NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: MAKAN MALAM DENGAN "SINGA"

Suasana di ruang makan utama Villa Al-Ricci malam itu bisa mematikan seekor burung gereja yang terbang melintas.

Ruangan itu hanya digunakan untuk acara-acara luar biasa formal, dengan lampu kristal raksasa yang menggantung seperti air mata beku dan meja makan panjang yang sanggup menampung dua puluh orang.

Namun, malam ini, hanya ada tiga orang yang duduk di sana.

Di ujung meja, duduklah Tuan Lorenzo Al-Ricci. Pria itu adalah singa tua yang meski rambutnya sudah memutih, tatapannya masih memiliki ketajaman yang sanggup menguliti harga diri seseorang.

Ia adalah alasan mengapa Matteo menjadi pria yang dingin, dan alasan mengapa seluruh Roma gemetar jika namanya disebut.

Matteo duduk di sisi kanan ayahnya, tetap dengan kursi rodanya yang diposisikan sempurna. Dan di hadapan Matteo, duduklah Alesha.

"Jadi," suara Tuan Lorenzo memecah kesunyian, berat dan parau seperti gesekan batu.

"Ini adalah 'pengganti' yang kau pilih, Matteo? Seorang gadis dari keluarga kelas menengah yang bahkan tidak tahu cara membedakan garpu salad dan garpu utama?"

Alesha baru saja menyuapkan potongan daging ke mulutnya.

Ia berhenti sejenak, lalu menelan makanannya dengan tenang. Ia mengenakan gaun sutra simpel yang ia jahit sendiri potongan yang terlalu modern untuk selera klasik Tuan Lorenzo.

"Aku bisa membedakan garpu, Tuan Besar," sahut Alesha, suaranya jernih tanpa getaran takut.

"Tapi menurutku, rasa dagingnya tidak akan berubah hanya karena aku salah memegang alat makan. Kecuali jika kau makan peraknya, bukan dagingnya."

Matteo sedikit mengernyit, tangannya yang memegang gelas anggur sedikit menegang. Ia tahu ayahnya tidak suka dibantah.

Tuan Lorenzo tertawa, namun tawa itu tidak sampai ke matanya.

"Lidah yang tajam. Tapi sayang, lidah tidak bisa membeli martabat. Ayahmu hanya seorang pengusaha tekstil kecil yang hampir bangkrut, bukan? Dan kakakmu, Kiara... dia setidaknya punya kelas. Dia tahu bagaimana menjadi perhiasan bagi keluarga Al-Ricci. Sedangkan kau? Kau hanyalah ban serep yang dipaksa masuk karena keadaan darurat."

Tuan Lorenzo menyesap anggurnya, lalu menatap Alesha dengan hinaan terang-terangan.

"Kau tidak lebih dari sekadar noda di kain putih bersih keluarga kami. Jika bukan karena rasa kasihan Matteo, kau mungkin masih menjahit di gudang berdebu ayahmu, meratapi nasibmu sebagai anak yang tidak diinginkan."

Udara di ruangan itu seolah tersedot keluar. Matteo hendak membuka suara untuk menengahi, namun ia melihat sesuatu di mata Alesha.

Bukan air mata. Bukan luka. Melainkan api yang berkobar hebat.

Alesha perlahan meletakkan garpunya. Tangannya meraih gelas anggur merah Barolo yang penuh di depannya.

Dengan gerakan yang sangat lambat dan disengaja, ia memiringkan gelas itu tepat di tengah taplak meja linen putih yang konon ditenun khusus di Florence.

Byur.

Cairan merah tua itu melebar, meresap ke dalam serat kain mahal, menciptakan noda besar yang tampak seperti darah di atas salju.

"Apa yang kau lakukan, perempuan bodoh?!" bentak Tuan Lorenzo, wajahnya memerah karena amarah.

"Itu taplak meja abad ke-19!"

Alesha tidak menjawab.

Dengan kecepatan kilat, ia menyambar sebuah garpu bersih.

Ia tidak menusukkannya pada daging, melainkan mulai menarik-narik noda anggur itu.

Ia menggunakan ujung garpu untuk menyeret cairan merah itu keluar dari pusat noda, membentuk garis-garis lengkung yang rumit, menciptakan pola mawar yang abstrak namun indah di atas meja.

Hanya dalam waktu tiga puluh detik, noda yang tadinya dianggap merusak, kini berubah menjadi sebuah ilustrasi bunga yang artistik dan liar.

