❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 - Because It's You
Aku masih tidak mengerti kenapa tadi bersikap manja kepada Javier di depan Devina dan suaminya.
Entah apa yang dipikirkan Javier tentangku sekarang.
Tak lama setelah selesai makan, kami pun pamit pulang.
Selain karena merasa sudah cukup lama berada di sana, Javier juga harus kembali ke Ruang Rindu.
Sepanjang perjalanan pulang, kami berdua lebih banyak diam.
Javier tidak mengungkit apa yang kulakukan saat makan tadi.
Dan aku juga memilih tidak mengingatnya lagi.
Jujur saja, aku malu.
Seumur hidupku, aku hanya pernah manja kepada orang tuaku.
Itu pun saat masih kecil. Manja khas anak-anak.
Tapi hari ini?
Aku malah bersikap manja kepada laki-laki yang bahkan belum tiga bulan kukenal.
Sungguh memalukan.
Setelah sampai di rumah, Javier hanya menurunkanku lalu kembali pergi ke Ruang Rindu.
Sementara aku menghabiskan sore hingga malam dengan memikirkan perkataan Devina.
Apa sebenarnya yang terjadi di antara Devina dan Javier?
Kenapa Devina bilang ia memilih menuruti orang tuanya?
Menuruti dalam hal apa?
Dan jika menurut Devina Javier adalah laki-laki yang baik, lalu kenapa hubungan mereka bisa berakhir?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.
Hingga tanpa sadar, malam pun tiba.
"Assalamu'alaikum."
Aku menoleh.
Javier baru pulang.
"Wa'alaikumsalam."
Javier melewatiku begitu saja yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
Ia masuk ke kamar, lalu ke kamar mandi.
Aku kembali menatap layar televisi.
Tapi pikiranku tetap tidak fokus.
Rasa ingin bertanya itu ada.
Sangat besar bahkan.
Masalahnya, aku tidak tahu harus mulai dari mana.
Dan apakah Javier mau menceritakannya kepadaku?
Kepada istri palsunya ini.
Beberapa menit kemudian, Javier keluar dari kamar mandi lalu berjalan ke arah dapur.
"Kamu belum makan?"
Aku menggeleng.
"Belum."
Javier mengernyit.
"Kenapa?"
"Nggak selera makan."
"Tadi siang kamu protes waktu aku nyuruh berhenti makan buat kondangan. Sekarang malah nggak selera makan."
"Itu karena..."
Aku langsung menggigit bibir bawahku.
"Karena apa?" tanya Javier.
"Ehm..."
Aku menunduk.
"Karena..."
Belum sempat menyelesaikan kalimat, Javier tiba-tiba berjalan mendekat.
Lalu duduk di sampingku.
Aku belum sempat bereaksi ketika tangannya sudah menempel di keningku.
Aku langsung terkejut.
"Apa kamu sakit?" tanyanya.
Beberapa detik kemudian ia menggeleng sendiri.
"Nggak panas, kok."
"Aku baik-baik aja."
Aku buru-buru menepis tangannya.
"Terus kenapa nggak makan?"
Aku terdiam sesaat.
Lalu tanpa berpikir panjang, jawabanku keluar begitu saja.
"Itu karena kamu."
"Hah?"
Javier langsung menatapku.
"Karena aku?"
Aku langsung menyesal telah mengatakan itu.
"Ehm... Nggak gitu maksudnya."
"Tapi?"
Aku menghela napas panjang.
Lalu mengubah posisi dudukku menjadi bersila dan menghadap ke arahnya.
"Mas... hubungan kamu dan Devina dulu itu kayak gimana?"
Javier langsung menatapku.
Ia terlihat sedikit terkejut.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"
"Aku penasaran."
"Penasaran?"
Aku mengangguk.
"Setelah ngobrol sama Devina tadi, aku jadi penasaran sama hubungan kalian dulu. Bisa ceritain?"
Javier menatapku beberapa detik.
Lalu tiba-tiba tersenyum.
"Nay..." Javier menggeleng pelan. "Kamu sekarang udah kayak istri beneran yang penasaran sama masa lalu suaminya."
Aku langsung mendelik.
"Dan kayak istri beneran yang cemburu lihat mantan suaminya."
"Hah?"
Aku langsung membelalak.
"Siapa yang cemburu?"
Javier hanya tersenyum.
"Aku nggak cemburu, ya! Aku cuma penasaran."
"Yakin?"
"Yakin. Aku penasaran sebagai teman. Nggak lebih."
"Tapi kita bukan teman."
Aku langsung terdiam.
Lalu berdiri.
"Ya udah deh kalau kamu nggak mau cerita."
