NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

"Turun."

Suara dingin bariton itu memecah keheningan di dalam mobil Rolls-Royce yang mewah. Milly tersentak, buru-buru membetulkan letak kacamata bulatnya yang sempat miring karena dia ketiduran selama perjalanan.

Di sampingnya, Arkananta Mahendra sudah melangkah keluar terlebih dahulu tanpa memedulikannya. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, memamerkan jam tangan mewah berharga miliaran yang melingkar di pergelangan tangannya. Sosoknya yang jangkung, tegap, dan berwibawa tampak sangat kontras dengan Milly yang masih mengenakan seragam pelayan hotel yang kusut dan dilapisi jaket rajut murahan.

Milly turun dengan ragu-ragu. Matanya membelalak sempurna saat menatap bangunan di depannya. Sebuah mansiun megah bergaya Eropa modern berdiri kokoh, dikelilingi oleh taman luas dan dijaga oleh beberapa pria berjas hitam di setiap sudutnya.

"Ini... rumah Tuan Arkan?" bisik Milly takjub pada diri sendiri.

"Jangan melamun, Nona Milly. Tuan Arkan benci orang yang lambat," tegur Bara yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya, membuat Milly hampir melompat karena terkejut.

Milly merengut pelan, lalu bergegas menyusul langkah lebar Arkan yang sudah masuk melewati pintu ganda mansion.

Di dalam, suasananya sangat mewah namun terasa begitu sepi dan kaku. Semuanya tertata sangat simetris dan bersih sama seperti kamar Penthouse hotel kemarin. Sifat perfeksionis Arkan benar-benar terlihat di setiap sudut mansion ini.

"Mulai malam ini, kau tinggal di kamar sebelah kamarku," Arkan berbalik secara tiba-tiba di ujung tangga lantai dua.

Milly yang berjalan sambil menunduk menatap karpet mahal tidak sempat mengerem langkahnya.

Bruk!

Kening Milly membentur dada bidang Arkan yang sekeras batu. "Aduh!" rintih Milly sambil mengusap dahinya yang langsung memerah.

Arkan tidak bergerak seinci pun. Ia hanya menunduk, menatap Milly dengan tatapan tajam dan dingin yang sanggup membekukan darah siapa saja. "Aturan pertama di rumah ini, Gadis Ceroboh jaga jarakmu dariku minimal satu meter. Aku tidak suka disentuh."

"S-Saya tidak sengaja, Tuan! Lagipula Tuan berhenti mendadak!" protes Milly pelan, membela diri dengan suara mencicit karena takut.

Arkan mendengus pelan, menatap kening gadis itu yang memerah. "Besok pagi jam tujuh, desainer gaun pengantin dan tim hukum akan datang. Kau akan menandatangani kontrak pernikahan kita sebelum kita mendaftarkannya secara resmi. Mengerti?"

Milly menelan ludah. "Tuan Arkan... apa benar-benar tidak ada cara lain? Kenapa harus menikah? Saya janji tidak akan membocorkan rahasia tentang racun itu kepada siapa pun! Saya bersumpah!" Milly mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace dengan wajah memohon yang polos.

Arkan mendekat satu langkah, membuat Milly refleks mundur hingga punggungnya membentur pegangan tangga besi. Arkan mengungkung tubuh kecil Milly, menatapnya intens dari balik helai rambut hitamnya yang jatuh berantakan di dahi.

"Musuhku sedang mengawasi ku, Milly. Jika aku tiba-tiba menyembunyikan seorang pelayan hotel di mansion tanpa alasan yang jelas, mereka akan curiga bahwa kau adalah saksi kunci," bisik Arkan dengan nada rendah yang mengintimidasi. "Tapi jika aku membawamu sebagai tunangan atau istriku, mereka akan mengira kau adalah kelemahanku. Dan saat mereka bergerak untuk menyentuhmu... aku akan mematahkan leher mereka."

Milly bergidik ngeri mendengar kata 'mematahkan leher' yang diucapkan Arkan dengan begitu santai seolah sedang membicarakan cuaca. Pria di depannya ini benar-benar seorang Presdir yang kejam dan tak punya perasaan.

