NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insiden Tak Terduga

Suasana di meja masih terasa canggung setelah insiden tisu tadi. Baik Shana maupun Evan Sama-sama memilih kembali fokus pada makanan mereka, meskipun sesekali mata mereka bertemu lalu buru-buru menghindar.

Tepat saat itu, seorang pelayan datang membawa sepiring dessert.

"Maaf mengganggu, ini complimentary dessert dari restauran."

Shana berkedip. "Untuk kami."

"Ya."

Pelayan meletakan piring itu di tengah meja. Shana refleks menoleh untuk melihatnya lebih jelas. Namun kursinya sedikit bergeser saat ia bergerak.

Brak!

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Semua terjadi begitu cepat. Evan refleks berdiri untuk menahannya. Namun gerakan mereka justru bertabrakan. Shana yang terjatuh ke depan tidak sempat menghindar.

Dan dalam sepersekian detik yang membuat waktu seakan berhenti, bibir mereka tanpa sengaja bersentuhan.

Hening, benar-benar hening. Mata Shana membulat sempurna. Begitu pula Evan. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bicara. Seolah seluruh suara di restauran menghilang begitu saja.

Beberapa detik kemudian, Shana tersadar lebih dahulu. Ia langsung menjauh dengan wajah yang memerah hingga ke telinga.

"S-saya..." Kalimatnya bahkan tidak selesai.

Karena rasa malu yang sudah lebih dahulu mengambil alih seluruh pikirannya.

"Saya minta maaf."

Ia buru-buru berdiri dari kursinya. Terlalu buru-buru. Hampir saja tersandung lagi.

"Awas." Evan refleks menahan lengannya.

Namun hal itu justru membuat Shana semakin panik.

"Saya... saya ke kamar kecil dulu."

Tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan cepat meninggalkan meja.

"Shana..."

Namun wanita itu sudah menghilang di balik lorong restauran. Evan tetap duduk diam. Tatapan masih tertuju ke arah tempat Shana menghilang. Untuk beberapa saat ia bahkan lupa pada dessert yang baru saja diantarkannya.

Pikirannya benar-benar kosong. Evan menghembuskan napas panjang kemudian, lalu tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri. Pria yang biasanya tenang itu tampak terpaku.

Disisi lain, Shana bersandar di depan westafel kamar kecil sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya ampun..."

Ia berharap lantai bisa menelannya saat itu juga. Wajahnya masih panas. Jantungnya masih berdetak begitu cepat hingga membuatnya sulit berpikir.

Ia bahkan tidak berani membayangkan bagaimana harus kembali ke meja setelah ini. Ia tak akan sanggup menatap Evan dalam waktu dekat.

Tadi itu kecelakaan. Murni kecelakaan. Tidak disengaja. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang perlu dipikirkan.

Lalu kenapa jantungnya masih berdetak seperti ini? Shana mengerang pelan.

"Bagaimana ini?"

Di luar, Evan masih duduk di meja yang sama. Sama seperti halnya dengan Shana, jantung Evan juga berdetak begitu cepat. Pikirannya terus kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu. Ia benar-benar kehilangan fokus.

Biasanya ia mampu menghadapi rapat bernilai miliaran rupiah tanpa kehilangan ketenangan. Namun sekarang... ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa saat Shana kembali. Evan kemudian menatap kembali ke arah lorong kamar kecil.

Menunggu...

Lima menit.

Sepuluh menit

Lima belas menit.

Shana belum kembali.

Akhirnya Evan berdiri. Ia mulai mengkhawatirkan Shana. Apa saja yang ia lakukan di sana? Kenapa selama ini? Evan pun segera melangkah menuju kamar kecil. Pelan lalu menjadi lebih cepat dan..

Mereka bertemu di depan pintu.

Deg...

Shana hampir berbalik arah. Rasanya ia belum siap harus bertemu dengan Evan secepat ini.

"Kamu baik-baik saja?" Evan menatap Shana begitu dalam.

Shana hanya mengangguk dan tak berani menatap Evan.

Sedangkan Evan bernapas lega mengetahui keadaannya.

"Bisa pulang sekarang?"

Shana berkedip

"Kamu terlihat ingin kabur."

Wajah Shana memerah lagi.

"Saya tidak ingin kabur." Jawabnya berbohong, padahal jelas ia ingin sekali kabur.

Evan mengangkat sebelah alis.

"Kamu bersembunyi lima belas menit."

"Itu bukan bersembunyi."

"Lalu...?"

