NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Pengantin Pengganti Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Syahrul Mulia

Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.

Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?

Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.

Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - Jeritan dari Utara

_____________________________

Suara letusan senjata dari pengeras suara ponsel Marco masih menyisakan dengung mengerikan di dalam kamar tidur Arsen. Di atas sofa, tubuh Arunika mendadak kaku, seolah seluruh aliran darahnya berhenti mengalir seketika. Suara itu... erangan putus asa itu... tidak salah lagi adalah suara Baskoro, ayahnya. Pria yang beberapa jam lalu baru saja menyerahkannya pada cengkeraman mafia, kini justru berteriak memanggil namanya di ambang maut.

"Ayah..." bisik Arunika, suaranya nyaris tenggelam dalam kesunyian kamar yang mencekam.

Gadis itu bangkit dari sofa dengan kaki yang gemetar hebat. Tanpa memedulikan tatapan dingin Arsen atau kehadiran Marco di ambang pintu, Arunika melangkah terhuyung-huyung mendekati kedua pria itu. Tangannya yang dingin mencengkeram lengan jas Marco, matanya menatap layar ponsel yang kini sudah menggelap dengan pandangan liar penuh kepanikan.

"Itu suara Ayahku... Apa yang mereka lakukan pada Ayahku?!" jerit Arunika, suaranya naik satu oktav, pecah oleh histeria yang tak terbendung. "Kalian bilang kalian menjamin nyawanya jika aku ikut! Kenapa dia ditembak?!"

Marco tidak menjawab. Pria bertubuh tegap itu hanya melirik ke arah tuannya, menunggu perintah atau isyarat untuk menyingkirkan gadis yang mulai kehilangan kendali ini.

Arsen berdiri bergeming di tempatnya. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Arunika, melucuti seluruh histeria gadis itu hanya dengan satu pandangan tajam yang mematikan. Dia mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangan Arunika yang berada di lengan Marco, lalu menariknya menjauh dengan satu gerakan yang tidak terbantahkan.

"Tenang, Arunika," ucap Arsen, nadanya begitu datar dan dingin, seolah video eksekusi yang baru saja mereka dengar hanyalah laporan cuaca harian yang membosankan.

"Bagaimana aku bisa tenang?! Ayahku dibunuh!" teriak Arunika lagi, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Dia mencoba menyentak tangannya dari cengkeraman Arsen, namun kekuatan pria itu seperti borgol besi yang mengunci pergerakannya.

"Jika mereka ingin membunuh ayahmu, mereka tidak akan repot-repot mengirimkan rekaman langsung ke pelabuhan utara," sahut Arsen tenang. Dia melepaskan tangan Arunika, lalu beralih menatap Marco. "Di mana posisi sinyal terakhir pengiriman video itu?"

"Hanya terpaut tiga kilometer dari gudang logistik kita di sektor empat, Tuan," jawab Marco cepat. "Faksi tak dikenal ini bergerak sangat rapi. Mereka sengaja memancing kita ke pelabuhan utara di saat sayap barat mansion ini baru saja disusup. Ini adalah gerakan pengalihan ganda."

Arsen menyunggingkan senyuman tipis—sebuah ekspresi yang tampak sangat mengerikan di tengah situasi berdarah seperti ini. "Mereka mengira aku akan panik dan mengirim seluruh pasukan ke pelabuhan untuk menyelamatkan aset gandum dan... seorang tua bangka yang tidak berguna."

Arunika mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Arsen dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Bagi Arsen, nyawa ayahnya benar-benar tidak lebih berharga dari tumpukan barang logistik di gudang.

"Kau... kau tidak akan menyelamatkannya?" tanya Arunika dengan bibir bergetar. Dia menatap Arsen dengan pandangan memohon, melupakan sejenak bahwa pria di hadapannya ini adalah monster yang sama kejamnya dengan orang-orang di luar sana. "Tolong... dia berutang padamu dua puluh miliar. Jika dia mati, kau tidak akan mendapatkan uangmu kembali!"

Arsen membalikkan tubuhnya, berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Dia mengambil sebatang cerutu dari kotak kayu mahoni, menyalakannya dengan pemantik perak hingga asap abu-abu tipis beraroma berat memenuhi ruangan.