"Eh?"
Javier langsung meraih tanganku.
"Mau ke mana?"
Aku langsung menatap tangan kami.
Javier juga ikut melihat.
Beberapa detik kemudian, ia buru-buru melepaskannya.
"Eh... maaf."
Aku menghela napas.
Lalu menatapnya lagi.
"Mas..."
"Hm?"
"Dulu kamu pernah pegang-pegang Devina?"
Javier langsung mengernyit.
"Hah?"
"Maksudku bukan yang aneh-aneh." Aku buru-buru menjelaskan. "Pegang yang wajar aja."
"Oh..."
Javier terlihat berpikir.
"Pernah."
Entah kenapa dadaku langsung terasa tidak nyaman.
"Pernah apa aja?"
"Tangan."
Aku diam.
"Bahu."
Aku masih diam.
"Punggung."
Aku semakin diam.
"Lalu pernah meluk juga."
Aku langsung memalingkan wajah.
Entah kenapa ada rasa panas yang menjalar di tubuhku.
Dan aku tidak suka perasaan itu.
Sama sekali tidak suka.
Tanpa mengatakan apa-apa, aku langsung berbalik dan berjalan pergi.
"Nay."
Aku tidak menjawab.
Langkahku justru semakin cepat.
Namun tiba-tiba Javier berdiri di depanku.
"Mau ke mana?"
"Aku udah nggak tertarik denger ceritanya."
"Kenapa?"
Aku mendengus.
"Paling nanti kamu cerita yang manis-manis tentang hubungan kalian."
Javier langsung menatapku.
Beberapa detik.
Lalu...
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kamu cemburu?"
Aku langsung membelalak.
"Dibilang aku nggak cemburu!"
Javier terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
"Oke."
Entah kenapa jawaban itu malah membuatku semakin kesal.
Aku langsung berjalan menuju kamar.
"Dulu..." ucap Javier saat tanganku sudah berada di gagang pintu kamar.
Aku langsung berhenti.
"Setelah Mama meninggal..."
Aku membalikkan badan dan menatap punggungnya.
"Aku menemukan buku resep Mama. Sejak saat itu aku ingin menjadi chef. Aku ingin membuat semua masakan yang ada di buku itu."
Aku hanya diam mendengarkan.
"Hingga saat mendaftar kuliah, aku memilih jurusan tata boga. Padahal Papa ingin aku masuk manajemen."
Aku sedikit terkejut.
"Papa baru tahu saat aku wisuda."
Selama ini aku kira Papa Javier sudah tahu sejak awal.
"Waktu itu Papa marah besar dan kecewa sama aku."
Aku hanya diam mendengarkan.
"Tapi setelah aku jelaskan alasanku memilih tata boga karena Mama, Papa nggak bilang apa-apa lagi. Papa cuma bilang aku harus membuktikan kalau jalan yang aku pilih bukan jalan yang salah."
Ah...
Jadi karena itu Javier bisa sampai seperti sekarang.
"Lalu saat kuliah, aku bertemu Ina."
Entah kenapa aku langsung menegakkan badan.
"Kami bertemu karena satu organisasi."
Javier terkekeh pelan.
"Dan lucunya, Ina justru anak manajemen."
Aku langsung memalingkan wajah.
Entah kenapa hawa panas itu kembali muncul.
"Karena sering bertemu, kami semakin dekat."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
"Perlahan kami saling suka. Lalu memutuskan untuk pacaran."
Javier terdiam sesaat sebelum melanjutkan.
"Hubungan itu berjalan cukup lama. Bahkan sampai empat tahun setelah kami lulus kuliah."
Aku sedikit terkejut.
Lama sekali.
"Sampai akhirnya orang tua Ina meminta kami menikah."
Aku hanya diam mendengarkannya.
"Saat itu aku belum siap. Aku belum punya cukup uang untuk menikah. Apalagi untuk menafkahi Ina."
Beberapa detik ruangan itu terasa sunyi.
"Waktu itu aku masih jadi koki biasa di sebuah hotel bintang lima di kota ini."
Dadaku terasa sedikit sesak.
"Menurut orang tua Ina, aku nggak bisa memberikan kepastian."
Aku menunduk.
"Dan karena itu mereka meminta kami putus."
Javier terdiam beberapa saat.
"Aku sakit hati."
Suara Javier terdengar pelan.
"Sangat sakit."
Aku menggenggam ujung bajuku sendiri.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mereka juga nggak sepenuhnya salah."
Aku langsung menatapnya.
"Kalau Ina terus bersamaku, dia mungkin harus terus hidup dalam ketidakpastian."
Javier menghela napas.