"S-Lalu... kalau mereka menyerang saya bagaimana? Saya bisa mati dong, Tuan?!" tanya Milly panik, menyadari bahwa dirinya dijadikan umpan hidup.

Arkan menarik kembali tubuhnya, lalu merapikan lengan kemeja hitamnya dengan santai. "Selama kau berada di jangkauanku, tidak akan ada satu peluru pun yang bisa menyentuh kulitmu. Sekarang, masuk ke kamarmu dan bersihkan dirimu. Kau bau pembersih lantai hotel."

Setelah mengatakan kalimat ketus itu, Arkan berbalik dan melangkah pergi menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Milly yang menghentakkan kakinya kesal di koridor.

"Dasar Presdir sombong! Perfeksionis gila! Dia pikir dia siapa, berani-beraninya mengatai aku bau pembersih lantai!" gerutu Milly pelan sambil membuka pintu kamar barunya.

Namun, begitu pintu terbuka, kegusaran Milly langsung sirna digantikan oleh kepanikan baru. Kamar itu luar biasa luas dengan ranjang berukuran raksasa, tetapi di tengah ruangan, di atas karpet putih bulu domba yang terlihat sangat mahal, terdapat sebuah vas bunga porselen besar yang diletakkan di atas pilar kaca tunggal.

Milly berjalan mendekat untuk mengagumi keindahannya. "Wah, bagus sekali..."

Krieeet.

Karena ingin melihat lebih dekat, ujung kaki Milly tidak sengaja menyenggol pinggiran karpet tebal itu. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Eh-eh! Waduh!"

PRANNNGGGG!!!

Vas porselen mahal itu jatuh berkeping-keping di atas lantai, menumpahkan air dan bunga-bunga mawar segar ke segala arah.

Milly mematung dengan mata melotot. Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki berat yang tergesa-gesa mendekat. Pintu kamar Milly dibuka dengan kasar dari luar, menampilkan sosok Arkan dengan wajah yang siap menerkam mangsanya.

Milly menatap potongan vas di lantai, lalu menatap Arkan dengan senyum meringis yang sangat bersalah. "T-Tuan Arkan... sepertinya... vas ini yang menyenggol kaki saya duluan..."

Arkan memijat pangkal hidungnya yang mancung, menahan urat kemarahan yang berdenyut di dahinya. "Bara!!! Bawa rantai sekarang juga!"

"R-Rantai?!" Milly memekik tertahan. Wajahnya yang semula memerah menahan malu kini langsung berubah pucat pasi. Otak cerobohnya langsung membayangkan skenario terburuk di mana ia akan diikat di tiang mansion layaknya hewan peliharaan, atau lebih buruk lagi dijadikan pajangan ruang bawah tanah.

Arkan tidak menyahut. Langkah kakinya yang berat melintasi ambang pintu kamar, dengan sengaja menginjak salah satu kelopak mawar merah yang basah hingga hancur di bawah sol sepatu kulitnya. Tatapannya tertuju pada pecahan porselen bernilai ratusan juta yang kini tak berbentuk.

"Tuan Arkan, saya benar-benar minta maaf! Tadi kaki saya tersenggol karpet gila ini, lalu...."

"Diam," potong Arkan dengan satu kata yang mutlak. Suaranya tidak membentak, namun dinginnya sanggup menghentikan detak jantung Milly sesaat. Pria itu berdiri tepat di depan Milly, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan penuh penilaian yang menusuk. "Belum genap dua puluh empat jam kau berada di bawah pengawasanku, dan kau sudah menghancurkan barang antik dinasti Qing."

Milly merapatkan kedua tangannya di depan dada, menunduk sedalam mungkin hingga dahinya hampir menyentuh ujung sepatunya sendiri. "Saya ganti, Tuan! Saya cicil dari gaji saya... kalau saya masih punya gaji."

"Dicicil?" Arkan terkekeh sinis, sebuah tawa pendek yang sama sekali tidak terdengar ramah. "Gajimu sebagai pelayan selama sepuluh tahun pun tidak akan cukup untuk membeli satu tangkai mawar di vas itu, Milly. Apalagi porselennya."

