NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 guncangan di balik bayangan dan penempaan menjelang badai

Udara malam di sekitar Pegunungan Jurang Bintang perlahan kembali tenang, menyisakan bau ozon dan tanah hangus. Hujan badai yang sebelumnya mengamuk telah sepenuhnya reda, tunduk pada kehendak sisa-sisa tekanan Niat Pedang yang ditinggalkan oleh Yan Xinghe. Sang Kaisar Pedang berjalan menuruni tebing kristal dengan langkah yang seolah menginjak anak tangga tak kasat mata di udara. Di punggungnya, **Pedang Berat Tanpa Bilah** yang kini menyembunyikan kebrutalan absolutnya, diam membisu di balik balutan kain kanvas sutra hitam.

Setiap langkah yang diambil Xinghe membawa ritme yang sinkron dengan detak jantung bumi. Meskipun ia baru saja melenyapkan dua master transenden **Alam Melangkah Langit** dan memotong lengan pewaris tunggal Tanah Suci Gerbang Langit Abadi, wajah pucatnya tidak menunjukkan riak emosi apa pun. Bagi makhluk fana, ini adalah pencapaian yang akan dicatat dalam epos legenda. Bagi Xinghe, ini hanyalah rutinitas kecil menyingkirkan kerikil di jalan raya menuju puncak keabadian.

Ia menoleh ke arah selatan. Di ufuk yang gelap, Ibukota Kekaisaran Naga Langit melayang angkuh di atas lautan awan, memancarkan pendaran cahaya formasi lima elemen yang gemerlap. Kota itu tampak seperti permata raksasa yang menyala di tengah lautan kegelapan, mengundang para jenius, serigala, dan naga dari seluruh benua untuk mengadu nasib di dalamnya.

"Sebulan menuju Turnamen Bintang Kekaisaran," gumam Xinghe pelan, suaranya mengalun bagai kabut es. Tangan kanannya meraba kantong penyimpanan di pinggangnya, merasakan hawa dingin dari cincin giok putih milik Gongsun Zhi dan **Plakat Kualifikasi Turnamen Bintang Kekaisaran** di dalamnya. "Waktu yang cukup untuk membiarkan kepanikan meresap ke dalam tulang-tulang mereka."

Tubuh Xinghe berkelebat. Menggunakan teknik **Langkah Bayangan Hantu** yang kini didukung oleh energi murni dari **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Kedua**, siluetnya berubah menjadi seberkas cahaya ungu-emas yang membelah malam, melesat menuju ibukota dengan kecepatan yang jauh melampaui burung spiritual jenis apa pun.

### **Kepanikan di Ibukota Atas**

Sementara Xinghe melakukan perjalanan kembali dalam keheningan, bagian atas Ibukota Kekaisaran Naga Langit tengah dilanda kekacauan berskala raksasa yang belum pernah terjadi selama seratus tahun terakhir.

Di dalam paviliun termewah di distrik pusat yang disewa khusus oleh Tanah Suci Gerbang Langit Abadi, teriakan penderitaan dan amarah meledak memekakkan telinga.

"TUTUP SELURUH GERBANG KOTA! AKTIFKAN FORMASI PELACAK KOSMIK!"

Raungan itu berasal dari salah satu tetua agung Tanah Suci yang bertanggung jawab atas keselamatan Tuan Muda. Di atas ranjang giok putih penyembuh, Gongsun Zhi terbaring dengan wajah sepucat mayat. Pundak kanannya telah dibalut dengan puluhan perban yang memancarkan cahaya spiritual, namun darah segar masih terus merembes keluar.

Para tabib suci terbaik yang didatangkan langsung dari istana kekaisaran berlutut di lantai dengan tubuh bergetar.

