Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Ketukan Tongkat dan Tamu dari Paris
Lantai empat puluh lima Vancort Tower pagi ini dipenuhi oleh aroma ketegangan yang berbeda. Setelah kesuksesan besar di pameran JCC kemarin, Kirei mengira dia bisa sedikit bernapas lega. Namun, sebuah pemberitahuan darurat dari Maya membuat kemeja sutra champagne yang dia kenakan hari ini terasa mendadak kaku.
Brak.
Pintu jati ruang kerjanya terbuka perlahan, bukan dengan hentakan kasar seperti yang biasa dilakukan Vaxerion, melainkan dengan ketukan teratur dari sebuah tongkat kayu jati berkepala perak murni.
Seorang pria lanjut usia melangkah masuk dengan setelan jas wol klasik berwarna biru dongker. Tuan Adrian Mahendra. Kakek kandung Vaxerion itu memiliki garis wajah yang sangat tegas, rambut memutih yang disisir rapi, dan sepasang mata jernih yang memancarkan wibawa tingkat tinggi—jenis mata tua yang sanggup membaca kebohongan manusia hanya dalam sekali tatap.
Di sebelah kanan Tuan Adrian, berjalan Bianca dengan senyuman kemenangan yang sangat manis namun menyimpan racun pekat. Sementara di sebelah kirinya, seorang gadis muda berambut pendek dengan setelan blazer kasual berwarna pastel melangkah santai sambil mengunyah permen karet—Keyra Atmadewa.
Kirei langsung bangkit berdiri dari kursi marmernya, memasang topeng CEO-nya yang dingin, angkuh, dan tidak tersentuh dalam waktu satu detik. "Tuan Adrian Mahendra. Sebuah kehormatan besar menerima kedatangan pemegang takhta tertinggi Mahendra Motors di kantor saya."
Tuan Adrian tidak langsung menjawab. Dia duduk di sofa kerja Kirei setelah dipersilakan, menopang kedua tangannya di atas kepala tongkat peraknya. Pandangan matanya yang tajam langsung mengunci wajah cantik Kirei dari atas ke bawah, menilai kelayakan wanita yang dikabarkan telah membuat cucu kesayangannya bertekuk lutut.
"Aku datang bukan untuk membahas sistem operasi ponselmu, Nona Zhaklyn," suara Tuan Adrian berat, dalam, dan dipenuhi penekanan yang menekan dada. "Aku datang karena Bianca membawa berkas audit legalitas masa lalu keluargamu dari Paris. Keluarga Mahendra tidak pernah menerima kerikil tajam dari pinggiran rel kereta untuk masuk ke dalam silsilah tatanan old money kami."
Bianca melangkah maju, melempar sebuah map dokumen ke atas meja marmer Kirei dengan gerakan anggun yang sangat meremehkan. "Kirei... kamu pikir dengan merayu Vaxerion di taman malam-malam, kamu bisa menutupi fakta kalau ibumu pergi karena depresi dan ayah kandungmu sendiri sekarang mendekam di sel karena spionase?"
Pembalasan dari Bianca dan Mirna ini sengaja dibawa langsung ke hadapan sang kakek untuk menghancurkan posisi Kirei sebagai calon istri Vaxerion. Suasana ruangan mendadak sedingin es, mencekik leher Maya yang berdiri gemetaran di dekat pintu.
Kirei mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan rasa perih yang nyata bergejolak di dadanya. Namun, sebelum Kirei sempat melontarkan kalimat tajam untuk membalas, Keyra Atmadewa yang sejak tadi diam mendadak tertawa renyah, memecah ketegangan kaku di ruangan itu.
"Aduh, Bianca... kamu jauh-jauh terbang dari Paris cuma buat bawa kliping koran gosip begini ke hadapan Kakek?" Keyra melirik map itu dengan pandangan meremehkan yang sangat telak, membuat Bianca langsung menoleh kaget. Keyra bangkit berdiri, berjalan mendekati meja Kirei, lalu menatap Kirei dari dekat. "Gua akui, selera Vaxerion kali ini emang gila. Nona Kirei ini seratus kali lebih cantik dan punya otak daripada model-model Prancis pajanganmu itu."
"Keyra! Jaga bicaramu!" desis Bianca dengan wajah yang mulai memerah menahan malu karena disindir di depan Tuan Adrian.
"Kenapa? Gua cuma bicara fakta," Keyra mengedipkan sebelah matanya secara jahil ke arah Kirei, memicu rasa heran sekaligus getaran cemburu yang aneh di dada Kirei karena kedekatan gadis baru ini dengan Vaxerion.
Brak!
Pintu ruangan kembali terbuka dengan hentakan keras. Vaxerion Mahendra melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Pria dua puluh tujuh tahun itu tampil luar biasa tampan dengan setelan jas hitam formalnya yang membungkus sempurna tubuh tegapnya yang atletis. Wajah tegasnya malam ini memancarkan aura dingin mematikan begitu melihat kakeknya dan Bianca duduk di ruangan Kirei.
Vaxerion mengabaikan keberadaan Bianca dan Keyra sepenuhnya. Langkah kakinya yang kokoh membawanya berjalan lurus, berdiri tegap di sebelah kursi Kirei—menjadi benteng pelindung yang memotong jalur pandang Tuan Adrian.
"Kakek," suara berat Vaxerion berdesis rendah, namun gaungnya sarat akan ancaman yang membuat seisi ruangan senyap total. "Aku sudah pernah bilang, siapa pun yang berani mengusik ketenangan Kirei di gedungnya sendiri, artinya sedang menantangku. Termasuk Kakek."
Tuan Adrian mendongak, menatap cucu kesayangannya dengan alis tebal yang menyipit. "Kamu berani menentang tongkatku demi gadis pinggiran ini, Vaxerion?"
Vaxerion tidak berkedip sedikit pun. Tangan besarnya yang hangat perlahan turun ke bawah meja, menggenggam erat telapak tangan Kirei yang sejak tadi mendingin menahan emosi. Sentuhan kulit yang begitu protektif dan kokoh itu seketika menyalurkan gelombang ketenangan yang meluluhkan seluruh kecemasan Kirei.
Vaxerion memajukan tubuh tegapnya, menatap kakeknya langsung di mata dengan ketulusan yang tulus dan pekat. "Aku tidak sedang menentang Kakek. Aku sedang menegaskan hukumku. Aku mencintai ketangguhannya, aku menghormati setiap luka di masa lalunya, dan seluruh kekayaan tersembunyi yang kupunya di konsorsium global... semuanya akan kugunakan untuk menghancurkan siapa saja yang mencoba membuatnya menangis. Bawa Bianca keluar dari sini, Kakek, sebelum aku sendiri yang membekukan seluruh aliran dana Mahendra Motors sore ini."
Mendengar rayuan romantis yang dibungkus perlindungan yang tulus dan nekat dari pria setampan Vaxerion di depan kepala keluarga besarnya, Kirei merasakan dadanya bergetar hebat oleh rasa terharu yang teramat sangat. Di depan kendala baru dan ketukan tongkat old money yang menakutkan, Vaxerion kembali pasang badan tanpa memedulikan takhtanya sendiri.
Tuan Adrian terdiam selama beberapa detik, menatap genggaman tangan Vaxerion dan Kirei yang begitu erat, sebelum akhirnya bangkit berdiri sambil mengetukkan tongkat peraknya ke lantai. Pembalasan (face-slapping) berkelas dari sang cucu yang membuat wajah Bianca pucat pasi menahan malu luar biasa karena rencananya gagal total malam ini.