NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Pertemuan Kembali

Tiga hari telah berlalu sejak para penyintas Kota Qinghe tiba di Kota Qingyun.

Sejak matahari terbit, kawasan pengungsian sudah dipenuhi kesibukan.

Sebagian orang mulai memperbaiki rumah-rumah sementara yang mereka tempati.

Sebagian lagi mencari pekerjaan di dalam kota.

Ada yang menjadi pengangkut barang, membantu membangun gudang, hingga bekerja di toko-toko milik para pedagang.

Bantuan dari Sekte Awan Langit tidak mungkin berlangsung selamanya.

Kalau ingin tetap hidup...

Mereka harus kembali berdiri dengan kaki sendiri.

Di rumah sederhana Keluarga Feng.

Feng Tian Yu telah mengenakan pakaian yang lebih rapi.

Pedangnya yang retak tergantung di pinggang.

Mei Lin menghampiri putra sulungnya.

"Kau benar-benar akan berangkat hari ini?"

Tian Yu mengangguk.

"Aku sudah mendengar beberapa toko senjata sedang mencari kultivator untuk mengawal pengiriman barang."

"Lukamu belum benar-benar sembuh."

"Tidak apa."

Tian Yu tersenyum menenangkan ibunya.

"Aku hanya mengawal di sekitar Kota Qingyun, Selain mendapat upah, aku juga bisa mencari kabar Ayah."

Mei Lin ingin membujuk putranya untuk beristirahat lebih lama.

Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Ia tahu keadaan keluarga mereka.

Mereka membutuhkan batu roh.

Mereka membutuhkan penghasilan.

Tian Yu menoleh kepada Bai Hu.

"Kau ikut denganku?"

Bai Hu yang sedang membaca gulungan tanaman spiritual pemberian Tetua Guo langsung menutup gulungan itu.

"Boleh?"

"Tentu ,Kita sekalian melihat kota."

Mata Bai Hu langsung berbinar.

Sejak tiba di Kota Qingyun, ia belum pernah benar-benar berkeliling.

Hari ini akhirnya kesempatan itu datang.

Jalan utama Kota Qingyun sudah ramai.

Kereta dagang keluar masuk tanpa henti.

Kultivator dari berbagai penjuru kerajaan berlalu-lalang.

Ada yang membawa pedang.

Ada yang memikul tombak.

Ada pula yang membawa karung penuh bahan Binatang Iblis.

Bai Hu melihat semuanya dengan penuh rasa ingin tahu.

Ia memperhatikan cara para pedagang menawarkan barang.

Cara mereka menawar harga.

Bahkan cara mereka menyusun dagangan.

Semua ia simpan di dalam ingatannya.

Tian Yu memperhatikan adiknya sambil tersenyum.

"Apa yang kau lihat?"

"Cara mereka berdagang."

"Itu menarik?"

"Menarik." Bai Hu menunjuk sebuah toko tanaman spiritual.

"Lihat,Tanaman yang diletakkan di depan semuanya berkualitas bagus."

"Sedangkan yang di belakang kualitasnya lebih rendah."

"Pembeli akan melihat yang bagus lebih dulu."

Tian Yu tertawa kecil.

"Kau bahkan memikirkan itu?"

Bai Hu mengangguk serius.

"Kalau suatu hari nanti aku membuka toko.....aku juga akan melakukannya."

Tian Yu menggeleng sambil tertawa.

"Dasar mata duitan."

Mereka terus berjalan hingga tiba di kawasan para penempa.

Suara dentingan palu terdengar silih berganti.

Api dari tungku membara menyala terang.

Para penempa bekerja tanpa mengenal lelah.

Bau besi panas memenuhi udara.

Tian Yu berhenti di depan salah satu bengkel.

Di atas pintunya tergantung papan kayu bertuliskan:

Bengkel Besi Gunung Hitam

"Di sinilah aku mendengar mereka membutuhkan pengawal."kata Tian Yu.

Saat hendak melangkah masuk...

Terdengar suara yang sangat dikenal Bai Hu.

"Bai Hu?"

Bai Hu langsung menoleh.

Beberapa langkah dari sana berdiri seorang anak bertubuh besar dengan pakaian penuh jelaga hitam.

Wajahnya sedikit lebih kurus.