"A-Ampun, Tetua Agung..." seorang tabib tua dengan jubah emas kekaisaran bersujud hingga dahinya menyentuh lantai marmer. "Luka di bahu Tuan Muda Gongsun tidak disebabkan oleh senjata tajam biasa. Ada seutas energi... sebuah Niat Pedang yang luar biasa tiran dan purba, yang terus-menerus memakan jaringan daging baru. Kami tidak bisa menyambung kembali lengannya, bahkan jika kami memiliki lengan itu. Niat Pedang ini secara konstan menghancurkan regenerasi seluler!"

"SAMPAH TIDAK BERGUNA!"

Tetua Agung itu menendang tabib tua tersebut hingga terlempar menabrak pilar. Wajah Tetua Agung itu merah padam, urat-urat di lehernya menonjol seperti cacing. "Tuan Muda dari Tanah Suci kita kehilangan lengannya di wilayah pinggiran kekaisaran kotor ini! Bagaimana aku harus menjelaskan hal ini kepada Penguasa Tanah Suci?! Siapa bajingan yang berani melakukan ini?!"

Gongsun Zhi, yang kesadarannya keluar masuk karena rasa sakit yang menyiksa jiwanya, menggertakkan giginya hingga berdarah. Matanya yang dipenuhi urat merah memancarkan kebencian murni yang mengakar ke dasar neraka.

"Yan... Xinghe..." desis Gongsun Zhi, suaranya terdengar seperti gesekan dua lempeng besi karatan. "Bocah berjubah hitam... balok logam raksasa... Dia... dia memegang Niat Pedang tingkat leluhur. Cari dia... Bantai seluruh orang yang pernah melihat wajahnya! Aku menginginkan kepalanya di atas nampan emas sebelum turnamen dimulai!"

Malam itu, titah berdarah diturunkan. Ribuan Kustodian Kekaisaran dan ratusan elit Tanah Suci dikerahkan. Mereka menggeledah setiap penginapan, menyegel setiap titik teleportasi, dan menyebarkan lukisan wajah Yan Xinghe ke seluruh penjuru ibukota. Hadiah untuk informasi keberadaannya dinaikkan menjadi satu juta keping batu spiritual tingkat tinggi, sebuah angka yang cukup untuk membuat para penguasa faksi kelas satu saling bunuh.

Namun, yang tidak mereka ketahui adalah bahwa monster yang mereka cari sedang melenggang masuk melalui gerbang bawah tanah kota, sepenuhnya di luar jangkauan radar udara mereka.

### **Kembali ke Distrik Ketenangan Bayangan**

Di wilayah paling bawah dari dataran mengambang ibukota, terdapat sebuah labirin bawah tanah yang sangat luas. Ini adalah **Distrik Ketenangan Bayangan**, pusat perputaran pasar gelap, informasi rahasia, dan markas faksi-faksi dunia bawah. Udara di sini tidak dihiasi oleh awan buatan, melainkan diterangi oleh lumut-lumut kristal yang menempel di langit-langit gua raksasa.

Di sebuah kediaman bawah tanah yang sangat mewah dan dilindungi oleh tujuh lapis formasi peredam aura, Yan Xinghe melangkah masuk.

Pintu batu berat bergeser tanpa suara. Aroma teh herbal yang menenangkan menyambut penciumannya. Di ruang tengah, Yan Qingshan sedang mempraktikkan **Teknik Pernapasan Harimau Penelan Bumi**, tubuh besarnya kini memancarkan kepadatan elemen tanah yang jauh lebih solid. Di sudut lain, Shen Yulan sedang menyisir rambut Yan Xiaoxiao, wajah ibu dan anak itu tampak damai, sepenuhnya terisolasi dari badai darah di permukaan.

Melihat Xinghe masuk, Ye Ling'er yang sedang menyeduh teh langsung melompat berdiri. Wajah mungil gadis penenun informasi itu tegang.

"Penatua Yan! Kau kembali lebih cepat dari perkiraan," Ye Ling'er bergegas menghampiri, matanya memindai tubuh Xinghe yang basah namun tidak menemukan satu pun luka. Gadis itu lalu merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. "Ibukota atas sedang gila. Formasi pelacak kosmik menyapu kota setiap seperempat jam. Kudengar... kudengar Tuan Muda Gongsun Zhi kembali dengan menggunakan jimat pelarian tingkat dewa, dan dia kehilangan lengan kanannya!"

