NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 Dunia Keras Untuk Anjani

Hari ini Anjani keluar dari kontrakannya lebih awal. Mengenakan dress yang dibelikan Ren kemarin. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Kalau dilihat sekilas, ia masih tampak seperti perempuan yang hidupnya baik-baik saja. Padahal hanya dirinya yang tahu.

Di dalam tas kecil pinjaman dari Maria, tidak ada apa-apa selain uang seadanya. Tidak ada KTP, ijazah, kartu keluarga, dokumen, bukti bahwa dirinya pernah menjadi siapa-siapa. Dan ternyata, kehilangan identitas jauh lebih menakutkan daripada kehilangan rumah.

Tempat pertama yang ia datangi adalah sebuah toko pakaian. Tidak besar, tapi cukup ramai. Anjani menunggu hampir tiga puluh menit sebelum akhirnya dipanggil.

Pemilik toko hanya melihatnya beberapa detik. "Lamaran?"

"Iya, Bu."

"KTP?"

Anjani terdiam. "Belum ada."

"Oh."

Nada antusias itu langsung hilang seketika. Seolah seseorang mematikan saklar.

"Kami butuh yang lengkap."

"Tapi saya bisa belajar cepat."

"KTP dulu."

"Saya juga punya pengalaman mengelola--"

"KTP dulu."

Selesai. Percakapan berakhir. Bahkan sebelum benar-benar dimulai.

Tempat kedua. Minimarket. Hasilnya sama.

Tempat ketiga. Toko alat tulis. Sama.

Tempat keempat. Kafe kecil. Juga Sama.

Tempat kelima. Warung makan sederhana. Bahkan lebih menyakitkan karena pemiliknya sempat tersenyum ramah, mempersilahkannya duduk, dan bertanya beberapa hal. Sampai akhirnya--

"KTP-nya mana?"

Anjani kembali terdiam, lalu menjelaskan pelan bahwa dokumennya tertinggal. ia sedang mengurus semuanya. Dan ia hanya butuh kesempatan. Satu kesempatan saja. Namun perempuan paruh baya itu menggeleng.

"Bukan nggak kasihan, Mbak." Suaranya bahkan terdengar iba. "Tapi kalau ada razia saya yang kena."

Deg.

Anjani hanya mampu mengangguk, lalu berdiri dan pergi. Dan sekali lagi, tanpa sempat menunjukkan apa pun.

Wanita itu mulai memahami satu hal. Ternyata selama ini ia terlalu lama berada di dalam rumah. Sampai lupa betapa kerasnya dunia di luar sana.

Menjelang siant, langkahnya mulai melambat. Rasa pegal mulai merambat di kakinya. Perutnya keroncongan. Matahari terasa semakin panas.

Ia duduk sebentar di halte. Membeli sebotol air mineral. Menghemat uang. Menghitung sisa yang ada, lalu kembali berjalan. Kalau berhenti terlalu lama, ia takut mulai menangis.

Tidak jauh dari sana. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan menghampirinya. Penampilannya mencolok. Aroma parfum menyengat menusuk penciuman. Bibir merah menyalanya tersenyum lebar dengan binar mata yang seolah baru saja menemukan mangsa empuk.

"Mbak..."

Anjani menoleh. "Iya?"

"Lagi cari kerja?"

Mata Anjani langsung berbinar sedikit, ada harapan kecil di sana.

"Iya."

"Bagus."

Perempuan itu tersenyum. "Kalau begitu ikut saya."

Awalnya Anjani tidak curiga sama sekali. Sampai mereka memasuki sebuah kawasan yang membuat langkahnya perlahan melambat.

Gang sempit dihiasi lampu-lampu mencolok. Beberapa perempuan berdandan seksi. Beberapa lelaki keluar masuk. Dan wajah Anjani perlahan memucat.

Wanita 40 tahunan itu masih tersenyum ramah. "Kamu cantik. Kulit putih, mulus. Badan juga bagus. Kalau kerja di sini pasti cepat dapat uang."

Anjani langsung berhenti berjalan. Jantungnya berdebar keras. Untuk beberapa detik ia tidak sanggup bicara karena baru sekarang ia benar-benar mengerti apa yang sedang ditawarkan padanya.

"Mbak..." Suaranya pelan tapi tegas. "Saya cari pekerjaan."

"Iya."

"Bukan pekerjaan seperti itu."

Senyum perempuan itu sedikit berubah. "Mau cari uang gampang nggak?"

"Tidak."

"Kamu nggak usah sok suci. Kamu tinggal buka paha uang mengalir."

Kalimat itu menghantam keras. Namun Anjani tetap berdiri tegak, meski tangannya mulai gemetar.

"Saya tetap tidak mau," tolaknya lagi, lalu berbalik melangkah pergi.

Langkahnya cepat dan semakin cepat. Sampai napasnya mulai tersengal. Sampai matanya memanas. Sampai akhirnya ia sadar, bahwa hari ini ia sudah ditolak lebih dari sepuluh kali. Dipandang sebelah mata. Dianggap tidak berguna. Dan hampir dijual seperti barang. Hanya karena hidupnya sedang jatuh.

