NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Debat Kusir di Pos Jaga

Bau bensin berbaur anyir sisa air ikan menguap dari aspal basah pelabuhan saat jarum jam merayap ke angka dua dini hari. Angin malam bertiup kencang, memukul-mukul jaket jinjingku yang mulai robek di bagian siku. Di depanku, pantat truk boks roda enam milik si Ucok bergoyang lambat, mengeluarkan tetesan air es yang mencair dari celah pintu belakangnya.

Di dalam sana, di antara gunungan es balok hancur yang menusuk kulit dan ratusan kilo ikan tongkol mata belo, Kala sedang meringkuk. Aku cuma bisa berdoa dalam hati agar cowok sombong itu tidak mendadak mengamuk karena jengkel dikelilingi bau anyir.

Aku terus membuntuti dari belakang dengan motor bebek tuaku. Suara mesinnya yang cempreng sengaja kubuat menderu agak keras untuk mengalihkan kegugupan yang mulai merayap ke tenggorokan. Begitu roda truk Ucok berbelok mendekati lampu sorot halogen putih yang menyala terang di gerbang luar pelabuhan, bulu kudukku langsung meremang.

Pos jaga Sektor Utara malam ini tidak seperti biasanya. Jumlah petugas berseragam hitam dengan logo tenggiri perak milik Baron Logistics berlipat ganda. Mereka berdiri tegak di samping palang besi otomatis, memegang senter maglite besar dan beberapa alat elektronik panjang berbentuk mirip senjata otomatis.

Truk Ucok merayap pelan, masuk ke kolong bingkai besi pemindai otomatis. Aku menahan napas, menghentikan motor bebekku tepat tiga meter di belakang ban serep truk.

Tiiit… Tiiit… Tiiit…

Bunyi aneh berfrekuensi tinggi itu mendadak memotong kesunyian malam. Di atas pos jaga, lampu indikator berbentuk kotak yang tadinya menyala hijau tenang, mendadak berkedip-kedip memancarkan warna kuning pekat.

"Woi! Berhenti! Matikan mesin!" bentak seorang petugas berbadan tegap dengan kumis tebal yang melintang. Dia memukul bodi samping truk Ucok dengan telapak tangannya. Dua petugas lain langsung maju, menyorotkan senter mereka ke arah kaca depan dan kolong roda truk.

Kepala Ucok menyembul keluar dari jendela kemudi, wajahnya pucat pasi di bawah siraman lampu halogen. "Ada apa, Komandan? Ini cuma muatan ikan tongkol langganan Pasar Atas. Manifes kargonya lengkap semua, kok!"

"Sensor biologis kami membaca ada anomali suhu dingin ekstrem di dalam boks kau ini," jawab petugas berkumis itu dengan nada ketus. Matanya menyipit penuh curiga, tangannya mulai meraba gagang alat pemindai portabel di pinggangnya.

"Dinginnya tidak wajar, melewati batas standar pembekuan es ikan biasa. Turun kau! Buka pintu belakang, kami mau bongkar muatan di dalam!"

Jantungku rasanya mau copot. Bongkar muatan?

Kalau peti kayu di barisan belakang itu dibuka dan

mereka melihat sisik perak Kala di balik tumpukan es, semuanya selesai. Otakku berputar liar. Ini saatnya mengeluarkan semua simpanan akal jalanan yang kupelajari selama bertahun-tahun jadi kurir logistik harian.

Aku memutar gas motor bebekku sampai mentok, membuat mesinnya menjerit bising, lalu sengaja memotong jalur dengan kasar. Roda depanku menyerempet tiang pembatas pos jaga, hampir saja menabrak kaki salah satu petugas.

BRAKK!

Aku sengaja menjatuhkan motor bebekku ke aspal dengan suara berdentum keras. Begitu kakiku menapak tanah, aku langsung berkacak pinggang, menunjuk muka petugas berkumis itu dengan telunjukku yang bergetar karena amarah yang sengaja kubuat-buat.

"Bah! Apa-apaan ini?! Mau bikin mati orang korang, hah?!" teriakku dengan logat Batak-Melayu yang kental, suaraku melengking tinggi membelah malam. "Main cegat, main stop saja! Kau tengok ini! Jam berapa sekarang? Jam dua lewat!

Gara-gara birokrasi Baron yang berbelit-belit macam ular kadut ini, manifes kargo paket harian kami macet total di gudang sortir!"

