Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Sama-sama Korban
Bab 20
“Den, mobil yang di hitam, udah waktunya service,” seru pekerja di rumah saat Eru turun dari motor dan menyerahkan kuncinya.
“Tolong urus ya besok,” ujarnya. Semenjak magang, kedua mobil miliknya belum dipakai lagi. Kadang ia pakai supir untuk menjemput.
“Tertarik sama motor matic den?”
“Sementara aja pak,” sahut Eru lagi. “Tolong urus semua ya,” titahnya lagi beranjak ke dalam rumah.
Sebagai salah satu penerus Digital Corp, hidup Eru tentu saja begitu dimudahkan. Dua mobil terparkir di garasi dan carport, biasa bergantian dia pakai waktu kuliah, juga motor sport. Sekarang dia magang dengan menyembunyikan status asli, meninggalkan sementara semua kemewahan itu di belakang. Motor yang tadi dipakai kencan dengan Cinta, malah milik salah satu pekerja di rumah.
Bibi menghampiri dan menanyakan kebutuhannya.
“Mami kemana Bik?”
“Keluar dari siang, den. Mau makan sekarang atau ….”
“Nanti aja bik, masih kenyang.”
Eru menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Berganti pakaian dengan kaos tanpa lengan serta celana pendek untuk olahraga. Bibirnya menyunggingkan senyum mengingat ulahnya tadi. Meski bibirnya baru berhasil mendarat di pipi Cinta, setidaknya gadis itu tidak menampar saat ia mencuri kecup4n.
Ia menghela nafas mengingat kisah sedih yang dialami gadis itu, ada sedikit kesamaan dengan hidupnya. Sang papi tiada karena kecelakaan juga. Berbeda dengan Cinta masih mengingat wajah orang tuanya, Eru tahu wajah Papi hanya dari foto. Saat itu terjadi, ia masih kecil.
“Aku juga tidak ada papi, bahkan tidak ingat kehadiran beliau. Wajahnya saja aku tahu dari foto,” tutur Eru mendapatkan perhatian Cinta. “Mami bilang, papi meningg4l kecelakaan mobil. Bahkan kami ada di mobil yang sama. Bedanya aku tidak mengalami trauma seperti yang kamu rasakan,” tutur Eru dan berhasil mendapatkan perhatian Cinta yang langsung memeluknya.
“Kita saling menguatkan ya, sama-sama korban kecelakaan. Meski orang tuamu tidak lengkap, aku yakin Mami kamu mencurahkan sayangnya tidak terhingga.”
Eru meringis, bukan tidak terhingga, tapi posesif. Ia kembali tersenyum mengingat momen itu, di mana Cinta memeluknya. Ia menelan saliv4 membayangkan adegan lain setelah itu.
“Ngaco, ot4k gue udah nggak beres,” gumam Eru lalu keluar dari kamar.
Ada ruang olahraga di bawah, tepatnya di bagian belakang, bahkan ada pintu mengarah langsung ke kolam renang. Beberapa alat fitnes dan gym, meski alatnya tidak lengkap seperti tempat gym di luar sana, setidaknya bisa digunakan untuk melakukan aktivitas fisik yang terukur.
Sudah setengah jam bahkan tubuh Eru sudah berpe-luh. Dari kecil terbiasa olahraga dan saat remaja mulai menggeluti olahraga khusus termasuk bagaimana menggunakan alat-alat fitnes dan gym ini, membuat tubuhnya lebih bugar dan otot yang terbentuk juga postur yang cukup tinggi. Bibirnya menyunggingkan senyum, mengingat ejekan Cinta. “Emangnya kamu makan galah.”
Hampir senja saat ia mengakhiri kegiatan, lalu menyeka keringat dengan handuk kecil dan meneguk air mineral. Membuka layar ponsel dan melihat galeri. Foto-foto kegiatannya hari ini bersama Cinta. Beberapa kali melakukan selfie berdua dan memfoto Cinta, saat di café juga saat di mall. Ada satu foto yang menarik perhatiannya. Foto selfie di mana ia merangkul bahu Cinta dengan wajah hanya berjarak beberapa centi seolah ingin mencium pipi CInta.
Melakukan pembaruan dengan foto tadi dengan caption, “Gumushnya, Cintaku.”
Eru meninggalkan ruangan sambil bersiul. “Bik, aku mandi dulu. Siapin makan ya.”
“Iya, den.”
Menaiki undakan tangan dengan ponsel masih di tangan, tidak menunggu nanti sudah terasa bergetar. sudah pasti efek dari postingannya.
Samudera A.