Namun senyum polos itu tidak berubah sedikit pun.

Di sampingnya berdiri seorang pria kekar dengan lengan penuh bekas luka bakar.

Bai Hu membelalak.

"Tie Niu!"

Anak bertubuh besar itu langsung berlari.

"Bai Hu!"

Tanpa ragu mereka saling memukul bahu seperti yang selalu mereka lakukan sejak kecil.

"Kau masih hidup!"seru Bai Hu.

Tie Niu tertawa lebar.

"Tentu saja, seharusnya aku yang bertanya begitu,

Kupikir kau ikut terkubur di Kota Qinghe."

Bai Hu menggeleng.

"Kami berhasil keluar."

Tie Niu mengangguk pelan.

"Saat tembok kota runtuh..."Ayah menarikku keluar lewat gerbang selatan."

Barulah Bai Hu menyadari lengan kanan Tie Shan dibalut kain tebal.

"Paman Tie...Lengan Paman terluka?"

Tie Shan tertawa kecil.

"Hanya luka kecil.Masih cukup kuat mengangkat palu."

Tian Yu menghampiri sambil tersenyum.

"Senang melihat kalian selamat."

Tie Shan membalas hormat.

"Syukurlah keluarga Feng juga masih memiliki penerus."

Sesaat suasana kembali sunyi.

Mereka semua mengingat orang-orang yang tidak berhasil keluar dari Kota Qinghe.

Tie Shan menghela napas panjang.

"Yang pergi sudah pergi,Kalau kita terus larut dalam kesedihan...kita tidak akan mampu menjalani hidup."

Ia menepuk bahu Bai Hu dan Tie Niu bergantian.

"Kalian berdua masih muda, dunia di depan kalian masih sangat luas, kalian harus hidup lebih baik daripada kami."

Bai Hu dan Tie Niu saling berpandangan.

Kemudian mengangguk bersamaan.

Mereka sama-sama memahami.

Kehidupan mereka telah berubah.

Namun persahabatan yang terjalin sejak kecil...

Tidak berubah sedikit pun.

Tie Shan mengajak mereka masuk ke dalam bengkel.

Begitu melewati pintu, hawa panas langsung menyambut wajah mereka.

Di tengah ruangan berdiri tiga tungku besar yang menyala terang.

Beberapa penempa bertubuh kekar mengayunkan palu mereka tanpa henti.

Tang!

Tang!

Tang!

Suara besi beradu bergema memenuhi ruangan.

Percikan api beterbangan setiap kali palu menghantam logam yang membara.

Bai Hu memperhatikan setiap proses dengan saksama.

Seorang penempa memasukkan sebongkah baja ke dalam tungku.

Beberapa saat kemudian, logam itu berubah merah membara.

Penempa lain segera mengangkatnya menggunakan penjepit besi, lalu meletakkannya di atas landasan.

Empat orang langsung memukulnya bergantian.

Tidak ada satu pukulan pun yang meleset.

Semuanya memiliki irama.

Semuanya tampak terlatih.

Tie Niu memperhatikan ekspresi Bai Hu lalu tersenyum lebar.

"Bagaimana?Hebatkan."

Bai Hu mengangguk pelan.

"Dulu aku hanya melihat Paman Tie menempa."

"Aku tidak tahu kalau bengkel sebesar ini memiliki begitu banyak penempa."

Tie Shan tertawa kecil.

"Di Kota Qingyun, kebutuhan senjata jauh lebih besar daripada di Kota Qinghe."

"Banyak kultivator datang membawa senjata yang rusak."

"Banyak pula yang memesan senjata baru sebelum masuk Pegunungan Seribu Bintang."

Bai Hu kembali melihat ke arah tungku.

Matanya dipenuhi rasa ingin tahu.

"Paman...Apakah semua orang bisa belajar menempa?"

Tie Shan mengangguk.

"Tentu saja bisa,Tapi menjadi penempa yang baik tidak mudah, besi tidak bisa dibentuk hanya dengan tenaga, kau harus memahami sifat logam.

"Kapan harus dipanaskan."

"Kapan harus dipukul."

"Kapan harus didinginkan."

"Kesalahan sedikit saja...logam itu akan retak."

Bai Hu mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Ia mulai menyadari bahwa setiap profesi di dunia kultivasi memiliki ilmunya sendiri.

