Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Batal Nikah
Ibu Nan Wei dan yang lainnya pulang untuk makan siang, mereka sengaja tidak makan di pondok, karena mereka penasaran dengan apa yang Nan Wei lakukan dengan Minyak tersebut.
Dan reaksinya sama seperti Kakak ipar pertama, mereka semua tak menyangka rasanya begitu enak.
"Ibu bagaimana menurutmu? Kita jual minyak atau jual kentang goreng?" tanya Nan Wei.
Sebenarnya dia bisa melakukan sendiri tanpa persetujuan dari mereka semua. Tapi dia hanya ingin menebus kesalahan pemilik tubuh dengan cara berbakti.
Ibu Xia menatap Nan Wei dengan tatapan penuh rasah syukur. "Nak, bagaimana jika kita coba menjual kentang gorengnya, kalau tidak laku, kita beralih ke Minyak!"
"Oh baiklah, mari kita lakukan seperti itu!" ucap Nan Wei.
"Tapi menjual minyak sangat beresiko.!" Sela Kakak kedua yang bernama Xia Sanlang.
Seketika semua mata memandangnya, mereka menatap Xia Sanlang dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun, tidak dengan Nan Wei, dia sudah tahu apa yang Xia Sanlang khawatirkan.
"Kakak kedua apa maksudmu?" tanya Ayah Xia dengan nada khawatir. Karena Xia Sanlang adalah orang yang berpengalaman kerja di kota.
Jadi bisa dikatakan, Xia Sanlang lebih mengetahui selak beluk di kota.
"Jika kita menjualnya, pasti ada orang yang menyelidiki dari mana asalnya. Jika kita tetap tutup mulut, keluarga kita dalam bahaya!" jelasnya dengan serius.
Semua terdiam, ini bukan masalah sepele. Ini masalah hidup dan mati mereka satu keluarga.
"Jangan khawatir! Aku sudah ada rencana!" kata Nan Wei memecah keheningan.
Semua mata memandang Nan Wei dengan mata penuh harapan. Semenjak mengetahui Nan Wei pernah bermimpi bertemu dengan Guru Agung, mereka tidak akan pernah meragukan ucapannya.
"Nak bagaimana rencanamu?" tanya Sang ibu mewakili yang lainnya.
"Belum bisa dikatakan sekarang, aku harus ke kota terlebih dahulu untuk melihat situasi, apakah rencanaku bisa dilakukan atau tidak!" jelas Nan Wei.
"Oh benar. Kita tidak boleh terlalu terburu-buru, agar orang lain tidak curiga!" ucap Ibu Xia.
"Ya. Untuk sementara jangan sampai ada orang yang lain tahu.!" timpal Ayah Xia.
Semua mengangguk mengerti, ini adalah kesempatan keluarga mereka untuk menjadi lebih baik setelah bertahun-tahun hidup susah.
Bahkan Anak sulung Xia Sanlang yang sudah berumur 17 tahun belum menikah. Dan hal itu membuatnya jadi malu untuk berbaur di luar.
Anak Sulung Xia Sanlang seorang gadis yang bernama Xia Lingzi. Tahun lalu dia batal menikah, karena tunangannya tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk membatalkan pernikan.
Karena tunangannya sudah ingin menikah, tapi Xia Lingzi belum memiliki mas kawin, yang membuat orang tua pria membatalkan pernikahan mereka saat itu juga, tanpa memberi keluarga Xia satu kesempatan.
"Oh iya. Orang-orang Desa sedang membicarakanmu!" ucap Kakak ipar Kedua yang sangat senang mendengar berita dari luar.
Pulang dari ladang, dia melewati sekumpulan Ibu-ibu yang sedang duduk di bawah pohon besar, dan ternyata pembahasan mereka tentang perubahan sikap Nan Wei.
"Apa yang mereka ceritakan tentangku?" tanya Nan Wei penasaran. Pasalnya, dia baru beberapa hari di zaman itu, dirinya belum melakukan sesuatu yang bisa mengguncang mereka semua.
"Kamu jangan khawatir! Mereka sudah tahu jika kamu tidak jadi jahat lagi." jelas Kakak ipar kedua yang bernama Rungyu.
Nan Wei terdiam sejenak lalu mengangguk, karena dia sudah memperlihatkan sikapnya yang berbeda di depan teman Zhao Yu.
"Hmm tidak masalah!"
"Ya, jangan dipikirkan! Mereka hanya kurang kerjaan. Jadi kapan kamu mau ke kota?" tanya Ibu Xia.
"Besok pagi!"
Mereka semua mengangguk setuju, dan Nan Wei meminta Kelapa yang sudah tua segera dibuat minyak kembali, jika tidak bisa dijual di kota masih ada kota lain, atau bahkan di Ibu Kota.
