NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CARA DANENDRA BEKERJA

Pagi itu, Kirana tiba di kantor panitia pusat Festival Warisan Nusantara jauh lebih awal dari biasanya. Padahal, jam masuk resminya sebagai koordinator divisi budaya masih tersisa satu jam lagi. Tidak ada rapat mendadak yang mendesak namanya, tidak ada pula berkas darurat yang harus segera ia tanda tangani.

Satu-satunya alasan yang membawanya melangkah pagi-pagi sekali ke gedung ini adalah Danendra.

Sejak percakapan panjang di ruang keluarga malam sebelumnya, rasa penasaran yang besar mulai muncul di dalam kepalanya. Perubahan itu tidak datang seperti ledakan besar yang dramatis, melainkan menyerupai lensa kamera yang perlahan bergeser focus membuat hal-hal kecil yang selama satu tahun ini terasa biasa saja, kini terlihat sepenuhnya berbeda. Kirana mendapati dirinya ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cara Danendra bekerja di dunianya.

Ruang rapat pleno di lantai tiga sudah mulai ramai ketika Kirana mendorong pintu kaca. Beberapa staf teknis tampak sibuk menguji kabel konektor pada layar proyektor besar, sementara beberapa staf lainnya membawa tumpukan berkas tebal bersampul biru yang terlihat baru saja keluar dari mesin cetak.

Danendra sudah ada di sana. Laki-laki itu berdiri di ujung meja panjang oval, memilih untuk tidak duduk. Tangannya memegang beberapa lembar data grafik, sementara di depannya, lima orang kepala divisi tampak berdiri tegak menunggu arahan dengan raut wajah serius.

“Divisi teknis, saya butuh estimasi ulang yang lebih riil untuk instalasi interaktif di zona utama,” ucap Danendra. Suaranya bariton, datar, namun gaungnya terdengar teramat jelas di setiap sudut ruangan yang sunyi.

Salah satu staf senior mengangguk cepat, mencatat poin itu di bukunya. “Baik, Pak. Sore ini kalkulasi komponennya selesai.”

“Dan untuk tim desain,” lanjut Danendra tanpa perlu menaikkan intonasi suaranya sedikit pun, “ubah jalur pengunjung di bagian sayap utara. Arusnya terlalu padat kalau dibiarkan menyempit seperti draf ini. Potensi penumpukan massanya terlalu tinggi.”

Tidak ada nada tinggi yang mengintimidasi. Tidak ada tekanan bisnis yang berlebihan lewat bentakan. Namun, Kirana bisa melihat bagaimana semua orang di sekitar suaminya langsung bergerak dengan ritme yang cepat dan tepat.

Kirana memilih untuk tetap berdiri di dekat bingkai pintu, mengamati interaksi tersebut dari jarak aman. Saat Danendra bergeser sedikit untuk menunjuk denah pada layar digital, kemeja putihnya yang tersetrika rapi tampak membungkus bahunya yang kukuh dengan sempurna. Kirana mendadak menahan napas kecil, jemarinya memilin ujung tali tasnya tanpa sadar. Ada getaran asing yang mendadak menyerang ulu hatinya saat melihat suaminya dalam posisi mendominasi ruangan seperti itu.

“Kalau ada keterlambatan dari vendor terkait pengadaan alat proyektor,” suara Danendra kembali terdengar, memotong keheningan, “kita geser linimasa instalasi non-kritis lebih dulu ke minggu ini. Prioritas utama kita tetap pada pengalaman pengunjung di lapangan, bukan keindahan dekorasi di atas kertas.”

Salah satu staf logistik sempat membuka mulut, raut wajahnya tampak ragu dan sedikit cemas. “Tapi, Pak… perubahan mendadak itu bisa mengubah seluruh timeline produksi yang sudah disepakati dengan vendor utama.”

Danendra mengalihkan pandangannya, menatap staf tersebut lurus-lurus. Hanya sebentar. Tatapan itu tidak tajam atau dipenuhi kilat amarah, melainkan sebuah tatapan menuntut tanggung jawab yang begitu pekat. Cukup untuk membuat atmosfer ruangan mendadak senyap seketika.