Tidak ada jalan pintas.

Tie Niu tiba-tiba menarik lengan Bai Hu.

"Ayo."

"Kemana?"

"Ke belakang."

Mereka berjalan menuju halaman belakang bengkel.

Di sana terdapat beberapa balok kayu besar dan batu-batu hitam yang digunakan untuk latihan.

Tie Niu mengambil sebuah palu besi yang hampir setinggi pinggangnya.

Bai Hu membelalak.

"Itu berat sekali."

Tie Niu tertawa.

"Ayah menyuruhku mengangkatnya setiap hari."

"Untuk apa?" tanya Bai Hu

"Melatih tubuh."

Tie Niu menggenggam gagang palu dengan kedua tangan.

Kemudian...

Duuung!

Palu itu menghantam balok baja hingga mengeluarkan suara nyaring.

Sekali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Dua puluh kali.

Keringat mulai mengalir di dahinya.

Namun gerakannya tidak melambat sedikit pun.

Bai Hu memperhatikan sahabatnya dengan kagum.

Tubuh Tie Niu memang jauh lebih kuat dibanding anak seusianya.

Tie Shan menghampiri sambil berkata,

"Sejak kecil anak itu memang suka membantu di bengkel, awalnya hanya mengangkat arang,mengangkat besi."

"Sekarang..dia sudah bisa menempa logam sederhana."

Tie Niu menghentikan ayunan palunya.

Ia mengusap keringat di wajahnya lalu tersenyum malu.

"Aku masih harus banyak belajar."

Bai Hu tersenyum.

"Kau pasti akan menjadi penempa hebat."

Tie Niu menggaruk kepalanya.

"Aku memang ingin menjadi penempa terbaik."

"Lalu menempa senjata yang bisa dipakai para kultivator kuat."

Bai Hu tertawa.

"Kalau begitu nanti kau yang membuat semua senjataku."

Tie Niu mengangguk tanpa berpikir.

"Tentu,tapi..."

Ia melirik ayahnya.

"Ayah bilang besi itu mahal."

Bai Hu langsung menghela napas panjang.

"Jadi tetap harus bayar?"

Tie Niu mengangguk dengan wajah polos.

"Tentu saja,Kalau tidak bayar..Ayah pasti akan memukulku."

Tie Shan langsung tertawa terbahak-bahak.

"Tidak sampai kupukul,tapi bengkel ini juga harus tetap hidup."

Bai Hu ikut tertawa.

"Baiklah,kalau begitu nanti aku akan membayar, tapi harus lebih murah."

Tie Niu mengangguk serius.

"Harga sahabat."

Mendengar jawaban itu, semua orang kembali tertawa.

Suasana yang selama beberapa hari dipenuhi kesedihan akhirnya sedikit mencair.

Beberapa saat kemudian...

Tie Shan mengajak Tian Yu berbincang di sudut bengkel.

"Aku mendengar kau sedang mencari pekerjaan."

Tian Yu mengangguk.

"Keluarga kami membutuhkan penghasilan."

Tie Shan berpikir sejenak.

"Kalau begitu bekerjalah di sini untuk sementara."

Tian Yu terkejut.

"Di bengkel?"

"Bukan menempa."

Tie Shan menunjuk beberapa peti kayu di sudut ruangan.

"Setiap beberapa hari kami mengirim senjata ke kota-kota sekitar, perjalanan itu membutuhkan pengawal."

"Aku sudah tua.Anak-anak bengkel juga belum cukup kuat,Aku membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya."

Tian Yu langsung berdiri dan memberi hormat.

"Terima kasih, Paman Tie."

Tie Shan menggeleng.

"Jangan berterima kasih dulu, upahnya mungkin tidak besar, tapi kuharap itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluargamu."

Mata Tian Yu sedikit berkaca-kaca.

Tie Shan sebenarnya sedang membantu mereka.

Bukan sekadar menawarkan pekerjaan.

Sementara itu, Bai Hu dan Tie Niu masih berbincang di halaman belakang.

"Tiga hari lagi seleksi sekte dimulai."

kata Bai Hu.

Tie Niu mengangguk.

"Ayah juga menyuruhku ikut."

"Bagus,kita bisa masuk bersama." jawab Bai Hu

Tie Niu menggeleng pelan.