Petugas berkumis itu tertegun, mukanya merah padam karena kaget digertak duluan oleh seorang cewek kurir kuyu. "Heh, diam kau, Budak! Jangan cari gara-gara di sini! Kami lagi jalan tugas pemeriksaan resmi dari kantor pusat!"

"Tugas resmi kepalamu botak!" amukku makin jadi, melangkah maju dua tindak hingga jarak wajah kami cuma sejengkal. Aku sengaja menghempaskan bundelan kertas resi dekil dari kantong jaket ke atas meja pos jaga sampai berhamburan. "Korang yang punya tugas, kami kurir kecil ini yang kena getah! Gara-gara alarm sensor mainan korang yang rusak itu, truk ikan ini tertahan. Kalau truk ini tertahan, motor aku nggak bisa lewat! Kalau aku nggak bisa lewat sampai Sektor Luar sebelum subuh, potong gaji aku besok pagi! Mau kau yang bayar uang sewaku, hah? Mau kau?!"

"Woi, perempuan! Jaga mulut kau ya! Jangan bikin keributan di sini!" bentak petugas yang satu lagi, mencoba memegang pundakku.

Aku langsung menepis tangannya dengan kasar, berpura-pura histeris. "Jangan pegang-pegang! Kuteriakkan kau begal nanti ya! Biar tahu orang se-pelabuhan ini kelakuan orang Baron! Tengok itu truk si Ucok, isinya cuma ikan tongkol mati! Ikan tongkol mana ada yang hangat, hah? Namanya juga es balok, ya pasti dinginlah! Masak es balok suruh hangat macam air wedang jahe? Bodohnya pun jangan dipelihara kali, Komandan!"

Ucok yang melihat sandiwaraku langsung tanggap. Dia ikut berteriak dari atas kemudi, "Betul itu, Pak! Es balokku ini baru turun dari pabrik pembekuan Sektor Timur, masih murni belum kena angin luar! Kalau kelamaan korang bongkar di jalan begini, esnya cair, ikan tongkolku membusuk, siapa yang mau ganti rugi ratusan juta? Mau kalian patungan?!"

Suasana di pos jaga mendadak jadi riuh dan kacau. Beberapa sopir truk tangki di belakang kami mulai ikut-ikutan menekan klakson karena jalur mereka terhalang oleh motor bebekku yang melintang di aspal. Bunyi klakson bersahut-sahutan bikin telinga pekak.

Petugas berkumis tebal itu memegang kepalanya yang mulai pusing. Debat kusir di tengah malam buta dengan cewek pelabuhan yang mulutnya macam petasan mercon jelas bukan sesuatu yang menyenangkan baginya. Dia melirik lampu indikator pemindai yang masih berkedip kuning, lalu menatapku yang sudah siap-siap mau menarik kerah bajunya untuk mengamuk lagi.

"Sudah, sudah! Diam kau! Pekak telingaku dengar makian kau dari tadi!" bentak petugas itu sambil mengibaskan tangannya dengan raut wajah yang amat sangat malas. Dia memandang petugas di bagian operator pemindai. "Ah, sudahlah. Mungkin alatnya memang error kena uap es balok itu. Manifes kargonya kulihat juga bersih."

Dia beralih menatap Ucok dengan pandangan dongkol. "Cepat jalan truk kau! Jangan bikin macet di sini! Dan kau, perempuan gila, angkat motor burukmu itu dari aspal sekarang juga sebelum kupijak-pijak!"

"Nah, dari tadi begitu! Kan pintar!" sahutku ketus, masih memasang wajah cemberut paling menyebalkan sedunia meski dalam hati aku ingin sujud syukur di atas aspal.

Aku buru-buru menegakkan motor bebekku, menendang engkolnya dua kali sampai mesinnya hidup kembali dengan suara batuk-batuk yang nyaring. Palang pintu otomatis terangkat lambat.

Truk boks Ucok langsung melaju, membelah kegelapan jalan luar pelabuhan yang tidak lagi diterangi lampu sorot Baron.

Aku segera memacu motorku, mengekor tepat di bawah bayangan boks truk, meninggalkan pos jaga yang mulai menjauh di belakang kami. Begitu kami melewati batas pagar kawat luar, aku mengembuskan napas lega yang terasa sangat tipis di dada. Tanganku yang memegang stang motor masih gemetaran parah. Gertakan tadi berhasil, tapi aku tahu ini baru permulaan. Pos pemeriksaan berikutnya di dekat kolong jembatan rawa pasti akan jauh lebih ketat, dan kami tidak bisa cuma mengandalkan debat kusir jika ingin lolos hidup-hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!