Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tenggelam
“Dewi, jangan mendekat!” teriak Amira.
Namun langkah kecil itu justru makin maju. Mata Dewi menyipit, fokus ke arah semak di pinggir sungai.
“Sepertinya ada ikan besar. Diamlah, jangan berisik,” ucapnya kesal. Baginya, Amira terlalu penakut.
Jantung Amira berdegup kencang. Arus sungai makin deras, air keruh berputar liar menghantam batu-batu besar. Hujan turun tanpa ampun, membuat permukaan air naik dan suara gemuruh makin mengerikan.
“Dewi, mundur! Itu bahaya!”
Amira berusaha mendekat, tapi arus menahan langkahnya. Kakinya beberapa kali tergelincir di dasar yang licin. Air setinggi paha terus menghantam tubuhnya, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.
“Dewi, berhenti!”
Terlambat.
Kaki Dewi menginjak batu berlumut.
Licin.
Tubuhnya oleng.
“Mah—!”
Plung!
Tubuh kecil itu jatuh ke pusaran air.
Arus langsung menyeretnya.
“DEWI!” jerit Amira.
Tanpa berpikir, Amira melompat ke dalam arus.
Air menelan tubuhnya.
Deras. Gelap. Dingin.
Tubuhnya langsung diputar arus. Napasnya tercekat. Namun ia memaksa membuka mata, mencoba melihat sesuatu di dalam air keruh itu.
“Amira!” teriak Nanda dari atas, berlari menuruni tepi licin.
Arjuna menyusul dari belakang. Ia terpeleset, jatuh, bangkit lagi. Hujan makin deras, tanah berubah jadi lumpur. Nafasnya terengah, matanya dipenuhi ketakutan.
“Juna! Lari ke atas! Cari kayu atau tali!” teriak Nanda.
Arjuna terdiam sesaat. Tubuhnya gemetar melihat sungai yang mengamuk.
“JUNA! CEPAT! Kalau tidak, Dewi hanyut!”
Kalimat itu seperti menampar.
Arjuna berbalik dan berlari.
Ia jatuh. Bangkit. Jatuh lagi. Lututnya berdarah, tapi ia tidak peduli. Napasnya tersengal saat akhirnya sampai ke atas.
Matanya liar mencari sesuatu.
Tali.
Di sudut dekat tiang jembatan—ada gulungan tambang tua.
Arjuna meraihnya.
Tangannya gemetar, tapi otaknya bekerja cepat.
Kalau turun lewat jalan tadi… terlalu lama.
Tanpa ragu, ia menjatuhkan tubuhnya ke lereng.
Tubuhnya menggelinding.
“Bruk! Brak!”
Batu menghantam punggung dan lengannya. Sakit. Perih. Tapi ia menggertakkan gigi.
Yang ada di pikirannya cuma satu:
Dewi.
Mamah.
—
Di sungai, Amira menyelam membabi buta.
Air keruh membuatnya tak bisa melihat apa-apa.
Tangannya meraba ke segala arah.
Dadanya mulai sesak.
“Ya Allah… tolong Dewi… tolong…” doa itu pecah dalam hati.
Penyesalan menghantamnya.
Harusnya ia tidak bertengkar tadi.
Harusnya mendahulukan keinginan Dewi untuk makan, bukan malah melampiaskan amarah pada Nanda.
Harusnya…
Tiba-tiba—
“Bugh!”
Sesuatu menghantam tubuhnya.
Amira meraih.
Kain.
Tubuh gemuk itu jelas Amira merasakan tubuh gempal itu.
“Dewi!”
Tubuh itu masih meronta, terseret arus.
Amira menariknya, memeluknya erat, mencoba naik ke permukaan.
Namun arus terlalu kuat.
Tubuh mereka terus terseret.
Air masuk ke mulut, ke hidung. Napasnya semakin tipis.
—
Di atas, Nanda sudah sampai di tepi.
“Nek! Ini talinya!” Arjuna menyerahkan tambang dengan napas tersengal.
Nanda langsung meraih.
“Kamu ikat ke pohon! Cepat!”
Arjuna berlari ke batang pohon besar di dekat jembatan. Tangannya gemetar saat melilitkan tali. Ikatannya berantakan.
“Juna!” bentak Nanda.
Arjuna menggertakkan gigi. Ia ulangi. Tarik. Simpul.
Kali ini lebih kuat.
Nanda melilitkan ujung tali ke pinggangnya.
Matanya menatap Arjuna tajam.
“Hidup mati kami di tangan kamu. Ingat—jangan turun. Kalau nenek teriak tarik… kamu tarik!”
Arjuna menelan ludah.
“Iya… Nek…”
Tanpa ragu, Nanda terjun.
Plung!
—
Air langsung menghantam tubuhnya.
Usianya tidak muda lagi. Napasnya cepat habis.
Namun ia tetap menyelam.
“Dewi! Amira!” teriaknya saat muncul ke permukaan.
Tidak ada jawaban.
Ia menyelam lagi.
Dada terasa terbakar.
“Kuat… sedikit lagi…” gumamnya.
Putus asa dan penyesalan datang menghantam.
Seandainya aku tidak keras kepala…
Seandainya aku mengalah sedikit…
Seandainya…
Untuk pertama kalinya, Nanda berdoa dengan sungguh-sungguh.
