Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simbol Ular Hitam
Angin dini hari masih berhembus dingin di balkon. Bekas darah merah gelap yang menetes tipis di lantai marmer putih, sementara tirai kamar bergerak perlahan tertiup angin.
Arcelia Vareinne berdiri diam menatap tempat arah pembunuh tadi menghilang.
Tatapannya perlahan berubah tajam. “Auriel.” panggil Arcelia.
Auriel melompat naik dari pagar balkon lalu kembali ke bahu Arcelia. Bulunya yang tadi sedikit bercahaya kini perlahan kembali normal.
Namun mata birunya masih tampak serius. “Simbol itu tidak seharusnya muncul sekarang.” kata Auriel.
“Apa maksudmu?” tanya Arcelia bingung.
Auriel terdiam sesaat. Lalu berkata pelan, “Di alur asli, organisasi itu baru bergerak jauh lebih lambat.” kata Auriel.
“Namun sekarang mereka sudah mengincarmu lebih awal.” lanjut Auriel.
Penjelasan Auriel membuat Arcelia bingung dan menyipitkan mata.
“Karena aku datang disini dan mengubah alur?” tanya Arcelia.
“Kemungkinan besar begitu. Kedatangan jiwamu disini dari awal sudah banyak merubah yang seharusnya terjadi." kata Auriel.
Lilian yang masih ketakutan langsung mendekat pelan. “Nona… siapa pria tadi?” tanya Lilian.
“Pembunuh.” Jawab Arcelia dengan tegas.
Jawaban datar itu membuat wajah Lilian semakin menjadi pucat.
“Kita harus memberitahu Duke!” kata Lilian.
Arcelia menatap belati yang jatuh di lantai balkon pikirannya bergerak cepat.
"Kalau pembunuh itu datang malam ini berarti seseorang benar-benar mulai panik. Dan itu artinya kita sudah semakin dekat dengan kebenaran." batin Arcelia.
“Tidak, jangan katakan apapun kepada ayah." katanya akhirnya.
Lilian langsung terkejut. “Kenapa?!”
“Karena orang yang mengirim pembunuh itu mungkin sedang menunggu reaksi kita.” kata Arcelia menjelaskan kepada Lilian.
Auriel mengangguk kecil. “Benar. Kalau kamu langsung bergerak gegabah, mereka akan semakin berhati-hati.” sambung Auriel.
Arcelia berjalan mendekati belati di lantai. Pisau kecil itu berwarna hitam pekat dengan ukiran aneh di gagangnya.
Dan tepat saat ia menyentuhnya layar biru transparan kembali muncul dimata Arcelia.
[Analisis aktif.]
[Senjata mengandung racun.]
[Racun mematikan tingkat tinggi.]
Mata Arcelia berubah sangat tajam, "Kalau tadi sistem tidak melindungi ku mungkin aku sudah mati saat ini." batin Arcelia dan menggertakkan giginya.
“Apa organisasi itu terkenal?” tanya Arcelia pelan.
Auriel terlihat ragu sesaat lalu berkata, “Mereka selalu bergerak dalam bayangan. Orang biasa tidak akan pernah tahu keberadaan mereka.” kata Auriel.
“Dan simbol ular hitam itu apa maksudnya?" tanya Arcelia penasaran.
Auriel mengibaskan ekornya perlahan. “Organisasi bawah tanah bernama Black Serpent.” kata Auriel menjelaskan.
“Mereka menjual informasi, racun, pembunuh bayaran… bahkan keluarga bangsawan.” lanjut Auriel.
Penjelasan Auriel membuat Lilian langsung menutup mulut karena kaget.
“Astaga…” kata Lilian tubuhnya gemetar ketakutan.
Tatapan Arcelia semakin tajam. "Jadi Elena benar bukan pemain utama." gumam Arcelia.
"Wanita itu mungkin hanya bekerja sama dengan kelompok ini." kata Auriel.
"Namun pertanyaan terbesarnya kenapa organisasi sebesar itu tertarik untuk membunuh Arcelia?" sambung Auriel yang juga semakin bingung.
Bahkan Auriel tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Arcelia asli.
“Tuan Rumah.” Auriel tiba-tiba menatap Arcelia serius.
“Ada kemungkinan tubuh ini memiliki sesuatu yang tidak diketahui semua orang.” kata Auriel membuat Arcelia bingung.
