Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Damar masih berdiri di bawah lampu jalan sambil memperhatikan Han dengan tatapan yang sulit dibaca.
“Jadi sekarang apa rencana lu?” tanyanya.
“Bertahan hidup sampai pagi.”
“Wah.” Damar mengangguk pura pura kagum. “ emang strategi lu luar biasa.”
Han malas meladeninya.
“Aku serius.”
“Gue juga.”
Damar menendang puntung rokok di dekat kakinya ke genangan air lalu melirik ke sekitar jalanan distrik lama yang sepi.
“Kalau hari ini sih, belum ada orang asing yang masuk kesini,” katanya pelan. “Tapi kalau Helios mulai mencari sampai di distrik tua ini…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu dan Han sudah tahu artinya.
Damar menghela napas pelan.
“Tunggu sini.”
Han mengernyit sedikit.
“Mau ke mana?”
“Kalau ada perempuan sama pengangguran tidur di atas sana…” Damar menunjuk gedung tua itu. “…minimal kasih makan dulu.”
“Aku punya roti.”
Damar menatap Han beberapa detik.
“Dan gue ngga heran kenapa hidup lu terlalu menyedihkan.”
Sebelum Han sempat membalas, pria itu sudah berjalan menjauh menyusuri gang gelap dengan santai seperti memang itu miliknya. Han memperhatikannya sebentar. Lalu berbalik masuk ke dalam gedung. Tangga kayu tua kembali berderit pelan saat ia naik ke lantai dua.
Begitu pintu terbuka, Nara langsung menoleh cepat.
“Kamu lama sekali.”
Han sedikit mengangkat alis.
“Itu baru sepuluh menit.”
“Ya tetap saja lama.”
Han sambil menutup pintu dengan pelan, “…dia bukan musuh.”
“Teman?” tanya Nara yang terlihat sedikit lega mendengarnya
Han melepas jaketnya lalu menggantungnya di sandaran kursi.
“Kurang lebih.”
“Kamu punya teman.”
“Nada suaramu, terdengar kaget.”
“Karena memang aku kaget.”
Han hampir membalasnya, tapi suara dengkuran Arga mendadak terdengar lebih keras dari sofa. Nara refleks menahan tawanya.
“Dia benar-benar ngga bangun sama sekali ya?”
“Kalau dunia kiamat pun mungkin dia masih lanjut tidur.”
Nara duduk kembali di kursinya dekat meja.
“Orang tadi siapa?”
Han sempat diam sebentar sebelum menjawab.
“Namanya Damar.”
“Teman lama?”
“Dulu satu distrik.”
“Kerja bareng?”
Han berpikir sesaat.“…kadang.”
Jawaban itu terdengar terlalu abu-abu untuk dipercaya. Tapi Nara mulai sadar kalau cara bicara Han memang seperti itu. Tidak bohong tapi juga tidak terbuka sepenuhnya.
“Dia tahu soal Helios?”
“Sedikit.”
“Dan dia tetap bantu kamu?”
Han melirik jendela kecil di sisi ruangan.
“Distrik ini berbeda.”
Nara mengernyit, “…beda bagaimana?”
Han bersandar kecil di meja.
“Di luar sana, orang pura-pura tidak lihat ada masalah.” Pandangannya turun ke arah jalan gelap di bawah. “…tapi di sini, semua orang tahu kalau kota ini busuk.”
Kalimat itu membuat Nara terdiam. Aneh, tempat kumuh seperti ini malah terasa lebih jujur dibandingkan gedung-gedung mewah yang biasa ia lihat. Sekitar dua puluh menit kemudian, terdengar langkah kaki yang naik dari lantai bawah.
Han langsung berdiri refleks. Namun ekspresinya berubah sedikit santai begitu mengenali ritme langkah itu.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan tiga kali terdengar di pintu.
Han membuka pintu besi itu. Damar terlihat di depan pintu dan kemudian masuk sambil membawa dua kantong plastik besar.
“Gue bawa makanan nih.” Ia mengangkat kantong itu sedikit. “Dan kopi. Soalnya gue lihat muka lu semua kelihatan lagi butuh kopi.”
