NovelToon NovelToon
Jangan Sentuh Anak-anakku

Jangan Sentuh Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Umar

Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.

Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.

Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya

Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??

Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis

Silahkan dukung kami🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Biah menunduk, menghapus air mata yang kini mengalir tanpa henti dimatanya itu.

Kenangan pahit itu kembali berputar-putar di kepalanya kini, saat itu ayahnya memaksanya masuk kuliah hukum tapi keinginannya menjadi dokter adalah cita-cita nya sejak dia kecil.

Tapi cita-cita itu pupus karena dirinya menolong seorang perempuan parubayah seusia ayah yang merupakan ibunda dari Revan.

Saat itu ayahnya tahu jika putrinya mengalami kecelakaan sehingga tangannya harus diberi alat penyangga untuk sementara sedangkan dalam dunia medis sepintar apapun dirinya dia tidak akan lolos jika memiliki kecacatan fisik.

"Kamu harus kuliah hukum, inilah akibatnya kalau kamu tidak mau mengindahkan perkataan orang tua, sekarang kamu kualat kan? ". Ucap sang ayah dengan pongah dan penuh kesombongan.

Tapi alih-alih menuruti perkataan ayahnya, dia mengambil kuliah jurusan Akuntansi bisnis dan membuat ayahnya kembali murka.

Ayahnya tidak tinggal diam setelah anaknya tidak mengindahkan perkataannya dia malah berbuat seenaknya dengan menggunakan sahabat kecilnya yaitu Revan dan membuat lelaki itu menjadi seorang tentara berpangkat agar bisa menikahi anaknya tapi ternyata Biah dengan tegas kembali menolaknya dan memilih menikah setelah dia selesai berkuliah dengan orang lain.

Dan dia melakukan hal yang sama kepada kedua anaknya tapi sama hasilnya dengan sang kakak karena Nurhayati sang anak kedua juga mengikuti jejak sang kakak mengambil kuliah dengan jurusannya sendiri dan menikah dengan orang jauh.

Tidak sampai disana, dia melakukan itu kembali kepada putra bungsunya tapi lagi-lagi dia harus menelan rasa kecewa dan amarah karena semua anaknya sama saja.

"Kenapa kalian semua menentang ku?, aku ini ayah kalian". Bentaknya dalam rumah sang mertua.

Mertuanya kini telah wafat dan di hari pemakaman sang mertua dia membuat keributan karena ketiga anaknya tidak ada yang mendengar dirinya sama sekali.

"Anda bukan lagi ayah kami, dulu anda sudah mengusir dan membuang kami, jadi tidak usah sok berkuasa dan seenaknya memerintah disini". Ucap anak bungsu lelakinya bernama Rosyid itu.

"Tapi aku ini ayah kalian, harusnya kalian berbakti dan tunduk padaku, jangan jadi anak durhaka". Bentaknya penuh emosi.

Dia bahkan mencengkram kerah baju anak lelakinya dengan wajah sangat merah sedangkan anaknya hanya menatapnya dengan tatapan datar.

Postur yang lebih tinggi membuatnya sedikit kesulitan, Rosyid menghempaskan tangan ayahnya dnegan kasar dan memberikan pukulan telak di wajah sang ayah.

"Ini balasan dari semua perbuatan yang anda lakukan pada kedua kakakku, dulu aku masih kecil dan tidak tahu apapun tapi sekarang, aku tidak akan biarkan anda kembali melakukan nya, jadi jangan berharap kalau anda bisa membuat keributan disini, pergi sekarang".

Dia menghempaskan meja didepannya dan hampir mengenai sang ayah dengan penuh emosi.

"Dek" Tegur kedua kakaknya itu.

Mereka tidak mau membuat adiknya itu menghajar sang ayah karena biar bagaimanapun dia adalah ayah mereka.

"Pergilah, jangan buat kesabaranku habis, jika bukan karena kedua kakakku yang melarang ku menghajar mu, aku tidak akan bisa mengontrolnya, sekarang pergi!! ". Teriaknya dengan suara menggelegar.

Hermawan sang ayah langsung pergi dari sana, dia hanya bisa mengepalkan tangannya, walau dia seorang tentara, usianya kini sudah tidak muda dan tubuhnya tidak sekuat dulu, dia tidak mungkin berhadapan dengan sang anak yang merupakan tentara baru yang penuh tenaga.

