NovelToon NovelToon
Ma Chérie, Don'T Run!

Ma Chérie, Don'T Run!

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Bagi dunia, Hades Sterling adalah pengusaha kejam yang tak tersentuh. Namun bagi Persephone Sinclair, dia adalah suami posesif yang memanggilnya "Ma chérie". Percy suka petualangan dan kegilaan keliling dunia, sementara Hades suka membiarkannya bebas, dalam pengawasan ratusan pengawal bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Bulan demi bulan berlalu di balik dinding benteng mansion Sterling yang megah. Kehamilan Percy berjalan dengan penjagaan yang semakin ketat dan posesif dari Hades. Setiap sudut kediaman mereka telah disterilisasi dari segala potensi risiko, menjadikan istana tersebut tempat paling aman sekaligus paling terisolasi di muka bumi.

​Di dalam kamar utama yang temaram, Percy berbaring dengan napas yang sedikit memburu. Perutnya kini telah membuncah sempurna, membawa beban kehidupan baru yang siap menyapa dunia kapan saja. Rasa sakit kontraksi mulai merayap, namun di dalam manik mata amber miliknya, tidak ada secercah pun rasa takut hanya ketegasan seorang ratu yang siap melahirkan sang pewaris mutlak.

​Hades duduk di sisi ranjang, menggenggam erat jemari istrinya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya tak henti mengusap kening Percy yang basah oleh keringat. Pria itu tampak tegang, aura dominasinya berubah menjadi perlindungan liar yang siap mencabik apa saja demi keselamatan istri dan anaknya.

​"Aku di sini, Ma chérie," bisik Hades serak, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh pelipis Percy. "Fokuslah padaku."

​Percy mencengkeram kuat tangan suaminya, menyalurkan seluruh sisa tenaga dan tekadnya ke dalam genggaman itu. Di luar jendela kamar, hujan badai kembali turun membasahi kota Manhattan, seolah alam semesta pun bersujud menyambut detik-detik lahirnya darah daging dari sang penguasa kegelapan.

​Dengan satu dorongan terakhir yang menguras seluruh tenaganya, sebuah tangisan nyaring akhirnya memecah keheningan malam di dalam kamar tersebut.

​Suara itu menggema, menandakan lahirnya generasi baru dari dinasti yang akan memegang kendali atas separuh dunia.

​Seorang tenaga medis kepercayaan mereka dengan sigap membungkus bayi mungil itu dengan kain sutra terbaik, lalu menyerahkannya kepada sang ayah. Hades menerima bayi tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena gelombang kekuasaan dan ikatan darah yang mendadak menghantam relung hatinya.

​Ia melangkah mendekati ranjang, lalu merebahkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu tepat di sisi Percy.

​Percy menatap bayinya dengan air mata kebahagiaan yang perlahan menetes di pipinya. Bayi itu memiliki garis wajah yang tegas bahkan sejak lahir, mewarisi ketajaman dari sang ayah dan keanggunan dari sang ibu.

​Hades menunduk, mencium kening istrinya dengan penuh pemujaan, lalu berbisik tepat di telinga Percy dan bayi mereka.

​"Selamat datang di dunia, pewaris singgasana kami. Di bawah darah ini, dunia akan selamanya menjadi milik kita."

​Tangisan nyaring bayi mungil yang baru saja mengisi setiap sudut kamar utama itu mendadak tersendat oleh sebuah kepanikan senyap yang merayap begitu cepat. Di atas ranjang sutra hitam, napas Percy menderu berat. Wajah cantiknya yang tadinya memancarkan kelegaan perlahan memucat, kehilangan seluruh warnanya dalam hitungan detik.

​Noda merah pekat mulai merembes dan membasahi seprai putih yang membungkus tubuhnya sebuah komplikasi pascapersalinan yang mematikan, melanda tubuh sang ratu tanpa memberi ruang bagi siapa pun untuk bersiap.