"Dua puluh miliar itu sudah terbayar sejak kau melangkah masuk ke rumah ini, Arunika," ucap Arsen setelah mengembuskan asap cerutunya ke udara. "Kau adalah jaminanku. Nilaimu di mata hukum mafia jauh lebih tinggi daripada nyawa ayahmu yang sudah membusuk karena judi. Jadi, hidup atau matinya Baskoro, tidak mengubah fakta bahwa kau adalah milikku."

"Kau monster!" kutuk Arunika, dadanya kembang kempis oleh kemarahan yang meluap. "Kau sengaja membiarkannya mati!"

Arsen tidak membantah sebutan itu. Dia justru menatap Arunika dengan pandangan yang sarat akan dominasi. "Aku seorang pebisnis, jalang kecil. Aku tidak melakukan pergerakan yang merugikan posisiku. Jika aku mengirim pasukan ke utara sekarang, mansion ini akan kosong, dan musuh-musuhku akan dengan mudah mengambil kepalamu—yang merupakan satu-satunya alatku untuk menarik kakakmu kembali dari pelariannya."

Arsen kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Marco. "Biarkan faksi utara bermain-main dengan gudang itu. Kirimkan tim bayangan sektor tiga untuk memantau dari jarak jauh. Jangan lakukan serangan terbuka sebelum aku tahu pasti siapa dalang di balik serangan malam ini."

"Dimengerti, Tuan," Marco membungkuk hormat, lalu melangkah mundur dan keluar dari kamar, menutup pintu ganda yang tebal itu dengan rapat.

Ruangan itu kembali sunyi, menyisakan Arsen dan Arunika dalam ketegangan yang semakin mencekat. Arunika perlahan mundur hingga tubuhnya kembali menyentuh sofa kulit.

Keputusasaan yang mendalam kembali merayapi hatinya. Dia sendirian di dunia ini. Kakaknya kabur mengorbankannya, ayahnya entah masih hidup atau sudah menjadi mayat di suatu tempat, dan kini dia dikurung oleh seorang raja mafia yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar umpan hidup.

"Ganti pakaianmu," perintah Arsen tiba-tiba, memecah keheningan. Dia berjalan menuju sebuah lemari besar di sisi ruangan, melempar sebuah kemeja sutra hitam miliknya ke atas sofa tepat di samping Arunika. "Pakaianmu basah dan kotor oleh darah penyusup tadi. Aku tidak suka bau amis di kamarku."

Arunika menatap kemeja hitam itu dengan ragu. "Aku... aku bisa menggantinya di kamar mandi."

"Lakukan sesukamu," sahut Arsen dingin tanpa menoleh, matanya kini tertuju pada deretan layar monitor di meja kerjanya, memeriksa rekaman CCTV luar mansion yang mulai kembali normal setelah sempat disabotase.

Arunika mengambil kemeja itu dengan tangan bergetar, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi mewah yang terletak di sudut ruangan. Di dalam, dia mengunci pintu, lalu bersandar pada dinding marmer yang dingin. Air matanya kembali tumpah dalam diam. Dia memandang wajahnya di cermin besar—wajah seorang gadis dua puluh dua tahun yang kini tampak begitu kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata dan sisa ketakutan yang belum hilang.

Dengan perlahan, dia menanggalkan gaunnya yang sudah robek dan ternoda darah. Dia membersihkan tubuhnya dengan air hangat seadanya, mencoba menghapus sisa-sisa malam yang mengerikan ini dari kulitnya. Setelah selesai, dia mengenakan kemeja sutra hitam milik Arsen. Kemeja itu terlalu besar di tubuhnya yang ramping, menjuntai hingga ke atas lututnya, dan aroma parfum kayu cedar milik Arsen langsung membungkus tubuhnya, memberikan rasa aman palsu yang justru membuatnya semakin tertekan.

Ketika Arunika keluar dari kamar mandi, dia melihat Arsen sudah tidak ada lagi di depan meja kerjanya. Pria itu kini berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah halaman depan mansion, tempat hujan gerimis masih menyiram bumi.

