Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADU URAT
Lingga langsung keluar kamar dengan membawa foto itu, ia mencari Tania dengan berteriak. Bahkan membuka kamar sebelah dengan kasar, siapa tahu Tania masuk ke kamar tersebut. Ternyata Tania berada di ruang tamu, berniat tidur di sofa mungkin. Lingga sudah diliputi emosi, langsung melempar foto USG itu. "Kamu hamil? Anak siapa? anak lelaki itu? Kenapa kamu jadi murahan begini Tania," teriak Lingga dengan mata memerah, terlihat sekali kalau dia sangat marah.
Tania diam, dan bangun sembari memungut foto USG tersebut. "Bilang, siapa yang menanam benih dalam dirimu?" tuntut Lingga sembari mencengkram lengan Tania, dan menguncang tubuh kurus perempuan itu. "Jawab! Jangan diam saja! 4 tahun kita tidur bersama tapi kamu tidak pernah lepas dari pil KB, kamu tidak mau mengandung anakku, tapi sekarang kita putus. Kamu bahkan dengan mudah mau ditiduri lelaki lain sampai hamil begini! Bangsa*, kamu cewek bangsa*! Bahkan lebih rendah dari Calista!" ucap Lingga masih dengan intonasi tinggi.
Air mata Tania ia tahan sekuat tenaga, jangan sampai ia kelepasan mengungkap siapa penanam benihnya. Ia tak mau hidupnya makin ribet. Ia ingat ucapan Yovi, ancaman papa Lingga, Tania hanya ingin hidup tenang, dan lepas dari Lingga. Ia mau meneruskan kehamilan ini sendiri.
"Bukan urusan kamu!" pada akhirnya Tania menghempaskan tangan Lingga tak kalah kasar. "Hidupku sudah tidak ada kaitannya dengan kamu, sekarang kamu keluar dari rumahku!" ucap Tania dengan tenang, tapi pedas menusuk hati Lingga.
Lingga tersenyum muak, "Bisa kamu mengusir aku, tanpa memberi penjelasan?"
"Bisa. Dan aku tak ada kewajiban buat menjelaskan ke kamu!" Tania memasang wajah datar, dan terkesan dingin.
"Kamu tahu kamu benar-benar menyakitiku Tania, sumpah. Aku menjaga agar tetap menjaga diri dan hati, tapi kamu membalasnya dengan begitu menjijikkan. Kita pisah belum setahun, kamu sudah hamil dengan lelaki lain. Bangs*t!" Lingga hampir saja menampar Tania, namun tangannya hanya terangkat saja, masih waras sehingga tak sampai ada kekerasan pada perempuan itu.
Tania menatap sendu pada Lingga, tak tega. Dirinya saja melihat Lingga berciuman dengan Calista, marah sekali, dan sekarang Lingga berpikir Tania hamil dengan lelaki lain, pasti sangat hancur. Sampai hampir lepas kendali. "Pulanglah, Ngga. Aku hamil atau tidak, aku hamil anak siapa, biarlah hanya aku yang tahu!"
"Kalau saja aku tega, mungkin mulutmu akan aku robek agar mengaku anak siapa yang kamu kandung!" ucap Lingga dengan tatapan tajam dan memerah. "Pantas saja kamu enggan sama aku, ternyata kamu sudah hamil anak laki-laki lain."
"Pulang, Ngga! Semakin kamu ke sini, semakin membuatku pusing."
"Biasanya laki kamu datang ke rumah ini kapan? Aku ingin bertemu?" pinta Lingga, dan bisa ia pastikan kalau bertemu langsung baku hantam.
"Keluar. Aku tak mau ada keributan!" jelas Tania tak kalah emosi.
Lingga menggeleng, tak menyangka perempuan lemah lembut yang ia kenal dan cintai bisa berubah sedingin ini padanya. "Sekali aku keluar. Aku tidak akan menganggap kamu sebagai perempuan yang aku cintai lagi!"
"Keluar!" pinta Tania tanpa mau melihat Lingga lagi. Lingga diam, berat untuk menuruti perintah Tania. Hatinya masih tak terima perempuan yang ia cintai sudah disentuh oleh lelaki lain.
"Kenapa gak kamu gugurkan? Setelah itu kalau kamu mau hamil, aku bisa menghamili kamu, Tania!"