​"Percy?" Suara bariton Hades yang tadinya dipenuhi oleh kemenangan seketika berubah menjadi serak dan penuh teror. Ia meletakkan sang bayi dengan sangat hati-hati ke dalam crib khusus di sebelah ranjang, lalu langsung mencengkeram tangan istrinya yang mulai melemas.

​"H-Hades..." bisik Percy sangat pelan, manik mata ambernya menatap sayu ke arah suaminya sebelum akhirnya kelopak mata itu tertutup rapat, merenggut kesadarannya ke dalam jurang kegelapan yang panjang.

​Monitor medis di sudut ruangan berbunyi nyaring, memecah kesunyian malam dengan alarm peringatan yang membuat darah siapa pun membeku.

​Dalam hitungan menit, tim medis pribadi Sterling Global berhamburan masuk ke dalam kamar utama, dipimpin langsung oleh dokter kepercayaan keluarga. Namun, di tengah kekacauan medis tersebut, sebuah suara bariton yang dingin dan mengerikan menghentikan langkah mereka semua.

​"Jika dia tidak sadar kembali... kalian semua akan dikubur hidup-hidup di dasar laut," desis Hades. Suaranya tidak bernada tinggi, tetapi tekanan mutlak di dalamnya membuat seluruh dokter dan perawat gemetar ketakutan.

​Pintu kamar kembali terbuka lebar. Tyche Sterling, sepupu Hades sekaligus sahabat terdekat Percy yang selama ini memegang kendali keamanan lapis kedua berlari masuk dengan napas memburu. Begitu melihat kondisi Percy yang terbaring tak berdaya dengan alat-alat medis menempel di tubuhnya.

​"Bagaimana bisa ini terjadi?!" geram Tyche pada sang dokter kepala, sebelum tatapannya beralih menatap Hades yang berdiri kaku di sisi ranjang, menatap istrinya bagaikan sesosok dewa kematian yang kehilangan jiwanya.

​Hades tidak menjawab. Pria itu berdiri bagai patung batu, tangannya menggenggam jemari Percy yang terasa dingin. Seluruh imperium, kekayaan, dan kekuasaan mutlak yang ia miliki di dunia mendadak terasa tak ada artinya saat melihat ratunya terlelap dalam koma yang panjang.

​Di tengah sunyinya ruangan yang dipenuhi oleh bau obat-obatan dan deru mesin pemantau detak jantung, sebuah tangisan bayi kembali terdengar dari sudut kamar.

​Bayi mungil itu Zeus Sterling menggeliat kecil di dalam selimutnya, seolah memanggil jiwa sang ibunda yang tengah berjuang di ambang batas antara hidup dan mati.

​Hades perlahan menoleh. Dengan langkah berat, ia mendekati crib bayi, lalu mengangkat tubuh kecil Zeus ke dalam dekapannya. Di sisi lain, Tyche melangkah mendekat, berdiri tegap di samping sepupunya, meletakkan sebelah tangan di bahu Hades untuk menyalurkan kekuatan yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata.

​"Dia akan bangun, Hades," ucap Tyche tegas, menatap keponakan kecilnya yang berada di dalam dekapan sang ayah. "Percy adalah seorang ratu. Dia tidak akan pernah meninggalkan singgasananya begitu saja."

​Hades menunduk, menatap manik mata bayi Zeus yang mulai terbuka, memantulkan warna kelabu tajam milik sang ayah dan kilatan kuat yang diwarisi dari ibunya. Di bawah bayang-bayang koma yang menyelimuti Percy, Hades dan Tyche berdiri berdampingan memegang kendali atas sang pewaris, menunggu ratu mereka kembali untuk merebut kembali takhta dunia.

Enam bulan telah berlalu sejak malam badai yang merenggut kesadaran Percy. Di dalam ruang perawatan khusus yang dibangun layaknya kamar utama mansion Sterling dilengkapi teknologi medis paling mutakhir di dunia waktu seolah berjalan lebih lambat.