Ibu Xia segera membagi tugas, tapi karena kelapa itu masih di ladang, mereka semua tetap pergi bersama. Dan yang akan membantu Nan Wei untuk mengaduknya adalah Kakak ipar pertama.
...----------------...
Keesokan harinya, Nan Wei sudah bersiap untuk ke Kota. Saat ini dia berada di rumah orang tuanya untuk mengambil kentang yang sudah dia bungkus menggunakan kertas minyak.
"Yuyu, Kamu jangan pergi main terlalu jauh!" kata Nan Wei sambil mengusap kepala anaknya.
"Baik Bu..!" balasnya dengan nada sedih, karena dia tidak diperbolehkan untuk ikut.
"Jangan sedih ya? Ibu ke kota untuk mencari uang, agar Yuyu bisa beli baju baru dan permen!"
Mendengar baju baru, mata Zhao Yu berbinar terang. Dia sudah membayangkan seperti apa dirinya jika menggunakan baju baru.
"Baik Ibu, aku tidak sedih lagi. Ibu kamu harus cepat pulang!" katanya dengan tidak sabar.
"Ya. Ibu akan cepat pulang!" Nan Wei bertekad bagaimanapun caranya, semua kentangnya harus menghasilkan uang.
Dia tidak tega melihat wajah anaknya yang penuh harapan sirna karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
***
Setelah beberapa menit, Nan Wei berangkat ke kota bersama dengan anak pertamanya. Karena Zhao Xu akan menjadi pedagang yang sukses saat dewasa nanti.
Tapi yang jadi masalah, semua hasil kerja kerasnya harus dibagi dengan Istri baru Ayahnya, karena alasan balas budi.
Padahal, jika ingin dihitung. Balas budi mereka sudah lebih dari cukup. Tapi wanita itu mengancam akan merusak reputasinya jika tidak menuruti kemauannya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu untuk menikmati hasil jerih payah mereka bertiga!" katanya dalam hati.
Xia Nan Wei dan Zhao Xu berjalan ke arah gerbang Desa. Dia menunggu para warga ke ladang, agar jalan tidak terlalu ramai.
"Zhao Xu! Apa kamu pernah ke kota?" tanya Nan Wei.
"Pernah, tapi itu sudah sangat lama!" balasnya sambil tersenyum pahit. Karena dia tidak lagi pernah ke kota semenjak ibunya sering menghukum mereka.
Nan Wei hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Di luar gerbang Desa, sudah ada gerobak sapi sedang menunggu penumpang.
Nan Wei mendapat 10 koin tembaga dari Kakak ipar pertamanya, dan uang itu di kumpulkan untuk mas kawin anaknya Xia Lingzi.
Jarak tempuh ke kota menggunakan gerobak sapi sekitar 40 menit. Dan setelah menunggu sampai matahari terbit, mereka segera berangkat, meski gerobaknya tidak penuh.
Karena masih ada satu gerobak lagi yang akan berangkat sekitar jam 8. Jadi Kedua gerobak itu, bergantian setiap hari untuk berangkat lebih awal.
"Nan Wei, aku dengar-dengar kamu tidak menghukum anakmu lagi?" tanya seorang ibu paruh baya secara langsung.
Zhao Xu ingin menegur, tapi Nan Wei menghentikannya. Ini adalah saatnya untuk mencari muka di depan mereka semua.
Apalagi dengan Ibu tersebut, karena wajahnya langsung terlintas di pikirannya. Itu menandakan, jika pemilik tubuh sangat akrab dengannya.
"Bibi Song! Apa yang kamu katakan itu benar! Aku sudah sadar, jika perbuatanku selama ini sangat jahat. Jadi aku tidak akan melakukannya lagi. Bibi, terima kasih karena sudah sering mengingatkanku, jika aku akan menyesal jika tidak menghentikannya.!"
"Ahh syukurlah kalau kamu sudah menyadari kesalahanmu lebih awal. Bibi hanya takut, kamu mengalami hal yang sama dengan wanita di Desa sebelah!"
"Bibi apa yang dialami wanita itu?" tanya Nan Wei dengan wajah penasaran, entah sejak kapan dia mulai suka bergosip.
Melihat Nan Wei dan beberapa penumpang lainnya penasaran, membuat Bibi Song makin bersemangat untuk bercerita.
"Wanita itu jadi gila. Karena anaknya mati setelah dihukum berlutut dibawa terik matahari selama sehari tanpa makan dan minum!"
"Waahh ada cerita seperti itu?"
"Astagaa, dia memang pantas jadi gila!"
"Ya ya.. Wanita itu menyesal, apalagi dia tahu jika dirinya tidak bisa hamil lagi!" lanjut Bibi Song.
Zhao Xu hanya diam menunduk, tapi telinganya mendengar semua pembicaraan mereka, tangannya terkepal, dan dia sangat bersyukur Ibunya sudah tidak menghukum mereka lagi.
.
.
.
.