"Kemari," panggil Arsen tanpa berbalik.

Arunika melangkah perlahan, menjaga jarak aman di belakang tubuh tegap pria itu. "Ada apa?"

Arsen tidak menjawab, dia hanya menunjuk ke arah gerbang utama mansion yang terletak jauh di bawah sana melalui kaca jendela yang berembun. Arunika menyipitkan matanya, mencoba menembus kegelapan malam yang pekat.

Di bawah lampu sorot gerbang utama, sebuah mobil sedan hitam tanpa pelat nomor tampak berhenti sejenak. Seseorang dari dalam mobil membuka pintu belakang, melempar sebuah bungkusan besar berbentuk tubuh manusia ke atas aspal jalanan, sebelum mobil itu melesat pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan kepulan asap.

Para penjaga gerbang berjas hitam segera berlari mendekati bungkusan itu dengan senjata tersorot ke depan. Salah seorang dari mereka membuka karung goni yang membungkus objek tersebut, lalu seketika mundur dengan wajah pucat, langsung menekan alat komunikasi di telinganya.

Detik itu juga, ponsel di atas meja kerja Arsen berdering nyaring.

Arsen berjalan perlahan, mengangkat ponsel tersebut, dan mengaktifkan mode pengeras suara.

"Tuan Arsen!" suara penjaga gerbang terdengar bergetar dari seberang telepon. "Ada... ada kiriman paket dari pelabuhan utara. Ini... ini tubuh Baskoro."

Arunika menahan napasnya, tangannya mencengkeram erat ujung kemeja hitam yang dikenakannya.

"Apakah dia sudah mati?" tanya Arsen datar.

"Belum, Tuan. Tapi kondisinya sangat kritis. Kedua kakinya hancur ditembak, dan ada sebuah surat yang ditancapkan dengan pisau di dadanya," penjaga itu menelan ludah sebelum melanjutkan, "Surat itu ditulis dengan darah, ditujukan untuk Anda dan... Nona Arunika."

Arunika tidak bisa lagi menahan dirinya. Dia berlari melewati Arsen, membuka pintu kamar dengan kasar, dan berlari menyusuri koridor mansion menuju lantai bawah, mengabaikan teriakan panggilan dari anak buah Arsen yang berjaga di sepanjang jalan. Dia harus melihat ayahnya. Dia harus tahu apa yang tertulis di surat itu.

Namun, tepat ketika Arunika sampai di lobi utama mansion dan pintu depan terbuka lebar menampilkan tubuh Baskoro yang bersimbah darah digotong masuk oleh para penjaga, Arsen sudah berdiri di belakangnya. Pria itu mencengkeram bahu Arunika dari belakang, menghentikan langkah gadis itu tepat di depan tubuh ayahnya yang sekarat.

Mata Baskoro yang membengkak perlahan terbuka, menatap Arunika dengan tatapan penuh penyesalan dan ketakutan yang amat sangat. Pria tua itu menggerakkan bibirnya yang pecah, mencoba membisikkan sesuatu yang tidak terdengar jelas.

Arsen melangkah maju, mencabut selembar kertas suram yang tertancap di baju Baskoro yang bersimbah darah. Dia membuka lipatan kertas itu dengan satu tangan, matanya membaca deretan kalimat yang ditulis dengan cairan merah pekat yang sudah mulai mengering.

Seketika itu juga, rahang Arsen Valentino mengeras dengan cara yang belum pernah Arunika lihat sebelumnya. Kilatan amarah di matanya kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan—sesuatu yang murni mematikan.

_____________________________

**Bersambung ke Bab 5...**

*Pesan berdarah apakah yang tertulis di dalam surat yang dibawa oleh tubuh Baskoro? Rahasia mengerikan apa yang membuat seorang raja mafia sekelas Arsen Valentino memperlihatkan ekspresi emosi yang begitu pekat untuk pertama kalinya? Dan akankah Arunika mampu menghadapi kenyataan bahwa kedatangannya ke mansion ini adalah awal dari konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar utang judi? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin menegangkan di bab berikutnya!*

1
lee eun ji
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!