Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Kalau semua data yang mereka berikan valid, menurut Kanisha, kerja sama ini layak dijalankan." Tatapannya kembali jatuh pada berkas di depannya. "Malah bisa menjadi salah satu langkah terbesar Winata Group dalam beberapa tahun ke depan."
Rendra menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Senyumnya semakin lebar karena pagi itu ia semakin yakin bahwa putrinya benar-benar telah kembali. Bukan hanya kembali ke kantor, bukan hanya kembali duduk di kursi wakil pimpinan, tetapi kembali menjadi Kanisha Rayya Shanika yang dulu. Wanita cerdas yang selalu mampu melihat peluang di balik setiap tantangan. Dan tanpa mereka sadari, keputusan yang baru saja diambil pagi itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Saat suasana mulai tenang kembali, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponsel Rendra yang tergeletak di atas meja.
Ting.
Rendra secara refleks mengambil ponselnya.
Awalnya ia mengira hanya laporan transaksi rutin perusahaan namun beberapa detik kemudian dahinya mengernyit.
"Hm?"
Kanisha yang sedang membuka laptopnya langsung menoleh.
"Ada apa, Pa?"
Rendra tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada layar ponselnya. Alisnya semakin berkerut sementara ekspresinya berubah bingung, heran kemudian curiga yang membuat Kanisha mulai penasaran.
"Apa ada masalah, papa?"
Rendra mengangkat ponselnya.
"Sebentar." Matanya masih membaca detail transaksi tersebut. Nominalnya tidak kecil bahkan sangat besar. Puluhan juta rupiah untuk satu transaksi. "Aneh." Gumamnya yang membuat Kanisha akhirnya berdiri dan menghampiri meja ayahnya.
"Memangnya ada apa pa?"
Rendra memutar layar ponselnya
danmenunjukkannya kepada Kanisha.
"Ini."
Kanisha melihat layar ponsel itu lalu membeku. Notifikasi pembayaran kartu kredit, nama pemegang kartu, Kanisha Rayya Shanika, Nominal transaksi yang sangat fantastis dan deskripsi pembeliannya membuat alis Kanisha ikut berkerut.
Luxury handbag purchase, itu adalah brand terkenal untuk produk tas branded. Beberapa detik mereka sama-sama diam, hingga akhirnya Rendra yang pertama berbicara.
"Papa nggak pernah lihat kamu beli tas semahal ini."
Kanisha masih menatap layar ponsel papanya hingga wajahnya perlahan berubah serius.
"Kapan transaksinya?"
"Tadi pagi." Jawab Rendra. "Baru masuk beberapa menit lalu."
Kanisha kembali melihat detailnya. Semakin lama semakin aneh karena ia tahu satu hal kalau ia sama sekali tidak pernah membeli tas itu.
"Papa." Suara Kanisha terdengar pelan.
"Hm?"
"Kanisha nggak pernah beli tas ini."
Rendra langsung menoleh.
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin." Jawab Kanisha tanpa ragu.
Rendra kembali melihat layar ponselnya lalu melihat putrinya kemudian melihat ke layar ponselnya lagi. Suasana mendadak menjadi hening untuk beberapa detik, tak ada yang berbicara sampai akhirnya sesuatu muncul di benak Kanisha. Dan dalam sekejap wajahnya berubah. Perubahan itu begitu jelas hingga Rendra langsung menyadarinya.
"Kanisha?"
Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapannya mulai mendingin lalu sebuah ingatan muncul. Kartu kredit tambahan yang dulu ia berikan, yang selama bertahun-tahun digunakan Arven, yang belum pernah ia tarik kembali dan masih berada di tangan mantan suaminya. Jari Kanisha perlahan mengepal dan untuk pertama kalinya sejak melihat transaksi itu, ia akhirnya memahami semuanya. Suaranya terdengar sangat pelan namun cukup jelas untuk didengar Rendra.
"Pa..." Rendra menatapnya sementara Kanisha tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Kanisha tahu siapa yang pakai kartu itu."
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin karena Kanisha tidak membutuhkan waktu lama untuk menyimpulkan satu hal. Arven masih menggunakan kartu kredit miliknya dan jika transaksi itu benar untuk pembelian tas mewah, maka besar kemungkinan tas tersebut bukan untuk dirinya, melainkan untuk wanita yang selama ini menjadi selingkuhan Arven.