Namun Anjani tetap berjalan karena menyerah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bahkan ketika semua orang menganggapnya sudah habis. Entah berapa lama ia berjalan. Entah ke mana arah tujuannya. Ia hanya terus melangkah. Sampai tanpa sadar, sebuah gedung besar menjulang di depannya.

Mall. Dingin. Mewah. Ramai. Penuh orang-orang yang hidupnya tampak baik-baik saja.

Anjani masuk. Hanya ingin duduk sebentar mendinginkan kepala dan mengistirahatkan kaki. Tidak lebih.

Namun baru beberapa langkah, Tubuhnya mendadak membeku. Dadanya berdenyut nyeri. Di lantai dasar, tidak jauh dari atrium. Ia melihat tiga sosok yang sangat dikenalnya. Satriya, Bella, dan Cintya.

Bella sedang tertawa riang sembari memegang balon. Cintya berjalan di samping dan terlihat cantik, well dress, bersinar, seakan memang sudah menjadi bagian dari keluarga itu sejak awal.

Sementara Satriya terlihat santai, tenang, bahkan tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak pernah ia berikan kepada Anjani.

Dadanya langsung terasa sesak karena baru beberapa hari sejak ia pergi. Namun dari kejauhan, mereka sudah tampak seperti keluarga utuh. Dan yang paling menyakitkan, Bella terlihat bahagia tanpa ibunya.

Anjani langsung berbalik. Hampir tanpa berpikir. Ia tidak ingin melihat pemandangan itu lebih lama. Tidak ingin melihat Satriya yang tampak baik-baik saja. Tidak ingin melihat Cintya yang semakin terlihat seperti bagian dari keluarga itu.

Dan terutama, tidak ingin melihat Bella karena rindu pada anak sendiri ternyata bisa terasa seperti penyakit. Semakin dilawan, semakin sakit.

Langkahnya baru bergerak satu kali, lalu terdengar suara kecil memanggil.

"Mama!"

Deg.

Waktu seolah berhenti. Jantung Anjani langsung berdetak sangat keras sampai dadanya terasa nyeri.

Mama. Bella memanggil mama.

Mama. Sudah berapa hari ia tidak mendengar panggilan itu? Sudah berapa hari ia tidak mencium pipi anaknya? Sudah berapa hari ia tidak menyisir rambut Bella sebelum sekolah? Sudah berapa hari ia tidak mendengar ocehan kecil yang biasanya memenuhi rumah?

Harapan yang tidak seharusnya muncul tiba-tiba tumbuh begitu liar, bodoh, dan sangat menyakitkan.

Anjani menoleh cepat. Hampir percaya bahwa mungkin...mungkin saja...Bella masih mencarinya dan merindukannya.

Namun, saat kepalanya menoleh harapan itu langsung hancur lebur berkeping-keping. Bella sedang berlari kecil. Bukan kepadanya, tapi kepada Cintya.

"Mama, lihat!" Tangannya mengangkat boneka baru dengan corak wajahnya cerah dan mata berbinar.

Dan perempuan yang dipanggil mama itu adalah Cintya, bukan dirinya.

Tubuh Anjani benar-benar membeku, seakan seseorang baru saja menusukkan ribuan pisau pelan-pelan ke dadanya, lalu memutarnya dengan kejam.

Di sana terdengar Bella tertawa kecil. "Cantik nggak, Ma?"

Cintya ikut tertawa. "Cantik." Ia lalu mengusap rambut anak itu penuh kelembutan.

Gerakan sederhana, namun di mata Anjani terasa seperti hukuman. Karena seharusnya itu tempatnya. Seharusnya tangan itu miliknya. Seharusnya panggilan itu miliknya.

Seharusnya... Seharusnya... Seharusnya.

Namun hidup tidak pernah peduli pada kata seharusnya. Mata Anjani kian panas. Dan kali ini ia benar-benar tidak sanggup bertahan lebih lama.

Bella adalah anak yang ia kandung sembilan bulan. Anak yang ia lahirkan dengan taruhan nyawa. Anak yang ia susui. Anak yang ia gendong berjam-jam ketika demam. Anak yang membuatnya terjaga semalaman setiap kali batuk. Anak yang langkah pertamanya direkam dengan air mata bahagia. Anak yang dulu menangis kalau ia pergi ke minimarket lima menit saja.

Tapi sekarang...anak itu memanggil perempuan lain dengan sebutan mama. Dan yang lebih menyakitkan...

Bella terlihat bahagia melakukannya.

Anjani langsung memalingkan wajah.

Tidak sanggup lagi. Kalau bertahan satu menit lagi, ia mungkin benar-benar menangis di tengah mall.

Dan ia sudah terlalu lelah untuk mempermalukan dirinya sendiri. Maka ia cepat-cepat berbalik. Ingin pergi dan menghilang. Ingin menyelamatkan sisa harga dirinya sebelum semuanya runtuh.

Namun baru beberapa langkah--

"Kak Anjani?"

Deg.

Mata Anjani langsung terpejam. Sial. Terlambat. Keberadaannya sudah ketahuan.

Bersambung~~

1
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!