Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Ibukota pagi itu terasa sedikit menusuk kulit udaranya, Bukan pagi hari dengan matahari cerah yang mengunjungi bumi melainkan pagi dini hari. Tepatnya jam 2 pagi, Kapal udara alis pesawat dengan penerbangan pertama itu landing dengan sempurna di bandara Gusti Ngurah Rai.
Iya kalian memang benar. Kota Bali, Si pelaku utama yang tengah kacau hatinya serta pikirannya. Gadis cantik itu turun dari dalam pesawat dengan travel bagg mininya yang ia tenteng.
Jaket kulit yang bukan miliknya terasa amat sangat nyaman dan pas ditubuh rampingnya, Kedua bibirnya menarik sebuah senyuman ketika netranya menatap langit gelap yang terlihat bertabur bintang diatas sana. Rambutnya yang tergerai melambai tertiup angin.
"Ready?"
Aruna menoleh. Bibirnya tersenyum mendapati laki-laki tinggi yang kini menatapnya dengan kedua alisnya terangkat.
"Ready"
"Turun hati-hati. Give me your bag and stay in front of me"
"Noah?"
Aruna menggelengkan kepalanya pelan Melihat Noah yang tersenyum kecil. Iya, Liam Noah Patingga, Kalian tidak salah baca ataupun mendengarnya. Setelah beberapa pertimbangan dalam benaknya beberapa jam yang lalu, Aruna dengan gilanya mengatakan akan mengambil penerbangan pergi ke Bali, mengajak Noah yang juga sama gilanya karena menyetujui permintaan gadis itu.
Mereka bahkan tidak seperti dua orang yang baru mengenal, melainkan seperti sepasang teman yang tengah menikmati liburan.
Aruna sedikit menggelengkan kepalanya merasa gila jika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu dan benar-benar merasa konyol saat ini.
"Noah, ayo pergi bersama!"
Noah mendongak seketika, Kedua netranya menatap gadis cantik yang berada diatasnya itu. Wajah mungilnya terlihat memerah serta matanya yang sayu seolah menghipnotis dirinya. Noah tertarik kedalam jelaga coklat madu itu terlalu dalam.
"Kemana?"
"Ke Bali? Karena ngga mungkin kita ke Italia kan?"
"Why? Maksudku, kamu ke Bali, sekarang?"
"Iya. Aku ngajak kamu, kalau kamu mau dan ada waktu"
"Yeah maksudku, Really? Bali sekarang juga?"
Aruna mengangguk mantap, Membuat Noah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Kamu nggak butuh persiapan banyak?"
"Itu bisa kulakukan sekarang"
"Kerjaan mu? Your parents?"
"Ibu dan ayah urusan gampang. Yang pertama kita harus punya tiket penerbangan dulu "
Patingga berdiri dari berlututnya, Ia mengulurkan tangan pada Aruna, "Untuk tiket penerbangan kita akan mendapatkannya saat di Bandara nanti. Serahkan padaku, Tapi aku ingin memastikan bagaimana dengan kerjaan mu dan orang tuamu. Runa ... I don't want you to take the wrong step hanya karena kalutnya kamu sekarang, suasana hatimu yang buruk"
"Aku akan ambil cuti ku dan bilang ke ibu dan ayah kalau aku ada kerjaan luar kota"
"You lied"
"Take me please Noah"
"Kamu yakin?"
"Yakin"
"Oke, aku temani kamu"
"Tapi, kamu yakin akan baik-baik saja? Maksudku, kamu nggak banyak waktu kan untuk pertandingan Minggu depan?"
"Apa dua hari cukup untukmu?"
"Maksudnya?"
"Dua hari di Bali apa cukup?"
"Kurasa cukup"
"Kalau gitu kita berangkat. Aku punya banyak waktu"
.
.
.
.
.
