"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kantin kampus
Keriuhan pecah begitu barisan dibubarkan. Lapangan yang tadinya rapi seketika mencair menjadi kerumunan mahasiswa yang kelaparan. Lara, yang sejak pagi hanya terisi sedikit bubur ayam, merasa perutnya mulai berdemo.
"Lara! Ayo ke kantin, keburu antreannya mengular sampai gerbang!" seru Sera sambil menarik tangan Lara.
Lara menoleh sejenak ke arah podium, mencari keberadaan Baskara yang masih dikerumuni jajaran dosen dan panitia inti. Melihat Lara tampak ragu, Sera, Dewi, dan Arni langsung menggoda sahabat baru mereka itu.
"Tenang aja, Ra. Kak Baskara nggak bakal hilang kok, dia kan 'milik' universitas, tapi hatinya 'milik' asistennya, kan?" goda Arni sambil menyenggol bahu Lara, membuat pipi Lara seketika merona merah.
"Ih, apa sih! Ayo deh ke kantin," ajak Lara berusaha menutupi rasa malunya.
Keempat gadis itu berjalan menuju kantin pusat dengan penuh tawa. Selama PKKMB, mereka berempat memang menjadi sangat akrab. Sera yang ceria, Dewi yang tenang, dan Arni yang selalu punya bahan gosip terbaru, membuat Lara merasa memiliki dukungan emosional selain dari Baskara.
Sesampainya di kantin yang sudah sangat padat, mereka beruntung mendapatkan satu meja kosong di pojok.
"Gila ya, akhirnya selesai juga penderitaan kita sebagai maba," ujar Dewi sambil menghela napas lega. "Tapi jujur, tahun ini PKKMB-nya seru banget, apalagi pas bagian penutupan tadi."
"Bukan cuma seru, tapi penuh drama!" timpal Sera sambil melirik Lara penuh arti. "Ra, jujur deh, itu bros yang kamu pakai... itu pemberian Kak Baskara kan? Aku pernah lihat dia pakai itu pas acara formal organisasi tahun lalu. Itu barang kesayangan dia!"
Lara tertegun, ia tidak menyangka teman-temannya menyadari detail sekecil itu. "I-iya, katanya buat apresiasi karena aku sudah bantu dia."
"Apresiasi atau tanda kepemilikan?" Arni menimpali sambil tertawa. "Lihat deh, dari tadi Kak Manda di meja seberang sana matanya nggak lepas dari bros kamu. Kayaknya dia mau meledak."
Lara melirik sekilas ke arah meja panitia senior di ujung kantin. Benar saja, Manda sedang duduk di sana bersama rekan-rekannya, namun tatapannya tajam menghunus ke arah meja mereka. Namun, alih-alih merasa takut seperti kemarin, Lara justru merasa lebih berani. Kehangatan dekapan Baskara semalam seolah masih membekas, memberinya kekuatan bahwa ia tidak sendirian.
Suasana kantin semakin riuh dengan dentingan sendok dan obrolan ribuan mahasiswa. Lara dan Dewi bangkit dari kursi mereka, meninggalkan Sera dan Arni untuk menjaga meja yang sudah susah payah didapatkan.
"Ra, aku antre bagian soto ya, kamu pesankan minum dan siomay buat kita semua," ujar Dewi sambil menunjuk ke arah stan yang sedikit lebih lengang.
Lara mengangguk dan berjalan menuju stan minuman. Namun, untuk mencapai ke sana, ia harus melewati meja panjang tempat Manda dan gengnya berkumpul. Suasana di meja itu mendadak sunyi saat Lara melintas.
"Lihat tuh, gayanya makin berani saja sejak jadi asisten kesayangan," sindir salah satu teman Manda dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Manda sendiri hanya duduk diam, memutar-mutar sedotan di gelasnya. Matanya yang tajam mengikuti setiap pergerakan Lara, terutama saat cahaya lampu kantin memantul di permukaan bros kelopak lili yang tersemat di dada Lara.
Saat Lara berjalan membawa nampan berisi empat gelas minuman untuk teman-temannya, kaki Manda tiba-tiba terjulur dengan sengaja ke arah jalan setapak di antara meja.
Brak!
Tubuh Lara hilang keseimbangan. Nampan itu terlempar, gelas-gelas pecah berantakan di lantai, dan tumpahan jus serta air mineral membasahi lantai kantin yang kotor, bahkan mengenai sebagian almamater Lara. Lara terjatuh dengan posisi terduduk, telapak tangannya tergores pecahan gelas.