Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perawan
Setelah membayar obat, Raisa keluar dari rumah sakit. Langkahnya masih pelan saat menuju lobby.
Matanya langsung menangkap sosok Evan yang berdiri di dekat mobil.
"Aku bisa pulang sendiri," ucap Raisa dingin tanpa menatapnya.
Evan memperhatikan cara jalan Raisa yang sedikit tidak nyaman, lalu menghela napas membuka pintu mobil kemudinya.
"Jalan kamu aja kayak gitu," katanya pelan. "Ayo, aku anterin pulang. Habis itu aku langsung ke rumah mami."
Raisa masih diam, jelas tidak mau. Namun tiba-tiba suara klakson dari mobil di belakang terdengar nyaring.
TIN… TIN…
Evan sedikit menoleh ke belakang, lalu kembali ke Raisa.
"Ayo masuk dulu," ujarnya. "Daripada dimarahin orang."
Raisa akhirnya menurut, membuka pintu dan duduk… di kursi belakang.
Evan menatap lewat kaca spion, sedikit mengernyit.
"Di depan dong," ucapnya. "Aku bukan supir kamu."
Raisa menghela napas kesal, lalu pindah ke kursi depan tanpa bicara.
Mobil pun mulai melaju.
"Mau sarapan apa?" tanya Evan, mencoba mencairkan suasana.
"Gak lapar," jawab Raisa singkat.
Namun beberapa detik kemudian.
"Kruyuk… kruyuk…"
Evan menahan senyum, melirik ke arah Raisa.
"Itu bunyi apa, tuh?" godanya ringan.
Raisa langsung memalingkan wajah, pura-pura tidak dengar.
Evan terkekeh pelan.
"Udah, kita beli sarapan aja," lanjutnya. "Nanti makan di rumah kamu. Mau apa? Bubur, soto, atau bakmie?"
Raisa masih menatap ke luar jendela.
"Terserah…" jawabnya dingin.
Evan mengangguk pelan, tapi kali ini ada sedikit senyum di wajahnya.
Evan melirik Raisa sekilas, lalu membelokkan mobil ke deretan penjual makanan pagi.
"Itu ada nasi campur Bali," ucapnya santai. "Mumpung ada yang jual… kamu suka, kan?"
Raisa langsung menoleh, sedikit kaget.
"Kamu tahu dari mana makanan kesukaan aku?"
Evan tersenyum tipis.
"Dari Aditya."
Ia lalu menurunkan kaca mobil.
"Bu, nasi campurnya dua ya."
"Baik, Pak," jawab penjual.
Setelah membayar, Evan kembali menjalankan mobil.
Beberapa saat hening, sampai akhirnya.
"Mas…" panggil Raisa pelan.
Evan melirik.
"Kenapa, Sa?"
Raisa menunduk sejenak, lalu berkata dengan suara tegas tapi lirih,
"Kita anggap kejadian semalam… nggak pernah ada."
Evan mengernyit.
"Bagaimana mungkin?" jawabnya pelan. "Bahkan… darah perawan kamu semalam masih ada di speri putih kamar kamu."
Raisa langsung menggigit bibirnya, gelisah.
"Mas… kalau sampai mami kamu tahu gimana?" suaranya mulai bergetar. "Aku nggak mau semuanya makin rumit. Apalagi… dia kemarin nyalahin aku karena ngizinin mas Aditya keluar kota … sampai akhirnya dia meninggal ditusuk orang…"
Evan menghela napas panjang.
"Kematian Aditya itu musibah," katanya tegas tapi tenang. "Nggak ada yang tahu. Itu sudah takdir Tuhan."
Raisa masih ingin bicara.
"Tapi, mas—"
"Sttt…"
Evan mengangkat telunjuknya, menyentuh bibir Raisa, menghentikan ucapannya. Suasana mendadak hening dan tegang.
Raisa terpaku sesaat.
Evan menatapnya dalam, lalu tanpa banyak kata mendekat mencium bibir Raisa.
"Mmmh…" Raisa terkejut, refleks mendorong dada Evan.
Namun sesaat kemudian, ia membalas dengan menggigit pelan bibir Evan.
"Ahh… kamu nakal juga ya, gigit bibir mas," ujar Evan sambil sedikit menjauh, mengusap sudut bibirnya yang terasa perih.
Raisa memalingkan wajah, pipinya memerah.
"Habis mas duluan yang macam-macam…"
Evan tersenyum tipis, matanya masih menatap Raisa.
"Kamu semalam juga menikmati—"
"Stop!" potong Raisa cepat. "Jangan dibahas lagi."
"Iya… mas nggak akan bahas lagi," ucap Evan santai. "Tapi nanti malam… aku masih boleh nginep, kan?"
"Mas!" Raisa langsung menoleh, matanya membesar. "Mas ini serius ngomong kayak gitu?"
Evan terkekeh pelan, sengaja menggoda.
"Kenapa? Takut kejadian semalam keulang?"
Raisa langsung memalingkan wajah, pipinya memerah.
"Bukan gitu!" balasnya cepat. "Pokoknya nggak boleh. Itu udah kesalahan, mas."
Evan menghela napas, masih dengan senyum tipis.
"Yaudah… bercanda."
Raisa mengernyit, menatapnya curiga.
"Mas ini suka banget bercanda yang nggak lucu."
Evan melirik sekilas.
"Siapa tahu kamu malah kangen."
"Mas!" Raisa hampir berteriak, benar-benar kesal sekarang.
Evan akhirnya mengangkat tangan, tanda menyerah.
"Oke, oke… nggak lagi."
Raisa menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
"Jangan ulangin lagi, mas. Aku serius."
Evan mengangguk pelan.
"Iya… tapi aku gak janji abis punya kamu bikin candu."
Namun tatapannya sekilas ke arah Raisa menyiratkan bahwa perasaan dan keinginan di antara mereka belum benar-benar selesai.
Raisa menatap ke depan saat mobil mulai melambat di depan rumah.
"Eh… itu bukannya mobil mami kamu?" ucapnya tiba-tiba, nada suaranya berubah tegang.
Evan ikut melihat ke arah yang sama, alisnya langsung berkerut.
"Iya…" jawabnya pelan. "Ngapain mami pagi-pagi ke rumah kamu?"
Raisa langsung panik, napasnya sedikit memburu.
"Mas… jangan-jangan dia tahu sesuatu…"
Evan menggeleng cepat, mencoba tetap tenang.
"Nggak mungkin. Kita juga baru—" ia menghentikan ucapannya.
Raisa menelan ludah.
"Perasaan ku kok jadi nggak enak…"
Evan mematikan mesin mobil, matanya masih tertuju ke rumah.
"Kita turun aja dulu. Lihat situasinya gimana."
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya