"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007 - Cincin di Balik Saku
Pagi itu Arya bangun lebih awal dari biasanya.
Kirana masih tidur di kamar utama. Wajahnya lebih tenang setelah Sari datang kemarin. Di meja samping ranjang, vitamin dan air mineral sudah tersusun.
Arya menulis pesan singkat.
Aku ke kampus sebentar. Sarapan ada di meja. Jangan lupa vitamin setelah makan.
Ia berhenti sebentar, lalu menambah satu baris.
Kalau ada apa-apa, telepon aku.
Sebelum ke kampus, Arya mampir ke Toko Mas Surya Jewellery di pusat kota. Toko itu bersih, terang, dan sunyi. Di dalam etalase kaca, cincin-cincin berlian berkilau di bawah lampu putih.
Seorang staf perempuan menyambutnya.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
Panggilan "Pak" masih terasa aneh di telinga Arya. Kemarin ia masih mahasiswa kos yang menawar nasi bungkus.
"Saya cari cincin."
"Untuk pertunangan?"
Arya melihat deretan cincin itu.
"Untuk janji."
Staf itu tidak bertanya lebih jauh. Ia mengeluarkan beberapa pilihan. Ada cincin sederhana Rp 15.000.000, ada yang Rp 40.000.000, ada juga satu berlian oval kecil dengan rangka platinum.
"Yang ini Rp 78.000.000, Pak. Sertifikat internasional, potongan bagus, modelnya tidak terlalu mencolok."
Arya memegang kotak kecil itu.
Rp 78.000.000.
Jumlah yang dulu terasa seperti angka dari dunia lain. Sekarang ia bisa membayarnya, tetapi tetap harus menghitung. Uang tunainya perlu cukup untuk kontrol, makan, biaya darurat, dan perjalanan ke Malang.
Ia memilih cincin itu.
Tidak terlalu besar. Tidak memalukan. Cukup serius.
"Saya ambil."
Staf itu sedikit terkejut, lalu tersenyum lebih hormat. "Baik, Pak. Pembayaran tunai atau kartu?"
"Transfer."
Notifikasi Bank Nusantara masuk beberapa detik setelah transaksi selesai. Saldo berkurang besar. Arya menatap angka itu tanpa menyesal.
Staf toko membawa kotak cincin ke meja pengepakan. Ia memasukkan sertifikat, nota, dan kartu garansi ke amplop kecil.
"Pak Arya ingin tulisan di kartu?"
Arya sempat diam.
"Tulis: Untuk hari ketika kita sudah siap bicara dengan semua orang."
Staf itu menulis dengan rapi. Arya melihat tinta hitam mengering di atas kartu putih. Ia membayangkan Kirana membacanya setelah Ibu Ratna tahu, setelah keluarganya marah, setelah gosip kampus lewat. Cincin itu hanya satu benda kecil. Niat di baliknya jauh lebih berat: sejak awal, Arya datang untuk tinggal dan menanggung akibatnya.
Kotak cincin masuk ke saku jaketnya.
Ia belum akan melamar pagi ini. Kirana sedang hamil muda, takut pada ibunya, dan belum siap menerima tekanan baru. Cincin itu untuk waktu yang tepat.
Namun Arya ingin memilikinya sekarang.
Ia ingin membawa bukti bahwa tanggung jawabnya punya bentuk.
Di Universitas Surya Laut, suasana fakultas sudah ramai. Mahasiswa berdiri di dekat tangga, kantin kecil, dan papan pengumuman skripsi.
Arya baru sampai di koridor bawah ketika dua laki-laki berbadan besar berdiri menghalangi jalan.
Di belakang mereka, Denny Hartono bersandar pada pilar.
Kemejanya rapi, jam Rolex di pergelangan tangan berkilau, sepatu mahalnya bersih seperti tidak pernah menyentuh debu kampus.
"Arya Pratama," kata Denny.
Beberapa mahasiswa menoleh.
Arya berhenti. "Denny Hartono."
Denny tersenyum tipis.
"Akhirnya ketemu juga. Susah sekali menemui orang penting sekarang. Sudah punya mobil sport, sudah tinggal di Grand Surya Residence."
Bisik-bisik langsung muncul di sekitar mereka.
Arya memasukkan tangan ke saku jaket, menyentuh kotak cincin sebentar, lalu melepasnya.
"Apa urusanmu?"
Denny berjalan mendekat.
"Urusanku Kirana."
Wajah Arya tetap datar. "Kalau begitu kamu salah orang. Urusan Kirana ada pada Kirana."