Ye Ling'er menelan ludah dengan susah payah, matanya membelalak menatap Xinghe. "Kau... kau tidak mungkin..."

Xinghe dengan santai berjalan menuju meja batu bundar dan duduk. Ia tidak menjawab secara verbal. Tangan kirinya bergerak ke balik jubah sutra hitamnya, lalu melempar sebuah benda ke atas meja.

*Bruk.*

Sebuah cincin penyimpanan berwarna putih giok dengan lambang Gerbang Langit Abadi berguling di atas meja, memancarkan fluktuasi energi transenden yang sangat pekat.

Mata Ye Ling'er nyaris copot dari rongganya. Kakinya lemas hingga ia harus berpegangan pada tepi meja. "C-Cincin penyimpanan Tuan Muda Gongsun... Kau benar-benar memotong lengannya! Astaga, Penatua Yan, kau baru saja mendeklarasikan perang terbuka dengan kekuatan tertinggi di Tiga Ribu Dunia!"

"Mereka yang mendeklarasikan perang dengan menghalangi langkahku," jawab Xinghe datar, mengambil cangkir teh yang telah diseduh Ye Ling'er dan menyeruputnya perlahan. Suhu teh itu seketika turun drastis begitu menyentuh bibirnya, dinetralkan oleh hawa dingin dari Inti Mistiknya. "Gongsun Zhi masih hidup karena jimat pelariannya. Tapi lengannya, dan semua yang ada di dalamnya, kini menjadi properti eksklusifku."

Qingshan menghentikan latihannya, berjalan menghampiri dengan wajah serius. "Xinghe, jika Tanah Suci mengerahkan seluruh kekuatan mereka, formasi persembunyian ini tidak akan bertahan lama. Apakah kita harus berpindah kota?"

Xinghe meletakkan cangkir tehnya. Pandangannya beralih menatap kakaknya dengan ketenangan yang menular. "Kakak, ibaratkan kau sedang bersembunyi dari badai. Apakah kau akan berlari ke padang terbuka, atau kau akan berdiri tepat di tengah-tengah mata badai tersebut? Ibukota ini adalah mata badainya. Saat ini, mereka sedang mencari pemuda berjubah hitam bernama Yan Xinghe yang berkeliaran di pegunungan."

Xinghe mengetukkan jarinya ke atas meja. "Namun sebulan lagi, di atas arena Turnamen Bintang Kekaisaran, seorang petarung independen bernama **Lin Xing** akan muncul. Sebelum hari itu tiba, kita tidak akan melangkah keluar dari distrik bawah tanah ini."

Ye Ling'er menenangkan ritme jantungnya yang berdebar kencang. Profesionalitasnya sebagai informan kembali mengambil alih. "Identitas 'Lin Xing' sudah kuamankan. Kau terdaftar sebagai perwakilan dari *Asosiasi Pedagang Awan Besi*, sebuah faksi dagang menengah yang memiliki hak rekomendasi. Tidak ada yang akan mencurigaimu. Tapi, Penatua Yan... untuk turnamen itu, kau tidak bisa menggunakan senjata balok logam raksasamu. Senjata itu terlalu ikonik. Begitu kau mengayunkannya, identitasmu sebagai Yan Xinghe akan terbongkar dalam hitungan detik."

Perkataan Ye Ling'er sangat logis. *Pedang Berat Tanpa Bilah* dari *Meteorit Bintang Kegelapan* memiliki tanda fisik yang terlalu mencolok.

Xinghe menatap ke arah pedang beratnya yang disandarkan di dinding. "Kau benar. Untuk turnamen ini, aku tidak akan menggunakan wujud aslinya. Aku harus menempa ulang lapisan luarnya. Dan kebetulan sekali..."

