Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Rahasia di Balik Kecelakaan Tujuh Tahun Lalu
Setelah interogasi terhadap staf taman selesai, suasana di kediaman keluarga Amarta berubah semakin tegang.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Adrian memerintahkan Dimas membuka kembali seluruh arsip mengenai kecelakaan yang pernah mengubah hidupnya.
Malam itu, ruang kerja pribadi Adrian masih dipenuhi cahaya lampu meski waktu telah menunjukkan hampir tengah malam.
Puluhan map tebal memenuhi meja.
Laporan polisi.
Dokumen asuransi.
Data kendaraan.
Hingga hasil investigasi lama yang selama ini tersimpan rapat.
Dimas berdiri di samping meja sambil membuka satu per satu berkas.
"Ini seluruh dokumen yang berhasil kami kumpulkan kembali, Tuan."
Adrian mengangguk.
Tatapannya tertuju pada sebuah foto mobil yang ringsek parah di pinggir jurang.
Mobil yang pernah dikendarainya tujuh tahun lalu.
Hari yang mengubah segalanya.
Hari ketika kedua kakinya kehilangan kemampuan untuk berjalan normal.
"Ada yang janggal?" tanya Adrian.
Dimas tampak ragu.
"Sebenarnya ada satu hal yang sejak dulu belum pernah terjawab."
"Apa itu?"
"Rem mobil Tuan."
Adrian mengangkat kepala.
"Kenapa dengan remnya?"
Dimas membuka laporan teknis lama.
"Dalam laporan resmi tertulis bahwa kerusakan rem terjadi akibat kegagalan mekanis."
"Lalu?"
"Tapi hasil pemeriksaan awal menyebutkan adanya kemungkinan campur tangan pihak lain."
Ruangan langsung hening.
Adrian menyipitkan mata.
"Maksudmu sabotase?"
"Saat itu tidak ada bukti yang cukup."
"Tapi sekarang?"
Dimas menatap atasannya.
"Saya mulai meragukannya."
Jari Adrian perlahan mengetuk meja.
Jika benar kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa, berarti seseorang sudah mengincarnya sejak bertahun-tahun lalu.
Dan orang yang sama mungkin kini kembali mengincar keluarganya.
---
Sementara itu di lantai atas.
Naya belum bisa tidur.
Ia berdiri di dekat jendela kamar sambil memegang perutnya.
Bayi di dalam kandungannya bergerak aktif.
Seolah ikut merasakan kegelisahan sang ibu.
"Nak..."
Suara Naya lirih.
"Semoga semuanya baik-baik saja."
Entah mengapa, sejak mendengar tentang kecelakaan Adrian tadi sore, hatinya dipenuhi perasaan tidak nyaman.
Bukan hanya karena ancaman yang mereka terima.
Tetapi karena ia merasa ada rahasia besar yang belum terungkap.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Adrian masuk.
Melihat istrinya masih terjaga, ekspresi tegang di wajahnya langsung melunak.
"Kenapa belum tidur?"
Naya tersenyum tipis.
"Saya menunggu Mas."
Adrian mendekat lalu duduk di sampingnya.
Tangannya langsung berpindah ke atas perut Naya.
Gerakan kecil dari dalam kandungan membuat senyum tipis muncul di wajahnya.
"Dia belum tidur juga rupanya."
Naya ikut tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya kembali serius.
"Mas."
"Hm?"
"Kecelakaan itu..."
Adrian terdiam.
Naya menatapnya hati-hati.
"Mas yakin ingin membuka semuanya lagi?"
Pria itu memandang istrinya cukup lama.
Kemudian mengangguk.
"Dulu aku memilih melupakannya."
"Kenapa?"
"Karena aku pikir semua sudah berakhir."
Tatapan Adrian berubah lebih dalam.
"Tapi sekarang ada kamu."
Tangannya menggenggam jemari Naya.
"Dan ada anak kita."
Naya merasakan dadanya menghangat.
"Aku tidak bisa membiarkan seseorang menggunakan masa lalu untuk mengancam keluarga kita."
Air mata tipis menggenang di pelupuk mata Naya.
Ia tahu betapa berat luka yang pernah dialami Adrian.
Namun pria itu tetap memilih menghadapi semuanya demi keluarga mereka.
---
Keesokan paginya.
Tim investigasi pribadi Amarta Grup mulai bekerja.
Mereka menelusuri kembali seluruh jejak yang berkaitan dengan kecelakaan tujuh tahun lalu.
Hingga menjelang siang.
Salah satu penyelidik menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Sebuah transaksi lama.
Nominalnya tidak besar.
Namun pengirim dan penerimanya membuat semua orang terdiam.
Nama penerima adalah seorang mekanik yang pernah menangani mobil Adrian beberapa hari sebelum kecelakaan terjadi.
Sedangkan pengirimnya...
menggunakan rekening perusahaan milik Surya Pranoto.
Dimas langsung membawa laporan itu kepada Adrian.
Begitu membaca dokumen tersebut, sorot mata Adrian berubah tajam.
"Jadi benar..."
Suara Dimas terdengar pelan.
"Kecelakaan itu kemungkinan bukan musibah biasa."
Adrian menutup map di tangannya.
Rahangnya mengeras.
Selama tujuh tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa semua itu hanyalah nasib buruk.
Namun sekarang kenyataan mulai menunjukkan hal yang berbeda.
Seseorang mungkin telah merencanakan semuanya sejak awal.
Dan orang itu kini kembali muncul.
Mencoba mengganggu keluarganya.
Mencoba menghidupkan luka lama.
Namun kali ini Adrian bukan lagi pria yang sama seperti tujuh tahun lalu.
Ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga untuk dilindungi.
Keluarganya.
Di tempat lain.
Seorang pria duduk di dalam ruangan gelap sambil memperhatikan foto Adrian dan Naya.
Senyuman tipis muncul di wajahnya.
"Penyelidikanmu lebih cepat dari perkiraanku, Adrian."
Ia meletakkan foto tersebut di atas meja.
Di sampingnya terdapat sebuah berkas tua bertuliskan tanggal tujuh tahun silam.
Rahasia yang selama ini terkubur perlahan mulai terungkap.
Dan ketika kebenaran itu akhirnya muncul ke permukaan...
kehidupan keluarga Amarta tidak akan pernah sama lagi.
Bersambung ke Bab 35...