Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi
Keesokan paginya, seperti biasa mereka bersiap-siap ke sekolah. Tapi bukan Ravian namanya jika tidak membuat pertanyaan maut dengan Aelira.
"Semalam kenapa nggak jawab pernyataan cinta pertama kamu itu?" tanya Ravian julid.
"Tahu dari mana dia bilang kayak gitu?"
Alis Ravian terangkat sebelah. "Emang lo jawab apa pas ditanya?"
"Aku nggak jawab apa-apa, temannya Rian keburu datang."
Ravian tersentak. "Jadi lo belum jawab?" Dia menegakkan tubuh dan menatap Aelira sepenuhnya.
Aelira menggeleng pelan. "Belum."
"Emang lo mau jawab apa?" tanya Ravian kepo.
Aelira mengangkat alis dan tersenyum samar. "Penting nggak sih, Van?"
"Penting." Ravian sewot, lalu tersentak dan mengerjap sadar karena terlalu sewot. "Lo mau jawab apa emangnya waktu itu?"
"Eum, apa ya?" Aelira mengulum bibir—berpikir. Dia melirik sambil menahan tawa melihat raut wajah Ravian yang kepo. "Aku jawab masih sayang."
"Ah, males. Gue benci sama lo, sumpah." Ravian membuang muka disusul hembusan napas kasar.
"Loh, ngamuk?" Aelira tertawa kalem.
"Itu namanya selingkuh, Li. Nggak boleh kayak gitu." Ravian kesal dan langsung sewot.
"Kata siapa?" goda Aelira.
"Kata gue barusan." Ravian merenggut kesal membuat Aelira menahan senyum melihat ekspresi cowok itu yang menggemaskan.
"Ya kan kita pacaran tanpa perasaan. Kamu paksa aku jadi pacar kamu." cibir Aelira.
"Ya udah lah terserah."
Ravian menepis tangan Aelira dan memeluk bantal di dekatnya sambil membuang wajahnya—tidak peduli.
"Ih, marah-marah." Aelira meraih tangannya dan tertawa geli.
"Males, ah!" Ravian menepis tangan Aelira kesal.
Aelira semakin tertawa.
"Nggak lucu. Ngapain ketawa?" Ravian menoleh kesal.
"Lucu soalnya lihat kamu marah-marah." Aelira semakin tertawa lalu berdehem pelan. Dia menatap Ravian intens, menyadari cowok itu ngambek sungguhan.
"Oke, oke, aku minta maaf! Tadi aku cuma bercanda."
"Bacot." Decak Ravian malas. "Udah lah! Lo emang nggak pernah peduli sama gue."
"Kamu marah beneran?" Aelira mendekat sambil memeluk lengan cowok itu.
Ravian melirik sinis.
Aelira tiba-tiba memajukan wajah dan mencium pipi kanan Ravian.
CUP!
Hal itu membuat Ravian tersentak dan menegak seketika.
"Masih marah sama aku?" Aelira menatap Ravian dengan tatapan memelas—seperti anak kucing.
"Makanya jawab yang bener! Lo mau jawab apa?" kata Ravian sok sewot padahal pipinya kini merona seperti tomat karena ambyar.
"Jangan hobi marah-marah! Pantes mukanya cepet tua." decak Aelira.
Ravian menoleh dengan helaan napas pelan. "Cepetan jawab!"
"Iya-iya." Aelira mendengus lalu menunduk sedikit. "Jawabannya... aku nggak tahu."
"Kok?" kening Ravian berkerut heran. "Bukannya lo harusnya happy karena Rian suka balik sama lo?"
"Harusnya iya." Aelira mengangguk pelan—membuat Ravian memutar bola matanya. "Tapi aku sendiri nggak tahu sama perasaan aku sekarang. Rian emang cinta pertama aku, tapi kan kamu pacar aku. Bukannya nggak boleh ya kalau kita suka cowok lain waktu masih punya pacar?"
Seketika Ravian menahan senyum dan mengangguk pelan. "Hm, nggak boleh. Itu lo tahu. Jadi setelah ini lo nggak boleh akrab sama cowok lain. Karena apa? Lo cewek gue."
Aelira mencibir. "Aku tahu."
"Good girl!" Ravian mencubit pipi Aelira.
"Akh, sakit." Aelira mengusap pipinya. "Sakit tahu."
"Manja."
"Manja apa, sih? Orang beneran sakit." Aelira mendengus malas.
---
Sekolah — Istirahat pertama
"YA AMPUN, ELI!!" Suara Ziva melengking dari ruang kelas. "Itu kalung cantik banget sumpah demi apa pun, lo mirip putri duyung pakai itu!"
Aelira tersenyum kaget, refleks menutup liontin permata biru yang menggantung manis di lehernya. Kalung pemberian Daddy—simbol marga Sforza yang hanya dipakai saat ada pesan tertentu.
"Lebay lo. Ini kalung lama, kok."
"Justru karena 'lama' itu yang bikin vibes-nya makin mahal!" Ziva langsung duduk di sebelahnya, mata berbinar seperti lagi lihat harta karun. "Boleh gue pinjem? Buat foto-foto aja. Please, Eli! Satu jam juga jadi!"
Aelira tertawa kecil. "Iya, iya. Tapi hati-hati, ya. Ini kalung penting."
Ziva langsung memekik pelan, "DEAL!"