“Kita bukan sedang mengejar kerapian laporan di atas kertas,” ucap Danendra pelan, namun setiap katanya terdengar mutlak. “Kita mengejar fungsionalitas yang bisa benar-benar berjalan di lapangan nanti.”

Senyap. Staf logistik itu menelan ludah, lalu mengangguk patuh dengan takzim. “Baik, Pak. Saya koordinasikan ulang dengan vendor sekarang juga.”

Kirana menyadari dadanya berdegup sedikit lebih cepat dari ritme normal. Ada sesuatu dari cara Danendra memimpin yang terasa sangat berbeda dari sosok suami yang biasa ia lihat di rumah. Di tempat ini, di tengah pusaran tekanan proyek berskala nasional, Danendra sama sekali tidak terlihat dingin atau abai. Pria itu justru tampak teramat presisi.

Rapat koordinasi itu terus berjalan maju. Sesekali ada benturan perbedaan pendapat yang cukup tajam antardivisi, ada angka anggaran yang diperdebatkan dengan ketat, dan ada linimasa kerja yang ditarik maju mundur demi efisiensi. Namun sepanjang perdebatan itu, Danendra tidak pernah sekali pun kehilangan kendali atau meninggikan suaranya. Ia hanya berdiri diam, mendengar dengan saksama, menimbang argumen, lalu menjatuhkan keputusan final.

Setiap keputusan yang keluar dari bibir pria itu tidak pernah terdengar seperti sebuah perintah kaku yang menindas, melainkan seperti sebuah arah kompas yang jelas. Tidak berlebihan, tidak ambigu, dan semua orang mengikutinya tanpa ada satu pun gumaman keberatan di belakang. Sikap patuh itu lahir bukan murni karena mereka takut pada sosok Danendra, melainkan karena mereka menaruh kepercayaan yang besar pada kapabilitas pria itu.

Di sudut ruangan, Kirana perlahan mulai menyadari sebuah kebenaran baru. Selama ini ia mengira bahwa ketegasan seorang pria selalu diidentikkan dengan kekerasan suara, dominasi yang berisik, atau sikap mendesak yang membuat orang lain merasa terintimidasi. Namun, Danendra mematahkan stigma itu di matanya. Suaminya tidak perlu membuat orang lain merasa kecil hanya untuk membuat mereka bergerak patuh. Danendra hanya… memastikan semua orang tahu persis ke mana arah tujuan mereka dan bagaimana cara mencapainya.

Rapat pleno itu akhirnya selesai sekitar satu jam kemudian. Para peserta mulai mengemas dokumen dan melangkah keluar ruangan satu per satu dengan wajah yang tampak jauh lebih lega. Kirana tetap bergeming di dekat pintu sampai ruangan itu hampir kosong, hingga akhirnya Danendra menolehkan kepala ke arahnya.

"Dari tadi kamu berdiri di situ?" tanya Danendra datar sembari menaruh tabletnya ke dalam tas kerja.

Kirana tersentak kecil karena tertangkap basah sedang memandanginya, kulit pipinya mendadak terasa sedikit memanas. Ia mengangguk pelan. "Iya, Mas. Baru beberapa menit yang lalu."

Danendra hanya mengangguk pendek sebagai respons, lalu kembali merapikan lembar-lembar berkas di atas meja. Tidak ada pertanyaan lanjutan yang menyelidik, tidak ada pula basa-basi manis penanya kabar. Namun entah kenapa, kali ini Kirana sama sekali tidak merasa diabaikan atau terluka oleh kedataran itu seperti sebelum-sebelumnya. Ia mulai paham bahwa begitulah cara Danendra mengelola energinya.

Saat mereka berjalan beriringan keluar dari ruang rapat menuju lift, Kirana mencuri pandang ke arah profil samping wajah suaminya yang tampak lelah namun tetap tegap.