"Kalian semua akan menyesal". Kesalnya sambil menunjuk kearah mereka.

Mata Biah mengerjap beberapa kali mendengar suara sang anak yang memanggilnya dengan nada khawatir.

"Bunda tidak apa-apa kan? ". Tanya Umar mengusap airmata sang ibu dnegan mata yang berkaca-kaca.

"Iya bunda, bunda tidak apa-apa kan?, Apa nenek lampir itu lakukan sampai bunda menangis begitu? ". Ucap Ukasyah dnegan kesal sekaligus khawatir.

Biah terkekeh pelan mendengar panggilan anaknya kepada saudara tirinya itu. Dia menggeleng kemudian memeluk kedua anaknya itu dengan sayang sedangkan yang lainnya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Bunda tidak apa-apa nak, jangan sebut orang dengan bahasa seperti itu yah Kak, itu tidak baik". Tegurnya dengan lembut.

Ukasyah memajukan bibirnya dengan kesal, tapi tetap mengangguk mengiyakan perkataan sang ibu.

"Habis dia menyebalkan, setiap kali datang kesini selalu membuat keributan, jika aku sudah besar, akan ku seret dia keluar kalau dia berani macam-macam". Sungutnya.

"Dek". Tegur Umar pelan.

"Benar itu bunda, Asma juga kalau besar nanti akan jambak rambutnya kalau berani membuat bunda menangis begitu, biar kami hajar dia tanpa ampun, enak saja sakiti bunda kami". Sungut Asma dengan wajah garang dan kesal.

Biah terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya, dia tersenyum lembut, dian sungguh bahagia dan beruntung memiliki mereka, kini hanya dirinya yang hidup dan menjaga ketiga anak dari kedua adiknya itu, dia berjanji akan mencintai mereka tanpa perbedaan.

"Terima kasih kesayangannya bunda, bunda tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir yah, bunda hanya ingat om dan ibu kalian, ibu rindu mereka, andai mereka ada mereka bisa berkumpul bersama kita disini".

Ketiga anaknya langsung menundukkan kepalanya, mata mereka berkaca-kaca kembali siap menumpahkan airmata, mereka juga merindukan kedua orang tua mereka yang sudah tiada karena kecelakaan yang menewaskan mereka semua.

Melihat wajah sang anak, Biah hanya menghela nafas kemudian memeluk mereka dengan sayang

"Maafin bunda yah nak, bunda tidak bermaksud membuat kalian sedih, kita do'akan saja yah agar mereka mendapatkan tempat terbaik dari Allah".

Mereka mengangguk kemudian tersenyum dan menghapus airmata mereka kemudian memeluk sang bunda, sedangkan anaknya yang lain hanya bisa menepuk pundak ketiga saudara mereka memberi dukungan.

"Oh iya bunda ingin memberi tahu kalian sesuatu".

" Apa itu bunda? ". Tanya mereka dengan kompak.

"Kakek Hermawan mengundang kita semua kerumahnya untuk merayakan hari pernikahannya sekaligus ulangtahun nenek Anita, kalian mau kesana? ". Tanya sang bunda pelan.

"Tidak mau". Kompak mereka semua dengan keras.

Aminah yang digendongan Asma tersentak kemudian menjerit karena terkejut mendengar suara besar itu.

Biah terkekeh pelan, dia sudah menduga jika semua anaknya tidak akan ada yang mau kesana, mereka hanya akan mendapatkan perkataan yang tidak menyenangkan terutama Asma yang cuma anak angkat.

"Mereka semua jahat bunda, terutama ucapan dan sikap mereka kepada kami, mereka hanya menginginkan kakak Umar dan kak Ukasyah sedangkan yang lainnya tidak dianggap oleh mereka". Sungut Ubay dengan kesal.

"Benar bunda, aku tidak mau kesana, bukan karena mereka hanya menyukai kak Ukasyah dan kak Umar tapi mulut mereka sangat jahat terutama untuk adik Asma, kami tidak bisa terima". Kini Ammar yang menjawab dengan nada kesal.

Biah menghela nafas, anak-anaknya benar semua jika keluarga sudah sangat keterlaluan terutama untuk anak angkatnya.

"Baiklah, jika kalian tidak pergi, bunda akan kesana bersama adik Aminah saja".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!