Senyum Denny menipis.
"Aku mengejar dia dua semester. Aku tahu keluarganya, prestasinya, nilainya, semua. Lalu tiba-tiba dia memilih kamu?"
"Dia memilih hidupnya sendiri."
"Kamu anak kos, Arya. Jangan sok bicara seperti pria mapan."
"Pria mapan menurutmu pria yang terus mengirim hadiah setelah ditolak?"
Wajah Denny berubah.
Bisik-bisik melebar di koridor. Ada yang menahan tawa. Ada yang mulai merekam lebih jelas.
Denny menoleh cepat ke arah mahasiswa yang memegang ponsel.
"Turunkan."
Mahasiswa itu langsung menurunkan ponsel. Beberapa ponsel lain tetap menyala di belakang kerumunan.
Orang-orang makin banyak berhenti. Beberapa ponsel mulai terangkat.
Denny mencondongkan tubuh. Suaranya lebih rendah.
"Mobil itu dari mana? Apartemen itu dari mana? Kamu jual apa?"
Arya menatapnya.
"Kamu mengundang aku untuk bertanya soal Kirana atau mengaudit hidupku?"
Beberapa mahasiswa menahan tawa.
Rahang Denny mengeras.
"Jangan lucu. Kirana terlalu baik untuk dijadikan mainan orang seperti kamu."
Mata Arya berubah dingin.
"Kirana manusia. Dia punya pilihan. Namanya tidak keluar dari mulutmu dengan nada seperti barang yang gagal kamu beli."
Koridor hening sesaat.
Denny melangkah lebih dekat. Dua pengikutnya ikut maju.
Tubuh Arya tetap di tempat. Sistem tidak muncul. Penguatan fisik yang ia dapat sejak Bab 1 membuat napasnya stabil. Bahunya lebih tegak, pandangannya lebih tinggi, dan tekanan Denny tidak masuk sejauh yang Denny harapkan.
"Kamu pikir kamu bisa melindungi dia?" tanya Denny.
"Aku sedang melakukannya."
"Dengan uang misterius?"
"Dengan hadir saat dia butuh."
Kalimat itu membuat Denny kehilangan senyum.
Seorang mahasiswi di dekat tangga berbisik, "Itu baru jawaban."
Denny mendengarnya. Lehernya memerah.
"Kamu pintar bicara di depan orang," katanya. "Kita lihat nanti kalau orang tuanya tahu."
Arya maju satu langkah.
"Jangan bawa keluarganya untuk mengancamku."
"Kenapa? Takut?"
"Aku justru akan menemui keluarganya langsung. Kamu yang berani bergerak dari belakang."
Koridor kembali hening.
Arya melangkah setengah langkah, cukup untuk membuat dua pengikut Denny ragu.
"Dengar baik-baik. Aku tidak akan bahas kehidupan Kirana di koridor kampus. Aku tidak akan menjawab fitnahmu di depan orang yang mencari tontonan. Kalau kamu punya urusan resmi, kirim surat. Kalau cuma ingin mengganggu, minggir."
Denny menatapnya tajam.
"Kamu berani menyuruhku minggir?"
"Minggir."
Kata itu pendek, tenang, dan terdengar jelas.
Beberapa mahasiswa saling pandang. Seorang junior berbisik, "Arya gila juga."
Bisikan itu menyebar cepat, dari tangga sampai pintu kantin kecil.
Denny tidak bisa memukulnya di depan puluhan orang. Ia tahu itu. Arya juga tahu.
Detik berjalan berat.
Akhirnya Denny mengangkat tangan kecil. Dua pengikutnya mundur satu langkah.
Arya berjalan melewati mereka.
Ia tidak menoleh.
Kotak cincin di sakunya terasa semakin berat.
Di belakangnya, Denny memandang punggung Arya dengan wajah gelap.
"Cari sumber uangnya," katanya kepada salah satu pengikut. "Mobil, apartemen, rekening, semuanya."
"Baik, Den."
Denny mengepalkan tangan.
"Orang ini tidak sederhana."
Salah satu pengikutnya mendekat. "Mau kami urus sekarang?"
Denny melihat kerumunan yang masih pura-pura sibuk.
"Di sini terlalu ramai."
"Lalu?"
"Cari celah. Semua orang punya celah." Denny menatap pintu fakultas tempat Arya menghilang. "Kalau uangnya bersih, kita kotori namanya. Kalau uangnya kotor, kita buka."