Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20 - MENGAMBIL MISI
Sudah satu minggu berlalu sejak Luna tidak sadarkan diri.
Selama itu pula Lily selalu menjaga Luna untuk memastikan gadis kecil itu tidak berubah menjadi zombie.
"Adiknya kakak kok betah banget sih tidur? Bangun dong. Kakak rindu nih," ucap Lily sambil mengajak Luna berbicara.
Sudah menjadi kebiasaan Lily selama seminggu terakhir untuk mengobrol dengan Luna, meskipun tidak pernah mendapat jawaban.
Setelah dirasa cukup, Lily pun keluar dari kamar menuju ruang keluarga tempat semua orang berkumpul.
"Emm, hari ini aku mau keluar ambil misi. Ada yang mau ikut?" tanya Lily kepada keluarganya.
"Hueee! Ikut! Pokoknya gue ikut! Lo udah janji bakal ngajak gue kalau mau keluar!" ucap Lea dengan antusias.
"Gue juga ikut," ucap Evan tiba-tiba.
"Tapi kan lo nggak punya kemampuan elemen, Kak. Nanti malah nyusahin. Mending di sini aja sih," ucap Aurora, mencoba mencegah kakaknya ikut.
Evan langsung menatap Aurora dengan tajam.
"Pokoknya gue ikut," ucapnya dingin.
"Hmph! Terserah lo aja. Kalau lo digigit zombie, gue nggak peduli."
Aurora langsung berdiri lalu pergi meninggalkan ruang keluarga.
Semua orang dibuat bingung oleh sikap Aurora.
Biasanya gadis itu selalu tenang dan jarang menunjukkan emosinya.
"Eh, jadi yang ikut aku, Kak Lea, sama Evan ya? Ada yang mau ikut lagi?" tanya Lily.
"Gue ikut juga. Biar gue bisa jaga lo sama Kak Lea," ucap Alex sambil mengangkat tangan.
"Oke. Kita berangkat sebentar lagi. Kalian siap-siap dulu deh. Aku mau masuk kamar dulu."
Lily langsung berdiri dan kembali ke kamarnya.
Setelah semuanya siap, Lily, Lea, Alex, dan Evan berjalan menuju gerbang pangkalan.
Namun saat hendak keluar, terdengar suara yang sangat mengganggu dari belakang.
"Lily, lo mau ke mana?" tanya seseorang.
Saat menoleh, ternyata yang memanggil adalah Cici.
Dengan wajah sok polos, gadis itu menatap Lily.
"Bukan urusan lo," jawab Lily datar.
"Kok lo gitu sih? Kita kan sahabat," ucap Cici dengan pura-pura sedih.
"Sorry, kita nggak kenal. Jadi mending lo pergi daripada ganggu penglihatan gue."
Lily kemudian menoleh ke arah teman-temannya.
"Ayo, guys. Kita pergi. Biarin aja ulat gendon ini sendirian."
Cici langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Sebenarnya alasan ia mendekati Lily sangat sederhana.
Ia melihat Lily selalu dikelilingi pria-pria tampan.
Hal itu membuat rasa iri dan keserakahannya muncul kembali.
"Sialan! Awas aja lo, jalang! Gue bakal ambil semua yang lo punya!" geram Cici penuh kebencian.
Namun Lily dan yang lainnya sudah pergi tanpa memedulikannya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di pusat informasi misi yang berada dekat gerbang utama pangkalan.
"Permisi, kami ingin mengambil misi," ucap Lily kepada petugas yang berjaga.
"Eh, iya Kak. Mau ambil misi apa? Di sini ada dua jenis misi."
Wanita itu mulai menjelaskan.
"Yang pertama adalah misi mengumpulkan makanan dengan sistem pembagian lima puluh banding lima puluh."
"Yang kedua adalah misi pembersihan zombie."
"Kalau mengambil misi ini, Kakak akan diarahkan ke lokasi yang sering menjadi tempat berkumpulnya zombie dan harus membersihkan area tersebut."