Shana membuka mulut, kemudian menutupnya lagi. Karena Ia tidak punya jawaban. Melihat itu, Evan akhirnya menghela napas pelan.

"Saya juga kaget."

Shana membeku. Evan melanjutkan,

"Jadi kamu tidak perlu malu sendirian."

Mata Shana membesar. Kalimat sederhana itu justru membuat rasa gugupnya sedikit berkurang.

Karena ternyata...

Bukan hanya dirinya yang tidak tahu harus bersikap bagaimana. Evan juga merasakan yang sama. Dan entah kenapa, mengetahui hal itu membuat sudut bibir Shana perlahan terangkat.

Sementara Evan yang melihat senyum tersebut akhirnya merasa bisa bernapas lega. Karena satu hal yang paling ia takutkan bukanlah kecelakaan tadi. Melainkan kemungkinan Shana akan menjauh darinya setelah ini.

"Ayo..." Pinta Evan kembali dengan tangan yang meraih jemari Shana dan menuntunnya untuk kembali.

Shana kembali membeku, melihat jemari hangat yang menggenggam jemarinya. Jantungnya yang semula mulai tenang kembali berdebar tidak karuan. Evan sendiri tampak berjalan biasa saja.

Mereka berjalan menyusuri koridor restauran dalam diam. Anehnya tidak ada satupun dari mereka yang berusaha melepaskan genggaman itu.

Evan terus menggenggamnya seakan Shana telah menjadi miliknya seutuhnya.

***

Malam itu, Shana tidak bisa tidur. Sudah hampir satu jam ia berbaring di atas tempat tidurnya. Namun matanya masih terbuka lebar.

Setiap kali memejamkan mata, satu kejadian terus muncul di kepalanya.

Restauran, makan siang, ciuman itu dan genggaman tangan Evan hingga mereka kembali ke kantor.

"Aduh..."

Shana menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Kenapa ia masih memikirkannya? Bukankah itu kecelakaan? Tidak sengaja, selesai. Seharusnya sesederhana itu. Tapi Evan menggenggam tangannya tadi, itu bukan suatu kecelakan. Itu dilakukan Evan dalam keadaan sadar. Semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas ingatannya.

Terutama ekspresi Evan yang terlihat sama terkejutnya saat bibir mereka bertemu. Jantungnya kembali berdebar. Dengan kesal Shana meraih ponselnya. Lalu membukanya. Tanpa sadar, matanya langsung berhenti pada satu nama.

"Evan."

Langsung duduk.

"Tidak."

Ia menggeleng keras.

Tidak mungkin ia menghubungi atasannya malam-malam hanya karena tidak bisa tidur. Itu aneh, sangat aneh. Akhirnya ia meletakan ponselnya kembali. Tiga detik kemudian ia mengambilnya kembali. Lima menit kemudian, ia meletakkannya lagi. Dan begitu seterusnya.

Ditempat lain, seseorang ternyata mengalami hal yang sama. Evan duduk di ruang kerjanya. Laptop di hadapannya masih menyala. Namun selama lima belas menit terkahir, ia belum membaca satu halaman pun laporan yang terbuka di layar.

Pikirannya tidak ada di sana. Pikiranya berada pada seseorang. Pada seorang wanita yang tanpa sengaja mencium bibirnya. Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Lalu mengambil ponselnya. Nama Shana muncul di daftar kontak. Ia menatap layar cukup lama, kemudian menghela napas.

Apa sebenarnya yang ingin ia katakan? Tidak ada alasan penting untuk menghubunginya.

Namun ia ingin memastikan satu hal. Bahwa Shana tidak sedang menghindarinya. Dan Evan begitu merindukannya. Padahal seharian ini mereka selalu bersama.

Tepat ketika ia sedang berpikir, layar ponselnya tiba-tiba menyala. Sebuah pesan masuk . Dan nama pengirimnya membuat Evan langsung duduk tegak.

Shana.

Pesannya sangat singkat.

"Pak, sudah di rumah?"

Evan menatap layar beberapa detik. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.

Di kamarnya, Shana hampir menjatuhkan ponsel pada saat balasan itu datang begitu cepat.

"Sudah. Kamu?"

Shana menggigit bibir bawahnya pelan. Lalu membalasnya.

"Sudah juga."

Beberapa detik berlalu, kemudian ponselnya berdering. Panggilan masuk, dari Evan. Mata Shana langsung membulat.

"Ya ampun..."

Kenapa ia suka sekali menelepon? Jantung Shana dibuat berdebar malam itu.

-My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!