Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Gadis yang Datang Bersama Hujan
Hujan turun perlahan membasahi halaman luas kediaman Arvendis. Tetesan air hujan tersebut berkilau setiap kali mengenai hamparan bunga lavender yang tumbuh rapi di sepanjang jalan batu menuju bangunan utama.
Kastel bercat putih gading itu berdiri megah di atas bukit dan dikelilingi pepohonan maple yang mulai berubah warna menjadi keemasan. Kastel tersebut ditinggali oleh salah satu keluarga penyihir paling terpandang di Kerajaan Elarion—Keluarga Arvendis.
Tidak ada satu pun yang tidak mengenali mereka sebagai keluarga yang melahirkan penyihir-penyihir hebat selama ratusan tahun. Namun pagi itu, seorang gadis berusia 20 tahun tampak berlari tergesa-gesa seraya mengangkat sedikit ujung gaun birunya.
Rambut hitam panjangnya bergoyang mengikuti setiap langkah ringannya, dan dikedua tangannya terdapat keranjang yang penuh dengan tanaman herbal yang baru dipetik dari kebun belakang.
“Aduh, kalau terlambat lagi, Bibi Elna pasti marah.” Suara lembutnya terdengar di antara rintik hujan, dan saat melewati halaman depan, langkahnya mendadak berhenti. Ia melihat seekor burung kecil dengan sayap yang terluka tampak baru saja terjatuh didekat semak mawar.
“Astaga…” Sahutnya lagi dan membuat Aurelia segera berjongkok disana.
Aurelia meletakkan keranjang di sampingnya, kemudian ia segera mengangkat burung yang terluka itu dengan hati-hati. Sayap mungil burung tersebut berlumuran darah, lalu Aurelia pun langsung mengusap pelan kepala burung itu seakan tengah menenangkannya.
“Coba tenang dulu ya.” Aurelia benar-benar mengusap burung tersebut dengan begitu hati-hati dan juga lembut.
Telapak tangan Aurelia memancarkan cahaya lembut berwarna keperakan dan mungkin terasa hangat untuk burung tersebut. Secara perlahan, luka di sayap burung itu menutup dengan sendirinya. Kemudian burung kecil itu berkicau pelan, lalu terbang kembali ke langit.
Melihat burung itu kembali terbang ke langit membuat Aurelia tersenyum puas. Tanpa disadari olehnya, dua orang di atas balkon tengah memperhatikannya. Seorang pria tinggi berambut hitam berdiri dengan tangan terlipat didada dan tatapan matanya tajam seperti es—Kael Arvendis.
Kael Arvendis merupakan putra sulung dari keluarga Arvendis, ia juga merupakan penyihir pedang terbaik di generasinya.
“Dia menggunakan sihir penyembuhan lagi.” Suara seseorang muncul dibelakangnya. Lucien datang dengan membawa secangkir teh ditangannya. Dapat dikatakan juga bahwa wajah Lucien jauh lebih lembut di banding sang kakak—Kael. “Padahal ayah sudah bilang jangan terlalu sering menggunakan sihir tanpa alasan.” Ucap Lucien lagi.
“Bukan itu yang kupikirkan.” Jawab Kael yang tak mengalihkan pandangannya dari Aurelia.
“Lalu?” Kael terdiam untuk beberapa saat.
“Sihir itu semakin kuat.” Mendengar ucapan Kael, Lucien pun ikut memandang ke halaman.
Cahaya yang sebelumnya keluar dari tangan Aurelia masih meninggalkan serpihan-serpihan kecil layaknya debu bintang yang melayang di udara. Kael dan Lucien saling beradu pandangan, karena tidak ada satu pun penyihir penyembuh yang menghasilkan cahaya seperti itu.
“Relia!” Suara keras yang terdengar dari dalam dapur membuat Aurelia tersentak. Mendengar namanya dipanggil membuat Aurelia bergegas masuk dengan membawa keranjang herbal yang sempat ia simpan sebelumnya.
Sesampainya didapur, bibi Elna, kepala pelayan keluarga Arvendis tengah berkacak pinggang.
“Kau memetik herbal atau jalan-jalan?”