"Mas," panggil Kirana pelan, suaranya hampir tenggelam oleh sayup bising koridor.

"Hm?" Danendra menoleh sedikit, menyelaraskan langkah kakinya yang panjang dengan ritme berjalan Kirana.

"Kamu kalau sedang bekerja… memang selalu seperti itu?"

Danendra menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift, menatap Kirana dengan dahi sedikit berkerut halus. "Seperti apa?"

"Tenang," jawab Kirana setelah sempat mencari padanan kata yang paling pas di kepalanya. "Tenang, tapi semua orang langsung patuh dan tahu apa yang harus mereka lakukan."

Danendra terdiam selama beberapa detik. Tatapan matanya lurus menatap lampu indikator lift yang bergerak turun, seolah ia sedang mencari kalimat yang paling sederhana untuk menjelaskan isi kepalanya.

"Kalau kita sendiri sudah tahu apa yang harus dilakukan dan apa targetnya," ucap Danendra akhirnya saat pintu lift terbuka di hadapan mereka, "kita tidak perlu membuang energi untuk membuatnya menjadi rumit bagi orang lain."

Kirana mengangguk kecil, melangkah masuk ke dalam kubus logam tersebut di samping suaminya. Saat pundak mereka tidak sengaja bersentuhan karena ruang lift yang terbatas, kulitnya mendadak berdesir ganjil. Dalam diamnya sepanjang lift bergerak turun, ada sebuah rasa baru yang perlahan-lahan mulai mekar di dalam hatinya. Rasa itu bukan lagi sekadar pemahaman pasrah atas perjodohan mereka, melainkan sebuah rasa kagum yang murni sebagai seorang wanita kepada seorang pria.

Dan Kirana baru sadar, ia belum pernah benar-benar melihat Danendra di luar ruang rapat.

Sore harinya, Kirana memutuskan untuk ikut turun langsung ke area pembangunan stan pameran di aula utama. Suasana di sana sangat bising oleh suara hantaman palu, deru mesin bor, dan teriakan para pekerja konstruksi yang sedang merakit rangka besi.

Di tengah kekacauan visual itu, Kirana mendapati Danendra tidak memilih untuk duduk manis di dalam tenda pengawas yang teduh ber-AC seperti beberapa koordinator eksekutif lainnya. Suaminya justru berjalan membelah material bangunan. Laki-laki itu mengamati jalur kabel yang melintang di lantai, mengoreksi sudut kemiringan instalasi papan digital, dan berbicara langsung dengan kepala teknisi di lapangan dengan memegang cetak biru proyek.

Kadang Danendra mencatat sesuatu sendiri di buku saku kecilnya, kadang ia hanya memberikan anggukan singkat setelah mendengar penjelasan mandor. Setiap langkah kaki suaminya di atas lantai semen yang berdebu itu seperti sedang memastikan satu hal sederhana: tidak boleh ada satu pun detail teknis yang dibiarkan luput dari pengawasan.

“Pak Danendra, kalau posisi panel layar ini kita geser beberapa puluh sentimeter ke arah kanan, bias pencahayaan dari lampu sorot atas akan jauh lebih stabil dan tidak memantul di mata pengunjung,” lapor salah satu teknisi lapangan sembari menyeka keringat di dahinya.

Danendra melangkah mendekat, berdiri tepat di titik yang ditunjuk. Ia mendongak, menatap langit-langit aula selama beberapa saat untuk mengalkulasi arah datangnya cahaya, lalu mengangguk pasti. “Pindahkan sekarang juga. Koordinasikan dengan tim dekorasi agar estetika latarnya tidak rusak.”

Tidak ada perdebatan panjang yang membuang waktu. Teknisi itu langsung mengangguk sigap dan bergerak mengeksekusi perintah tanpa ada keraguan sedikit pun.