Xinghe meraih cincin giok putih milik Gongsun Zhi, lalu menggunakan Niat Pedangnya untuk membongkar paksa segel spasial yang tersisa. Dengan satu lambaian tangan, tumpukan harta karun tingkat tinggi berhamburan memenuhi ruang tengah kediaman bawah tanah tersebut.

Gunung kecil batu spiritual tingkat suci, puluhan botol pil emas yang memancarkan aroma dewa, dan ratusan gulungan teknik rahasia berserakan. Namun, mata Xinghe langsung terkunci pada sebuah kotak logam berwarna hitam keperakan di sudut tumpukan harta tersebut.

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, sebongkah material seukuran kepalan tangan memancarkan cahaya redup yang seolah menyedot seluruh cahaya di ruangan tersebut.

"**Batu Bintang Jatuh Ketiadaan**," desis Xinghe, sepasang mata gelapnya menyala oleh ketertarikan murni.

"Benda apa itu?" tanya Qingshan, merasakan hawa dingin yang menusuk tulang hanya dengan melihat batu tersebut.

"Ini adalah material pelengkap kosmik," jelas Xinghe. "Batu ini tidak memiliki kekuatan ofensif, namun ia memiliki satu sifat absolut: *Penyamaran Bentuk*. Jika dilebur bersama senjataku, batu ini akan menciptakan cangkang ilusi yang bisa mengubah bentuk dan berat visual pedangku sesuai kehendakku, tanpa mengurangi massa aslinya."

Xinghe menoleh pada Ye Ling'er. "Ling'er, apakah ada tungku penempaan tingkat tinggi di distrik bawah tanah ini yang mampu menghasilkan api setara dengan panas inti bumi?"

Ye Ling'er berpikir sejenak, lalu mengangguk lambat. "Ada satu tempat. **Tungku Api Penyucian**, dijalankan oleh seorang pandai besi eksentrik bernama Master Ku. Dia tidak tunduk pada klan kekaisaran atau Tanah Suci. Tapi tempat itu sangat eksklusif. Hanya mereka yang bisa membuktikan kekuatan mereka yang diizinkan menggunakan tungku utamanya."

"Antar aku ke sana sekarang," perintah Xinghe. "Bongkahan meteoritku sudah terlalu lama tidur. Waktunya memberinya pakaian baru untuk menyambut panggung kekaisaran."

### **Tungku Api Penyucian dan Konflik Pangeran**

Distrik Ketenangan Bayangan tidak memiliki siang dan malam, hanya keabadian lumut kristal yang berpendar redup. Ye Ling'er memandu Xinghe menyusuri lorong-lorong batu yang berliku, melewati puluhan pasar budak dan kasino bawah tanah yang dijaga oleh praktisi berwajah sangar.

Xinghe mengenakan jubah hitam baru yang bagian kepalanya dilengkapi kerudung dalam, menutupi sebagian besar fitur wajahnya. Di punggungnya, pedang beratnya masih terbungkus rapat oleh kanvas sutra hitam yang tebal.

Mereka tiba di depan sebuah bangunan yang menyerupai gunung berapi miniatur. Hawa panas ekstrem menyembur keluar dari ventilasi-ventilasi besinya, membuat udara di sekitarnya terdistorsi hebat. Di atas pintu baja raksasa, terukir kaligrafi kasar bertuliskan *Tungku Api Penyucian*.

Begitu mereka melangkah masuk, suara dentuman godam berpadu dengan raungan api menyambut mereka. Aula utama penempaan itu sangat luas, dipenuhi oleh puluhan pandai besi bertelanjang dada yang sedang memukul baja merah membara.

Di ujung aula, sebuah pintu berukir naga membatasi akses menuju tungku utama tingkat dewa. Namun, jalan menuju pintu itu sedang diblokir oleh sekelompok penjaga yang mengenakan zirah emas kekaisaran.

