NovelToon NovelToon
Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adzana Raisha

Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.

Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat Pelarian

Seiring mobil yang membawanya mulai memasuki gerbang toko bunga, bersama itu punlah impian gadis bernama Zara kembali terbuka lebar. Sekilas bayangan indah keberhasilannya meraih pundi-pundi rupiah di Ibukota dan kembali kekampung halaman setelah meraih kesuksesan, menjadi impian terbesarnya saat ini. Akan tetapi gadis dengan bola mata bening itu sadar, jika tak mudah bisa mencapai semua keinginan setelalah beberapa kejadian yang sempat ia alami.

Sopir berbadan tegap itu menuruni kuda besi selepas mesin dimatikan. Kemudian bergerak cepat membuka pintu mobil bagian penumpang.

"Silahkan Nona," ucap sopir dengan stelan jas rapi itu ramah sembari muka lebar pintu mobil.

"Terimakasih banyak Tuan." Zara menundukan kepala kepada sopir berusia tiga puluhan tahunan tersebut, meski pria bersurai klimis itu nampak terkejut akan panggilan yang Zara tujukan untuknya.

Toko bunga masih tampak sepi. Para karyawan tak satu pun yang terlihat. Hanya keberadaan empat orang penjaga keamanan yang senantiasa bersiaga.

Mobil beserta sopir keluarga Anastasya sudah meninggalkan toko beberapa saat setelah seorang gadis yang ia bawa dipastikan selamat sampai tujuan.

Zara terseyum senang menatap kearah pos penjagaan. Dimana keempat pria berseragam tengah menatapnya. Gadis itu pun menundukan kepala, sebelum memasuki toko bunga.

Pintu kaca berlapis tirai itu mulai terbuka. Seketika disambut semerbak berbagai macam wangi bunga yang memanjakan indra penciuman Zara. Untuk beberapa saat gadis itu memejamkan kedua netra dan menikmati setiap tarikan nafas yang terasa menenangkan.

Sungguh luar biasa damai kala sekejap saja mampu melepaskan beban berat di pundak. Menjalani hidup dengan langkah seringan kapas dan menikmati hidup dengan bahagia tanpa merugikan orang lain. Sudut bibir tipis itu mengulas senyum disela netra yang masih terkatup rapat. Sudah cukup lama, dirinya tak merasakan hidup sedamai ini.

"Zara."

Gadis itu terkesiap. Membuka lebar netranya dan memutar tubuh seketika mencari seseorang di belakang punggung yang tengah memanggilnya.

Kiara.

"Zara, kau sudah bekerja kembali? Apa kau sudah benar-benar sembuh?" Kiara mendekat, menyentuh pipi dan kening Zara berulang untuk lebih memastikan.

Zara tersenyum simpul dengan menatap gadis bernama Kiara yang tengah begitu mengkhawatirkannya. "Seperti yang kau lihat, aku sudah merasa lebih baik dan harus kembali bekerja." Zara mencubit ujung hidung Kiara yang masih mentapnya tanpa kedip.

"Apa kau yakin?" Terlihat jelas jika wajah Zara masih terlihat pucat.

"Tentu saja," jawab gadis dengan rambut diikat ekor kuda itu tanpa ragu.

Kiara menghela nafas dalam, "Baiklah, aku percaya padamu. Tapi awas jika kau sampai pingsan lagi, aku biarkan kau ambruk di lantai."

"Kenapa? Kau jahat sekali." Zara memanyunkan bibirnya.

"Aku perempuan, tubuhku pun kecil sepertimu. Aku tidak akan kuat menggendongmu, tidak seperti Tuan Arka ops." Kiara seketika membekap mulut dengan kedua telapak tangan. Sementara pandangannya memindai kesegala arah. "Maaf, aku tidak sengaja," sambungnya penuh penyesalan.

Zara menarik nafas berat. Entah mengapa, ucapan Kiara terasa begitu menyakitinya.

******

Zara merasa memiliki seorang sahabat saat tengah bersama Kiara. Dari beberapa karyawan toko bunga yang dimiliki Anastasya, Kiaralah yang paling dekat dengannya. Keduanya sama-sama polos dan periang. Dari usia pun nampak tak jauh beda. Tak jarang, Zara atau pun Kiara saling bertukar cerita dan pendapat perihal toko bunga dan masalah pribadi.