Alesha mendongak, menatap langsung ke dalam mata Tuan Lorenzo.

"Lihat?" ucap Alesha dengan nada dingin yang mematikan.

"Kau melihat noda ini sebagai kehancuran bagi taplak mejamu yang suci. Tapi aku? Aku melihat kesempatan. Bahkan sampah atau noda sekalipun bisa menjadi seni jika kau punya otak dan keberanian untuk mengubahnya, Tuan Besar."

Alesha berdiri, menopang tangannya di atas meja, condong ke arah pria tua itu.

"Kau menghina keluargaku? Kau menghina posisiku? Silakan. Tapi ingat ini, keluarga Al-Ricci mungkin adalah kain putih yang kau banggakan, tapi tanpa 'noda' seperti aku, kalian hanyalah kain putih yang membosankan dan mati. Aku mungkin ban serep, tapi akulah yang akan memastikan mobil ini tidak masuk ke jurang saat bannya yang lain pecah karena terlalu sombong."

Tuan Lorenzo terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata-kata yang keluar.

Selama puluhan tahun, tidak ada yang berani menentangnya, apalagi menumpahkan anggur di mejanya dan mengajarinya tentang perspektif hidup.

Ia melihat ke arah noda anggur itu, pola mawar itu tampak berdenyut di bawah cahaya lilin, menantang segala aturan formalitas di rumah itu.

Matteo, yang sedari tadi bersiap untuk meredam kemarahan ayahnya, kini justru terpaku. Ia menatap Alesha dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ada rasa takjub yang murni di matanya. Ia melihat istrinya berdiri tegak, seorang wanita "rakyat jelata" yang baru saja menjinakkan singa paling ditakuti di Roma hanya dengan segelas anggur dan sebuah garpu.

Keberanian Alesha bukan hanya sekadar "bar-bar", itu adalah kekuatan yang mentah dan murni.

Tuan Lorenzo perlahan kembali bersandar ke kursinya. Ia menatap pola mawar itu lagi, lalu menatap Alesha.

"Kau... kau adalah gangguan yang berbahaya," gumam pria tua itu, namun kali ini nada bicaranya tidak lagi penuh hinaan. Ada sedikit rasa hormat yang tersembunyi di balik kekakuannya.

"Dunia ini butuh sedikit gangguan, Tuan Lorenzo. Agar orang-orang tua sepertimu tidak lupa caranya bernapas," sahut Alesha.

Ia kemudian menoleh ke arah Matteo.

"Aku sudah kenyang. Aku akan kembali ke kamar. Dan Matteo... jangan lupa bayar tagihan untuk taplak meja itu. Itu desain pertamaku di rumah ini."

Alesha berbalik dan berjalan keluar dengan langkah anggun namun tegas, membiarkan bunyi sepatunya bergema di lorong sunyi.

Setelah pintu tertutup, keheningan kembali menyelimuti ruang makan. Tuan Lorenzo menoleh ke arah putranya.

"Matteo," suara pria tua itu kini rendah.

"Ya, Ayah?"

"Jaga baik-baik istrimu," Tuan Lorenzo mengusap dagunya, matanya tetap tertuju pada noda anggur di meja.

"Dia tidak akan bisa dikurung dalam sangkar. Dan jika kau tidak cukup kuat untuk menjaganya, dia akan membakar seluruh Villa ini hanya untuk melihat warnanya saat terbakar."

Matteo tidak menjawab, namun ia menyentuh bibirnya, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul.

Ia teringat kata-kata Luca tentang "topeng". Malam ini, ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang memakai topeng.

Alesha juga memakai topeng "gadis bar-bar", padahal di dalamnya, ia adalah seorang ratu yang sedang membangun singgasananya sendiri di tengah medan perang.

"Dia bukan sekadar gangguan, Ayah," gumam Matteo pelan.

"Dia adalah satu-satunya hal yang nyata di rumah ini."

Malam itu, untuk pertama kalinya, sang singa tua terdiam, dan Matteo mulai menyadari bahwa ia mungkin telah jatuh cinta pada badai yang ia ciptakan sendiri.

Sementara itu, di kamarnya, Alesha mengeluarkan flashdisk dari sakunya, bersiap untuk membongkar rahasia suaminya, tidak tahu bahwa malam ini ia baru saja memenangkan hati pria yang paling sulit ditaklukkan di seluruh Italia.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!