"Jadi akhirnya aku menerima keputusan itu."
Aku tidak tahu harus berkata apa.
"Beberapa bulan setelah kami putus, Ina menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya."
Dadaku kembali terasa sesak.
"Mendengar kabar itu rasanya bahkan lebih sakit dibanding saat kami diminta putus."
Aku menggigit bibir bawahku.
"Tapi di sisi lain..."
Javier terdiam sesaat.
"Aku juga senang."
Aku tetap diam mendengarkannya.
"Karena akhirnya Ina nggak perlu menunggu lagi."
Beberapa detik berlalu sebelum Javier kembali melanjutkan.
"Dan setelah melihatnya hari ini..."
Aku menahan napas.
"Aku semakin yakin."
Aku menatapnya.
"Dia sudah memilih jalan yang tepat."
Suara Javier terdengar tenang.
"Jauh lebih baik daripada harus terus bersamaku waktu itu."
Entah kenapa, mendengar kalimat itu justru membuat dadaku semakin sesak.
Aku tidak tahu apakah aku sedang sedih untuk Javier.
Atau marah kepada keadaan yang pernah memaksanya kehilangan orang yang dicintainya.
Tanpa kusadari air mata sudah keluar dari mataku.
Aku langsung mengusapnya.
Tapi entah kenapa dadaku semakin terasa sesak.
Lalu perlahan aku melangkah mendekatinya.
Dan tanpa mengatakan apa-apa, aku memeluk Javier dari belakang.
"Nay..." ucap Javier pelan.
"Maaf..."
Aku buru-buru mengusap air mataku.
"Maafin aku. Seharusnya aku nggak minta kamu cerita tentang masa lalu kamu."
Javier perlahan melepaskan pelukanku lalu berbalik menghadapku.
Begitu melihat wajahku, ia langsung terkejut.
"Eh? Kenapa kamu malah nangis?"
Aku menunduk.
"Maaf... Aku nggak tahu masa lalu kamu kayak gitu."
Javier hanya diam.
"Aku pikir hidupku udah yang paling berat. Ternyata hidupmu lebih berat."
Javier menghela napas pelan.
Lalu tangannya terangkat menghapus sisa air mata di pipiku.
"Kamu nggak perlu minta maaf."
Aku menatapnya.
"Lagian itu juga udah masa lalu."
Aku masih diam.
"Dan soal hidup siapa yang lebih berat..." lanjut Javier. "Itu bukan sesuatu yang bisa dibandingkan."
Aku memperhatikannya.
"Allah nggak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya melebihi kemampuannya."
Aku mengangguk pelan.
"Mungkin menurut Allah kemampuan kamu segitu. Dan kemampuan aku segini."
Entah kenapa dadaku terasa hangat mendengar perkataannya.
"Aku heran."
"Hm?"
"Aku yang punya cerita sedih."
Javier menunjuk dirinya sendiri.
"Tapi yang nangis malah kamu."
Aku langsung mendelik.
"Itu karena aku meresapi cerita kamu."
Javier tertawa kecil.
"Serius?"
"Iya."
"Aku bener-bener nggak nyangka."
"Nggak nyangka apa?"
Javier menatapku beberapa detik.
"Kamu ternyata cengeng juga."
Aku langsung membelalak.
Apa katanya tadi?
Tanpa berpikir panjang, aku langsung memukul lengannya.
"Aw!"
Javier langsung memegangi tangannya.
"Aku nggak cengeng!"
"Kenapa pakai mukul segala sih?"
"Itu karena kamu ngatain aku cengeng."
"Ini udah termasuk KDRT, lho."
Aku langsung mendengus.
"KDRT apa? Cuma gitu doang."
"Tetep aja."
Javier masih memegangi lengannya dengan wajah dramatis.
"Tanganku sakit tahu."
Aku memutar bola mata.
"Lebay."
"Kamu nggak takut aku laporin?"
"Laporin sana."
Aku menyilangkan tangan di depan dada.
"Visum sekalian kalau perlu."
Beberapa detik Javier hanya diam.
Lalu...
"Hahahaha..."
Ia tertawa.
Bukan tertawa kecil seperti biasanya.
Bukan senyum tipis yang sering ia tunjukkan.
Tapi tertawa lepas.
Aku langsung terdiam.
Awalnya karena bingung.
Aku bahkan tidak mengerti bagian mana yang lucu.
Tapi lama-kelamaan aku berpikir aku belum pernah melihat Javier tertawa sebebas itu.
Dan entah kenapa...
Saat melihatnya seperti itu, jantungku kembali berulah.
Berdebar jauh lebih cepat dari seharusnya.
Ada apa denganku?