Aelira berdiri sambil menepuk pelan kepala temannya. "Gue ke toilet bentar. Jangan kabur bawa kalung gue, ya."
"Paling gue kabur bawa lo juga." goda Ziva sambil tertawa.
Aelira berjalan pergi.
Ziva iseng berdiri dan mengecek pantulan dirinya di kaca dekat tangga. Kalung itu memang cantik—kilau birunya seolah menyimpan rahasia di dalamnya.
Saat Ziva hendak berjalan menuju arah toilet untuk menyusul Aelira, langkahnya terhenti saat mendapati seorang senior laki-laki melintas dari arah berlawanan.
Ziva refleks tersenyum. "Eh, Kak Alvandra! Pagi! Lagi muter-muter juga, ya?"
Alvandra awalnya mengangguk santai—tapi matanya membeku begitu melihat kilau liontin biru di leher Ziva.
"Kalung itu...?"
Ziva yang tidak menyadari keanehan itu hanya tersenyum. "Duluan, Kak! Mau susul Aelira."
"I-iya." Alvandra mengangguk kaku. Ziva bertolak pergi.
Alvandra tetap berdiri di tempatnya. Matanya tidak lepas dari punggung Ziva yang makin menjauh—dan dari kalung biru itu, yang bersinar samar di bawah cahaya matahari.
Kalung yang sama persis dengan milik ayahnya.
Kalung yang katanya hanya ada dua di dunia ini.
Dan salah satunya, milik putri bungsu keluarganya yang hilang sejak kecil.
Valenzia Sforza.
---
Lapangan — Latihan Marching Band
Langit mulai berwarna keemasan. Di tengah lapangan, suara peluit dan hentakan sepatu marching band memenuhi udara. Sorak-sorai kecil terdengar dari para siswa yang sedang latihan.
Aelira berdiri paling depan—mayoret utama dengan tongkat bersinar di tangan, gerakan lincah penuh percaya diri. Keringat membasahi pelipisnya, tapi senyum di wajahnya tak pernah luntur. Tatapannya tajam, semangat membara.
Di pinggir lapangan, Ravian berdiri diam. Tangan di saku, hoodie separuh menutup kepalanya, tapi senyumnya terlihat jelas saat menatap Aelira.
Sesekali Aelira mencuri pandang ke arahnya. Mereka saling bertemu pandang sesaat.
Aelira sempat menyunggingkan senyum kecil—lalu kembali fokus.
BRAKK!!
Sebuah suara keras menghempas ke lantai lapangan. Benda berat yang jatuh dari ketinggian.
Aelira spontan menoleh cepat. Gerakan tangannya terhenti. Napasnya tercekat. Matanya membelalak.
Di sisi lapangan, tidak jauh dari deretan tiang bendera, sesosok tubuh tergeletak.
Ziva.
Tubuhnya ringkih, terkapar dengan posisi tidak wajar. Darah mulai merembes dari kepalanya—membentuk genangan merah mengerikan di bawahnya.
"ZIVAAAAA!!!" Jerit Aelira histeris, berlari mendekat.
Dia syok melihat kalungnya—yang tadi dipinjam Ziva—kini sudah berada di kepalan tangan sahabatnya yang berdarah-darah. Liontin biru itu bersinar di sela jemari yang mulai dingin.
Segalanya terasa melambat.
Suara alat musik berhenti.
Murid-murid mulai berhamburan. Ravian berlari menuju Aelira.
Sementara Ziva sudah tergeletak tidak berdaya di depan semua orang.
SMA Nusa Cendekia berubah menjadi lautan kepanikan.
---
Sirene ambulans dan mobil polisi meraung memecah udara sore yang sebelumnya dipenuhi suara marching band.
Aelira masih berlutut di sisi lapangan. Tangannya gemetar menggenggam liontin berdarah yang sebelumnya dipakai Ziva. Pupil matanya menyusut, napasnya memburu—seluruh tubuhnya menolak menerima kenyataan.
"Z-Ziva..."
Di pinggir lapangan, Alvandra berdiri mematung. Terpaku melihat semuanya.
"Tolong minggir semua!!" teriak salah satu petugas medis.
Tubuh Ziva yang lemah diangkat dengan tandu, darah masih menetes dari luka di kepala. Ambulans sudah bersiap berangkat. Aelira spontan berdiri dan berlari menyusul.
Dia langsung naik ke belakang ambulans tanpa menunggu izin. Air matanya terus menetes.
"Ziv, bertahan, please!" Di dalam, dia menggenggam tangan Ziva yang mulai dingin.
"Aelira!" Tak lama, Adit—Wakil Ketua OSIS—muncul dari kerumunan, napasnya terengah. "Gue ikut, Li!"
Tanpa ragu, ia ikut melompat naik ke ambulans.
"Tutup pintunya!" teriak paramedis.
Pintu tertutup.
Ambulans melaju, membelah jalan keluar dari gerbang sekolah.
Ravian berdiri di pinggir lapangan, terdiam. Matanya menatap ambulans yang semakin menjauh.
"Ziva..." bisiknya.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya yang ia tahu—Aelira ada di dalam ambulans itu, bersama sahabatnya yang mungkin... meninggal.
Ponselnya bergetar.
Miko: Van, syuting jam 3. Lo di mana?
Ravian tidak membalas. Dia hanya menatap layar—lalu mematikan ponselnya.
*****