Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 14
Desahan Nisa meliuk lembut, beradu dengan suara pendingin ruangan yang berdesir halus di dalam kamar.
Di bawah kungkungan tubuh kekar Farrel, seluruh pertahanan diri gadis itu telah lebur tak bersisa. Setiap sentuhan jari Farrel di atas kulit mulusnya terasa seperti sengatan listrik yang mengalirkan candu baru ke dalam darahnya.
Kemeja putih yang dikenakan Nisa sudah tersingkap sepenuhnya, menonjolkan lekuk dada indahnya yang naik-turun dengan cepat akibat napas yang memburu.
Kulitnya yang telah ditingkatkan dua puluh persen oleh sistem tampak bersinar, memancarkan rona kemerahan yang sangat erotis di bawah siraman cahaya pagi.
"F-Farrel... ahh... ak-aku mencintaimu..."
rintih Nisa pasrah, matanya terpejam erat saat bibir Farrel mulai melumat leher jenjangnya dengan posesif, meninggalkan tanda merah keunguan di sana sebagai klaim kepemilikan mutlak.
Kedua tangan Nisa merayap ke punggung Farrel yang kokoh, meremas kulit pria itu seiring dengan gairah muda mereka yang kian meledak di atas kasur sutra tersebut.
Pengalaman intim ini begitu detail, sensual, dan intens, mengunci kesetiaan Nisa hingga ke titik yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun di dunia ini.
【 Ting! Interaksi intim tingkat lanjut selesai dengan sempurna! 】
【 Tingkat Kesetiaan Nisa Amanda telah mengunci di angka maksimal: 100% (Mati dan Hidup Bersama)! 】
【 Ding! Selamat! Karena target pertama telah mencapai kesetiaan mutlak, Pengguna mendapatkan Hadiah Utama: 】
• 1. Saldo Tunai Pribadi: Rp 500.000.000 (Lima Ratus Juta Rupiah) langsung ditransfer ke rekening BCA Anda.
• 2. Poin Atribut Bebas: 10 Poin.
• 3. Akses Khusus: Membuka Target Wanita Kedua dalam radius 10 kilometer.
Farrel menarik napas dalam-dalam, merebahkan tubuhnya di samping Nisa yang kini tertidur lelap dengan wajah tersenyum puas akibat kelelahan yang manis.
Ia menyelimuti tubuh molek gadis itu hingga sebatas dada, lalu membuka panel sistem di otaknya.
'Sistem, alokasikan 5 poin ke Kekuatan dan 5 poin ke Stamina,' perintah Farrel dalam hati.
【 Ting! Alokasi berhasil. Status terbaru Pengguna: 】
• Kekuatan: 25 (Setara dengan kekuatan lima pria dewasa berotot)
• Kecepatan: 23
• Stamina: 25 (Daya tahan fisik tanpa batas)
• Saldo Pribadi: Rp 890.000.000,00
Dengan kekuatan sebesar ini, Farrel merasa bisa meremukkan beton hanya dengan kepalan tangannya.
Ia bangkit dari ranjang, mengenakan celana panjangnya, lalu melangkah ke ruang tengah penthouse.
Di sana, Tiger sudah berdiri menunggunya dengan wajah yang sangat serius.
"Tuan Besar, laporan darurat," kata Tiger, tubuh raksasanya membungkuk hormat.
"Jenderal Hermawan telah bergerak. Dia menggunakan pengaruh politiknya untuk menggerakkan tiga kompi pasukan taktis bayaran berseragam preman."
"Saat ini, mereka sedang menyisir wilayah Baranangsiang. Warung soto milik Ibu Siti sudah diacak-acak, dan mereka mulai bergerak menuju apartemen ini karena berhasil melacak pelat nomor Lamborghini Anda."
Farrel tidak terkejut. Ia berjalan ke arah dispenser, menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminumnya dengan tenang.
"Berapa banyak orang yang dia bawa?" tanya Farrel datar.
"Total sekitar seratus lima puluh orang, Tuan.