“Maafkan aku bibi.” Aurelia langsung membungkukkan tubuhnya.
“Tidak ada alasan.” Meski mulutnya masih bergerak memarahi Aurelia, bibi Elna juga diam-diam mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Aurelia yang basah. “Nanti masuk angin.” Ujar bibi Elna lagi dan membuat Aurelia tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
“Sudah besar masih saja ceroboh.” Bibi Elna mendengus pelan sebelum akhirnya kembali untuk mengaduk sup.
Pemandangan yang terjadi antara bibi Elna dan Aurelia saat itu menarik perhatian dari para pelayan yang ada disana, mereka tersenyum melihat kejadian tersebut, karena tidak ada satu orang pun yang tidak tahu, bibi Elna mungkin terbilang paling cerewet pada Aurelia, meski begitu, dia juga yang paling menyayangi Aurelia.
--
Ruang makan keluarga Arvendis selalu ramai saat pagi hari. Tuan Armand Arvendis duduk di kursi utama sambil membaca koran sihir dan disisinya ada nyonya Selena yang tengah menuangkan teh.
Disana bukan hanya ada tuan Armand dan nyonya Selena saja, namun ada juga Kael yang tengah duduk tenang tanpa banyak bicara, Lucien yang sedang membaca buku mantra, sedangkan Rowan…
“Relia!” Anak bungsu dari keluarga Arvendis itu melambaikan tangan begitu melihat Aurelia masuk. “Duduk disini!” Rowan menepuk-nepuk kursi yang berada disebelahnya.
“Memang itu tempatku?” Aurelia menjawab seraya tertawa kecil.
“Bukan.” Jawab Rowan seraya menggeleng pelan.
“Kalau begitu kenapa menyuruhku duduk?”
“Karena aku menginginkannya.” Jawab Rowan dengan santai dan membuat Lucien menggeleng pelan melihat tingkah adiknya tersebut.
“Kau ini seperti anak kecil.”
“Tidak usah iri.” Rowan menjulurkan lidahnya dan suasana di meja makan langsung dipenuhi tawa.
Nyonya Selena memandang mereka dengan senyum yang hangat. Pemandangan seperti itu selalu membuat hatinya begitu tenang. Dulu, saat pertama kali membawa Aurelia pulang dari hutan, gadis kecil itu bahkan tidak bisa berbicara selama berbulan-bulan.
Aurelia selalu ketakutan setiap kali mendengar suara yang keras. Kini, gadis itu telah tumbuh menjadi sosok yang ceria, kemudian Selena menggenggam tangan suaminya dan menatapnya lembut.
“Anak kita sudah besar.” Armand mengangguk pelan yang kemudian tatapannya beralih ke arah Aurelia.
“Aurelia.” Armand memanggilnya.
“Iya ayah?” Sahut gadis itu seraya menoleh dan memberikan senyum hangatnya.
“Apa kau sudah memikirkan untuk masuk ke akademi?” Pertanyaan itu langsung membuat Aurelia menghentikan makannya dan menggeleng pelan.
“Belum ayah.”
“Kenapa?”
“Aku takut ayah.”
“Tidak perlu takut, kan ada aku.” Rowan langsung menyambar pembicaraan mereka.
“Ada aku juga.” Sahut Lucien tidak mau kalah. Sedangkan Kael? Ia tidak mengatakan apapun, namun ia hanya mengangguk pelan dan itu sudah cukup membuat Aurelia tersenyum lega.
Usai sarapan, Rowan langsung mengajak Aurelia berjalan-jalan ke kota. Keduanya menyusuri jalan yang dipenuhi oleh toko sihir. Bola-bola cahaya berterbangan di udara menggantikan lampu, ada juga sapu terbang yang melintas di atas kepala mereka, hingga anak-anak yang tengah berlarian seraya memainkan mantra sederhana.
“Festival bintang tinggal tiga hari lagi.” Rowan menunjuk ke arah alun-alun kota. Ratusan lentera mulai dipasang di sana dan Aurelia memandangi langit yang menurutnya sangat indah. “Kau suka?” Tanya Rowan saat melihat Aurelia menatapi lentera dengan begitu kagum.
