kenzie.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Ambil dan simpanlah pedang itu, karena di dalam inti besinya terdapat esensi darah milikmu sendiri," kata Arvendel memecah keheningan sembari menatap dalam pada senjata tersebut. "Aku sengaja mengambil sampel darahmu secara diam-diam ketika kamu mengalami fase kebangkitan garis darah yang liar enam tahun lalu."

Arvendel mengembuskan napas perlahan, mengenang masa lalu. "Setelah itu, aku pergi menemui Vargan untuk menyerahkan esensi darahmu, lalu memintanya secara khusus untuk menempa sebuah mahakarya pedang yang hanya bisa dikendalikan olehmu. Aku sendiri yang mengumpulkan tulang naga purba dan bongkahan besi baja hitam terdalam sebagai material utamanya dan tidak lupa menam crystal magic gravitasi hanya untuk memberi ciri khas pada pedangmu," jelas Arvendel, membeberkan rahasia di balik terciptanya pedang pusaka tersebut.

Mendengar penjelasan panjang lebar sang guru, sifat iseng di dalam diri Kenzie mendadak bergejolak. Ia melirik Arvendel dengan kerlingan jenaka, berniat memancing kemarahan gurunya untuk terakhir kali sebelum berpisah. "Eh? Berarti, Master... hadiah luar biasa ini sebenarnya bukan murni darimu, melainkan hadiah gratisan dari Master Vargan? Anda hanya menyumbang bahan mentahnya saja, kan?"

Mendengar kalimat provokasi sesat dari muridnya, urat di pelipis kepala Arvendel seketika mengeras dan menonjol. Benar saja, api amarah Arvendel langsung menyala hebat. Aura intimidasi yang mencekam mendadak memancar dari tubuh sang Pendekar Agung, beriringan dengan munculnya tongkat tulang naga gajah andalannya di tangan kanan.

Melihat respons super instan tersebut, Kenzie sontak melompat mundur sejauh dua meter dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, memberikan isyarat menyerah darurat. "Master! Ampun! Aku hanya bercanda... murni bercanda!" seru Kenzie dengan senyuman panik yang bergetar di wajahnya.

"Bocah sialan kurang ajar! Seharusnya kamu bersujud penuh rasa syukur karena memiliki guru sesempurna aku yang sudi repot-repot memikirkan senjatamu!" ketus Arvendel sembari menurunkan tongkatnya dengan gusar, meski di dalam hati ia menahan tawa.

Dengan gerakan kilat, Kenzie langsung membungkuk tegak, memberikan penghormatan paling khusyuk layaknya seorang murid sejati. "Terima kasih yang tak terhingga, Master, atas hadiah terindah yang telah Anda percayakan kepadaku. Aku akan menjaganya dengan nyawaku."

"Haaah... Nah, sikap penuh tata krama seperti itulah yang seharusnya ditunjukkan seorang murid kepada gurunya," ucap Arvendel, ekspresi wajahnya kembali melunak dan agung. "Kalau begitu, segeralah bergegas pergi. Carilah pengalaman hidup dan tempa mentalmu di dunia luar selama dua tahun ke depan."

"Baik, Master."

"Kita akan berpisah di persimpangan ini, dan kita hanya akan bertemu kembali dalam waktu dua tahun mendatang. Tentukan sendiri takdir perjalananmu. Aku akan segera beranjak ke kediaman Vargan. Jika kamu butuh tempat untuk mengasah taring tersembunyimu, aku memperkenankanmu untuk mendaftar sebagai murid di salah satu Akademi Bela Diri yang tersebar di benua ini," tutur Arvendel memberikan restu penuh.

"Iya, Master. Kalau begitu, aku berangkat sekarang," ujar Kenzie, menatap sang guru dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam.

"Tunggu, satu hal lagi. Ambillah cincin ruang ini. Ini akan sangat berguna bagimu untuk menyimpan seluruh barang keperluanmu selama ada di luar. Dan ingat, dua tahun dari sekarang, kita akan bertemu kembali di tempat Vargan. Di sanalah aku akan menunggumu menagih hasil usahamu!" Arvendel melemparkan sebuah cincin perak berukir safir yang langsung ditangkap dengan pas oleh Kenzie.

"Iya, Master. Terima kasih banyak. Sampai jumpa dua tahun lagi!"

Kenzie berbalik, melangkah tegap meninggalkan pelataran latihan. Di saat yang sama, hawa keberadaan Arvendel di belakangnya mendadak menyublim, lenyap tak berbekas seiring sang Master melesat pergi menuju kediaman Vargan.