Sembari menunggu karyawan lain tiba, kini keduanya merampungkan buket bunga pesanan pelanggan secara bersamaan. Sesekali kedua gadis manis itu tampak melempar tawa bahkan candaan. Toko bunga yang semula sunyi pun tampak hidup dengan adanya dua gadis yang kian hari semakin akrab.

"Kiara, apa kau menaiki taksi atau ojek untuk berangkat ke toko setiap harinya?"

Masih terlihat mengotak atik beberapa tangkai bunga lily di tanganya, gadis berponi itu tersenyum malu. "Jika biasanya, aku berangkat ke toko dengan ojek online, tapi beberapa minggu ini aku diantar oleh seseorang."

Zara menatap wajah gadis di sampingnya itu lekat. Menelaah ucapan dan rona merah di wajah Kiara dengan saksama.

"Maksudmu pacar?" tebak Zara asal.

Tanpa berbicara, Kiara hanya menganguk malu-malu dengan senyum tipis tak lutur di bibirnya.

Zara tergelak. Meski dirinya belum pernah merasakan berpacaran atau pun jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Namun dari berbinarnya wajah Kiara, mampu mewakilkan semua jika sahabatnya kini tengah berbunga-bunga.

"Aku tidak sabar melihat wajah pria yang sudah melumerkan sebongkah merah muda di dadamu itu. Dia pasti sangat beruntung memiliki pacar sepertimu, Kiara." Terselip pujian disetiap ucapan Zara.

"Kau terlalu berlebih Zara. Aku justru berdoa, agar kau tidak bertemu dengan kekasihku."

Zara menautkan kedua alisnya, nampak berfikir. "Kenapa?"

"Karna kau cantik. Aku takut jika kekasihku melihatmu, lalu kemudian jatuh cinta kepadamu," jawab Kiara tanpa memandang lawan bicaranya.

"Apa?"

"Hahaha, aku hanya bercanda." Kiara tergelak hingga bahunya pun berguncang. Sengaja ingin menggoda sang sahabat yang kini menahan kesal.

******

Berguling di ranjang berukuran King size miliknya seharian penuh, membuat Anastasya bosan. Mendongak menatap jam dinding yang kini menunjukan pukul 20:00, membuatnya lekas bangit dari posisinya.

Berdiri di pembantas lantai tiga, Anastasya mengamati keadaan rumah megah yang tampak sepi. Hanya terlihat beberapa pelayan yang tengah hilir mudik merampungkan pekerjaan.

Tersenyum ironi. Anastasya selalu merasakan kesunyian, layaknya hidup seorang diri. Arkana, sang suami pun baru akan kembali bekerja jika hampir tengah malam.

Memutar bola matanya malas, Anastasya berjalan pelan menuju ruang ganti. Menanggalkan piyama banana yang melekat dan menggantinya dengan dres pink selutut.

Selama menganti pakaian dan merias diri, Anastasya mencari-cari alasan pas yang masuk akal. Jika sewaktu-waktu Bi Surti dan para pengawal mempertanyakan tempat yang akan dikunjunginya. Namu rasa bosan dan kesepian yang menyergap, membulatkan tekad Anastasya, untuk tetap pergi keluar bagaimana pun Alasannya.

Menuruni satu persatu anak tangga, Anastasya terlihat sangat sempurna bak seorang model dengan pakaian dan riasan yang melekat ditubuh semampainya.

Surti yang tengah berdiri di sudut pintu pun mendongak, namun wajah perempuan setengah baya itu berubah seketika, kala mendapati penampilan rapi Nonanya, tanpa sang Tuan.

"Nona, apakah anda ingin keluar?" Gemetar bibir perempuan paruh baya itu berucap.

"Iya Bi. Kalian tidak usah khawatir, aku sudah meminta izin pada Tuan untuk keluar sebentar." Anastasya tau jika tak akan mudah keluar dari rumah megah ini tanpa adanya izin dari sang suami.