"Mereka dipersenjatai dengan senjata tajam tingkat militer dan beberapa senjata api genggam. Mereka memblokir jalan utama menuju apartemen ini,"
jelas Tiger, tangannya sudah meraba popor senapan serbu HK416 di balik jaketnya.
Farrel menyeringai dingin. Matanya berkilat menatap ke luar jendela kaca besar. Perang terbuka yang ia nantikan akhirnya tiba.
Jenderal tua itu berpikir bisa menekannya dengan jumlah pasukan? Mereka tidak tahu bahwa di hadapan monster ciptaan sistem, jumlah hanyalah deretan angka yang tidak berarti.
"Tiger, perintahkan sepuluh personel elit kita untuk mengevakuasi Ibu Siti ke Villa Puncak sekarang juga melalui jalur bawah tanah."
"Jaga Nisa di kamar ini, jangan biarkan ada satu lalat pun yang masuk,"
perintah Farrel, suaranya terdengar begitu berwibawa dan penuh tekanan dominan.
"Lalu... Anda sendiri bagaimana, Tuan Besar?" Tiger menatap bos mudanya dengan pandangan heran.
Farrel mengambil jas hitamnya yang tergantung di sandaran kursi, memakainya dengan gerakan yang sangat anggun.
Ia menarik sebatang rokok kretek murah yang tersisa di sakunya satu-satunya sisa kenangan dari masa-masa sulitnya sebagai supir angkot lalu menyalakannya.
"Gua?"
Farrel mengembuskan asap rokoknya ke udara, wajah kejam terukir di wajah tampannya.
"Gua bakal turun ke lobi bawah. Seratus lima puluh anjing Hermawan itu... gua sendiri yang bakal bantai mereka sampai jalanan Bogor berubah warna jadi merah."
Sementara itu, di area parkir luar dan lobi utama apartemen mewah tersebut, suasana mencekam begitu terasa. Puluhan mobil jip dan truk bersayap tertutup terparkir melintang, menutup akses keluar-masuk gedung.
Lebih dari seratus pria bertubuh kekar dengan pakaian hitam-hitam dan wajah sangar tampak mengepung lobi.
Di tangan mereka, parang panjang, celurit, dan besi pemukul berkilat tajam di bawah langit Bogor yang kembali mendung.
Di barisan depan, seorang perwira bayaran bertubuh tegap dengan bekas luka tembak di pipinya maju memimpin.
Namanya sapaannya adalah Kapten Guntur, mantan anggota pasukan khusus yang kini menjadi anjing peliharaan nomor satu Jenderal Hermawan.
"Dengar semuanya!
"Jenderal mau bocah itu diseret hidup-hidup atau mati! Kalau ada sekuriti apartemen yang berani ikut campur, sikat juga!"
teriak Guntur dengan suara menggelegar, memegang sebuah pistol semi-otomatis di tangan kanannya.
Ting.
Suara pintu lift utama lobi apartemen yang terbuka perlahan menarik perhatian seratus lima puluh pasang mata preman tersebut. Suasana yang tadinya bising mendadak sunyi senyap.
Dari dalam lift, seorang pria muda melangkah keluar dengan santai. Kemeja putihnya yang bersih, jas hitam yang terpasang rapi, dan sebatang rokok yang menyala di bibirnya membuat penampilannya tampak sangat kontras dengan situasi perang di lobi.
Farrel Aditama.
Ia berhenti tepat lima meter di depan gerombolan pria bersenjata tersebut. Farrel membuang puntung rokoknya ke lantai marmer, lalu menginjaknya dengan ujung sepatu pantofelnya yang mengkilap.
"Gua hargai nyali kalian karena berani dateng ke sini,"
kata Farrel, suaranya tidak keras, namun entah mengapa terdengar bergema begitu pekat di telinga semua orang yang hadir.
Ia meregangkan otot-otot lehernya hingga terdengar bunyi gemertak yang renyah. Sambil menatap seratus lima puluh preman di hadapannya, tatapan mata Farrel berubah menjadi sedingin es, mengaktifkan kemampuan Mata Sang Penguasa tingkat penuh.
"Tapi sayangnya... malam ini lobi ini bakal jadi kuburan massal buat kalian semua."