Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ikut
Zivanna pulang ke rumah dengan dada bergemuruh. Dari Cahyo dia mengetahui jika kejadian pagi itu memang sudah direncanakan oleh Suci. Dia adalah seorang tenaga kesehatan. Jika gadis lain di desa itu tidak tahu apa itu obat perangsang, maka Suci sangat mengetahuinya. Dia tahu apa kegunaannya dan bagaimana cara menggunakannya dia tahu segalanya, meski belum pernah mencobanya.
Yang membuat Zivanna kesal adalah dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa menyeret Suci ke penjara karena tidak memiliki bukti apa-apa padahal dia sangat ingin membuat gadis licik itu menanggung akibat perbuatannya.
Sesampainya di rumah, Zivanna heran karena tidak menemukan siapapun. Neneknya tidak ada, Rani pun juga tidak ada padahal biasanya jam segini perempuan itu masih sibuk dengan pekerjaan rumah entah mencuci pakaian atau menyapu dedaunan kering di kebun yang luasnya bisa menyamai lapangan bola.
"Apa mungkin mereka pergi mencariku?" gumamnya sambil mencari di seluruh bagian rumah. Mengingat tadi dia pergi tanpa pamit, bisa saja neneknya yang overprotektif itu panik lalu menyuruh semua orang untuk mencarinya.
Zivanna mencari Minah di kamarnya. Jam segini biasanya neneknya belum berangkat ke gudang. Tetapi Zivanna tidak menemukan Minah di sana. Rani juga tidak terlihat di manapun, baik di dapur atau di kebun.
Merasa ada yang aneh Zivanna langsung mencari mereka ke gudang. Tetapi sampai di gudang pun Zivanna kembali terheran-heran. Benar-benar tidak ada orang.
"Tumben sekali gudangnya sepi." Zivanna bicara sendiri. Padahal gudang itu tidak pernah sepi.
Zivanna keluar dari gudang lalu mondar mandir memikirkan pada kemana semua orang. Di kejauhan Zivanna melihat Budi dan seorang pekerja laki-laki Minah berlari ke arahnya.
"Pak Bud, dari mana? Kemana semua orang?" tanya Zivanna begitu Budi berhenti di depan gudang.
Budi tidak segera menjawab. Laki-laki itu menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan baru kemudian berkata, "Dari ladang jagung, Non. Ladang jagung yang seharusnya panen hari ini terbakar."
"Hah?!! Terbakar ?!! Kok bisa?" tanya Zivanna dengan mata melotot tidak percaya.
"Ngak tahu, Non."
"Terus sekarang semua orang ada di sana?"
Budi hanya mengangguk. Masih sedikit ngos-ngosan. "Dah ya, Non. Saya harus mengantar beras ke toko Sumber Pangan. Sudah ditunggu. Kalau Non Ziva mencari nenek, susul saja ke ladang," ucap laki-laki itu sebelum pergi dengan rekannya.
Zivanna pun bergegas pergi. Sesampainya di ladang, Zivanna melihat hamparan hitam bekas pohon jagung yang sudah berubah menjadi abu. Zivanna menghampiri neneknya yang tengah berdiri diantara para pekerja menyaksikan hamparan abu di depan mereka.
"Nggak ada yang tersisa, Nek?" tanya Zivanna.
"Yang lainnya sudah dipanen kemarin-kemarin. Yang terbakar ini cuma sisanya saja. Jadi kita tidak rugi banyak," jawab Minah tenang. Tidak sedikitpun terlihat gurat sedih di wajahnya.
"Oh... Syukur, deh." Zivanna sedikit merasa lega. "Tapi kok bisa terbakar ya, Nek?"
"Bisa saja, Zi. Namanya musibah tidak ada yang tahu," jawab Minah santai. "Ayo kita pulang. Yang lainnya lanjutkan pekerjaan masing-masing," kata Minah lalu kerumunan orang yang tadi menyaksikan kebakaran pun bubar, menyisakan Minah dan Zivanna karena Rani ikut ke gudang mengawasi para pekerja.
"Nenek tahu ini bukan musibah biasa, kan? Seseorang pasti sengaja membakarnya. Mana mungkin ladang jagung itu terbakar begitu saja?"