"Aku tidak tahu apakah aku akan diterima, bakatku biasa saja."

Bai Hu menatap sahabatnya dengan serius.

"Kalau mereka tidak menerima orang sepertimu, berarti mereka yang rugi."

Tie Niu tertawa.

"Kau masih sama seperti dulu."

"Tentu ,bukankah aku selalu benar?"

Tie Niu kembali tertawa.

Dua anak itu kembali bercanda seperti masa kecil mereka.

jauh di dalam hati Bai Hu...

Ia telah membuat sebuah keputusan.

Suatu hari nanti...

Apa pun jalan yang mereka pilih...

Ia ingin Tie Niu tetap berjalan bersamanya.

Karena di dunia yang penuh bahaya ini...

Sahabat adalah hal yang sangatlah berharga,

------

Matahari mulai condong ke barat.

Setelah berpamitan dengan Tie Shan, Bai Hu dan Feng Tian Yu tidak langsung kembali ke rumah.

Tie Shan justru menghentikan langkah mereka.

"Tunggu dulu."

Keempat orang itu menoleh.

Tie Shan masuk ke dalam gudang bengkel, lalu keluar membawa dua kantong kain berwarna cokelat.

Ia menyerahkan kantong pertama kepada Tian Yu.

"Ini upah untuk pekerjaan pengawalan pertama."

Tian Yu terkejut.

"Tapi aku belum mulai bekerja."

Tie Shan menggeleng sambil tersenyum.

"Anggap saja uang muka."

"Besok pagi kita berangkat mengantar senjata ke sebuah kota kecil yang letaknya tidak jauh dari Kota Qingyun."

"Perjalanannya hanya sehari."

"Setelah itu kau boleh memutuskan apakah ingin terus bekerja atau tidak."

Tian Yu sempat ingin menolak.

Namun ia teringat keadaan keluarganya.

Mereka memang membutuhkan batu roh.

Dengan penuh hormat ia menerima kantong itu.

"Terima kasih, Paman Tie."

Tie Shan menepuk bahunya.

"Bekerjalah dengan baik."

"Itu sudah cukup."

Kemudian Tie Shan menyerahkan kantong kedua kepada Bai Hu.

"Nah, Ini untukmu."

Bai Hu berkedip bingung.

"Untukku?"

Tie Shan mengangguk.

"Buka saja."

Bai Hu membuka kantong kain itu.

Di dalamnya terdapat beberapa potong logam berwarna hitam keabu-abuan.

Selain itu ada sebuah pisau kecil yang masih polos tanpa ukiran.

"Apa ini?"

Tie Shan mengambil salah satu potongan logam.

"Ini Baja Hitam kualitas rendah."

"Biasanya digunakan untuk melatih penempa pemula."

Beliau kemudian menunjuk pisau kecil itu.

"Pisau itu juga belum selesai ditempa."

"Bentuknya sudah jadi."

"Tetapi kualitasnya masih biasa."

Bai Hu memandang benda-benda itu dengan heran.

"Paman...Aku bukan penempa."

Tie Shan tertawa kecil.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa Paman memberikannya?"

Tie Shan menatap Bai Hu beberapa saat.

"Waktu di Kota Qinghe..aku pernah melihatmu memperhatikan caraku menempa,Wajahmu sama seperti sekarang, penuh rasa ingin tahu."

Tie Shan melanjutkan dengan suara tenang.

"Aku tidak tahu nanti kau akan menjadi apa."

"Mungkin alkemis."

"Mungkin kultivator."

"Mungkin pedagang."

"Atau mungkin semuanya."

"Tetapi.. Selama kau ingin belajar, maka belajarlah"

Kalimat itu membuat Bai Hu terdiam.

Tie Shan kembali berkata,

"Logam bisa ditempa ulang."

"Senjata bisa diperbaiki."

"Begitu pula manusia."

"Selama terus belajar....suatu hari kau pasti menjadi jauh lebih baik daripada hari ini."

Bai Hu menggenggam kantong kain itu erat-erat.

"Terima kasih, Paman, aku akan menjaganya."

Tie Shan tersenyum puas.

"Itu bukan untuk disimpan.Itu untuk dipelajari."

Bai Hu langsung mengangguk.