“Ya Allah, selamatkan anak dan cucuku… aku janji akan berubah…”
Ia menyelam lagi.
Tak lama. Napasnya tak kuat.
Ia muncul lagi—
Dan ia melihat.
Amira.
Memeluk Dewi.
Terombang-ambing.
“Di sana!” Nanda berenang mendekat.
Ia meraih sebatang bambu panjang yang tersangkut di pinggir.
“Mira!” teriaknya.
Amira menoleh.
Wajahnya pucat. Tenaganya hampir habis.
Nanda mengulurkan bambu.
“Pegang!”
Sekali.
Melenceng.
Dua kali.
Hampir.
Tiga kali—
Amira berhasil meraih ujung bambu dengan satu tangan, sementara tangan lain memeluk Dewi.
Nanda menarik.
Otot lengannya menegang.
Kulit tangannya terkelupas, darah bercampur air.
“Satu…!”
Tarik.
“Dua…!”
Tarik lagi.
Arus melawan.
“Tiga…!”
Tarikan terakhir.
Akhirnya mereka mendekat ke area yang lebih tenang.
Nanda cepat mengikatkan tali ke tubuh Amira dan Dewi.
Harapan terakhir—
Arjuna.
“JUNA! TARIK!”
—
Di atas, Arjuna tersentak.
Tangannya langsung menggenggam tali.
Berat.
Sangat berat.
Tubuhnya hampir terseret maju.
Ia jatuh berlutut.
Tidak kuat.
Air matanya keluar.
“Aku… nggak bisa…” gumamnya.
Arjuna menangis, tangan kurusnya terus memegang tali.
“Aku harus bisa!” teriaknya dalam hati.
Ia menggertakkan gigi.
Ia melilitkan tali ke badannya.
Menarik sedikit.
Tidak bergerak.
Putus asa hampir datang.
“Aku akan jadi anak kuat setelah ini…”
Ia menarik lagi.
Masih tidak bergerak.
Tangannya mulai berdarah.
Namun ia tidak berhenti.
Arjuna melihat ke samping.
Pohon.
Dengan sisa tenaga, ia menyeret tali ke arah batang itu.
Ia melilitkan tali sekali, dua kali, lalu menarik dari samping, menggunakan pohon sebagai penahan.
Perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Tali mulai bergerak.
Arjuna menarik lagi.
Tangannya lecet.
Kulitnya terkelupas.
Namun ia tidak berhenti.
“Sedikit lagi…” gumamnya.
Tarik.
Geser.
Tarik lagi.
Tubuh Amira dan Dewi mulai mendekat ke tepi.
Nanda ikut mendorong dari belakang.
“Jangan berhenti, Juna!” teriaknya.
“YA!” teriak Arjuna, kali ini penuh tenaga.
Tarikan terakhir—
“BRUK!”
Tubuh mereka terhempas ke tepi sungai.
Semua terdiam.
Hanya suara hujan.
Dan napas yang terengah.
Arjuna jatuh terduduk.
Tangannya gemetar hebat.
Namun matanya menatap mereka.
Air mata mengalir deras, napasnya tersengal.
Amira dan Nanda berusaha mengatur napas.
“Mamah… bagaimana..?” ucap Amira.
“Aku baik-baik saja… Amira… sekarang aku sadar… aku sudah tua…”
Amira menoleh ke arah Dewi.
“Dewi…”
Tidak ada jawaban.
Matanya terpejam.
Amira panik. Ia menggoyangkan tubuh Dewi.
“Dewi…”
Ia hampir menekan dada Dewi—
Tiba-tiba mata itu terbuka.
“Mamah… aku lapar…”
Waktu seperti berhenti.
Untuk pertama kalinya…
Dewi memanggilnya mamah.
Amira langsung memeluknya erat.
“Makasih sayang… makasih sudah bertahan…”
Dewi masih terbaring, napasnya pelan.
“Mamah…”
“Iya, Nak…”
“Bakarin ikannya… aku mau makan…”
“Ikannya di mana?” tanya Amira masih terengah.
“Di celana,” jawab Dewi polos.
“Kamu ini… anak perempuan tidak boleh masukkan ikan ke celana.”
“Tadinya di baju, dia gerak sendiri.”
Amira memasukkan tangannya ke saku celana Dewi. Benar saja, ada ikan kecil yang masih bergerak.
“Mah, di bajuku juga ada.”
Amira meraih bagian atas baju Dewi. Ada lagi.
Nanda sudah duduk, beberapa kali menengadah ke langit, meminum air hujan yang turun deras. Napasnya belum sepenuhnya pulih.
“Mira, kita lihat Juna… dia adalah pahlawan kita sekarang. Kalau tidak ada dia, mungkin kita sudah…”
“Ayo kita ke atas,” ucap Amira pelan.
Dewi bangkit, ikut menengadah dan meminum air hujan.
“Dewi, lain kali jangan nekat lagi.”
“Iya, Nek.”
Nanda memeluk Dewi, mencium ubun-ubunnya.
“Ya Allah, terima kasih…” doanya dalam hati.
Mereka bertiga naik ke atas.
“Juna!” teriak Amira saat melihatnya terbaring di bawah pohon.
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