"Kalau maksudmu ladang kita ini sengaja dibakar, nenek tidak tahu. Nenek merasa nggak punya musuh,siapa yang mau membakarnya? Nenek nggak kepikiran sampai ke sana," jawab Minah tenang. Dia lebih terlihat panik jika Zivanna pergi tanpa kabar dibandingkan dengan kebakaran di ladang jagungnya. Baginya, kehilangan sedikit jagung itu tidak masalah selama tidak ada salah satu pekerjanya yang menjadi korban.
Zivanna dan Minah kembali ke rumah. Minah terlihat tenang seperti sebelumnya, seolah kebakaran itu benar-benar bukan apa-apa baginya. Sementara pikiran Zivanna bercabang kemana-mana hingga akhirnya dia mendapatkan kesimpulan.
Minah mungkin merasa tidak memiliki musuh. Zivanna sendiri mengakui jika neneknya itu sangat disayangi warga Suka Makmur karena kemurahan hatinya, tetapi Zivanna tetap mencurigai seseorang. Pembakaran ladang jagung itu pasti ulah Ida yang merasa kecewa karena telah dipecat tanpa alasan. Itu sangat mungkin.
"Nek, aku merasa sedikit pusing. Aku mau ke puskesmas," kata Zivanna tiba-tiba.
"Tapi nggak ada yang ngantar. Rani di gudang, Si Budi sedang mengirim beras ke toko Sumber Pangan. Nenek nggak bisa nganter kamu. Apa telfon Alvaro saja minta dia kemari setelah selesai praktek?"
"Nggak usah, Nek. Aku akan ke puskesmas naik sepeda saja."
"Yakin?"
Zivanna mengangguk. Jalan kaki sampai ke puskesmas saja dia sanggup apalagi naik sepeda.
"Ya sudah, terserah kamu saja," putus Minah. Toh cucunya itu kalau sudah memiliki keinginan tidak bisa ditolak.
Zivanna mengeluarkan sepeda dari garasi rumah Minah. "Aku berangkat ya, Nek," pamitnya sebelum pergi.
* * *
Zivanna sampai di puskesmas ketika kondisi puskesmas sudah mulai sepi. Bibi gorengan dan bibi es dawet juga sudah tidak ada, sepertinya dagangan mereka laris hari ini.
Zivanna menunggu di parkiran. Tadi dia bohong kepada neneknya, mengaku jika merasa pusing padahal dia tidak kenapa-kenapa. Itu hanya alasannya saja agar bisa bertemu Alvaro tanpa dicurigai neneknya.
Zivanna melihat mobil Alvaro masih berada di sana, yang artinya dokter tampan itu belum pulang.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Alvaro keluar dari ruangannya dan langsung menuju tempat parkir.
"Loh, Zi? Sedang apa di sini? Kamu nggak enak badan? Demam lagi?" Alvaro langsung menghampiri Zivanna begitu melihat gadis itu.
"Nggak apa-apa. Aku hanya ingin ketemu kamu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Alvaro melihat jam tangannya. Sebenarnya hari ini setelah selesai praktek dia ada acara.
"Kamu sibuk?" tanya Zivanna.
"Sebenarnya aku harus menghadiri seminar setelah ini. Bagaimana kalau kamu ikut saja? Kita bisa bicara nanti."
Zivanna hendak menolak. Menghadiri sebuah seminar bersama seorang dokter bukanlah sesuatu yang menarik baginya karena itu bukan bidangnya. Tetapi kemudian dia melihat Suci berjalan ke arah mereka jadi Zivanna berubah pikiran.
"Memangnya aku boleh ikut? Apa tidak menggangu? Apa nanti aku boleh diijinkan masuk tanpa undangan?" tanya Zivanna tepat ketika Suci melintasi dirinya dan Alvaro. Suaranya bahkan sengaja dia keraskan agar Suci mendengarnya. Zivanna sampai yakin dia melihat Suci mendengus ketika tadi dia berbicara.
"Kalau sama aku pasti boleh," jawab Alvaro sambil tersenyum.
"Tapi pakaianku seperti ini!" Zivanna melihat dirinya sendiri yang hanya mengenakan celana training dan jaket.
"Ya sudah, kalau begitu aku antar kamu pulang untuk ganti pakaian, sekalian pamit sama nenek."
Zivanna mengangguk. Dia mengikuti Alvaro lalu masuk ke dalam mobilnya lalu mereka pun berangkat.
Di sudut lain parkiran, Suci menatap kepergian mobil Alvaro dengan tatapan kesal. Seharusnya dirinya lah yang diajak Alvaro menghadiri seminar itu. Bukan gadis manja yang tidak tahu apa-apa soal medis itu.