"Ada yang ingin ditanyakan?" tanyanya ramah.
"Kami mau diskusi dulu. Tunggu sebentar ya," ucap Lily.
"Oh, silakan, Kak," jawab wanita itu sambil tersenyum.
Lily kemudian berbalik menghadap kelompoknya.
"Kita ambil misi yang mana?"
"Ambil misi pertama aja. Kalau ambil misi kedua, nggak ada jaminan kita bakal selamat," jawab Evan.
"Benar. Aku setuju sama Evan. Lebih baik ambil misi pertama saja," timpal Lea.
Lily mengangguk.
"Baiklah. Kita ambil misi yang pertama."
Ia kembali menghampiri petugas tadi.
"Bagaimana, Kak? Sudah menentukan pilihan?" tanya wanita itu.
"Kami akan mengambil misi yang pertama."
"Baik, Kak. Tolong sebutkan nama anggota timnya."
Setelah selesai mendata nama mereka, wanita itu kembali berbicara.
"Baik. Di sini ada satu aturan."
"Jika kalian tidak kembali selama satu minggu, maka kalian akan dianggap telah meninggal dunia."
"Jadi harap berhati-hati."
"Semoga perjalanan kalian lancar."
Wanita itu tersenyum ramah.
"Terima kasih."
Lily dan kelompoknya pun meninggalkan pusat informasi dan berjalan keluar dari gerbang pangkalan.
"Kita ke mana dulu nih?" tanya Lea.
"Gimana kalau kita ke mall di Kota B?" usul Lily.
"Eh, boleh juga sih. Tapi jauh nggak?" tanya Lea lagi.
"Kalau jalan kaki dari sini, kira-kira satu jam."
Mata Lea langsung membelalak.
"APA?! Satu jam?! Patah dong kaki gue!"
Lea langsung berakting dramatis hingga membuat Lily tertawa.
"Nggak usah lebay deh," ucap Lily sambil terkekeh.
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon besar.
Sambil duduk, Lily menyebarkan penglihatan mentalnya ke area sekitar.
Ia memeriksa kemungkinan adanya bahaya yang mengintai.
"Hemm, aman. Cuma ada beberapa zombie di sekitar sini," pikir Lily dalam hati.
Setelah memastikan keadaan aman, ia kembali duduk santai.
"Masih lama ya kita sampainya? Kaki gue pegel banget nih," keluh Lea sambil memijat betisnya.
"Nggak kok. Tinggal tiga puluh menit lagi kita sampai. Jadi jangan khawatir," jawab Lily yang juga ikut meregangkan kakinya.
Mereka beristirahat selama lima menit.
Setelah rasa lelah sedikit berkurang, perjalanan kembali dilanjutkan.
Namun di tengah perjalanan, Lea tiba-tiba membuka pembicaraan.
"Li, kira-kira Luna kapan ya sadarnya?"
Langkah Lily sedikit melambat.
"Gue juga nggak tahu."
"Tapi gue harap secepatnya."
"Gue kasihan lihat Kenzo yang sedih setiap hari."
Lea hanya mengangguk pelan.
Lily menatap jalanan yang terbentang di depan mereka.
Sementara itu, satu pikiran terus berputar di dalam benaknya.
"Dan lagi... gue berharap Luna nggak berubah jadi zombie."
Pikiran itu terus menghantui Lily sejak hari pertama Luna tidak sadarkan diri.
Visual keluarga Lily (MAHENDRA)
LILY MAHENDRA
AZALEA MAHENDRA
ALEX PUTRA MAHENDRA
MIKE TISON MAHENDRA
GRACE EVELYN MAHENDRA
Visual keluarga Athar
ATHAR PUTRA PRATAMA
DAMAR ADIPUTRA PRATAMA
INAYA MAUREN PRATAMA
visual keluarga Evan
EVAN TEODHORE WALKER
abaikan namanya lagi eror itu kemaren
AURORA SERAPHINE WALKER

MARGARET ANNE WALKER

oke guys see Next chapter ☺️ ☺️ ☺️