Tok, tok.

Bara muncul di ambang pintu yang terbuka. Di tangannya, ia tidak membawa rantai besi besar seperti yang Milly takutkan, melainkan sebuah koper jinjing kecil berwarna hitam perak dan sebuah map kulit tebal.

"Tuan, dokumen kontrak dan pembatas keamanan yang Anda minta sudah siap," lapor Bara dengan wajah yang luar biasa lempeng, seolah-olah melihat kamar hancur berantakan karena ulah pelayan ceroboh adalah hal yang biasa ia saksikan setiap hari.

Arkan berbalik, merebut map kulit itu dari tangan Bara lalu melemparkannya ke atas ranjang king-size yang masih rapi.

"Duduk di sana. Dan jangan berani-berani menyentuh apa pun selain kertas itu," perintah Arkan tajam.

Milly mengangguk cepat-cepat. Dengan gerakan super hati-hati agar tidak menginjak pecahan kaca atau kembali tersandung karpet ia merangkak naik ke atas ranjang mewah tersebut. Ia melipat kakinya dengan sopan, meraih map kulit itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Di halaman pertama, tertulis dengan huruf kapital yang tegas: SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.

"Baca pasal ketiga," suara Arkan terdengar dari arah belakang. Pria itu kini duduk di kursi santai dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah kota, memperhatikan Milly yang mulai membalik kertas dengan kikuk.

Milly menggumamkan teks itu pelan. "'Pasal tiga... Pihak Kedua wajib mematuhi seluruh instruksi Pihak Pertama demi keselamatan bersama, dan dilarang keras menimbulkan kerusakan fisik maupun reputasi pada properti milik Pihak Pertama. Pelanggaran terhadap pasal ini akan memperpanjang masa kontrak pernikahan selama satu tahun per insiden.'"

Milly mendongak kaget, menatap Arkan dari kejauhan. "S-Satu tahun tambahan?! Hanya karena saya memecahkan vas?"

"Dua tahun," ralat Arkan dengan tenang, sambil menyesap secangkir kopi hitam yang baru saja diantarkan oleh pelayan lain ke mejanya. "Satu tahun untuk vas Qing, dan satu tahun lagi untuk kelalaianmu yang hampir merusak lantai marmerku dengan air bunga."

"Ini pemerasan namanya, Tuan!" protes Milly, melupakan sejenak fakta bahwa pria yang ia ajak berdebat adalah seorang mafia berdarah dingin berkedok Presdir. "Saya ini korban salah tangkap!"

Arkan meletakkan cangkirnya dengan dentingan pelan yang tegas. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati ranjang, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma tembakau mahal dan mint dari napas Arkan langsung mengunci pergerakan Milly.

"Kau bukan korban, Milly. Kau adalah asetku saat ini," bisik Arkan dengan senyum tipis yang mematikan. "Tanda tangani kontrak itu sekarang, atau aku akan membiarkan Bara memperlakukanmu sebagai tersangka pembunuhan sungguhan. Pilih yang mana, Gadis Ceroboh?"

Milly menatap bolpoin mahal yang disodorkan Bara di sampingnya, lalu menatap dokumen di depannya, dan terakhir menatap mata elang Arkan yang tak menyisakan ruang untuk negosiasi. Dengan berat hati dan bibir yang mengerucut kesal, Milly menyambar bolpoin itu dan menggoreskan tanda tangannya dengan kasar.

"Pilihan yang cerdas," ucap Arkan, kembali menegakkan tubuhnya dengan ekspresi puas yang sangat menyebalkan di mata Milly. "Bara, bersihkan kekacauan ini. Dan pasang rantai pembatas di sekeliling barang-barang berharga di seluruh mansion ini sebelum besok pagi. Aku tidak mau mansion ku runtuh sebelum pernikahan dimulai."

"Baik, Tuan."

Milly hanya bisa menjatuhkan tubuhnya ke atas bantal empuk setelah Arkan keluar, meratapi nasibnya yang kini resmi terikat dengan sang iblis perfeksionis selama dua tahun penuh atau mungkin lebih, jika kecerobohannya kembali kumat besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!