Di tengah barisan penjaga itu, seorang pemuda berpakaian jubah naga emas berdiri dengan sikap congkak. Ia adalah Pangeran Ketiga Kekaisaran Naga Langit, Long Tian, seorang jenius sombong di **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Pertama**.

"Katakan pada Master Ku yang tua bangka itu!" bentak Pangeran Long Tian pada seorang pelayan penempaan yang gemetar. "Aku, Pangeran Ketiga, menyita penggunaan tungku utama selama satu bulan penuh! Senjata pusaka suciku harus disempurnakan sebelum Turnamen Bintang Kekaisaran! Jika dia menolak, aku akan meratakan tempat kumuh ini dengan tanah!"

Pelayan itu bersujud ketakutan. "A-Ampun, Yang Mulia Pangeran. T-Tetapi tungku utama saat ini sedang mendinginkan intinya... Master Ku mengatakan tidak ada yang boleh menggunakannya hari ini kecuali mereka bisa mengangkat Palu Bintang di depan pintu itu."

Pangeran Long Tian melirik sebuah palu raksasa berwarna perak yang tergeletak di lantai batu di depan pintu tungku. Palu itu dikabarkan memiliki berat sepuluh ribu kati dan dipasangi formasi penekan gravitasi.

"Palu rongsokan? Kau meremehkanku!" Pangeran Long Tian melangkah maju. Lautan Dantiannya meledak, memancarkan aura naga emas yang menyilaukan. Ia mencengkeram gagang palu perak itu dengan kedua tangannya, urat-urat di lehernya menonjol hingga nyaris pecah.

*Hrrrnggh!*

Pangeran itu mengerahkan seluruh energi Inti Mistiknya. Palu perak itu bergetar hebat, lalu terangkat sejengkal dari lantai batu. Namun, formasi penekan gravitasi bereaksi. Berat palu itu tiba-tiba berlipat ganda.

*BAM!*

Palu itu jatuh kembali ke lantai, nyaris meremukkan kaki sang pangeran. Long Tian terhuyung mundur, napasnya terengah-engah, wajahnya merah padam menahan malu di depan para pengawalnya.

"B-Barang sialan! Formasinya pasti rusak!" rutuk Long Tian, menutupi kelemahannya. "Pengawal, hancurkan pintu ini! Aku akan mengambil paksa tungku itu!"

Para pengawal zirah emas segera menghunus pedang mereka, bersiap mendobrak pintu batu berukir naga tersebut.

"Sayang sekali. Kekaisaran sebesar ini dipimpin oleh keluarga yang keturunannya bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengangkat sebuah palu tukang kayu."

Suara yang sangat datar, dingin, dan sarat akan nada penghinaan mutlak itu membelah kebisingan aula penempaan.

Seluruh mata di ruangan itu serentak menoleh ke arah ambang pintu masuk. Yan Xinghe berdiri di sana, kerudung hitam menutupi sebagian wajahnya, memancarkan ketenangan yang sangat bertolak belakang dengan hawa panas ruangan.

Pangeran Long Tian membelalakkan matanya, amarahnya yang tertahan kini meledak sepenuhnya. Sebagai Pangeran Kekaisaran, ia adalah representasi dari langit itu sendiri di wilayah ini. Dihina oleh seorang pemuda antah berantah di pasar bawah tanah adalah tamparan yang tak bisa dimaafkan.

"Siapa anjing liar yang berani menggonggong di hadapanku?!" raung Long Tian. "Pengawal! Cincang mulutnya! Jadikan dia bahan bakar untuk tungku penempaan!"

Sepuluh pengawal elit kekaisaran yang berada di **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Puncak** melesat maju secara serempak. Mereka memegang tombak emas, bergerak dalam formasi militer yang sangat mematikan, mengunci semua titik pelarian Xinghe.

Ye Ling'er yang berdiri di belakang Xinghe mundur dua langkah, namun matanya tidak menunjukkan kepanikan. Ia tahu apa yang akan terjadi ketika sekelompok manusia fana mencoba menantang naga yang sesungguhnya.

