"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Semua gara-gara Kak Arshaf!"
Arshaf yang baru saja tiba di rumah setelah pulang dari pesantren langsung mengernyit bingung.
"Lho... Apa lagi salah kakak? Kakak baru juga nyampe."
Bukannya disambut hangat, Azel malah melotot ke arahnya.
"Ya salah kakak, lah!"
Arshaf menghela napas. "Harusnya kakak pulang tuh disambut. Dibikinin teh hangat kek. Ini malah tiba-tiba disalahin."
Azel langsung menyilangkan kedua tangannya. "Hellooo... Minta bikinin teh sama istri kakak sana."
Arshaf mendelik. "Masalahnya... Kakak belum punya istri."
"Nah itu. Makanya cari. Jangan nyuruh adik mulu."
Arshaf terkekeh kecil. "Terus emang kenapa sampai kakak jadi tersangka utama?"
"Gimana nggak! Tadi pagi kakak bawa motor aku. Alhasil aku telat ke kampus. Terus pas masuk kelas..."
Azel menunjuk langit-langit rumah. "Boom! Yang ngajar dosen killer!"
Arshaf mengangkat kedua tangan. "Ya mana kakak tahu kamu mau pakai motor."
"Bukan nggak tahu." Azel langsung memotong. "Tapi kakak lupa!"
"Iya..." Arshaf mengusap tengkuknya. "Kakak lupa. Maaf."
"Huh."nAzel masih cemberut. "Makanya jangan kebanyakan ngurusin santri nakal. Jadinya pelupa."
Arshaf mengernyit. "Apa hubungannya?"
"Ada."
"Apa?"
"Kakak kebanyakan hukum Zayna. Makanya otaknya penuh sama kenakalan dia."
Arshaf spontan tertawa. "Ngawur. Nggak ada hubungannya. Justru santri itu yang bikin pening. Bandelnya minta ampun."
Azel menyeringai jahil. "Hati-hati, Kak."
"Hati-hati kenapa?"
"Nanti jodohnya malah Zayna."
Arshaf langsung membelalakkan mata. "Astaghfirullah! Mulut kamu. Jangan sembarangan."
Azel malah tertawa puas. "Kenapa? Takut?"
"Bukan takut. Cuma..." Arshaf menggeleng sambil terkekeh. "Kakak tuh pengennya dapat istri yang kalem. Lemah lembut. Kalau ngomong pelan, nurut. Bukan yang..."
Ia menghela napas panjang. "...hobinya bikin masalah kayak Zayna."
Azel menggeleng pelan. "Ih, jangan gitu. Kasihan."
"Kasihan apanya?"
"Nanti kalau Allah dengar, malah dikabulin."
Arshaf langsung menatap adiknya. "Azel..."
"Iya?"
"Jangan doa yang aneh-aneh."
Azel justru mengangkat telunjuknya. "Denger ya. Kalau besok Kakak masih bawa motor tanpa izin, aku sumpahin Kakak jodohnya Zayna."
Wajah Arshaf langsung pucat. "Jangan sampe! Astaghfirullah."
Azel tertawa terbahak-bahak. "Nah, takut kan?"
"Takut?" Arshaf mendengus. "Kakak bukan takut.nCuma..."
"Apa?"
"Kakak kasihan sama diri kakak sendiri."
"Hahaha!" Azel sampai memegangi perutnya karena tertawa.
Arshaf akhirnya ikut tertawa sambil menggeleng. "Iya, iya. Besok kakak nggak bakal bawa motor lagi."
"Janji?"
"Janji."
"Kalau bohong?" Arshaf menunjuk dirinya sendiri. "Kakak yang beliin bensin motor kamu seminggu."
Mata Azel langsung berbinar. "Deal!"
"Eh, bentar." Arshaf baru sadar. "Kayaknya kakak baru aja dijebak."
Azel langsung berlari masuk ke dalam rumah sambil tertawa. "Udah telat, bikin aku dimarahin dosen, sekarang dapet bensin gratis. Asyiiik!"
"AZEL!"
Suara tawa keduanya pun memenuhi rumah, membuat para penghuni rumah lainnya hanya bisa menggeleng geli melihat tingkah kakak beradik yang memang tak pernah akur kalau sudah saling menggoda.