Anj4y, sejauh ini yang paling jauh sama Cinta ya. siap-siap diamuk tante Maura
Asep
Si4lan, CInta lo apain mau aja dirangkul gitu
Krisna
Nggak kasih gue aja, Ru. Ayah bilang, belum waktunya lo main perempuan biar suhu aja yang urus
...Cinta_Cuantik...
Mahameru, HAPUSSSSSS!
^^^Upah hapusnya apa? ^^^
Aku serius ya, hapus nggak?
^^^Aku juga serius.^^^
^^^Dikasih apa kalau hapus?^^^
🧹 hapus!
^^^😘😘^^^
***
Pagi itu, ruang makan terasa canggung dan dingin. Aroma roti panggang dan kopi hitam yang biasanya memicu obrolan hangat, kini menguap begitu saja, kalah oleh atmosfer tegang yang menggantung di udara. Sejak semalam, Eru mendadak berubah menjadi orang asing. Sapaan selamat pagi yang biasa Eru ucapkan, berganti dengan keheningan yang menyesakkan dada Maura.
Maura menghela napas, mencoba mencairkan kebekuan yang sengaja diciptakan oleh putranya. Ia tahu persis mengapa Eru bersikap seperti ini. Eru adalah tipe pria yang tenang, tapi tidak suka diatur tanpa alasan yang logis dan ia juga Akbar dengan jelas menyiratkan agar menjauhi CInta dengan alasan yang tidak masuk akal.
Ucapan Langit ada benarnya, biarkan Eru belajar menjadikan pengalaman untuk membentuk jati diri. Cinta tidak akan menghalangi itu, justru sikap keluargalah yang bisa meruntuhkan semangat Eru.
“Eru," panggil Maura lembut, mencoba mencari celah di balik wajah datar putranya. "Diminum dulu tehnya.”
Saat sarapan Eru tidak biasa minum kopi, aroma kopi justru milik Maura.
“Hm.” Eru menekuni roti panggang tanpa menoleh.
Suara Eru terdengar begitu formal, begitu datar. Sesuatu yang membuat hati Maura mencelos.
"Kamu mau sampai kapan mendiamkan Mami seperti ini?" tanya Maura akhirnya, tidak tahan lagi dengan sandiwara pagi ini. "Hanya karena mami keberatan kamu dekat dengan Cinta, kamu menganggap Mami seperti musuh?"
Eru terdiam lalu menoleh menatap sang mami. “Aku tidak anggap mami musuh. Dari pada kita berdebat lalu keluar kalimat tidak pantas dari mulutku, lebih baik aku diam. Setidaknya kita bisa intropeksi diri.”
“Wajar mami tidak suka kamu dekat dengan CInta, kamu berubah Ru.”
“tidak ada yang berubah Mih, justru mami yang berubah.”
Melihat Eru mengakhiri sarapannya dan beranjak, Maura pun ikut beranjak menghampiri sang putra.
“Eru, mami hanya yang terbaik untuk kamu. Masa depan kamu.”
“Mami pikir masa depan aku suram hanya karena dekat dengan Cinta. Kami hanya dekat Mih, bukan menikah hari ini juga.”
“Maaf,” ucap Maura menahan Eru dengan memegang lengan putranya itu. Langit benar, Eru dan Cinta akan menjadi korban kalau ia tetap menghalangi dan menentang kedekatan mereka.
“Mami hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Setidaknya pikiran dan fokus kamu untuk belajar berbisnis tidak terganggu oleh kehadiran siapapun.”
“Cinta tidak mengganggu Mih, justru dia penyemangat aku. Begitu pun dengan mami.”
Maura mencebik, tidak bisa menahan kesedihannya. Eru yang paham akan hal itu meraih tubuh sang mami dalam pelukan.
“Aku sayang mami meski ada Cinta, ada tempat tersendiri untuk mami di hidup aku."
“Janji nggak akan berubah?”
“Nggak Mih. Jadi, aku boleh lanjut sama CInta ‘kan?”
Maura mengusap ujung mata yang berair, menatap putranya. “Memang sudah sejauh mana hubungan kalian, bukannya baru kenal.”
“Hm, kemarin udah sampe cium pipi.”
“Eru!” Pekik Maura. “Awas kamu ya, anak gadis orang itu.”
Eru terkekeh lalu mencium kening Maura dan pamit. “Aku jalan ya, diantar pak Budi.”
aku yakin di balik semua itu ada campur tangan akbar
mana tadi cinta bilang gakan maafin yg udh nabraknya lagi wlw udh tewas, trauma yg berat berkepanjangan karena ga ditangani. Ru gimana sikap kamu ke Cinta jgn jauhi, dia harus sembuh, dan mengikhlaskan ortunya yg tewas biar mereka tenang
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya