Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Masa Lalu Andre
Sewaktu masih muda, Andre bukan pria alim seperti saat ini. Saat sekolah dulu, dia dikenal sebagai sosok egois, arogan, dan suka mencari masalah. Seragam yang dia kenakan tidak pernah rapi, rambutnya acak-acakan. Tatapan matanya tajam dan sinis seolah ingin menantang siapapun yang mencoba menasehatinya.
Lelaki itu sering berkumpul dengan beberapa siswa yang nakal di belakang gedung sekolah. Mereka bolos pelajaran demi merokok bersama. Terkadang mereka juga terlibat perkelahian kecil.
Berapa kali mereka mendapat surat teguran dari guru BK. Namun, nasehat atau teguran itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Mereka sangat keras kepala.
Selain menjadi murid bar-bar, Andre juga suka merendahkan siswa yang kelihatan lemah. Dia juga sering menyuruh seorang gadis yang tampak bodoh dan alim. Dia memperlakukan gadis itu seperti budak padahal dia sendiri bukan majikan.
"Heh kacung, cepetan jalannya! Lelet amat," sinis Andre sambil menatap gadis tersebut dengan kesal.
Gadis itu mencoba berjalan secepat mungkin tapi dia merasa lemas. Lututnya sudah mulai sakit padahal ini masih di anak tangga. Sementara di depan sana, Andre sudah berada di anak tangga nomor dua dari atas.
"Sabar, aku—" Belum sempat gadis itu mengatakan sesuatu, Andre malah melempari kertas ke arahnya. Lelaki itu menajamkan pandangannya.
"Cepetan!"
Saat istirahat, Andre juga mengajak gadis itu makan bersama. Bukan untuk nge date, tapi memanfaatkan gadis itu untuk membersihkan makanannya. Di lihat dari tatapan matanya, gadis itu seperti menahan lapar. Namun, Andre sama sekali tidak peduli.
"Andre, aku pergi sebentar ya. Aku mau beli makan," ucap gadis itu lembut, dia memelas pada lelaki itu.
Andre menggelengkan kepala. Dia justru memuntahkan mie yang baru saja dia kunyah ke meja. Lelaki itu menunjuk mie itu dengan sinis dan menatap gadis tersebut.
"Tidak usah beli, makan aja ini. Hemat! Kamu kan miskin, nanti kalau uangnya dipake untuk ini, kamu ga bisa bayar uang sekolah," tegur Andre. Suaranya lembut, terdengar perhatian tapi kasar, penuh sindiran.
Hal yang paling memuakkan adalah melihat makanan yang sudah dia muntahkan di atas meja. Gadis itu menahan napas. Dia memilih pingsan karena kelaparan daripada makan makanan sampah.
Saat gadis itu dibawa ke ruang kesehatan, Andre malah merasa biasa saja. Tidak ada rasa khawatir sama sekali. Bahkan rasa bersalah juga tidak ada di hatinya. Lelaki itu justru tersenyum sinis melihatnya jatuh sakit.
---
Bukan cuma Andre yang menyakiti gadis itu. Semua orang di sekolah juga ikut membully. Para siswa atau siswi, semua senang mengejek dia. Saat dia masuk ke kelas, tawa sindiran keluar menusuk hatinya.
Saat gadis itu sedang duduk tenang di taman. Dia tiba-tiba saja dikejutkan oleh seorang guru perempuan dengan raut wajah marah. Bu guru itu membawa satu panci air panas dan mengirimkannya ke arah gadis itu. Beruntung, dia berhasil menghindar sehingga air keras tidak melukai kulit cantiknya.
Bu guru itu menatap gadis itu dengan tajam.
"Kamu jadi perempuan jangan gatal sama cowo," tegurnya. Suara wanita itu sangat keras membuat telinga gadis itu seperti mau pecah.
Gadis itu berdiri sambil mengerutkan kening. "Apa maksud ibu? Saya di sini hanya belajar. Saya tidak pernah dekat sama cowo manapun," bantahnya, berusaha membela diri.
Bu guru itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel. Dia menunjukkan foto saat gadis itu sedang kelihatan dekat dengan Andre. Melihat itu, gadis itu menghela napas dan matanya sedikit berair.
"Ibu, itu Andre lagi maksa saya buat bawain barangnya!" tegas gadis itu, suaranya serak dan penuh tekanan seolah berusaha menyakinkan diri dan guru itu.
Tidak ada sahutan. Guru itu tidak langsung percaya. Dia ditinggalkan begitu saja dengan raut wajah sinis. Gadis itu menghela napas panjang sambil mengepalkan tangan.
Memang sudah kebiasaan di sekolah ini, orang akan datang merendahkan dia tanpa sebab. Saat gadis itu membela diri, tidak ada yang percaya. Bahkan dia ditinggal.