***
"Abi, Uma..."
Azel yang baru saja selesai makan malam menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Iya, Nak?" sahut Abidzar sambil meletakkan cangkir tehnya.
"Aku mau ke rumah Opa. Nginep boleh nggak?"
Azzura dan Abidzar saling berpandangan sejenak, lalu tersenyum.
"Boleh, sayang," jawab Azzura.
"Alhamdulillah."
"Tapi jangan lupa bawa baju ganti," timpal Abidzar.
"Iya, Bi."
"Ada kuliah pagi besok?"
"Ada. Tapi dari rumah Opa lebih dekat ke kampus daripada dari sini."
"Ya sudah. Hati-hati di jalan."
"Siap."
Azel langsung berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan yang diperlukan.
Rumah Opa Athar memang tidak jauh dari kawasan pesantren.
Sejak sang istri, Arsyila, meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, Athar memilih tetap tinggal di rumah itu seorang diri.
Anak-anaknya berkali-kali memintanya tinggal bersama mereka. Namun Athar menolak dengan halus. Baginya, rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan bersama perempuan yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Ia belum sanggup meninggalkannya.
Karena itulah, anak-anak dan cucu-cucunya bergantian datang untuk menemaninya. Dan di antara semua cucunya, Azel termasuk yang paling sering menginap.
Bukan karena diminta. Melainkan karena ia tau... Sepi adalah teman yang paling berat setelah kehilangan orang yang dicintai.
Sekitar 15 menit kemudian...
Motor Azel memasuki halaman rumah sederhana namun asri milik sang opa. Lampu teras masih menyala terang.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam." Suara berat Athar terdengar dari dalam rumah.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Senyum hangat langsung mengembang di wajah pria sepuh itu ketika melihat cucunya berdiri sambil membawa tas ransel.
"Lho...Cucu Opa datang."
Azel langsung memeluk Athar erat. "Kangen, Opa."
Athar membalas pelukan itu dengan lembut. "Opa juga kangen."
Ia kemudian mengusap kepala cucunya penuh kasih sayang. "Kok malam-malam begini baru datang?"
Azel tersenyum jahil. "Takut Opa kesepian."
Athar tertawa pelan. "Siapa bilang Opa kesepian?"
"Rumahnya aja sepi begini."
"Itu rumah yang sepi. Hatinya nggak."
Azel mengulas senyum tipis. Ia tau, kalimat itu hanya ucapan untuk menenangkan dirinya.
Sebab beberapa kali ia pernah melihat Opa Athar termenung sendiri di teras rumah, menatap kursi kosong tempat mendiang Omah Arsyila biasa duduk menemaninya minum teh setiap sore.
"Kamu sudah makan?"
"Udah."
"Yakin?"
"Iya."
Athar mengangguk pelan. "Kalau begitu... Ayo masuk. Opa baru selesai bikin teh."
"Pas banget!" Azel mengangkat tasnya. "Aku juga bawa camilan."
Athar terkekeh kecil. "Memang cucu Opa satu ini. Nggak pernah datang dengan tangan kosong."
Azel tersenyum sambil menggandeng lengan sang opa memasuki rumah.
Untuk sesaat... Rumah yang selama beberapa bulan terakhir terasa sunyi itu kembali dipenuhi suara tawa.
Dan bagi Athar, kehadiran cucunya malam itu menjadi obat rindu yang tak mampu digantikan oleh apa pun.
Keesokan paginya...
Dapur rumah Ibra sudah dipenuhi aroma nasi goreng dan telur dadar. Dengan kemeja yang sudah rapi dan celemek masih melingkar di pinggang, Ibra sibuk menyiapkan bekal untuk putranya.
Ia memasukkan potongan buah ke dalam kotak makan, lalu menutupnya rapat. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki kecil dari arah tangga.
"Ayah."
Ibra menoleh.
Arjun berjalan menghampirinya sambil masih mengucek mata.
"Udah bangun?"
"Iya."
Ibra mengusap pelan rambut putranya. "Ke kamar mandi dulu. Habis itu sarapan."
Arjun mengangguk, tetapi tidak beranjak. "Ayah."