Kanisha masih berdiri di samping meja kerja ayahnya. Tangannya masih mengepal sementara tatapannya tertuju pada layar ponsel yang masih menampilkan detail transaksi tersebut. Puluhan juta rupiah untuk sebuah tas dan tas itu diperuntukkan seorang wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya. Entah kenapa kali ini bukan kesedihan yang muncul di dalam dirinya melainkan kemarahan. Karena semalam ia sudah menangisi Arven sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa, hari ini berbeda.
Hari ini pikirannya jauh lebih jernih dan justru karena itulah Kanisha bisa melihat semuanya dengan lebih jelas. Selama ini ia terlalu banyak memberi, terlalu banyak mengalah, terlalu banyak memanjakan sampai Arven bahkan tidak sadar bahwa sebagian besar kenyamanan yang selama ini ia nikmati berasal dari dirinya. Dari keluarganya, dari keluarga Winata.
Kanisha menarik napas panjang lalu perlahan mengembuskan nya, berusaha menjaga emosinya tetap terkendali. Namun semakin ia melihat nominal transaksi itu, semakin dingin tatapannya. Karena sekarang ia tahu sesuatu.
Arven bahkan masih menggunakan fasilitas miliknya setelah menghancurkan hidupnya.
Setelah berselingkuh, setelah menjatuhkan talak, setelah mempermalukannya. Pria itu masih merasa berhak menggunakan uangnya, masih merasa berhak menggunakan fasilitas yang berasal dari keluarganya.
Dan yang paling membuat Kanisha muak, uang itu digunakan untuk menyenangkan Selena. Wanita yang menjadi selingkuhan selama bertahun-tahun. Kanisha akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Rendra.
"Pa."
Rendra langsung memperhatikan putrinya.
"Iya?"
"Blokir kartu itu."
Tidak ada keraguan dalam suaranya, tidak ada emosi berlebihan, justru ketenangan itulah yang membuat kalimat tersebut terdengar jauh lebih serius. Rendra terdiam sesaat kemudian mengangguk pelan.
"Papa juga berpikir begitu."
Kanisha kembali melihat layar ponsel milik papanya.
"Lakukan hari ini, pa."
Rendra memperhatikan ekspresi putrinya. Biasanya Kanisha akan ragu, akan memikirkan perasaan Arven, akan mencari alasan untuk memaafkan Arven, namun kali ini tidak. Sama sekali tidak. Yang berdiri di depannya sekarang adalah Kanisha yang berbeda. Kanisha yang mulai belajar memisahkan rasa cinta dari harga dirinya dan sebagai ayah, Rendra diam-diam merasa lega melihat perubahan itu.
"Baik." Jawabnya tegas. "Papa urus sekarang juga."
Kanisha mengangguk, namun beberapa detik kemudian ia kembali berbicara.
"Pa."
"Hm?"
Kali ini sorot mata Kanisha berubah lebih serius seolah ada sesuatu yang baru saja terlintas di pikirannya.
"Sebenarnya Kanisha mau tanya satu hal." Tanya Kanisha yang membuat Rendra mengangkat alisnya.
"Tanya apa?"
Kanisha terdiam beberapa saat untuk memilih kata-kata yang tepat sebelum dikatakan kepada papanya, lalu akhirnya ia berkata pelan.
"Soal perusahaan keluarga Mahendra."
Nama itu langsung membuat Rendra memahami arah pembicaraan mereka. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kenapa dengan perusahaan mereka?"
Kanisha menatap ayahnya.
"Apakah papa masih membantu perusahaan mereka?"
Pertanyaan itu membuat Rendra terdiam sesaat. Bukan karena bingung melainkan karena ia tidak menyangka putrinya akan menanyakan hal tersebut. Selama ini Kanisha tidak pernah ikut campur, tidak pernah bertanya, bahkan nyaris tidak pernah membahasnya karena fokusnya selalu Arven, selalu ditujukan kepada keluarga Mahendra dan bukan bisnis keluarga Winata. Namun sekarang, Kanisha bertanya sebagai seorang pebisnis dan bukan sebagai istri Arven dan membuat Rendra akhirnya menghela napas pelan lalu menjawab dengan jujur.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️