Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Hari-hari setelah pertemuan itu terasa… lebih ringan bagi Kayla.
Ia masih fokus belajar, masih disiplin dengan rutinitasnya, tapi ada satu hal kecil yang berubah—ia tidak lagi selalu merasa sendirian.
Suatu siang, Kayla memutuskan untuk belajar di perpustakaan.
Ia ingat perkataan Reyhan waktu itu.
*"Aku sering di perpustakaan."*
Awalnya, ia tidak benar-benar berniat mencari Reyhan.
Ia hanya ingin suasana tenang.
Namun saat ia masuk…
ia melihat sosok itu.
Duduk di pojok, dengan buku terbuka dan wajah serius.
Reyhan.
Kayla sempat ragu.
Namun akhirnya ia berjalan mendekat.
"Kak Reyhan?"
Reyhan menoleh.
Sedikit terkejut… lalu tersenyum.
"Eh, Kayla."
"Boleh duduk di sini?" tanya Kayla.
Reyhan mengangguk.
"Tentu."
Mereka duduk berhadapan.
Awalnya hening.
Kayla membuka bukunya.
Mencoba fokus.
Namun beberapa menit kemudian…
ia berhenti.
"Kak… boleh tanya?" katanya pelan.
Reyhan langsung menutup bukunya.
"Boleh."
Kayla menunjuk soal matematika yang cukup sulit.
"Aku stuck di sini…"
Reyhan melihat soal itu.
Tidak langsung menjawab.
"Menurut kamu, langkah pertama harus apa?" tanyanya balik.
Kayla berpikir.
"Dipecah dulu mungkin…"
Reyhan mengangguk.
"Nah, coba dari situ."
Kayla mencoba lagi.
Reyhan tidak langsung memberi jawaban.
Ia hanya mengarahkan.
Dan perlahan…
Kayla menemukan cara.
"Oh… jadi harusnya gini ya…"
Reyhan tersenyum.
"Iya."
Kayla tersenyum lebar.
Perasaan itu…
menyenangkan.
Bukan karena dibantu saja…
Tapi karena ia merasa dihargai.
Tidak dianggap bodoh.
Tidak diremehkan.
Sejak hari itu, Kayla mulai sering belajar di perpustakaan.
Dan hampir selalu…
Reyhan ada di sana.
Mereka tidak selalu banyak bicara.
Kadang hanya belajar sendiri.
Kadang saling bertanya.
Namun kehadiran itu…
cukup.
Suatu sore, setelah belajar cukup lama, Kayla menutup bukunya.
"Capek ya," katanya sambil tersenyum kecil.
Reyhan tertawa pelan.
"Iya. Tapi kamu kuat juga ya."
Kayla mengangkat bahu.
"Harus."
Reyhan menatapnya sebentar.
"Kamu berubah banyak ya."
Kayla terdiam.
"Dari yang aku dengar dulu… dan yang aku lihat sekarang… beda," lanjut Reyhan.
Kayla tersenyum tipis.
"Aku juga lagi belajar jadi lebih baik."
Reyhan mengangguk.
"Dan kamu berhasil."
Kalimat itu sederhana.
Tapi membuat hati Kayla hangat.
Berbeda dari sebelumnya…
Tidak ada tekanan.
Tidak ada kebingungan.
Hanya… kenyamanan.
Suatu hari, saat mereka keluar dari perpustakaan bersama, Salsa melihat dari kejauhan.
"Eh eh eh…" bisiknya sambil nyenggol Kayla.
Kayla langsung panik kecil.
"Apa sih…"
"Itu kak Reyhan loh… sering banget ya bareng kamu sekarang."
Kayla tersenyum kecil.
"Cuma belajar bareng…"
Salsa menyipitkan mata.
"Iya… belajar."
Mereka tertawa kecil.
Namun di dalam hati Kayla…
ia mulai jujur pada dirinya sendiri.
Ia merasa nyaman.
Bukan perasaan yang meledak-ledak.
Tapi tenang.
Dan di kejauhan…
Arga melihat itu lagi.
Kayla tertawa.
Bersama orang lain.
Bukan dengannya.
Kali ini, perasaan itu lebih jelas.
Ia benar-benar merasa kehilangan.
Sementara itu…
Kayla berjalan pulang dengan langkah ringan.
Untuk pertama kalinya…
ia membuka hatinya lagi.
Perlahan.
Tanpa paksaan.
Dan mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang berbeda. Hari-hari Kayla terasa semakin tenang sejak ia mulai sering belajar bersama Reyhan. Tidak ada tekanan, tidak ada kebingungan seperti sebelumnya. Semua berjalan pelan, tapi pasti. Ia mulai menikmati rutinitasnya—belajar di perpustakaan, tertawa kecil dengan Salsa, dan sesekali berbincang ringan dengan Reyhan yang selalu bersikap tenang dan tidak memaksa.
Namun ketenangan itu… tidak bertahan lama.
Suatu siang, saat jam istirahat, Kayla sedang berjalan menuju kantin bersama Salsa. Mereka tertawa kecil membicarakan soal latihan matematika yang sempat membuat Kayla hampir menyerah semalam.
"Tapi akhirnya kamu bisa juga kan?" kata Salsa.
Kayla mengangguk sambil tersenyum. "Iya… dibantu dikit sih."
"Dibantu siapa hayo?" goda Salsa.
Kayla langsung menyenggolnya pelan. "Ih apaan sih…"
Mereka masih tertawa… sampai langkah mereka tiba-tiba terhenti.
Di depan mereka… berdiri Maya.
Bersandar santai di dekat dinding, dengan tatapan yang langsung tertuju pada Kayla.
Senyumnya tipis.