"Hm?"
"Hari ini Kak Azel main lagi, kan, sama aku?"
Ibra terdiam sejenak. "Ayah tidak tau, Jun."
"Lho, kok nggak tau?"
"Karena bukan Ayah yang janji."
Arjun langsung memasang wajah cemas. "Kalau Kak Azel nggak datang gimana?"
Ibra menutup kotak bekal itu sebelum berjongkok agar sejajar dengan putranya. "Ya... kamu sabar. Kan Kak Azel juga punya kuliah, punya keluarga, dan banyak urusan."
Arjun menggeleng pelan. "Tapi aku maunya main sama Kak Azel."
"Arjun."
"Iya?"
Ibra menatap putranya dengan lembut. "Boleh Ayah tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Apa yang membuat kamu menyukai Kak Azel?"
Arjun berpikir cukup lama. Bocah itu menghitung dengan jari-jarinya sendiri.
"Soalnya Kak Azel baik. Kak Azel selalu senyum. Kalau aku salah, Kak Azel nggak marah. Kalau aku nangis, Kak Azel peluk aku. Kalau aku cerita, Kak Azel dengerin."
Arjun kembali berpikir. "Oh iya. Kak Azel juga selalu bilang aku anak ganteng."
Sudut bibir Ibra nyaris terangkat.
"Hm."
"Terus..." Arjun mendekatkan wajahnya kepada sang ayah seolah sedang membisikkan rahasia.
"Kak Azel bau wangi."
Ibra terdiam beberapa detik. "Bau wangi?"
"Iya."
"Kayak apa?"
"Kayak..." Arjun mengernyit berpikir. "Kayak... bunga. Eh bukan. Kayak bedak bayi. Eh... Bukan juga."
Ibra terkekeh pelan melihat putranya kebingungan mencari kata.
"Pokoknya wangi. Lagian..."
Arjun menatap ayahnya dengan polos. "Kalau Kak Azel peluk Arjun rasanya hangat."
Kalimat sederhana itu membuat senyum tipis di wajah Ibra perlahan memudar. Ia memahami maksud putranya.
Yang dirindukan Arjun bukan sekadar bermain. Melainkan perhatian dan kehangatan yang selama ini kurang ia rasakan.
Ibra menghela napas pelan. Lalu mengusap kepala Arjun dengan lembut.
"Mulai hari ini... Ayah akan belajar."
Arjun mendongak. "Belajar apa?"
"Belajar supaya bisa lebih sering membuat Arjun tersenyum."
Mata Arjun langsung berbinar. "Benarkah?"
Ibra mengangguk. "Insya Allah."
Senyum lebar pun akhirnya menghiasi wajah kecil Arjun.
"Kalau gitu... Ayah juga harus bilang Arjun ganteng."
Ibra terdiam sesaat, lalu mengusap pipi putranya. "Iya. Anak Ayah memang ganteng."
Arjun langsung terkikik senang. "Nah, gitu dong."
***
Ibra tetap berdiri di samping mobilnya, menatap ke arah gerbang sekolah hingga sosok kecil Arjun benar-benar menghilang di balik keramaian murid-murid lain.
Seperti biasanya, Arjun sempat menoleh sekali lagi. Melambaikan tangan.
"Dadah, Ayah!"
Ibra membalas lambaian itu dengan anggukan kecil. "Hati-hati."
"Iya!"
Arjun kemudian berlari kecil menyusul teman-temannya. Suasana di depan sekolah perlahan kembali lengang. Namun Ibra masih belum beranjak. Tatapannya masih tertuju ke arah gerbang yang kini telah tertutup.
Perlahan, ia menyandarkan punggungnya pada pintu mobil. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Hembusan napas berat keluar dari rongga hidungnya.
"Maafkan Ayah, Arjun..." Suara itu nyaris tak terdengar.
Matanya terpejam sesaat. Rasa bersalah kembali menggerogoti hatinya. Ia selalu berusaha menjadi ayah yang baik.
Bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan. Memasakkan bekal. Mengantar dan menjemput sekolah. Mengobati saat Arjun sakit.
Namun... Semua itu tetap tidak mampu mengisi kekosongan yang dirasakan putranya.