“Apa maksudmu?” tanya Arcelia
“Aku belum bisa memastikan semuanya.” kata Auriel.
“Namun organisasi seperti Black Serpent tidak akan bergerak hanya demi perebutan warisan biasa.” sambung Auriel sambil menatap Arcelia.
Ruangan mendadak terasa sunyi. Arcelia perlahan menggenggam belati hitam di tangannya.
Pikirannya mulai menyusun semuanya. "Racun, kematian Arcelia asli, festival Kekaisaran, percobaan pembunuhan Putra Mahkota. Dan sekarang organisasi bawah tanah muncul. Semua ini terlalu besar untuk sekadar konflik keluarga." gumam Arcelia pelan.
Tok.
Tok.
Suara ketukan mendadak terdengar dari pintu kamar.
Lilian langsung tersentak. “N-Nona…” Lilian menatap Arcelia dengan ragu.
Arcelia memberi isyarat untuk Lilian supaya Tenang.
“Auriel.” kata Arcelia tatapan matanya seperti memberi isyarat kepada Auriel.
“Tidak ada niat membunuh.” kata Auriel.
"Bagus." kata Arcelia pelan.
“Masuk.” lanjut Arcelia mempersilahkan masuk.
Pintu terbuka perlahan.
Klik..!
Dan sosok tinggi berpakaian kesatria muncul di sana.
"Leonard Aster" kata Arcelia pelan
Tatapan pria itu langsung berubah tajam saat melihat balkon terbuka.
“Aku merasakan aura aneh di area ini.” kata Leonard.
Instingnya ternyata cukup sensitif kemudian mata Leonard terkejut saat melihat Auriel di bahu Arcelia.
“…Apa itu?” tanya Leonard penasaran.
Auriel menatap balik tanpa rasa takut sedikit pun. “Dia bisa melihatku.” katanya pelan.
Arcelia sedikit terkejut dan menoleh kearah Auriel. “Memangnya kamu biasanya tidak terlihat?” kata Arcelia.
Karena selama ini setiap orang yang sedang berada didekatnya semua bisa melihat Auriel termasuk Lilian dan pembunuh tadi.
“Orang biasa tidak bisa melihatku, namun Lilian adalah bonus dari sistem." kata Auriel bangga.
"Menarik. Berarti Leonard bukan orang biasa." batin Arcelia.
“Aku juga ingin tahu, karena dia tiba-tiba datang dan menjadi temanku." jawab Arcelia tenang.
Leonard perlahan mendekat tatapannya tidak lepas dari Auriel.
“Aura makhluk itu…” Ia menyipitkan mata. “…bukan seperti monster.” kata Leonard.
Auriel tampak bangga. “Tentu saja bukan.” kata Auriel hidungnya hampir memanjang karena bangga.
Lilian jelas semakin bingung karena hanya Leonard dan Arcelia yang tampak mengerti situasi saat ini.,
“Ada apa sebenarnya…” tanya Lilian.
Namun sebelum ada yang menjawab tatapan Leonard tiba-tiba jatuh pada belati hitam di tangan Arcelia.
Ekspresinya langsung berubah. “Dari mana kamu mendapatkan belati itu?” tanya Leonard.
“Baru saja ada tamu tidak di undang dan berhasil kabur.” kata Arcelia dengan tenang.
Wajah Leonard langsung mengeras Ia segera mengambil belati itu lalu memeriksanya.
Setelah memeriksa belati itu tiba-tiba mata Leonard berubah sangat tajam.
“Simbol ular hitam…” kata Leonard saat melihat simbol kecil yang ada pada belati itu.
Arcelia langsung menatapnya. “Kamu mengenalnya?” tanya Arcelia.
Leonard terdiam beberapa detik lalu perlahan berkata, “Dulu aku pernah melihat simbol ini di medan perang perbatasan.”
Semua orang terkejut dan terdiam,
“Apa maksudmu?” tanya Arcelia penasaran.
Tatapan Leonard berubah serius. “Orang-orang dengan simbol itu bukan pembunuh biasa.” kata Leonard.
Leonard menggenggam belati lebih erat. “Mereka adalah bayangan yang bekerja untuk menghancurkan kerajaan dari dalam.” lanjut Leonard.
Deg...!!