Aroma makanan hangat langsung memenuhi udara di ruangan kecil itu. Nara baru sadar kalau dirinya benar-benar lapar. Damar berhenti sejenak begitu melihat Nara lebih jelas.
“Oh.” Ia mengangguk kecil. “Jadi ini orangnya.”
Nara mengangkat alis.
“Aku merasa sedang dinilai.”
“Sorry, kebiasaan buruk.”
Damar meletakkan kantong di meja lalu mengulurkan tangannya dengan santai. “Gue Damar!”
“Nara.”
“Wah….” Damar menoleh ke Han. “Dia jauh lebih normal dari yang gue bayangkan.”
Han langsung menjawab datar,
“Itu bukan pujian.”
“…ya, memang bukan.”
Nara akhirnya tertawa kecil. Damar punya energi yang berbeda dibandingkan Han. Masih berbahaya, tapi lebih hidup dan lebih mudah dibaca.
Pria itu mulai mengeluarkan isi kantong plastic yang dibawanya:
nasi bungkus air mineral kopi kalengan beberapa obat ringan bahkan camilan kecil “Ini terlalu banyak,” kata Han.
“Soalnya lu bawa tamu.” Kata Damar sambil membuka salah satu kopi kaleng. “Dan kalian kelihatan seperti pengungsi yang kabur.”
Arga mendadak bergerak dari sofa.
“Hah? Bau makanan?”
Semuanya langsung menoleh. Pria itu bangun dengan rambut berantakan dan mata setengah tertutup, tapi langsung terbuka lebar begitu melihat nasi bungkus.
“…gue suka orang baru ini.”
Damar tertawa pendek.
“Yang ini siapa?”
“Arga,” jawab Nara cepat.
“Pengangguran penuh waktu,” tambah Han.
“Itu fitnah.”
Damar menyeringai kecil.
“Bagus. Berarti kalian masih punya energi buat bercanda.”
Arga langsung mengambil nasi bungkus tanpa malu.
“Kalau perut kenyang, manusia bakal lebih sulit buat depresi.”
Damar duduk santai dekat pintu sambil memperhatikan isi ruangan itu. Tatapannya sesekali mengarah ke jendela dan tetap waspada.
Nara menyadari itu. Orang ini santai, tapi bukan orang sembarangan.
“Kamu tinggal di distrik ini?” tanyanya.
Damar mengangguk, “…gue lahir di sini.”
“Kerjanya apa?”
Sunyi sepersekian detik. Lalu Damar hanya tersenyum kecil.
“Mengurusin anak-anak nakal.”
Han langsung memotong datar, “…dia ketua geng lokal.”
Nara hampir tersedak makanannya sendiri.
“…apa?”
Arga malah terlihat kagum.
“Wah... keren juga.”
“Jangan terlalu kagum,” kata Damar sambil menyesap kopi kalengnya. “Kami cuma menjaga area sini agar tetap hidup.”
“Dengan geng?”
“Di kota seperti ini, kadang cuma itu pilihan yang tercepat.”
Han tidak membantah, tapi itu justru membuat jawaban tadi terasa lebih nyata. Damar akhirnya berdiri lalu berjalan mendekati jendela. Ia membuka sedikit tirai dan melihat keluar beberapa detik sebelum kembali menutupnya.
“… sementara masih aman kok.”
Han mengangguk kecil. Damar melirik ke arah Nara dan Arga.
“Kalian coba tidur saja.”
Nara mengernyit, “…maksud kamu?”
“Malam ini gue sudah taruh beberapa orang di sekitar gedung sini.”
Arga langsung berhenti makan.
“Serius?”
“Kalau ada orang asing masuk area sini, gue pasti langsung tahu.”
Nara memandang Han sekilas, dan dari ekspresinya, ia tahu Han benar-benar percaya pada orang ini. Damar memasukkan tangannya ke saku jaket hoodienya.
“Kalau keadaan jadi jelek…” Tatapannya kembali ke Han. “…lu tahu kan harus ke mana.”
Han diam beberapa detik sebelum mengangguk kecil.
“…iya.”
Malam ini, sejak semua kekacauan ini dimulai, Nara merasa kalau mereka tidak sendirian lagi.