Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Gangguan tak terduga.
Malam itu akhirnya keputusan sudah bulat, mereka memilih makan malam di pujasera sekitar pasar. Jill dengan menu sate dan gulai kambing, sedangkan Bang Reigar memesan menu ikan tuna sambal dabu.
Tapi, malam yang tenang kembali memanas saat Jill melirik menu makan malam Bang Reigar.
"Itu enak?" Tanya Jill penasaran.
"Enak." Jawab Bang Reigar singkat saja dan sudah menghabiskan setengah piring nasi dalam beberapa detik. Ia sudah tau sekarang Jill sedang melirik ikan tuna sambal dabu miliknya. "Mau??"
Jill mengangguk mantap. Bang Reigar yang tidak tega langsung menyuapi istrinya. Meskipun jengkel karena kelakuan istrinya, tapi ia tetap menyuapinya bahkan sampai menghabiskan nasi di piring ke dua.
"Terus siapa yang habiskan sate dan gulai kambingmu??" Tanya Bang Reigar dengan sengaja.
"Abang saja, ya. Mubadzir kalau tidak di habiskan. Lagian belum Jill sentuh juga." Kata Jill tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Tak banyak kata dari Bang Reigar, ia hanya kembali memesan lagi ikan tuna sambal dabu dan meminta pedagang menu kambing untuk membungkus makanan milik Jill.
"Abang benar nggak mau gulainya?"
"Nggak. Saya makan ikan saja daripada kamu celaka." Jawab Bang Reigar serius. Wajahnya datar saja seolah mengabaikan hadirnya Jill disana.
"Celaka apa sih?? Jadi laki kok overprotective." Gerutu Jill sambil terus bergumam.
Bang Reigar masih dengan santai menghabiskan menu makan malamnya. Yang jelas ia tidak ingin banyak menggubris ocehan istrinya yang sedang membeo.
Hanya butuh beberapa menit saja, dua piring nasi sudah berpindah posisi ke lambung Bang Reigar.
Setelah membersihkan tangan, ponselnya berbunyi. Kening Bang Reigar berkerut membaca pesan singkat dari 'utusannya'' yang mengurus permasalahan perusahaan milik Jill.
Bersamaan dengan itu, Jill juga nampak syok berat membaca pesan singkat di ponselnya.
Bang Reigar segera menuju kasir lalu mengajak Jill pergi dari tempat tersebut.
~
"Apa... apa maksud semua ini?" gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Pesan-pesan itu berisi laporan mendadak dari staff bagian logistik dan juga surat peringatan resmi dari perusahaan mitra penampung hasil perusahaan tambang milik Jill.
'Seluruh muatan bahan batubara mentah senilai miliaran rupiah yang seharusnya dikirimkan, hilang tanpa jejak di tengah perjalanan. Kontrak dilanggar, dan perusahaan Jill dituntut ganti rugi besar-besaran.'
Jill masih terpaku di tempat, air matanya sudah menggenang menatap layar ponsel dalam genggamannya.
"Abang... ini... Jill terkena masalah yang sangat besar. Ada barang yang hilang, dan perusahaan penampung itu menuntut ganti rugi sama Jill. Mereka bilang Jill dengan sengaja ingkar janji, tidak mengirim barang tersebut, padahal Jill sudah bilang Kak Medina untuk mengurus semuanya sampai tuntas, ada tanda tangan elektronik juga. Katanya barang sudah aman dikirim, tapi sekarang......"
Wajah Jill begitu pucat, Bang Reigar paham ini adalah kali pertama Jill terjun langsung dalam dunia bisnis setelah hak miliknya kembali padanya. Tapi.. Jill tidak pernah tau bahwa perusahaan penampung yang kini sedang menuntutnya itu adalah perusahaan milik suaminya sendiri.
"Tidurlah, tidak usah banyak pikir. Nanti Abang cari akal untuk menyelesaikan." Bujuk Bang Reigar agar Jill sedikit lebih tenang.
"Abang mana tau bisnis. Abang biasa pegang senjata, bukan pembukuan. Jadi pebisnis itu berat, Abang nggak akan sanggup mikirnya." Jawab Jill masih gelisah dengan keadaan perusahaan dan juga dirinya saat ini.
Bang Reigar menggeleng gemas, ia adalah pemilik tunggal perusahaan raksasa yang menjadi rekanan sang istri, perusahaan yang telah dimiliki keluarganya secara turun temurun namun ia sengaja menyembunyikan identitasnya di balik nama perwakilan. Namun di balik itu semua, Ia adalah seorang perwira militer yang sangat disegani, memiliki jaringan pekerjaan dan kuas yang luas hingga luar negeri. Ia sengaja merahasiakan semua itu agar Jill bisa tumbuh dan mengelola usahanya sendiri dengan percaya diri, tanpa bayang-bayang nama besarnya.
Namun rencana diam-diamnya itu kini malah menjadi bumerang. Karena ia tidak tau bahwa perusahaan yang menjadi rekan kerja Jill juga adalah miliknya sendiri, anak tim hukumnya bekerja sesuai prosedur standart dan langsung mengajukan tuntutan resmi saat kewajiban kontrak tidak sesuai dengan kesepakatan kerja.
Kini Jill menyandarkan punggungnya dengan kasar di kursi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata mulai membasahi pipinya yang halus.
"Sekarang Jill harus apa, Bang. Abang jangab belaga bisa. Jill saja tidak tau harus berbuat apa." Kepala Jill rasanya pusing tujuh keliling.
"Truk pengangkut batubara bukan truk kecil. Mau di simpan di manapun lintas Borneo pasti akan ketahuan juga. Gudang orang?? Perusahaan lain?? Semua berijin khusus, nggak bisa sembarang mangkal. Besok juga pasti ketemu." Ujar Bang Reigar terdengar santai karena dirinya pun 'penguasa wilayah' perusahaan tersebut.
Pikiran Jill melayang, rasanya ia tak sanggup berpikir jernih. Wajahnya sudah sedemikian pucat.
"Kenapa mereka jahat sama Jill?? Bagaimana kalau Jill di penjara?? Jill takuut..!!" Katanya.
"Percayalah, Abang yang akan mengatasinya."
"Apa kuasa Abang?? Menjadi suami pemilik perusahaan pun tidak akan cukup untuk menyelamatkan Jill dari masalah, apalagi Abang seorang tentara. Jill juga paham bahwa tentara tidak boleh berbisnis." Sambar Jill.
"Itu benar, tapi tetap ada pengecualian tertentu. Militer memang memiliki aturan yang ketat tapi militer juga tidak memberatkan anggotanya. Salah satu pengecualian yang ada adalah tidak mengganggu jam dinas para anggota itu sendiri." Jawab Bang Reigar memberi pengertian pada Jill.
"Jill benar-benar nggak tenang, Bang."
Bang Reigar hanya mengusap puncak kepala Jill. Istrinya kecilnya itu lalu bersandar pada bahu Bang Reigar seakan mengadukan bahwa dirinya sungguh-sungguh merasa ketakutan dan kebingungan.
"Tak bisakah kau percaya sama Abang? Masalah apapun tak akan selesai kalau hatimu tak tenang, masalah bisnis itu butuh perhitungan dan logika, bukannya butuh di ratapi seperti ini."
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