Kenzie memulai langkah pertamanya turun melintasi jalur curam Gunung Celestara. Di punggung tegapnya kini tersampir sebilah pedang baru bersarung hitam legam yang memiliki tekanan gravitasi ratusan kilogram. Anehnya, beban seberat itu sama sekali tidak memengaruhi gerakannya; berkat penguasaan Jurus Langkah Pembunuh Langit, setiap langkah kaki Kenzie justru terasa seringan hampa udara, melompati batuan terjal tanpa menimbulkan suara.

Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu akhirnya membawa Kenzie tiba di sebuah area persimpangan hutan lebat yang menjadi batas terluar pegunungan dengan wilayah Kerajaan Elyndor. Namun, tepat saat kaki kanannya hendak mengambil jalur kiri menuju arah kota, sebuah suara pergerakan kasar dari balik semak-semak seketika menghentikan langkahnya.

*Sreet! Russh!*

Dedaunan hijau tersibak kasar. Dari balik rimbunnya pepohonan purba, muncul dua sosok pendekar, seorang pria dan seorang wanita, yang berjalan dengan langkah sempoyongan. Mereka berdua tampak baru saja keluar dari kedalaman hutan Celestara dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan dan dipenuhi oleh luka-luka sayatan segar.

Kenzie seketika terpaku di tempat, sepasang mata merah padamnya sedikit melebar mengamati kedua orang asing tersebut. Dari sisa hawa pertempuran yang melekat di pakaian mereka, Kenzie tahu mereka baru saja lolos dari maut setelah bertarung melawan monster hewan spiritual tingkat tinggi.

"Permisi, Tuan dan Nona," Kenzie membuka suara dengan nada ramah, melangkah mendekat. "Jika boleh tahu, hal mengerikan apa yang baru saja terjadi pada kalian berdua di dalam sana?"

Mendengar suara asing, pria dan wanita itu tersentak. Mereka saling bertukar pandangan dengan raut wajah yang dipenuhi rasa heran bercampur tidak percaya. Mereka melihat ke arah Kenzie yang berpenampilan sangat bersih, tenang, dan tanpa luka sedikit pun, padahal pemuda berambut perak itu juga baru saja keluar dari arah hutan yang sama dengan mereka.

"Tentu, Tuan... Uhuk," jawab pendekar pria itu sembari memegangi dadanya yang sesak. "Apa yang ingin Anda tanyakan? Jika aku mampu, aku pasti akan menjawabnya."

"Tuan, bolehkah aku tahu makhluk apa yang membuat kalian berdua terluka parah hingga seperti ini?" tanya Kenzie kembali, menyelidik.

Pendekar wanita yang berada di sebelah pria itu menghela napas panjang dengan sisa tenaga yang ada. "Kami baru saja terjebak dalam pertarungan hidup mati melawan hewan spiritual di vegetasi terdalam hutan Celestara. Pada akhirnya, kami terluka parah akibat amukan monster itu dan terpaksa memilih untuk kabur demi menyelamatkan nyawa."

"Begitu ya... Hewan spiritual jenis apa yang sanggup merobek pertahanan kalian?" Kenzie semakin penasaran.

"Itu adalah beast buas kuno... Banteng Bertanduk Baja! Hewan itu memiliki tabiat yang teramat bengis, liar, dan tidak akan pernah membiarkan makhluk lain mendekati wilayah teritorinya!" sahut sang pria dengan nada yang masih menyiratkan trauma mendalam.

*Deg!*

Seketika itu juga, sepasang mata merah padam Kenzie langsung berbinar-binar cerah bagai bintang di malam hari begitu mendengar nama 'Banteng Bertanduk Baja'. Rasa takut yang diharapkan kedua pendekar itu sama sekali tidak muncul. Sebaliknya, memori kuliner Kenzie langsung berputar hebat.

Dulu, Arvendel pernah sesekali, pada beberapa waktu membawakan sebongkah daging hasil buruan untuk makan malamnya, dan daging itu adalah daging Banteng Bertanduk Baja. Rasa dagingnya yang teramat empuk, gurih, dan aromanya yang kaya akan esensi energi spiritual murni benar-benar sanggup membuat air liur Kenzie menetes deras bahkan hanya dengan membayangkannya saja saat ini.

Kedua pendekar terluka itu serentak menaikkan sebelah alis mereka tinggi-tinggi dengan ekspresi luar biasa heran. Mereka menatap Kenzie yang mendadak melamun dengan wajah bodoh, bahkan sudut bibirnya mulai mengeluarkan sedikit air liur seolah sedang menghayalkan sesuatu yang tidak mampu dimengerti.

"Maaf, Tuan... Apa yang sedang Anda pikirkan hingga berekspresi seperti itu di situasi genting ini?" tanya sang wanita dengan kerutan dalam di dahi, penuh rasa penasaran.

