NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia, wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau bercerai!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30 ~ Bicara Diatas Ranjang

Satu kecupan singkat mendarat di sana. Ringan, namun terasa menyengat. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat napas Hezlin tercekat.

Garra melepaskannya perlahan, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan sepenuhnya.

"Hati-hati," bisiknya pelan.

Hezlin segera menoleh ke samping, menutup rapat perasaan yang sempat bergejolak. Wajahnya kembali dingin, tak ada senyum maupun rona merah yang ia tunjukkan.

"Terima kasih," ucapnya datar, tanpa menatap mata Garra lagi.

Di dalam hatinya, keraguan itu justru makin dalam. Seberapa pun lembutnya Garra sekarang, ia tak bisa menghapus keyakinan yang sudah tertanam lama bahwa di sudut hati pria itu, masih tersimpan tempat khusus untuk seseorang dari masa lalu. Bahwa semua kelembutan ini mungkin hanya sesaat, dan bukan benar-benar ditujukan untuknya sepenuhnya.

Ia segera membuka pintu mobil, turun, dan melangkah masuk ke dalam kantor tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Hezlin melangkah masuk ke ruang kerjanya, baru saja meletakkan tas di kursi ketika Bu Rina segera menghampirinya dengan wajah cemas.

"Ya ampun Hezlin! Kamu tidak apa-apa? Kemarin kita semua panik sekali, laporan penting yang seharusnya kamu siapkan untuk rapat kemarin belum ada di meja ruang rapat!"

Hezlin menghela napas pelan, tangannya berhenti sejenak di tepi meja. Wajahnya tetap tenang, tak menunjukkan kegelisahan sedikit pun di permukaan.

"Maaf Bu," jawabnya datar. "Saya kurang enak badan kemarin, jadi belum sempat menyelesaikannya."

Bu Rina menatapnya lekat, baru menyadari wajah Hezlin terlihat lebih pucat dari biasanya.

"Kamu sakit? Ya sudah, jangan dipaksakan dulu kalau begitu. Laporannya nanti saja tidak apa-apa. Kerjakan pelan-pelan saja," ucap Bu Rina lembut, lalu menepuk pelan bahu Hezlin sebelum beranjak pergi.

Hezlin hanya mengangguk singkat. Begitu Bu Rina pergi, ia langsung duduk di kursi kerjanya, mulai membuka beberapa laporan yang seharusnya dia selesaikan.

Hezlin menekuni pekerjaannya yang menupuk pagi ini. Jam di dinding bergerak pelan, hingga akhirnya jarum menunjukkan pukul dua siang. Laporan itu pun selesai tersusun rapi.

Ia berjalan menuju ruangan CEO, mengetuk pintu pelan sebelum masuk. Kael duduk di balik meja besarnya, menatapnya begitu ia melangkah masuk.

"Permisi Tuan," sapa Hezlin sopan namun datar, menyodorkan map berisi laporan itu. "Ini laporannya. Sekali lagi saya mohon maaf karena terlambat dari jadwal seharusnya."

Kael menerima map itu sekilas, namun tak langsung membukanya. Saat Hezlin hendak berbalik dan pergi, suara pria itu menghentikan langkahnya.

"Hezlin."

Ia berhenti, lalu perlahan berbalik kembali. Kael sudah berdiri, berjalan mengelilingi meja dan berhenti tak jauh di hadapannya. Tatapannya tegas, serius, tak ada bercandaan sedikit pun.

"Jika terjadi sesuatu... atau jika Garra berani macam-macam padamu..." ucapnya pelan namun berat, menekankan setiap kata. "Katakan saja padaku. Aku tidak akan membiarkan pria itu mempermainkanmu."

Hezlin terdiam, matanya terbelak sedikit tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut Kael. Sebenarnya Hezlin sendiri pun masih bingung dengan keadaannya sendiri saat ini. Tentang Garra, tentang kehamilannya, tentang semuanya..

Namun ia juga belum siap untuk bercerita yang sebenarnya pada Kael, biarkanlah ini menjadi rahasianya sendiri.

"Terimakasih atas perhatianmu, Kael. Tapi aku masih banyak pekerjaan.. Permisi."

Kael sempat terhenti melihat keengganan yang tersirat di wajah Hezlin. Ia mengangguk pelan, tak ingin memaksanya berbicara lebih jauh saat ini.

"Baiklah." jawabannya tegas.

Hezlin hanya menunduk sedikit, lalu berbalik badan dan segera melangkah keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, ia mengembuskan napas panjang yang tak sadar tertahan. Rasanya semakin banyak hal yang harus ia simpan sendirian, semakin banyak rahasia yang membebani dadanya.

Entah mengapa Kael merasa seperti ada yang sedikit berbeda dari Hezlin saat ini. Dia tidak tahu apa, tapi semoga saja ini bukanlah sesuatu yang buruk.

Ia menatap pintu yang baru saja ditutup itu lama, rahangnya mengeras pelan.

Ia berharap saja dugaanannya keliru. Tapi satu hal yang akan ia pastikan... jika Garra benar-benar menyakiti wanita itu lagi, atau membiarkannya menanggung beban sendirian seperti ini, ia tidak akan diam saja.

