NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Pelukan Dewa malam itu terasa begitu erat, seolah seluruh berat dunia mendadak runtuh di atas pundaknya dalam hitungan detik. Aira bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu liar di balik kaus tipisnya.

Kamar megah yang beberapa menit lalu dipenuhi sisa-sisa kehangatan pesta ulang bulan Arka, kini berubah senyap, menyisakan deru angin malam yang bergesekkan dengan kaca jendela.

"Mas... kamu menakutiku," bisik Aira, suaranya teredam di dada bidang Dewa. Kedua tangannya perlahan naik, mengusap punggung Dewa yang terasa begitu tegang. "Siapa yang menelepon? Ada masalah di kantor?"

Dewa menarik napas panjang, menahan getar di dadanya. Perlahan, ia melonggarkan pelukannya, namun kedua tangannya tetap menangkup pipi Aira.

Ia menatap lekat-lekat mata bening istrinya, mencoba menyembunyikan badai yang baru saja berkecamuk di dalam kepalanya.

"Bukan apa-apa, Ai. Cuma... ada sedikit masalah di salah satu proyek kerja sama kita di London," ucap Dewa, mencoba tersenyum, meski senyuman itu terlihat begitu getir dan dipaksakan di mata Aira. "Hanya salah paham komunikasi dengan investor asing. Maaf ya, aku malah membuatmu kaget."

Aira menatap suaminya sangsi. Sepanjang mengenal Dewa, baik saat pria itu masih menyamar menjadi kuli bangunan maupun setelah kembali menjadi CEO Pradipta Group, Dewa tidak pernah se-panik ini hanya karena urusan angka atau investor.

Namun, melihat guratan lelah dan kecemasan yang mendalam di wajah suaminya, Aira memilih untuk tidak mendesak. Sebagai seorang istri, ia tahu kapan harus menjadi tempat bersandar tanpa perlu banyak bertanya.

"Mas... kalau ada masalah besar, bicarakan denganku, ya? Kita sudah janji untuk melewati semuanya bersama-sama," ucap Aira lembut, menggenggam pergelangan tangan Dewa yang masih bertengger di pipinya. "Sekarang, Mas mandi air hangat dulu. Biar pikirannya lebih tenang."

Dewa mengangguk pelan, mengecup kening Aira dengan penuh khidmat seolah itu adalah perlindungan terakhirnya dari dunia luar. "Iya, Sayang. Aku mandi dulu."

Saat tubuh tinggi Dewa menghilang di balik pintu kamar mandi, Aira berbalik menatap ponsel suaminya yang tergeletak pasrah di atas meja rias. Layarnya sudah gelap, namun firasat seorang istri tidak bisa dibohongi.

Ada sebuah rahasia besar yang baru saja mengetuk pintu kehidupan mereka, dan instingnya mengatakan bahwa ini bukanlah tentang bisnis semata.

Keesokan paginya, suasana tegang semalam seolah menguap begitu saja ketika matahari terbit. Kediaman Pradipta kembali ke setelan pabrik, penuh dengan kehebohan, komedi situasi, dan tentu saja, perebutan perhatian sang pangeran kecil, Arka.

Baru saja jam menunjukkan pukul tujuh pagi, pintu kamar utama sudah diketuk dengan ritme yang sangat tidak santai.

"Dewa! Aira! Jagoan Oma sudah bangun belum? Ini Oma sudah bawa mainan baru lagi!" suara melengking Nyonya Widya memecah keheningan koridor lantai dua.

Dewa yang sedang mengancingkan kemeja kerjanya menghela napas panjang sambil menatap Aira yang sedang memakaikan kupluk rajut pada Arka di atas ranjang.

"Ai, tolong bilang pada Mama, kalau dia terus-menerus membelikan Arka mainan setiap hari, kita harus membangun satu gedung mall khusus hanya untuk menyimpan barang-barang Arka."

Aira tertawa renyah. "Bilang saja sendiri, Mas. Memangnya Mas berani memprotes keputusan Nyonya Besar?"