"Tapi Nona, Tuan sudah mewanti-wanti saya untuk tidak mengizinkan Nona untuk keluar malam." Surti tetap kekeh menjalankan perintah Tuanya.

Anastasya tersenyum masam, lantas mencari alasan lain yang mampu meluluhkan hati perempuan paruh baya itu untuk mengizinkannya pergi.

"Bi, aku hanya ingin makan sate kambing pinggir jalan langgananku. Aku janji tidak akan lama. lagi pula, aku takut jika tidak kesampaian, calon bayi di dalam perutku ini akan ileran jika keinginannya tak terpenuhi."

Surti terbelalak. "A-apa? Nona ha--

"Nah, maka dari itu. Ijinkan Aku," jawab Anastasya dengan memasang wajah memelas.

"Tapi Nona, saya bisa mengirim sopir untuk membelinya."

"Tapi aku ingin membelinya sendiri. Jika orang lain yang membelinya, rasanya pun akan berubah." Anastasya meninggikan sedikit nada bicaranya.

"Tapi Nona, Tuan tidak akan semudah itu memberikan izin."

"Ah sudahlah, calon bayiku akan mengamuk jika terlalu lama berdebat denganmu." Tanpa babibu, Anastasya berlari kecil kearah pintu keluar meninggalkan Surti yang berwajah pias menuju garasi dimana mobilnya terparkir rapi.

Berbekal alasan ngidam yang sengaja dibuat, Anastasya tampak mudah keluar dari gerbang utama tanpa berdebatan dengan para pengawal. Mencengkeram kemudi kuat, Anastasya melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang ia inginkan.

Deru mesin mobil terhenti saat sudah memasuki lokasi parkir bangunan nan tinggi menjulang. Anastasya menghela nafas berat. Masih berada di dalam mobil, perempuan bersurai indah itu menatap nanar bangunan depan club malam, yang dulu kerap kali menemani malamnya.

Maafkan aku Arka. Club ini masih menjadi satu-satunya tempat pelarianku.

Melepaskan sabuk pengaman, Anastasya mulai membuka pintu mobil, meski sempat diterpa keraguan. Melangkahkan kaki jenjangnya memasuki pintu utama Club night. Derap musik memekakan telinga, seketika menyambut kedatangannya. Mengedarkan pandangan kesegala ruangan, mencari letak meja yang kerap dipesan bersama beberapa sahabatnya.

Netranya terfokus pada sesuatu yang dicari. Anastasya berjalan mendekat dengan anggunya. Langkahnya terhenti tepat disisi sebelah meja, dengan beberapa perempuan yang tengah menikmati minuman mahal dalam gelas kristal.

"Selamat malam teman-teman," sapa Anastasya pada beberapa sahabat yang masih belum menyadari akan kehadirannya.

Para perempuan itu mendongak. Semua memasang ekspresi wajah yang sama. Terbelalak tak percaya. Bahkan seseorang yang setengah mabuk langsung berdiri dan mendekat kearahnya.

"Anastasya, kau kah ini." Mengguncangkan tubuh Anastasya cukup kuat. "Aku tidak sedang bermimpi kan?" Sambungnya lagi.

"Hei sudahlah, jangan seperti itu. Atau Anastasya akan marah pada kita dan pergi begitu saja seperti malam itu," ucap teman lainya.

"Duduklah."

Anastasya hanya diam, dan duduk di kursi kosong yang masih tersedia. Melirik kearah Sinta, satu-satunya teman yang masih terlihat waras tanpa meracau.

"Aku sedang bosan dan jenuh," keluh Anastasya.

Sinta tergelak samar, "Bukankah kau bahagia hidup dengan pria tampan di istana megah itu."

"Maksudmu?"

"Sudahlah, lupakan. Aku hanya bergurau." Sinta mengusap bahu Anastasya lembut. "Bagaimana jika aku pesankan kau minum," tawar Sinta.

Anastasya berfikir sejenak, " Baiklah. Pesankan aku jus saja. Aku sudah cukup lama berhenti minum."

"Baiklah, tunggu sebentar." Sinta berjalan kearah meja bar guna memesan minuman yang diinginkan sahabatnya. Tak berapa lama, Sinta membawa segelas minuman berwarna terang di dalam sebuah gelas kristal.