••

••

Di ruang kerjanya yang luas dan hening, Garra duduk tegak di balik meja besarnya. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela. Saat ini pria itu sedang menatap tumpukan berkas di hadapannya, hingga ketukan pintu terdengar pelan.

"Masuk."

Ervan melangkah masuk dengan wajah serius, membawa map tebal di tangannya.

"Tuan, ada laporan terbaru mengenai kerja sama proyek pulau dan tambang dengan Tuan Arthur," ucapnya sopan sambil menyodorkan map itu.

Garra mengambilnya, membuka halaman pertama sekilas. "Ada masalah apa?"

"Tuan Arthur mengirimkan surat permohonan resmi. Ia meminta penambahan anggaran, wewenang menunjuk kontraktor sendiri, serta hak mengatur jalannya operasi di lokasi," jelas Ervan. "Padahal sesuai kontrak awal, perusahaannya hanya bertindak sebagai mitra pendukung, dan seluruh pengambilan keputusan serta pengaturan proyek sepenuhnya berada di bawah kendali kita."

Garra menutup map itu perlahan, tatapannya dingin dan tegas.

"Tolak seluruh permohonan itu," ucapnya singkat namun tak terbantahkan. "Kirimkan balasan tegas: kesepakatan tidak berubah. Perusahaannya boleh ikut berpartisipasi sesuai porsi yang disepakati, tapi wajib mengikuti seluruh arahan dan aturan yang kita tetapkan. Tidak boleh mencampuri urusan pengaturan."

Ia menatap Ervan lekat.

"Siapkan tim pengawas kita. Mereka akan ditempatkan langsung di lokasi untuk memantau semuanya. Kita tidak perlu bergantung pada tim atau keputusan Tuan Arthur."

"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," jawab Ervan, lalu bergegas keluar.

Garra menatap keluar jendela. Ia sudah memberi ruang bagi pria tua itu untuk ikut, tapi tidak akan pernah memberi kesempatan untuk mengambil alih kendali yang bukan haknya.

••

••

Di ruang kerjanya sendiri, Tuan Arthur mencengkeram kertas surat balasan itu begitu kuat hingga ujung-ujungnya terlipat kasar. Wajahnya merah padam menahan amarah, urat di lehernya menonjol jelas.

"Masih saja sekeras kepala itu!" gerutunya kasar, melempar kertas itu ke meja. "Bahkan setelah Hezlin sudah kembali ke sisinya, dia masih tidak mau memberi aku ruang bergerak sedikit pun!"

Ia mengira posisinya sudah lebih kuat sekarang. Ia pikir Garra akan melunak dan lebih longgar syaratnya karena putrinya sudah kembali ke rumah. Ternyata dugaanannya salah besar. Pria itu tetap menutup rapat segala akses, tak mau berkompromi.

Tuan Arthur berjalan mondar-mandir gelisah, lalu tiba-tiba berhenti. Ia meraih ponsel di meja, menekan nomor Hezlin dengan cepat. Saat panggilan tersambung, nadanya berubah dibuat lembut dan penuh perhatian.

"Hezlin... Ayah ingin bicara sebentar denganmu."

Ia mendengarkan sejenak, lalu melanjutkan dengan nada membujuk.

"Begini sayang... Ada hal kecil soal kerja sama proyek kita. Ayah merasa Garra terlalu kaku, jadi proyeknya jadi lambat berjalan. Jadi tolong bantu bicara padanya. Kamu kan istrinya, pasti lebih mudah kalau kamu yang menyampaikan langsung keinginan Ayah."

Ia terdiam sejenak saat mendengar jawaban Hezlin yang terdengar ragu.

"Dengarkan Ayah... Bicaralah saat kalian berdua sedang senggang. Percayalah, kalau pembicaraan dilakukan berdua di atas ranjang, pasti hatinya akan lebih lunak. Dia pasti lebih mudah menuruti permintaanmu daripada urusan kantor. Lakukan demi kebaikan kita semua, ya nak?"

Tuan Arthur menunggu jawaban, berharap putrinya mau menjadi jembatan yang bisa ia gunakan untuk meluluhkan ketegaran Garra.

❤️

1
Red Blossom
Thor jangan buat Garra jd CEO yg gampang dijebak Feli. Jangan sampe Garra kejebak
Zhao_Xena: tunggu bab selanjutnya ya kak.. terimakasih sudah berkomentar 🥰🥰
total 1 replies
You `ka
dasar wanita licik Felicia.. jangan sampai Garra menyentuhnya 😤😤
You `ka
jadi selama ini Rachel sekongkol sama Felicia? hissh! benar-benar musuh berkedok sahabat.

jangan mudah di bohongi Garra.. Felicia itu licik.
You `ka
siapa? apa Rachel bersekongkol dengan orang jahat?
You `ka
mesyuumm ahh..🤣🤣🤣🤣
You `ka
hmm... curi kesempatan dalam kesempitan inih...😝😝😝
You `ka
kael pasti cemburu yah?? gimana kalau dia tau Hezlin sedang hamil?
You `ka
pantes selama ini Garra lebih banyak menyentuh, dibandingkan langsung bicara.. ternyata bahasa cintanya adalah sentuhan..🤣🤣🤣🤣
You `ka
aw... aw.. aw.... lanjutkan Garra 🤣
You `ka
Garra sudah menunjukkan perhatiannya Hezlin.. semoga mereka tidak lagi salah paham
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!