Dewa mendengus pasrah. Begitu pintu dibuka, Nyonya Widya langsung menerobos masuk tanpa permisi.

Penampilannya pagi ini luar biasa mencolok, mengenakan setelan daster sutra impor bermotif macan tutul lengkap dengan bando pita besar di kepalanya. Di belakangnya, Hans mengekor sambil membawa tiga kotak besar berlogo toko mainan internasional.

"Aduh, cucu Oma yang paling ganteng, paling wangi, paling kaya se-Jakarta Raya!" Nyonya Widya langsung menyambar Arka dari dekapan Aira tanpa memedulikan putranya yang berdiri tegak seperti patung selamat datang. "Lihat, Oma bawakan kolam bola mini yang bisa keluar gelembung sabun organik dari Jerman! Hebat, kan?"

"Ma," Dewa menyela, melipat kedua tangannya di dada. "Arka itu baru empat bulan. Belum bisa duduk tegak sendiri, apalagi main mandi bola di dalam kolam dari Jerman."

Nyonya Widya melirik Dewa dengan tatapan meremehkan dari balik kacamata bacanya. "Dewa, kamu itu tahu apa tentang tumbuh kembang anak? Ini namanya stimulasi dini! Anak CEO Pradipta Group harus distimulasi dengan teknologi Eropa sejak bayi, supaya nanti kalau besar tidak kaku seperti papanya."

"Tapi tidak perlu setiap hari juga, Ma. Sejak Arka lahir, Mama hampir tidak pernah pulang ke rumah Mama sendiri. Rumah ini sudah penuh dengan barang bayi," protes Dewa lagi, mencoba membela wilayah kekuasaannya yang kian tergerus.

"Lho, suka-suka Mama dong! Rumah ini kan juga dibangun pakai uang keluarga Pradipta, dan Arka adalah pewaris tunggalnya. Kalau kamu merasa kesempitan, kamu saja yang pindah ke kantor!" sahut Nyonya Widya ketus namun jenaka, sambil sibuk menciumi pipi gembul Arka yang malah sibuk tertawa kegirangan seolah mendukung omongan omanya.

Aira yang berdiri di sudut kamar hanya bisa menutup mulutnya agar tawanya tidak meledak. Pemandangan seorang CEO bertubuh tegap yang tidak berkutik di depan ibunya yang berdaster macan tutul selalu menjadi hiburan komedi gratis terbaik setiap pagi.

~~

Sebelum berangkat ke kantor, Dewa bersikeras ingin mengambil alih tugas memakaikan minyak telon dan bedak pada Arka setelah bayi itu selesai dimandikan oleh Aira. Ia ingin membuktikan pada ibunya bahwa ia adalah seorang papa yang cekatan dan mandiri.

"Sini, Ai. Biar aku saja. Aku sudah melihat video tutorialnya di internet semalam. Ini masalah gampang," ucap Dewa penuh percaya diri sambil menggulung lengan kemeja putihnya yang mahal.

Aira menyerahkan botol minyak telon dan bedak bayi dengan senyum penuh arti. "Hati-hati, Mas. Jangan terlalu banyak tuang bedaknya."

Dewa meletakkan Arka di atas changing table. Arka yang sedang aktif-aktifnya mulai menendang-nendangkan kakinya ke udara, membuat Dewa sedikit kewalahan.

"Oke, Jagoan. Diam sebentar ya, Papa mau pasang minyak kehangatan dulu," gumam Dewa.

Ia membuka tutup botol minyak telon. Namun, karena tangannya yang terbiasa memegang pulpen mahal sedikit licin, botol itu tergelincir dari genggamannya.

Sreeett!

Minyak telon itu tumpah, bukan ke perut Arka, melainkan langsung membanjiri bagian depan kemeja kerja Dewa, menyisakan noda basah yang besar dan aroma herbal yang sangat menyengat.

"Astaga!" Dewa memekik kaget.

Belum sempat Dewa mengatasi masalah minyak telon, tangannya yang panik tidak sengaja menyenggol botol bedak bayi yang terbuka di dekatnya. Arka yang merasa gemas dengan botol itu langsung menendangnya dengan kuat.