***
Suatu hari, Andre sedang balap motor. Lelaki itu mengebut tanpa ampun, membuat motornya melaju sangat cepat. Di sebelahnya, sang lawan berusaha menyalip tapi selalu gagal. Melihat itu, Andre tersenyum puas. Dia menengok ke belakang dan mengejek lawan.
Sementara itu, teman Andre dari belakang berusaha menegur lelaki itu supaya tidak ngebut agar tidak membahayakan siapapun. Namun, lelaki itu tidak mendengar dan malah makin tancap gas. Dia tidak peduli akibat dari perbuatannya ini sampai di beberapa menit terakhir, dia hampir menabrak seorang nenek-nenek.
Beruntung, gadis yang selama ini Andre bully juga ada di sana. Gadis itu dengan sigap menyelamatkan nyawa nenek itu. Dia menatap wanita tua itu dengan khawatir.
"Nek, apa nenek baik-baik saja?" tanya gadis itu lembut sambil menatap nenek itu dengan cemas.
Nenek itu tersenyum menggeleng. "Tidak apa, Cu. Nenek baik-baik saja, terimakasih," jawabnya.
Setelah menenangkan sang nenek, gadis itu pun bergegas menemui Andre yang masih tertawa bersama temannya di markas. Gadis itu dengan marah mencoba menegur lelaki itu. Dia menyiramkan sebotol air padanya.
"Andre, kamu kalau ngebut hati-hati dong! Barusan ada nenek yang hampir mati gara-gara kamu!" tegur gadis itu. Suaranya keras dan sedikit khawatir.
Mendengar itu, Andre justru tertawa. Dia menatap gadis itu dengan sinis.
"Namanya juga ngebut, aku ga peduli siapa yang ada di depanku. Ga peduli juga kalau nanti orangnya mati karena ga sengaja ketabrak aku. Karena..." Andre terdiam, menatap gadis itu dengan dalam lalu tersenyum sinis sambil menghela napas.
"Karena yang aku inginkan hanyalah kemenangan apapun caranya meski itu mengorbankan nyawa orang," tegasnya.
Melihat sikap dan mendengar Andre, gadis itu makin kesal. Dia mengepalkan tangan, matanya menyipit dan alisnya mengerut. Gadis itu menunjuk Andre dengan jemari telunjuk secara kasar.
"Kamu sudah keterlaluan, Andre! Aku akan melaporkan ini pada guru supaya kamu dihukum!"
Andre mendengar itu masih tertawa. Dia sama sekali tidak menganggap serius ucapan gadis itu. Sementara gadis itu pergi meninggalkannya.
Keesokan paginya, Andre tiba-tiba saja dipanggil oleh guru BK. Guru tersebut bukan hanya menegur tapi juga memberikan surat peringatan. Bahkan menghukum Andre dengan hukuman skors.
Andre yang mendapat hukuman dan surat peringatan menjadi emosi. Setelah keluar dari ruangan BK, lelaki itu bergegas menemui gadis yang biasa dia jadikan kacung. Gadis yang kemarin mengancam akan melaporkan ke BK.
"Kamu ... Kamu yang melaporkan aku ke BK kan?" tanya Andre, suaranya penuh interogasi.
Gadis itupun menatap sinis. "Kalau iya kenapa? Sikap kamu sudah keterlaluan."
"Jadi kenapa? Mau sok bersikap pahlawan? Kamu itu cuma kacung ku, bukan wonder woman," sindir Andre lalu meludahi wajah gadis itu.
Gadis itu menepis tangan Andre dengan cepat dan sedikit kasar. Dia menatap wajah lelaki itu dengan tajam penuh amarah.
"Tidak semua orang bisa kamu anggap mainan, Andre. Kami juga punya hati."
PLAK
Andre menampar gadis itu keras hingga membuat pipinya merah karena memar. Gadis itu menahan sakit di pipi. Sementara, Andre menatapnya tajam.
"Berani banget kamu sekarang!"
Andre terbawa emosi terus memukul gadis itu dengan kasar. Gadis itu mencoba membela diri dari serangan Andre. Namun, lelaki itu tak sengaja mendorongnya hingga jatuh dan kepalanya terbentur vas bunga yang ada di meja koridor.
Gadis itu tersungkur tak berdaya memegang belakang kepala belakangnya yang sudah berlumuran darah. Dia menatap darah itu di jemarinya dengan berkunang-kunang. Dadanya terasa sesak.
"Kamu tidak akan bisa hidup tenang lagi, Andre!" ujar gadis itu dengan suara pelan tapi tajam.
Andre diam saja, dia menatap gadis itu dengan khawatir dan sedikit rasa bersalah. Akan tetapi, ego dan kesombongan membuatnya enggan meminta maaf. Dia malah meninggalkan gadis itu begitu saja.