​Di atas ranjang besar berseprai sutra hitam itu, Percy masih terbaring tak berdaya. Alat bantu napas terpasang rapi di wajah cantiknya, menjaga detak jantungnya tetap stabil di tengah keheningan yang mencekam.

​Pintu ruangan terbuka perlahan tanpa suara. Tyche Vance melangkah masuk mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Wanita berambut perak itu baru saja menyelesaikan inspeksi pengamanan eksternal imperium, namun ia selalu menyempatkan diri untuk singgah ke ruangan ini setiap hari.

​Tyche berjalan mendekati ranjang, lalu menarik sebuah kursi kayu mahoni dan duduk tepat di samping Percy. Pandangannya melembut ketika ia menatap wajah wanita yang sudah dianggapnya sebagai sahabat sekaligus saudari terdekatnya itu.

​"Halo, Ratu," bisik Tyche pelan, suaranya sarat akan kerinduan dan kepedihan yang disembunyikan di balik senyum tipisnya.

​Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan, tempat crib bayi mewah berada. Di sana, seorang balita berusia enam bulan dengan pipi gempal dan mata kelabu tajam tengah duduk bermain dengan mainan kayunya. Zeus Sterling tumbuh menjadi bayi yang sangat aktif dan sehat, mewarisi ketegasan fisik sang ayah, namun memiliki binar mata yang mengingatkan Tyche sepenuhnya pada Percy.

​Tyche bangkit sebentar, berjalan mengambil Zeus, lalu kembali duduk di sebelah ranjang Percy. Ia mendudukkan bayi gembul itu di pangkuannya, mendekatkannya pada sang ibu.

​"Lihat anakmu ini, Percy," ucap Tyche sambil merapikan rambut Zeus yang mulai tumbuh lebat. "Dia sudah tumbuh menjadi bayi gembul yang sangat menyebalkan, persis seperti sifat keras kepala suamimu. Setiap hari dia merangkak ke ruang kerja Hades, seolah menuntut perhatian dari singa tua itu."

​Zeus mengeluarkan suara ocehan kecil, lalu mengulurkan tangan kecilnya menyentuh jemari Percy yang terkulai dingin di atas tempat tidur.

​Tyche terdiam sejenak. Suasana di dalam ruangan mendadak berubah menjadi jauh lebih hening. Senyuman tipis di wajah Tyche memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang menyembunyikan rahasia besar di dalam hatinya. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Percy, memastikan suaranya tidak terdengar oleh pengawal yang berjaga di luar pintu.

​"Apa kau tidak merindukan kebebasanmu, darling?" bisik Tyche lirih, suaranya bergetar tipis penuh emosi yang tertahan.

​Matanya menerawang menatap wajah tenang Percy. "Apa kau tidak merindukan masa-masa sebelum kau terikat di dalam sangkar emas Hades? Apa kau tidak lelah hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan mutlak pria itu?"

​Tyche menghela napas panjang, sebelah tangannya mengusap puncak kepala Zeus dengan lembut.

​"Ayo..." lanjut Tyche dengan nada membujuk yang penuh keputusasaan dan harapan tersembunyi. "...setelah kau bangun nanti, kita kabur bersama. Tinggalkan semua kemegahan busuk ini, tinggalkan Hades dan imperiumnya. Kita bawa Zeus travelling melintasi berbagai negara, hidup bebas tanpa ada aturan dan rantai kekuasaan."

​Di tengah kesunyian kamar yang dipenuhi bau antiseptik dan deru mesin medis, kalimat terlarang itu menggantung di udara sebuah tawaran pemberontakan yang langsung ditujukan kepada sang ratu yang masih terlelap dalam tidurnya yang panjang.

1
Hema Simangunsong
sukaaaaa cerita nyaaa, tp bukan mau tamat kan ya cerita thor.
you see me: terima kasih kakak /Whimper/
belum tamat kakak, masih ada lanjutannya.
terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya saya kakak hema /Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!