"Minuman datang." Sinta mendaratkan segelas minuman tepat di hadapan Anastasya.

"Hei, aku sudah tak ingin menyentuh minuman seperti ini," tolak Anastasya.

"Tenang saja, kadar alkoholnya sangat kecil. Bahkan nyaris tak ada. Jadi, aku jamin kau aman meminumnya." Bujuk Sinta hingga menempelkannya di bibir Anastasya.

"Sinta, aku tidak mau."

"Ayolah, sedikit saja Tasya."

Sekuat apa pun Anastasya menolak, nyatanya Sinta berhasil mengarahkan gelas berisi cairan berwarna terang itu masuk kedalam mulutnya.

"Nah, itu baru nama Anastasya sahabatku," puji Sinta selepas berhasil memindah tempatkan minuman itu kedalam perut sahabatnya.

Anastasya diam, dan mulai merasakan gelayar rasa aneh yang mulai menjalar di tubuhnya.

"Sinta, minuman apa yang kau berikan untukku?" Anastasya meremas kepalanya yang mulai terasa pusing.

"Seperti yang aku bilang, itu bukanlah minuman beralkohol," elak Sinta dengan sekuat tenaga menahan tawa.

Memangnya aku ini sepolos dirimu Anastasya, yang sebegitu mudahnya dibodohi orang seseorang yang sudah kau anggap dekat denganmu. Haha, selamat menikmati alkohol berkadar tinggi yang sudah masuk kedalam perutmu itu. Aku bahkan berharap jika seseorang reporter menangkap basah dirimu yang tengah mabuk dan melengak lenggok tak terkendali. Hingga semua media masa memuatmu dalam berita utama. " Istri Ceo ternama keluarga Surya Atmadja gemar menari erotis dan mabuk-mabukan."

Sinta luar biasa puas. Sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyuman, menatap tubuh Anastasya yang mulai kehilangan keseimbangan.

Kakak Readers baca juga karyaku yang lainya

Meniti Jalan Takdir

Istri Culun Pria Tajir_ By. Maililiani

Terimakasih

1
Surati
bagus
sinta febrianti
udah bisa di tebak pas Zara nyuruh suaminya ngelepasin sandy pasti bkln kya gni. hrusnya arka wlaupun Zara ngmng sruh lepaskan hrusnya dia ttep nyuruh bodyguard nya buat beresin sandy biar gak bkin ulah lgi.. lah ini malah di bebasin yo wis jdinya begitu sandy berulah lgi
Rikawaii San
Luar biasa
Retno Elisabeth
menarik ceritanya thor
Inaqn Sofie
knp manggilnya tuan trs ya
Adeva Rizky
kok Zara,ngomong sama arka msh aj formal.gk cocok
Lena Sari
masa lalu seperti apa yg nona Anastasya sembunyikan???
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trusvsukses
fifid dwi ariani
trus sehat
Murwa Malefy
heheeee puncak kepala thor...😀 semangaattt thor..
YK
memang lebih baik dengan Ken yg didewasakan dengan cobaan. bukannya rangga yg lari dari cobaan dan meminta sahabatnya yg bertanggungjawab atas permasalahan yg disebabkan oleh dirinya sendiri...
YK
noh, siapa yg kemaren sibuk menghujat arka????
YK
cowok kere aja belagu...
YK
apakah tasya sakit? HIV mungkin?
Sri Wahyuni
kan s zara msih punya bpk knp pke wali y hakim
Sri Wahyuni
hrus nya s tasya itu memprbaiki dri dn hrs bersyukur msih ada yg mau mengeluarkn dri dunia lmbah hitam s arka mau menikahi nya hrs hidup lah yg lbih baik nikmati yg udah d sdiakan suami nya the real az hidup dn hnya krn cinta yg blm d dpt jd tmbah hilng arah cp tau dngn bnyk bersyukur dn brsbar akn tba wktu y yg d ingin kn tpi ini klkuan bkin jengah suami az
Sri Wahyuni
mungkin tdi y tasya itu jalang yg taubat..dan s zara skrng az blng ga mau k dpn y pasti bucin merem melek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!