"Urus saja istri dan keluarga toxic kamu, Ngga!"
"Sok sok an menyudutkan istri dan keluargaku, nyatanya kamu yang breng*ek!" ucap Lingga pelan, tapi berhasil menusuk hati Tania.
Perempuan itu langsung memejamkan mata, air matanya buru-buru ia hapus, tak kuat mendengar tuduhan Lingga padanya. "Keluar, Ngga!"
"Baik, aku akan keluar! Urusan kita belum selesai, aku tunggu kamu memberi penjelasan!"
"Dan sampai kapan pun aku tidak akan menjelaskan kehamilanku ini padamu!"
"Maka aku yang akan cari sendiri laki-laki itu, atau bahkan akan aku bunuh sekalian!" ucap Lingga dan tak berselang lama, pintu rumah Tania ditutup dengan kasar. Tania segera menguncinya. Ia menangis dan meluruhkan badannya ke lantai.
"Ini anak kamu, Ngga. Kamu ayah anak yang sedang aku kandung. Sampai detik ini, hanya kamu laki-laki yang pernah menyentuhku, Ngga. Aku gak pernah mengkhianati kamu!" gumam Tania menyesakkan hati, air matanya jatuh tak terkira.
Sedangkan Lingga tak langsung pergi, ia menunggu di mobil, menunggu pagi untuk menemui lelaki depan rumah Tania. Ia akan bertanya tentang kehamilan sang kekasih. Yah, hanya pria itu yang dicurigai Lingga sebagai kekasih Tania.
Lingga menguatkan diri untuk tidak tidur, matanya terlalu awas melihat rumah Salman. Begitu pagi menjelang, Salman keluar rumah dengan kostum lari, Lingga langsung menghampirinya.
"Aku ingin bicara dengan kamu!" ucap Lingga to the point, tanpa basa-basi. Salman sedikit kaget, ia mengingat siapa lelaki ini.
"Urusan apa? Apakah saya mengenal Anda sebelumnya?" tanya Salman memastikan, lupa-lupa ingat, bertemu di mana, mungkin saja pasien yang pernah ia periksa.
"Saya pacarnya Tania!" ucap Lingga tegas.
Salman menganggukkan kepala, baru ingat sekarang. Kemudian Salman mempersilahkan Lingga masuk ke teras rumahnya. "Ada apa?" tanya Salman to the point.
"Kamu laki-laki yang menghamili Tania?" tanya Lingga dengan tatapan tajam. Sedikit kaget, tapi Salman berusaha menyembunyikan ekspresinya.
"Tania mengaku begitu kah? Kalau iya, ya gak pa-pa sih," jawab Salman santai dan ambigu.
"Jawab yang tegas kalau kami laki-laki!" protes Lingga, sudah tak sabar ingin memberikan bogeman pada wajah ganteng Salman.
"Kamu dan aku tak ada kaitan apapun. Tak ada kewajiban bagiku menjelaskan apa hubungan aku dengan Tania, karena kalian bukannya sudah putus juga! Kalau Tania mengaku aku ayah bayi dalam kandungannya, ya anggap saja itu benar!"
Lingga sudah di ambang batas kesabaran, ia langsung berdiri dan mencengkram jersey Salman. "Aku dan Tania belum putus, dia saja yang gata* hingga mau hamil anak kamu!"
Salman tak tinggal diam, ia menghempaskan cengkraman itu. "Lebih baik putus memang, karena kamu juga tak bisa mempercayai atau bahkan mengenal Tania sejauh apa. Biarkan Tania bersamaku saja, karena mungkin saat bersamamu, dia tak punya masa depan, eh ada sih, masa depan suram!" ucap Salman tak kalah ketus, dan langsung keluar dari rumahnya, segera jogging.
Lingga memejamkan mata, rasanya ingin menghancurkan apapun di depannya sekarang. Ia pun kembali ke dalam mobil, ingin tahu Tania berangkat kerja bersama siapa.
Tania keluar dengan menuntun motor maticnya, sedikit kaget karena mobil Lingga masih di depan rumahnya. Gegas ia starter motor dan menganggap Lingga tak ada.
"Sudah cukup aku meladeni kamu tadi malam, Ngga. Akan aku buat kamu membenciku, agar hidupku tenang dan damai bersama anakku!" harap Tania.
GO go Tania semangat