Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu mantan
Timbang Dai makin emosi jiwa, lelaki itu memutuskan untuk menghubungi Kilau saja. Dia minta nomer telepon Kilau pada Sajen yang sekarang masih sibuk ngepush rank dengan khidmat.
Ketik hapus ketik hapus begitu seterusnya hingga empat puluh sembilan kali. Hingga hitungan ke lima puluh, barulah Dai memberanikan diri untuk benar-benar mengirimkan pesan pada sang mantan.
Badai : Ki, ini gue Badai. Ki, bisa kita ketemu? Gue mau minta maaf secara langsung sama lo.
Satu menit, lima menit, setengah jam.. Rasanya Dai ingin melempar ponselnya ke sumur saking nggak sabarnya menunggu balasan dari Kilau.
"Sialan emang lo, Dai. Punya mulut nggak pernah di tabokin bangku sekolahan ya gini, asal njeplak aja kalo ngomong."
Dan dia mengingat kembali bagaimana marahnya Kilau tadi pagi gara-gara ucapannya. Dia menatap jam dinding di ruangan yang mirip kamar itu, waktu menunjukkan pukul 11.20 siang. Jam segini pasti para mesin pencetak uang masih sibuk dengan segala rutinitas nguli mereka, Badai mencoba sabar. Tapi matanya tak lepas dari layar ponselnya.
"Napa sih lo? Kayak orang lagi kasmaran aja, mata nyampe ditempelin di hape gitu." ungkap Sajen yang tiba-tiba ikut duduk di sebelah temannya rebahan.
"Keluar nggak lo, gue udah mumet jangan lo tambah-tambahin beban pikiran gue. Lagian masuk sini ngapa nggak ketuk pintu dulu gue tanya?! Sopan kayak gitu?" sengit Dai mendorong punggung Sajen dengan kaki.
"Bajingan! Punggung gue masih sakit, setan!" Sajen jatuh ke lantai dengan elegan.
"Apanya yang harus gue ketuk? Otak lo bermasalah ya? Kamar ini kan nggak ada pintunya, Darmajiiiii! Lo suka kadang-kadang ya!" imbuh Sajen kembali duduk, kali ini memilih agak jauh dari Badai. Ogah amat dia jadi sasaran lagi oleh kaki durjananya Badai.
Secara visual, ruangan itu memang tidak memiliki pintu. Hanya ada tirai bekas spanduk partai yang terbentang di sana untuk menutupi pandangan orang-orang dari luar agar tak langsung melihat isi ruangan yang very berantakan itu.
"Lo bisa ucap assalamualaikum dulu kan? Owh lupa gue, lo kan ketuanya dedemit. Mana ngerti sopan santun." Dai tersengih menatap Sajen dengan pandangan jijik.
"Asistennya Dajjal ngatain orang sealim ini ketua dedemit? Nggak sadar diri lo! Dari pulang lo ngamuk-ngamuk nggak jelas, kenapa sih? Bukannya semalem lo udah enak-enak sama si Kilau?" beneran ini orang nggak sadar diri.
"Cara lo ngomong beneran mirip orang mau mati ya, Jen. Ngelantur tau nggak! Pengen banget gue ngasih lo buat jadi tumbal proyek, tapi gue yakin kalau bentukan lo dijadiin tumbal, pasti proyeknya langsung gagal!"
"Asyu!" seketika Sajen menaikkan tahta sandalnya dari kaki menuju kepala Dai, dia hadiahi temannya itu dengan jurus sandal terbang. Tapi tentu Dai gesit menghindar. Justru tanpa rasa belas kasihan sama sekali pada kaum akhlakless di depannya itu, Dai memilih memungut sandal slop tersebut lalu membuangnya ke luar jendela.
Wuuuuuus. Terbang jauh sekali sandal milik Yang Mulia Sajen dengan segala sabda tak bergunanya.
"Jiangkrek! Sandal bapak gue itu, Dai! Sialan bener lo ya!"
"Apa? Mau marah, hmm? Cuma sebijik sandal tipis bekas nginjek tembelek gitu gue buang aja lo marah, gimana sama gue yang harga dirinya lo gadein sama duit sepuluh jutak? Mikir lol tolol!"
Emosi pasti, marah iya, kesel jangan ditanya. Misal ini film kartun, kepala Dai pasti udah ngebul asap putih lalu mukanya bisa semerah buah tomat nyaris busuk. Mau kembali mengutarakan kekesalannya, atensi Dai teralih oleh bunyi notifikasi pesan di ponselnya.
Begitu cepat tangan Dai mengambil ponsel tersebut, dan ketika selesai membaca pesan di sana senyumnya langsung terbit di sela-sela kegundahan yang dia rasakan sedari tadi.
Kilau : Di taman kota, jam 8 tepat. Jangan telat.