Terlalu tipis untuk terasa ramah.
Salsa langsung berhenti bicara.
Kayla menarik napas pelan.
Ia sudah bisa menebak—ini tidak akan sederhana.
"Makin sibuk ya sekarang," kata Maya membuka percakapan.
Nada suaranya ringan.
Tapi terasa… menyindir.
Kayla menjawab tenang, "Biasa aja, Kak."
Maya mengangguk kecil.
"Lihat kamu sekarang… drumband jalan, matematika jalan…" ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "teman baru juga banyak."
Kalimat terakhir itu terasa sengaja ditekan.
Kayla tidak langsung menjawab.
Salsa mulai terlihat kesal, tapi Kayla sedikit menggeleng, menahan.
"Maksud Kakak?" tanya Kayla akhirnya.
Maya tersenyum.
"Kamu sering ya bareng Reyhan."
Suasana langsung berubah.
Beberapa siswa di sekitar mulai memperhatikan.
Kayla bisa merasakannya.
Tatapan.
Bisikan.
Hal yang dulu pernah ia alami… mulai terasa lagi.
"Kami cuma belajar," jawab Kayla singkat.
Maya tertawa kecil.
"Iya… belajar."
Nada yang sama seperti yang pernah ia gunakan dulu.
Meremehkan.
Menyudutkan.
"Tapi lucu aja sih," lanjut Maya, "cepat banget kamu pindah."
Salsa langsung tidak tahan. "Kak, jaga omongan dong."
Maya melirik Salsa sebentar, lalu kembali ke Kayla.
"Aku cuma kasihan," katanya.
"Kamu itu keliatan kuat… tapi gampang banget jatuh di tempat yang sama."
Kalimat itu tajam.
Langsung ke hati.
Namun kali ini…
Kayla tidak langsung goyah.
Ia menatap Maya.
Tenang.
"Aku gak jatuh, Kak," jawabnya pelan.
Maya mengangkat alis.
"Oh ya?"
Kayla mengangguk.
"Aku cuma jalan."
Sunyi beberapa detik.
Beberapa orang mulai berhenti untuk benar-benar memperhatikan.
"Aku gak punya masalah sama Kak Maya," lanjut Kayla.
"Tapi aku juga gak mau terus-terusan dinilai dari cerita lama."
Nada suaranya tidak tinggi.
Tidak marah.
Tapi jelas.
Dan tegas.
Maya terdiam sejenak.
Seperti tidak menyangka Kayla akan menjawab seperti itu.
Namun ia belum selesai.
"Lalu Arga?" tanya Maya tiba-tiba.
Jantung Kayla sedikit berdegup lebih cepat.
"Apa kamu juga 'jalan' dari dia?"
Suasana makin panas.
Nama itu…
masih punya arti.
Meskipun Kayla sudah mencoba melangkah.
Kayla menarik napas.
"Apa yang aku lakukan… bukan urusan siapa-siapa selain aku," jawabnya.
Maya tersenyum lagi.
Tapi kali ini lebih tajam.
"Kamu yakin?"
Belum sempat Kayla menjawab…
suara lain terdengar.
"Cukup, May."
Semua menoleh.
Arga.
Ia berdiri tidak jauh dari situ.
Wajahnya serius.
Maya menatapnya.
"Kenapa? Kamu keberatan?"
Arga melangkah mendekat.
"Aku bilang cukup."
Nada suaranya tegas.
Tidak seperti biasanya.
Maya tertawa kecil.
"Wow… sekarang kamu ngebelain dia?"
Arga tidak langsung menjawab.
Namun tatapannya jelas.
"Iya."
Suasana langsung berubah.
Beberapa siswa mulai berbisik lebih keras.
Kayla terdiam.
Ini tidak ia duga.
Maya menatap mereka berdua.
Lalu tersenyum tipis.
"Menarik."
Ia mundur selangkah.
"Semoga kalian gak nyesel."
Lalu ia pergi.
Meninggalkan suasana yang masih tegang.
Salsa menghela napas panjang. "Ya ampun… capek banget ya."
Kayla tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke arah Arga.
Arga juga menatapnya.
Namun kali ini…
tidak ada yang berbicara.
Beberapa detik kemudian, Kayla berkata pelan, "Makasih."
Arga mengangguk kecil.
"Iya."
Namun Kayla tidak berhenti di situ.
"Tapi aku bisa hadapi itu sendiri."
Arga terdiam.
Lalu mengangguk lagi.
"Iya… aku tahu."
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada drama.
Hanya pengertian.
Kayla lalu berbalik dan berjalan pergi bersama Salsa.
Langkahnya tetap tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak goyah.
Di dalam hatinya…
ia sadar satu hal.
Dulu, situasi seperti ini mungkin akan membuatnya menangis.
Membuatnya ragu.
Membuatnya jatuh.
Tapi sekarang…
tidak lagi.
Karena ia sudah berbeda.
Lebih kuat.
Lebih tahu apa yang ia inginkan.
Dan lebih penting—
ia tidak lagi membiarkan orang lain menentukan nilainya.
Sementara di belakangnya, Arga berdiri diam.
Melihat Kayla yang semakin jauh.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar sadar.
Bahwa Kayla yang sekarang…
bukan lagi Kayla yang dulu bisa ia dekati dengan mudah.
Dan mungkin…
kalau ia ingin tetap ada dalam hidup Kayla…
ia harus benar-benar berubah.
Bukan hanya berkata.
Tapi membuktikan.
Dan di sisi lain, tanpa mereka sadari…
Maya berhenti di ujung koridor.
Menoleh ke belakang.
Dengan tatapan yang belum selesai.
Karena baginya…
ini belum berakhir.