“Suka.”
“Tahun ini kita lihat bersama lagi.” Ucapan itu membuat Aurelia mengangguk cepat. Namun entah kenapa ia merasakan sesak di dadanya.
Aurelia menatap ke arah langit lagi, dan untuk sesaat ia merasa melihat cahaya ungu yang melintas dengan sangat cepat, mungkin seperti bintang jatuh, namun itu hanya sepersekian detik.
“Ada apa?” Tanya Rowan seraya memperhatikan wajah Aurelia dan Aurelia langsung menggeleng cepat. “Tapi wajahmu terlihat pucat.” Rowan menambahkan.
“Mungkin karena aku kurang tidur.” Rowan mengusap kepala Aurelia pelan.
“Kalau capek bilang ya.” Aurelia tersenyum mendengar kalimat itu. Namun dibalik senyumnya, ia merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Entah kenapa, setiap kali melihat cahaya bintang, hatinya selalu merasa aneh, seolah ada sesuatu yang ia lupakan.
Malam harinya, hujan turun lebih deras dari pagi tadi. Petir menyambar langit berulang kali dan Aurelia yang sudah tertidur itu pun kembali terbangun dengan napas yang memburu. Gadis itu bermimpi lagi—mimpi buruk. Mimpi itu tidak jauh-jauh dari api, jeritan, darah dan seorang wanita yang memeluknya.
“Lari…” Suara itu terdengar sangat jauh, namun juga terasa begitu nyata baginya dan hal itu membuat Aurelia memegangi kepalanya.
Aurelia melenguh menahan semua yang berada di kepalanya saat ini, kemudian ia memutuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon. Gadis itu membuka jendelanya, membiarkan angin malam berhembus masuk ke ruangan meskipun terasa dingin.
Saat ini langit dipenuhi awan hitam, namun disela-sela awan hitam itu terlihat ribuan bintang. Tanpa ia sadari, liontin berbentuk bintang yang selalu dikenakan olehnya memancarkan cahaya redup.
Beberapa detik kemudian, cahaya pada kalungnya memancarkan cahaya yang semakin terang dan terang sekali hingga membentuk sebuah lingkaran kecil tepat dibawah kakinya, hal itu berhasil membuat Aurelia membelalakkan kedua matanya.
“Apa ini?” Tanyanya bingung. Namun detik berikutnya seluruh cahaya itu menghilang dengan cepat seolah tidak pernah terjadi.
Melihat kejadian tersebut membuat Aurelia memegangi liontinnya dengan erat. Jantungnya masih berdegup dengan cepat, ia tidak tahu bahwa di menara tertinggi kastel, Kael juga melihat cahaya yang sama dan tatapan pria itu berubah menjadi serius.
“Itu muncul lagi…” Dibelakangnya, Armand Arvendis berdiri dengan wajah muram. “… kita tidak punya banyak waktu lagi.” Sambung Armand dan membuat Kael menoleh.
“Maksud ayah?” Armand tidak langsung menjawab pertanyaan putra sulungnya, karena tatapannya saat ini tertuju pada langit malam, tepatnya pada gugusan bintang yang bersinar lebih terang dari biasanya.
“Dua puluh tahun yang lalu…” ucapnya pelan. “… langit seperti ini juga muncul sebelum sebuah kerajaan runtuh.” Kael mengepalkan tangannya mendengar penuturan sang ayah.
“Apakah ramalan itu benar, ayah?” Armand menghembuskan napasnya panjang mendengar pertanyaan putranya.
“Jika benar, maka dunia sihir akan segera menemukan gadis itu.” Kata Armand kembali menghembuskan napasnya. “Dan saat hari itu tiba, keluarga kita tidak akan bisa lagi menyembunyikannya.” Armand menambahkan.
Di kamar yang hanya berjarak beberapa lorong dari mereka, Aurelia kembali tertidur tanpa mengetahui bahwa hidupnya akan berubah selamanya. Takdir yang selama ini seakan tengah tertidur sudah mulai terbangun, dan bersama cahaya bintang yang turun dari langit malam, roda takdir mulai berputar menuju masa lalu yang telah lama terlupakan.