"Noah ini rumah siapa?" Aruna mencicit pelan, Kedua netranya sedikit sangsi ketika melihat bangunan yang cukup besar terbuat dari kayu dan besi seperti rumah adat pada umumnya namun yang ini lebih versi modern nya, Bangunan itu terpampang nyata didepannya.
"Ini rumah Kakek dan nenek ku. Orang tua ibuku"
Aruna mengangguk mengerti, Ia sedikit tahu tentang kehidupan Noah kemarin. Lebih tepatnya ketika Vano bergosip ria setelah pekerjaan kerja samanya dengan para atlet beberapa hari yang lalu.
"Ngga papa kita sampai malam-malam begini?"
"I don't know. Tapi ayo masuk!"
Dengan langkah perlahan, Aruna tetap mengikuti Noah yang lebih dulu berjalan didepannya. Laki-laki itu terlihat mulai mengetuk pintu berbahan dasar kayu itu. Cukup lama sebelum akhirnya, pintu itu berderit dan bergerak terbuka,Dua sosok laki-laki dan perempuan berusia 70 tahun keatas itu berdiri dengan memicingkan matanya.
"Noah?!"
"Grandma!"
"Tuhan ... Ada apa kemari? Sesuatu terjadi?!!"
"No! Nanti aku ceritakan, Tapi boleh aku masuk dulu? aku bersama teman"
Noah memberi instruksi agar Aruna bergerak mendekati dirinya, Dengan senyumannya yang mengembang Aruna berdiri disamping kanan Noah. Ia sedikit keki ketika mendapat senyuman tipis dari kedua orangtua paruh baya didepannya.
"Grandma, ini Aruna. Dan Aruna ini nenekku"
"Halo grandma. Saya Aruna"
"Ayo masuk, Kita kedalam dulu ya. Noah, tolong tutup pintunya"
"....."
"Kenapa tidak ada kabar sama sekali jika kau akan kesini?"
"Maaf Grandma acaranya memang dadakan sekali"
"Ibu dan ayahmu sehat?"
"Mereka sehat"
"Ada acara apa kesini "
"Seseorang ingin bertemu denganmu " Kalimatnya barusan dibarengi dengan Ia yang menatap Aruna, Gadis itu malah salah tingkah dan beralih memelototi Noah.
"Siapa? Nona cantik ini?"
"Iya Grandma"
"Bukan begitu nek. Saya cuma ingin berlibur sebentar kebetulan ada sedikit waktu"
"Mau jalan-jalan?"
"Iya Nek"
"Nanti biar Noah yang ajak jalan-jalan dan berkeliling Sekarang kau bersih-bersih dulu setelah itu kita masak untuk sarapan"
"Iya Nek"
"Noah, tolong bantu kakek mu dibelakang nanti kita ngobrol lagi"
Dan berakhir dengan Noah dan Aruna yang terpisah, Aruna yang sibuk dengan nenek Noah yang entah melakukan apa. Sedangkan Noah dan kakeknya mencari beberapa bahan makanan untuk sarapan pagi ini.
"Noah?"
Noah menoleh pada sumber suara lembut yang memanggilnya dan Ia langsung disuguhi pemandangan sosok Aruna dengan rambutnya yang tergerai melambai tertiup angin pagi.
"Hai. How's the breakfast? suits you?"
"Aku omnivora jadi jangan khawatir"
"Omnivora? What's that?"
"Pemakan segalanya"
Dan lagi-lagi Noah terkekeh ringan. Ia mempersilahkan Aruna untuk duduk disampingnya sambil menikmati sejuknya angin pagi ini. Tadi setelah sarapan, Nenek dan kakeknya pamit untuk pergi ke desa sebelah katanya mencari bahan pangan dan yang lainnya. Jadi,tinggal ia dan Aruna berdua di rumah, Mereka berada di depan halaman rumah.
"Noah?"
"Ya?"
"Thank you"
"For?"
"Sudah bawa aku kesini. Ke tempat yang tenang"
"You happy?"
"Little. but I got a lot of peace"
"Jujur, aku juga tidak pernah berfikir akan kemari dengan orang yang berbeda"
"Orang yang berbeda?"