Pufff!

Seketika itu juga, kepulan asap putih tebal membubung di udara kamar. Kamar utama Pradipta mendadak seperti tertutup kabut musim dingin. Ketika kabut bedak itu perlahan turun, Aira yang berdiri di ambang pintu langsung terduduk di lantai sambil memegangi perutnya yang kram karena tertawa terlalu keras.

Wajah Dewa penuh dengan bedak putih, rambut klimisnya kini berubah abu-abu seperti kakek-kakek, dan kemeja mahalnya kini bermotif kombinasi noda minyak dan taburan bedak yang berantakan.

Sementara itu, Arka justru bertepuk tangan kecil sambil mengoceh riang, sangat puas melihat hasil karya seninya pada wajah sang papa.

Nyonya Widya yang kebetulan lewat di depan kamar langsung berhenti dan melongo. "Astaga, Dewa! Kamu mau ke kantor atau mau main pantomim di lampu merah? Kenapa wajahmu jadi seperti itu?"

Dewa menatap ibunya dan istrinya bergantian dengan wajah datar yang tertutup bedak tebal. Ia mengusap matanya yang kelilipan bedak. "Ini... ini namanya teknik penyamaran, Ma. Biar Arka tidak bosan melihat wajah papanya yang terlalu tampan setiap hari."

"Alasan saja kamu! Sudah, sana ganti baju! Biar Aira yang urus Arka. Kamu itu merusak pemandangan saja!" usir Nyonya Widya sambil tertawa terpingkal-pingkal bersama Aira.

Dewa berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai, menggerutu pelan tentang betapa tidak adilnya hukum gravitasi dan bedak bayi terhadap wibawa seorang CEO.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Yunita Asep
jngn ad pelakorr ya..
ρυтяσ kang'typo✨
siapa kah tuan'Arthur itu???? masih sodarah kah atau musuh masa lalu🧐
ρυтяσ kang'typo✨
ini g di ulang kan ya🧐kek familiar
Yunita Asep
lucunya y,.. lanjuutt...
Yus Nita
bukan yg jd kk ny si Aira y...
yg di paksa menikah karena adik ny sisia mau menikah duluan. dan melangjahi kakak ny oamali.
tapi sekarang kok siska yg jd kakak.
aneh ny..
Yus Nita
apa kabar tuch dengan surya dan anak songong ny si Siska, msh bernaffas ksh... 😁😁😁
Yus Nita
Aira yg malang
di buang klrga, sendiri, tak di skui klrga susmi
ρυтяσ kang'typo✨
ya Allah 🤣🤣🤣🤣lucu sekali... g kebayang, apa itu Dewa???🤣🤣🤣mau ke kantor malahan jadi badut di depan Arka
Patrish
ada apa gerangan.....semoga dapat dilalui dengan baik
Yunita Asep
thorr bukannya Aira itu kakaknya Siska ya, kn waktu nikahan Siska, Aira lebih dulu di nikahkan..
Yunita Asep
lanjutkan...
Yunita Asep
/Rose//Rose//Rose/
Yunita Asep
ya betul itu , setuju... lanjut thorr...
Yunita Asep
kok Siska masih manggil ppa y, bukannya dulu ayah...
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
ach g kuat😭😭😭terharu...

dan detik berikut q di bua deg"n oleh othor, apa kebahagiaan mereka akan hancur dengan kedatangan masa lalu Dewa
ρυтяσ kang'typo✨
ini nama'y sama kek sebelah juga ya thor... hanya saja disini Arvin sebagai ipar kalo disono dia pemeran utama
ρυтяσ kang'typo✨
ko ya nyesek setelah tau Arvin juga sedih begitu😌😌🥺🥺teryata mereka sama" tersiksa ya dengan keadaan (demi masa depan)
Lilik Juhariah
bagus ceritanya ,🤣🤣🤣 dewa sama mama bikin ketawa
Theresia Sri
saya suka gaya ceritanya, tulisannya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!