Xinghe tidak mencabut pedang berat di punggungnya. Ia hanya melangkah maju satu langkah dengan santai. Tangan kanannya menjulur ke depan, lalu ia menekan telapak tangannya ke bawah.

**"Seni Penekan Langit: Penundukan Absolut."**

*BOOOOOM!*

Bukan serangan fisik yang menghantam para pengawal itu, melainkan sebuah medan gravitasi spiritual berskala masif yang memancar murni dari kepadatan **Inti Mistik Tingkat Kedua** milik Xinghe. Tekanan itu sepuluh kali lipat lebih berat daripada yang ia gunakan di gerbang kota.

Udara di dalam aula penempaan seolah-olah mengeras menjadi balok timah transparan. Sepuluh pengawal elit kekaisaran itu bahkan tidak sempat menyentuhkan ujung tombak mereka. Tubuh berzirah emas mereka dipaksa tengkurap ke lantai batu dengan suara benturan yang mengerikan.

*KRAK! KRAAAK!*

Lantai batu vulkanik di bawah mereka amblas membentuk cetakan tubuh mereka. Beberapa pengawal langsung memuntahkan darah segar dan pingsan seketika, tulang rusuk mereka retak di bawah tekanan aura sang Kaisar Pedang.

Seluruh pandai besi di aula berhenti memukul godam mereka. Rahang mereka jatuh. Sepuluh elit kekaisaran dilumpuhkan hanya dengan satu isyarat tangan.

Pangeran Long Tian membeku di tempatnya. Hawa dingin merayapi tulang belakangnya, menghapuskan seluruh sisa kesombongan darah naganya. Ia menyadari bahwa pemuda berjubah hitam ini bukanlah praktisi biasa; tekanan auranya setara dengan monster-monster tua yang menjaga ruang rahasia istana.

"K-Kau... berani menyerang pengawal kekaisaran?! Ayahandaku Kaisar tidak akan mengampunimu!" Long Tian melangkah mundur dengan kaki gemetar.

Xinghe mengabaikan Pangeran itu sepenuhnya. Ia melangkah santai melewati para pengawal yang merintih di lantai, berjalan lurus menuju Palu Bintang perak raksasa yang tergeletak di depan pintu tungku utama.

Pangeran Long Tian, yang merasa dirinya sama sekali diabaikan, merasa terhina melebihi batas. Ia merogoh cincin spasialnya, mengeluarkan sebilah pedang pusaka, dan berniat melancarkan serangan pengecut dari belakang saat Xinghe lengah.

"Jangan bergerak, Yang Mulia. Kecuali kau ingin kepalamu menggelinding menyusul pengawalmu."

Suara Xinghe bahkan tidak meninggi, namun Niat Pedang yang terkandung di dalamnya mengunci tepat di leher Long Tian. Sensasi jutaan jarum tak kasat mata yang menusuk kulit lehernya membuat Pangeran itu menjatuhkan pedangnya dengan bunyi gemerincing yang menyedihkan. Ia mematung, tidak berani bernapas.

Xinghe berdiri di depan Palu Bintang seberat sepuluh ribu kati tersebut. Ia menunduk, tangan kanannya mencengkeram gagang peraknya.

Tidak ada ledakan energi Dantian. Tidak ada raungan aura spiritual. Xinghe murni menggunakan daya tahan dan kepadatan fisik dari **Tubuh Fana Tanpa Cacat** miliknya.

*WUSH!*

Dengan satu tarikan santai, Xinghe mengangkat palu raksasa itu seolah-olah ia sedang memungut sebatang ranting kayu kering. Formasi penekan gravitasi di palu itu menyala terang, mencoba melipatgandakan beratnya, namun lengan Xinghe tidak bergetar satu milimeter pun.

Ia memutar palu raksasa itu di udara dengan satu tangan, menciptakan pusaran angin kencang yang memadamkan beberapa tungku api kecil di sekitarnya, lalu meletakkannya kembali ke lantai dengan gerakan yang sangat terkontrol tanpa menimbulkan suara benturan keras.