"Aku mengerti."

Dalam perjalanan pulang...

Bai Hu tampak lebih banyak diam.

Di tangannya terdapat dua kantong.

Satu berisi tungku alkimia pemberian Tetua Guo.

Satu lagi berisi logam latihan pemberian Tie Shan.

Tian Yu melirik adiknya.

"Sedang memikirkan sesuatu?"

Bai Hu mengangguk.

"Kak."

"Hm?"

"Menurut Kakak...apakah seseorang boleh mempelajari banyak hal sekaligus?"

Tian Yu tidak langsung menjawab.

Ia justru balik bertanya.

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Aku ingin belajar alkimia."

"Aku juga ingin belajar menempa."

"Aku juga ingin menjadi kultivator yang kuat."

"Kalau nanti ada ilmu lain yang menarik..."

"...aku juga ingin mempelajarinya."

"Apa itu salah?"

Tian Yu tersenyum.

"Tidak ada yang salah dengan belajar."

"Tetapi...waktumu terbatas."

"Kalau kau ingin mempelajari banyak hal..."

"...kau harus bekerja lebih keras daripada orang lain."

Bai Hu mengangguk mantap.

"Aku siap."

Jawaban itu keluar tanpa sedikit pun keraguan.

Tian Yu tertawa kecil.

"Dasar adikku."

"Kau memang tidak pernah puas."

Bai Hu tersenyum.

"Bukankah semakin banyak yang kupelajari..."

"...semakin banyak juga cara mencari batu roh?"

Tian Yu langsung tertawa terbahak-bahak.

"Aku sudah menduga."

"Pada akhirnya tetap soal batu roh."

Bai Hu ikut tertawa.

"Tidak salah, kan?"

"Tidak, selama kau mendapatkannya dengan cara yang benar."

Saat mereka hampir tiba di kawasan tempat tinggal para penyintas...

Keramaian terlihat di depan sebuah papan pengumuman.

Puluhan anak muda berkumpul.

Sebagian mengenakan pakaian keluarga besar.

Sebagian lagi adalah kultivator lepas.

Mereka saling berdesakan membaca isi pengumuman.

Bai Hu dan Tian Yu ikut mendekat.

Di atas papan kayu tertempel sebuah gulungan besar.

PENGUMUMAN SEKTE AWAN LANGIT

Seleksi Murid Baru akan dilaksanakan dua hari lagi.

Peserta harus berusia di bawah enam belas tahun.

Seluruh peserta akan mengikuti tiga tahap seleksi.

Uji bakat.

Uji pemahaman.

Uji ketahanan dan kemampuan bertahan hidup.

Setelah membaca sampai akhir, Bai Hu mengerutkan kening.

ia masih tidak mengerti artinya kemampuan bertahan hidup,,

tepat di belakang mereka, dua kultivator lepas sedang berbincang.

"Tahun ini katanya seleksi akan lebih sulit."

"Aku juga mendengarnya."

"Beberapa sekte besar akan datang memilih murid."

"Kalau beruntung bisa langsung diterima oleh tetua."

Mendengar percakapan itu, Bai Hu semakin penasaran.

Ia tidak takut.

Justru rasa ingin tahunya semakin besar.

Baginya...

Seleksi itu bukan hanya kesempatan memasuki sekte.

Melainkan langkah pertama menuju dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita ayahnya.

Ia memandang langit senja Kota Qingyun.

Kemudian mengepalkan tangan.

"Dua hari lagi..."

"Aku akan mengikuti seleksi."

"Tidak peduli seberapa sulit ujiannya."

"Aku akan lulus."

Di antara keramaian itu, Tie Niu yang baru saja tiba ikut berdiri di samping Bai Hu.

Ia menatap papan pengumuman yang sama.

Lalu tersenyum.

"Aku juga."

Bai Hu menoleh sambil tersenyum lebar.

"Kalau begitu, jangan sampai tertinggal."

Kedua anak itu, mereka belum mengetahui seperti apa ujian yang menanti.

Mereka juga belum mengetahui bahwa di antara para peserta seleksi terdapat anak-anak jenius dari berbagai keluarga besar di seluruh wilayah timur.

Namun satu hal telah mereka putuskan.

Mereka akan melangkah bersama,,

Bersambung

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!