"Ah! Tidak, tidak ada apa-apa!" ucap Kenzie dengan cepat sembari mengusap sudut bibirnya gelagapan. Detik berikutnya, wajahnya berubah menjadi sangat antusias dan terburu-buru. "Bisakah kalian membawaku ke tempat daging lezat itu berada? Atau setidaknya, tunjukkan saja arah koordinat jalan yang harus kulalui agar aku bisa segera bertemu dengan segumpal daging nikmat itu?!"

Pendekar pria itu tersedak ludahnya sendiri, merasa Kenzie telah kehilangan akal sehatnya. "Tuan! Sepertinya Anda salah paham dengan maksud peringatanku! Di dalam sana bukan hanya ada satu, melainkan ada tiga ekor Banteng Bertanduk Baja yang sedang berkumpul dan beristirahat menikmati rerumputan! Ketiga monster setingkat Master ahli itulah yang baru saja membantai dan membuat kami menjadi pincang seperti ini!"

"Sungguh?! Apakah Anda serius ada tiga ekor sekaligus?!" Bukannya gentar, volume suara Kenzie justru naik satu tingkat penuh kegembiraan yang membubung tinggi. "Luar biasa! Kalau begitu, mari cepat antar aku ke sana dan kalian berdua hanya perlu duduk manis menyaksikanku bertarung dari jarak aman!, sebelum mereka beranjak pergi ketempat lain."

Karena kondisi fisik mereka yang sudah terlampau lelah dan tidak memiliki energi lagi untuk berdebat dengan pemuda "gila" di depan mereka, kedua pendekar itu akhirnya terpaksa menyetujui permintaan Kenzie dengan berat hati.

Di dalam pikiran mereka, mereka sudah menyusun rencana untuk mengawasi Kenzie dari jarak yang sangat jauh; jika nanti Kenzie terbukti tidak sanggup menahan hantaman tanduk baja dari monster tersebut, mereka akan langsung mengambil langkah seribu untuk kabur menyelamatkan diri masing-masing.

...----------------...

Setelah berjalan beberapa menit menyusuri rute memutar, pendekar wanita itu menghentikan langkahnya di balik sebuah batu pembatas yang besar. "Tuan, kami hanya bisa mengantar Anda sampai di titik ini dan menyaksikan pertarungan dari kejauhan. Ingat pesan kami, jika Anda sudah merasa tidak sanggup melawan ketiga monster itu, segeralah pergi melarikan diri! Kami tidak akan memiliki kemampuan sedikit pun untuk menolong Anda."

Namun, respons Kenzie lagi-lagi berada di luar nalar sehat mereka.

"Ah, aku hampir lupa hal penting ini. Ini, minumlah ini terlebih dahulu, karena aku akan sangat membutuhkan bantuan tenaga kalian berdua untuk membersihkan dan memotong dagingnya nanti," ucap Kenzie dengan sikap teramat santai seolah monster di depan mereka hanyalah pajangan. "Kalian tunggu saja aku di sini, setelah ini kita akan mengadakan pesta makan malam bersama."

Kenzie melemparkan dua butir pil obat berwarna hijau zamrud ke arah mereka, sebelum tubuh tegapnya melesat maju menembus semak-semak menuju wilayah teritori banteng.

Pil yang diberikan Kenzie itu bukan sebarang obat, melainkan Pil Penyembuh Esensi Spiritual, hasil racikan tangan dingin Vargan yang memiliki khasiat tingkat tinggi untuk meregenerasi luka dalam maupun luar dalam hitungan menit. Bahkan, bekas-bekas luka mengerikan di tubuh Kenzie akibat siksaan pukulan tongkat Arvendel atau terluka saat latihan selama bertahun-tahun bisa lenyap tanpa bekas berkat khasiat pil tersebut setelah ia meminumnya.

Sepasang mata kedua pendekar itu seketika membelalak lebar, rahang mereka hampir jatuh ke tanah saat mencium aroma murni yang menguar dari pil di tangan mereka. Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, insting mereka berteriak untuk langsung menelan pil berkualitas tinggi tersebut.

Bagaimana mungkin mereka bisa curiga? Di dunia luar, pil dengan kemurnian sekental ini memiliki nilai jual yang teramat mahal, sangat langka, dan mustahil didapatkan oleh kalangan biasa. Bahkan di Akademi Bela Diri terbesar sekalipun, hanya para dewan guru atau Guru berpangkat tinggi yang memiliki hak istimewa untuk mengonsumsi pil penyembuh dengan kualitas dewa seperti yang baru saja dilemparkan Kenzie secara cuma-cuma.

Sembari merasakan aliran hangat pil yang mulai menutup luka-luka di tubuh mereka dengan kecepatan gila, kedua pendekar itu mengarahkan pandangan mereka ke depan dengan jantung berdebar kencang, bersiap menyaksikan bagaimana pemuda misterius itu menghadapi tiga ekor banteng bertanduk baja sekaligus.

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!