"Kontrol beban yang sempurna... Sebuah pertunjukan yang luar biasa dari seorang pemuda."

Sebuah suara serak dan tua terdengar dari balik pintu berukir naga. Pintu batu itu bergeser terbuka perlahan, menyingkap sesosok pria tua kerdil dengan janggut putih panjang yang dikepang, mengenakan celemek kulit yang hangus di beberapa bagian. Dia adalah Master Ku, pandai besi legendaris Distrik Ketenangan Bayangan.

Master Ku menatap Xinghe dengan mata yang berbinar penuh minat. Ia melirik sekilas ke arah Pangeran Long Tian yang sedang gemetar ketakutan, lalu mendengus kasar.

"Pangeran Ketiga, silakan bawa anjing-anjing pengawalmu keluar dari bengkelku. Aturan adalah aturan. Pemuda ini telah mengangkat Palu Bintang, tungku utama adalah miliknya malam ini."

Long Tian tidak berani membantah. Tekanan Niat Pedang Xinghe telah menghancurkan seluruh keberaniannya. Ia memutar tubuhnya, memerintahkan sisa pengawalnya yang masih sadar untuk menyeret rekan mereka yang terluka, lalu lari terbirit-birit keluar dari Tungku Api Penyucian seakan dikejar hantu. Dendam mengakar kuat di hatinya, ia bersumpah akan membalas penghinaan ini di Turnamen Bintang Kekaisaran kelak.

Xinghe tidak mempedulikan pelarian serangga fana tersebut. Ia melonggarkan ikatan tali kulit di dadanya, lalu melepaskan *Pedang Berat Tanpa Bilah* dari punggungnya, membiarkannya menghantam lantai batu dengan dentuman keras yang meretakkan lantai aula.

*DUAAAAR!*

Master Ku membelalakkan matanya melihat balok logam hitam yang dibungkus kanvas tersebut. Sebagai maestro penempaan, instingnya langsung mengenali material kosmik yang tidak masuk akal di balik kain sutra itu.

"Ini... massa jenis yang tidak wajar," gumam Master Ku, melangkah maju mendekati pedang berat Xinghe. "Anak muda, material apa yang kau bawa ini? Api dunia fana ini mungkin tidak akan sanggup melelehkan permukaannya."

Xinghe membuka kerudung hitamnya, menatap Master Ku dengan pandangan datar. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kotak hitam keperakan berisi **Batu Bintang Jatuh Ketiadaan** hasil jarahan dari Tuan Muda Gongsun Zhi.

"Aku tidak memintamu untuk melelehkannya, Master Tua," ucap Xinghe tenang, menyerahkan kotak batu tersebut. "Aku hanya menyewa tungkumu untuk memanaskan pedang ini ke tingkat suhu puncaknya. Setelah itu, aku akan meleburkan batu ilusi ini ke bagian luarnya. Turnamen Bintang Kekaisaran akan segera dimulai... dan pedang kaisar ini membutuhkan topeng yang sempurna sebelum ia mencicipi darah para dewa di ibukota ini."

Master Ku mengambil kotak itu dengan tangan gemetar. Ia menatap Xinghe dengan pandangan pemujaan artistik yang fanatik. Penempaan senjata tingkat dewa akan segera terjadi di bengkelnya, dan rahasia yang akan ditempa malam ini akan menjadi kunci dari badai yang meruntuhkan tatanan Kekaisaran Naga Langit. Sang Kaisar Pedang bersiap merajut panggung kematiannya dengan kesempurnaan mutlak.

1
indrawanto djiwanto
bukannya si gongsun sudah dibantai di chapter 39, kok muncul lagi di chapter 40
Daryus Effendi
membosan isi dikit penjelasan nanyak dan panjang
Joe Maggot Curvanord
cincin perampok ga di ambil thor
Jojo Shua
😄😄
Jojo Shua
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!