Badai : Siap!
Sederet pesan itu langsung dibalas cepat oleh Dai, meski di seberang saja tak langsung membaca apalagi membalasnya. Lelaki itu tersenyum, tapi seketika senyumnya hilang kala melihat Sajen masih ada di ruangan yang sama dengan dirinya. Berbagi udara dengan orang zolim ini terasa menyesakkan baginya.
Tapi ya udah lah, mau gimana lagi. Di hidup yang lurus ini memang harus ada anomali seperti Sajen yang bertugas menyemarakkan isi dunia dengan kerandoman yang dimiliki.
Malam akhirnya tiba, ini bukan acara kencan sama pacar, bukan mau ketemu gebetan, hanya menemui mantan dengan tujuan minta maaf. Tapi gile bener, Dai justru berdandan seolah mau nembak crush yang udah lama diincarnya. Bahkan dia tampak lebih tampan malam ini jika dibandingkan sewaktu mau ke pesta ulang tahun Lalinan kemarin malam.
Motor sport hitam miliknya sudah bergerak membelah jalanan, tujuannya jelas ke taman kota. Bahkan setelah adzan isya berkumandang, Dai langsung memacu si kuda besi untuk terjun langsung ke lokasi. Entah mengapa ada perasaan aneh dalam dirinya yang tak ingin membuat Kilau kesal karena menunggu.
Badai : Ki, gue udah ada di taman kota. Di dekat lampu taman, sebelah patung Doraemon.
Satu pesan informasi tentang keberadaannya Dai kirimkan ke nomor Kilau. Tak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda di baca juga. Tapi biarlah, Dai tak memusingkannya. Kilau mau menemuinya saja dia sudah sangat bersyukur.
Jam di tangannya menunjukkan pukul 19.55, Dai masih setia duduk di bangku besi di bawah temaram lampu jalan. Makin mendekati jam delapan malam, dadanya terasa makin deg-degan. Udara dingin di sana seperti menambah kegugupan yang dia rasakan.
"Santai Dai, cuma mau ketemu mantan. Nggak usah segugup ini." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
"Ya, emang nggak perlu merasa gugup. Gue juga nggak punya banyak waktu, jadi silahkan bicara apa yang mau lo sampaikan sekarang."
Dai berbalik badan dan terkejut mendapati Kilau sudah ada di belakangnya. Muncul dari mana perempuan itu tadi?
"Ki, gue.. Gue beneran minta maaf sama lo. Gue baru tau kejadian yang sebenarnya dari asisten rumah tangga lo dan temen biadab gue, si Sajen. Gue ngajak lo ketemu juga bermaksud mengembalikan uang lo yang lo kasih ke Sajen kemarin malem. Gue nggak enak sama lo, sumpah."
Dai merogoh ponselnya di dalam saku celana dengan maksud ingin mentransfer uang sepuluh juta yang kemarin perempuan itu berikan pada Sajen tapi Kilau menghentikan gerakan tangannya dengan memegang pergelangan tangan Badai.
"Nggak perlu lo balikin. Duit gue udah banyak. Tapi, gue mau minta bantuan sama lo." cegah Kilau dengan sorot mata serius.
"Bantuan apa?" cepat sekali Badai menyahuti ucapan Kilau.
Kilau menghembuskan nafas pelan. "Gue dijodohin, Dai."
Dai terkejut. Dia sampai mencari kebenaran dari perkataan yang Kilau ucapkan dengan menatap kedua mata Kilau lekat-lekat. Tapi, Dai tak menemukan kebohongan di sana.
"Iya terus?" Dai ingin mendengar jenis bantuan apa yang Kilau inginkan darinya.
"Bantu gue membatalkan perjodohan itu, gue bakal ngasih berapapun sama lo asal lo bisa bantu gue, Dai." terang Kilau bersungguh-sungguh.
Alamak. Dai langsung menekuk bibirnya. Entahlah, ada berbagai rasa yang sekarang ini mendelep di hatinya. Rasa senang karena bertemu lagi sama si mantan, dan juga cemburu yang entah harus ditujukan pada siapa.
"Ki..."
Kilau diam tapi matanya seperti menjawab, 'apa?'
"Kita bukannya udah nggak ada hubungan apa-apa lagi ya, kenapa lo minta bantuan kayak gitu ke gue?" agak hati-hati Dai bicara.
"Karena temen lo udah jual lo ke gue. Lo punya kewajiban buat nurutin perintah dari orang yang udah ngebeli lo. Ngerti?"
Nyes. Ini penghinaan bukan sih? Lah tadi mau dibalikin duitnya kagak mau. Kok sekarang malah ngomong gitu. Dai sendiri nggak nyangka kalau Kilau bakal menjawab pertanyaannya dengan jawaban nyelekit kayak tadi.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