"Dulu aku pernah bermimpi tempat asalku akan jadi saksi bagaimana aku bahagia dengan wanita ku"
Aruna terdiam. Gadis itu menoleh menatap Shayne yang kini beraut wajah entah apa. Aruna tidak bisa mendeskripsikannya, "Oh God! Noah Sorry kenapa aku sebodoh ini ya"
"Why?"
"Ya Tuhan ... Noah aku minta maaf. Really sorry, Gimana aku nggak mikirin hal sekecil itu yaaa. Sorry Noah pasti pacar mu marah ya kita pergi berdua gini? Ya ampun ... Gimana ini"
"No Aruna maksudku --"
"Aku akan bantu bicara nanti jika ia salah paham,bAku janji Noah. Biar bagaimanapun aku yang--"
"Aruna?!!"
"....."
"No Aruna. Maksudku.. ya Tuhan ... I'm can't explain to you the reason"
"Aku nggak ngerti maksudnya "
"Yang jelas semua pikiran yang ada di kepalamu nggak ada kaitannya dengan kita berdua disini"
"Kamu yakin?"
"Ya"
"Tapi aku--
Kalimat Aruna harus terhenti ketika dering ponsel miliknya berbunyi nyaring. Layar berukuran beberapa inchi itu menyala dengan menampilkan nama si pemanggil dari sebrang sana. Aruna hanya menatapnya enggan mengangkat panggilan itu sampai dering itu mati. Namun kembali berdering dan Aruna masih mengabaikannya.
"Angkat run!"
"Nggak penting!"
"It can't be repeated jika ngga penting"
Dengan terpaksa Aruna menggeser layar itu. Setelah menghembuskan nafasnya kasar, ponsel itupun menempel antara daun telinga dan pipinya.
'Where are you Run?'
'kenapa kamu harus tau aku dimana?'
'run, Rehan bilang kamu ada tugas luar kota? Tapi setahuku kamu nggak ada jadwal keluar kota. Kamu dimana?'
'Ngga ada hubungannya sama kamu!'
Meskipun tengah bertelfon, namun mata Aruna diam-diam menatap Noah disampingnya yang sepertinya sibuk dengan tanaman-tanaman hias milik neneknya itu. Namun tak ayal, Aruna yakin jika Noah juga pasti sedikit mendengar obrolan di sebrang sana karena suasana memang se-hening itu.
Laki-laki disampingnya itu tidak banyak bicara, Hanya diam dan begitu tenang.
'Run please. Aku khawatir '
'Aku bukan bocah! Jadi stop disturb me!'
'Jawab pertanyaan ku saja run. Setelah aku tahu keadaan mu aku ngga akan tanya lagi'
Lagi-lagi Aruna menghembuskan nafasnya, 'Bali. Aku di Bali!'
'Sejauh itu? Kamu sendiri?'
'Bukan urusanmu!’
'Aku akan terus memberondong mu dengan pertanyaan jika kamu nggak mau jawab'
'Bajingan kamu! Aku dengan Teman kerja ku! Kau puas?!! Jangan tanya laki-laki atau perempuan! Aku nggak main-main akan memblokir semua tentang kamu!'
'.....'
'.....'
'okay. I know. Aku lega sedikit. Have fun ya. Hubungi aku kapan saja jika terjadi sesuatu '
'.....'
'Love you run'
TUT
Aruna dengan cepat memutuskan panggilan begitu saja. Ia kembali memasukkan ponselnya pada saku jaketnya.
"Your boyfriend?"
"Not now"
"Mau pergi sekarang?"
"Kemana?"
"Kemanapun. Hari ini aku akan jadi pemandumu"
"Kemanpun aku ikut kamu?"
Noah terdiam sesaat. Ia sedikit terkejut dengan permintaan Aruna namun buru-buru ia mengubah mimik wajahnya, "Okay. Kita pergi sekarang"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...