Kirana yang mengamati seluruh rangkaian kejadian itu dari balik pilar beton hanya bisa terdiam. Tangannya yang memegang map kertas tanpa sadar meremas pinggirannya agak erat, matanya tidak bisa lepas dari figur suaminya yang tampak begitu berwibawa di antara para pekerja. Ada rasa asing yang teramat hangat mendadak berdesir di dalam dadanya. Rasa yang ganjil, seolah ia baru pertama kali melihat sisi lain yang berkilau dari orang yang selama satu tahun ini selalu ia temui dalam balutan piyama kaku setiap pukul lima pagi di rumah mereka.

Menjelang sore hari, saat matahari Jakarta mulai condong ke ufuk barat dan memancarkan cahaya kemerahan, Danendra akhirnya menghentikan langkah kakinya. Pria itu berdiri diam sejenak di tengah area pameran yang masih setengah jadi, dikelilingi oleh rangka-rangka besi yang belum sempurna berbalut kain.

Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya. Sepasang matanya bergerak dinamis, mengamati seluruh penjuru ruangan yang luas. Sorot matanya tampak begitu dalam, seolah-olah ia tidak sedang melihat tumpukan material yang berantakan saat ini, melainkan sedang melihat visualisasi masa depan dari mahakarya yang sedang ia bangun di dalam kepalanya.

Kirana melangkah mendekat secara perlahan, mengikis jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di samping suaminya. Aroma wangi parfum maskulin Danendra yang bercampur samar dengan aroma debu lapangan menguar di sekitarnya, membuat Kirana mendadak sedikit salah fokus saat menatap garis rahang kokoh suaminya dari dekat.

“Capek, Mas?” tanya Kirana lembut, menoleh menatap wajah suaminya dari samping.

Danendra tidak langsung mengalihkan pandangannya dari aula di depan mereka. “Biasa saja,” ucapnya kemudian dengan nada suara yang konstan.

Kirana tidak bisa menahan senyum kecil yang terbit di bibirnya. “Kamu selalu saja bilang biasa saja setiap kali ditanya.”

Danendra akhirnya menolehkan kepalanya sedikit, menatap wajah Kirana yang tampak dihiasi sisa senyuman. “Karena memang kenyataannya begitu. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan.”

Kirana tertawa pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar begitu rileks di tengah kebisingan aula, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya menatap area konstruksi di hadapan mereka.

Sore itu, untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka, Kirana tidak lagi melihat Danendra murni sebagai seorang suami kaku yang sulit dibaca isi kepalanya. Ia melihat pria itu sebagai seorang pemimpin sejati. Seseorang yang berdiri kokoh di tengah ratusan manusia dengan latar belakang yang berbeda, namun sanggup membuat semuanya bergerak patuh menuju arah tujuan yang sama tanpa perlu bersuara keras.

Di dalam lubuk hati Kirana yang paling dalam, sebuah kesimpulan baru perlahan-lahan terbentuk dengan sangat jelas. Danendra bukan sekadar pria gila kerja yang keras kepala. Suaminya adalah pria yang tahu persis apa yang sedang ia bangun di dalam hidupnya. Dan mungkin, selama satu tahun ini pernikahan mereka terasa hampa bukan karena Danendra menjauh, melainkan karena Kirana yang belum cukup berani melangkah dekat untuk melihat keindahan di dalam dunianya.

Di sisi lain, Danendra melirik sekilas ke arah perempuan yang berdiri di sampingnya melalui sudut mata. Pria itu tidak mengucapkan satu patah kata pun untuk membalas tawa Kirana. Namun, ada sesuatu yang mendadak berubah di dalam caranya menikmati keheningan sore itu.

Jemari Danendra di dalam saku celananya sempat bergerak gelisah. Ada sebuah kesadaran baru yang menggelitik benaknya; bahwa kini, ada satu pasang mata yang benar-benar sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan penuh perhatian yang dalam. Dan anehnya, kesadaran itu sukses membuat seorang Danendra yang biasanya super cuek, kini merasa harus bersikap sedikit lebih berhati-hati dari biasanya agar tidak terlihat mencolok di depan istrinya sendiri.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!