Seorang ibu. Sesosok yang tak pernah benar-benar hadir dalam kehidupan Arjun.
Ibra mengepalkan tangannya pelan.nUcapan Arjun tadi pagi terus terngiang di kepalanya.
"Kalau Kak Azel peluk Arjun... rasanya hangat."
Kalimat sederhana itu justru terasa seperti menampar dirinya. Bukan karena Arjun menyukai Azel.
Melainkan karena ia sadar... Anaknya sedang mencari sesuatu yang tak mampu ia berikan. Kehangatan seorang ibu.
Ibra mendongakkan wajah menatap langit pagi. "Maafkan Ayah, Arjun. Selama ini Ayah terlalu sibuk berusaha menjadi Ayah yang sempurna sampai lupa kalau kamu juga membutuhkan sosok yang tidak bisa Ayah gantikan."
Angin pagi berembus pelan. Ibra mulai bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah selama ini ia terlalu keras menutup pintu hatinya?
Bukan hanya untuk dirinya. Tetapi juga untuk Arjun.
Bayangan wajah Azel yang sedang membujuk Arjun di daycare kemarin tiba-tiba terlintas di benaknya.
Senyumnya yang tulus. Kesabarannya saat menghadapi Arjun. Dan caranya menenangkan bocah itu tanpa perlu meninggikan suara.
Ibra segera menggeleng pelan. "Apa yang aku pikirkan..." gumamnya lirih.
Ia lalu membuka pintu mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
Masih banyak pekerjaan yang menunggunya di kampus.
Begitu tiba di parkiran kampus, Ibrahim tidak langsung turun dari mobilnya. Mesin mobil sudah dimatikan, tetapi ia masih duduk diam di balik kemudi.
Tatapannya tertuju pada seorang mahasiswi yang baru saja memarkirkan motornya.
Azel.
Seperti biasa, gadis itu datang dengan senyum cerah di wajahnya.
Ia menyapa beberapa temannya, lalu tertawa lepas hingga lesung pipinya tampak jelas.
Ibrahim tanpa sadar terus memperhatikannya.
Entah mengapa setiap melihat senyum itu, dadanya selalu dihampiri perasaan yang aneh.
Seolah-olah ia pernah mengenalnya. Atau mungkin pernah bertemu seseorang yang sangat mirip dengannya.
"Azel..." gumamnya lirih. "Apa kamu orang yang sama?"
Pikirannya perlahan melayang jauh ke masa lalu.
Seorang gadis kecil berusia sekitar tiga tahun muncul dalam ingatannya.
Pipi chubby.
Mata bulat yang berbinar.
Dan yang paling ia ingat gadis kecil itu selalu bersikeras memakai kerudung kecil seperti yang dikenakan umanya.
Padahal kerudung itu sering kali kebesaran hingga menutupi sebagian wajah mungilnya.
Setiap kali berjalan, kerudungnya melorot. Lalu ia akan merapikannya sendiri dengan wajah yang sangat serius. Tingkah polosnya selalu mengundang tawa orang-orang di sekitarnya.
Dulu... Ibrahim yang usianya lebih tua sering menggodanya.
"Acel... Kok pakai kerudung terus?"
Gadis kecil itu langsung mengembungkan pipinya. "Soalnya Acel mau kayak Uma."
"Loh, memangnya kenapa harus kayak Uma?"
"Soalnya Uma cantik. Kalau Acel pakai kerudung, Acel juga cantik."
Mengingat jawaban itu, sudut bibir Ibrahim tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis.
"Gadis kecil itu... apa benar Azel?"
Ia mencoba mengingat lebih keras. Namun wajah dalam ingatannya masih samar. Yang tersisa hanya suara tawa mungil dan panggilan "Acel" yang dulu sering ia ucapkan.
Ibrahim mengembuskan napas pelan. "Kalau memang benar kamu, apa kamu masih mengingatku?"
Tak ada jawaban.
Di luar sana, Azel sudah berjalan menuju gedung fakultas bersama teman-temannya, sama sekali tidak menyadari bahwa dari balik kaca mobil, sepasang mata sedang memperhatikannya sambil mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan kenangan yang telah lama hilang.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah