Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Batu Nisan
Otak Alvaro yang terbiasa berpikir cepat langsung menemukan kata-kata agar membuat Zivanna tenang. Terlepas dari jawabannya itu entah benar atau salah, yang penting Zivanna tidak ketakutan, itu saja.
"Lagi pula kalau arwah Ayu memang tidak tenang, tentu dia akan menghantui orang-orang yang telah membuat hidupnya menderita, bukan kamu, orang sama sekali tidak dia kenal. Cobalah berpikir positif."
"Jika mimpi-mimpi itu tidak bermaksud menghantui lalu... " Zivanna tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap Alvaro penuh tanda tanya. "Dia memberikan penglihatannya padaku, apakah mungkin Ayu ingin aku membalaskan dendamnya pada orang-orang yang telah menyakitinya? Selama ini dia tidak bisa berbuat apa-apa, kan?"
"Aku tidak tahu jawabannya, Zi. Ayu sudah meninggal dan kita tidak bisa bicara dengan arwah untuk mencari tahu jawabannya."
Kali ini Alvaro sudah kehabisan akal menjawab pertanyaan-pertanyaan Zivanna yang semakin lama semakin jauh dari dunia medis yang digelutinya.
"Antar aku ke suatu tempat!" Zivanna gegas berdiri.
"Kemana?"
"Ke makam Ayu."
Alvaro hampir tidak percaya mendengar permintaan Zivanna. "Malam-malam begini???"
"Lebih baik sekarang dari pada aku mati penasaran."
"Yang benar saja, Zi?!" Alvaro melirik smart watch di pergelangan tangannya. "Ini sudah jam delapan lebih. Bisa-bisa kita dikira mau berbuat yang tidak-tidak. Lebih buruknya kita bisa dituduh ingin mencari pesugihan."
"Tapi ... "
"Tidak ada tapi- tapi. Pokoknya tidak!" kata Alvaro tegas. "Ini sudah malam. Orang yang akan berpikiran negatif tentang kita jika keluar malam-malam berdua padahal kita tidak ada ikatan."
"Apa mau ke makam saja harus nikah dulu biar orang-orang nggak salah paham?" sungut Zivanna.
Alvaro hampir mengelus dada. Benar kata Minah, betah seminggu saja sudah luar biasa menghadapi Zivanna, kalau gadis itu menjadi dirinya sendiri.
Untung cantik, batin Alvaro sambil memandangi gadis keras kepala di hadapannya itu dengan tatapan gemas. "Besok aku antar. Sepulang dari puskesmas aku akan langsung ke sini dan mengantarmu ke makam. Bagaimana?" bujuknya.
Keesokan harinya...
Zivanna sudah bersiap-siap. Kali ini dia memakai sepatu agar tidak bisa di lepas sembarangan. Botol minum juga sudah dia siapkan jika sewaktu-waktu dia haus dan tidak ada yang jual minuman.
"Mau kemana, Non?" tanya Rani yang mulai curiga melihat gelagat majikan kecilnya.
"Mau jalan-jalan, Mak," jawab Zivanna sambil mengikat tali sepatunya.
"Sudah ijin sama nenek?"
"Belum. Mamak aja yang bilang sama nenek. Kalau aku bilang sendiri pasti nggak boleh. Kalau mamak yang bilang paling-paling mamak cuma diminta menemani aku. Soalnya mama dan papa sudah balik ke kota."
"Memangnya mau kemana sih, Non?"
"Mau ke makam," jawab Zivanna enteng. Rasanya terlalu lama jika harus menunggu sampai nanti sore seperti janji Alvaro semalam. Zivanna tidak sabar jadi lebih memilih berangkat sendirian.
"Makam siapa? Kakek?" Zivanna memilih mengangguk saja agar Rani tidak terus bertanya.
Rani bergegas pergi untuk memberitahu Minah mengenai keinginan cucunya ini.
Setelah negosiasi yang alot dan banyak sekali persyaratan akhirnya Minah mengijinkan Zivanna pergi ke makam, itupun harus ditemani Rani.
Dua malam ini Zivanna tidak mengalami demam. Dia tetap bermimpi tentang Ayu, tetapi bukan mimpi buruk seperti sebelum-sebelumnya. Kemarin malam dia memimpikan Ayu ketika gadis itu bermain ke rumah Bibi gorengan.
Lalu tadi malam Zivanna bermimpi Ayu sedang makan nasi bungkus bersama seorang laki-laki di pematang sawah yang Zivanna tidak bisa lihat dengan jelas wajahnya. Mungkin karena mimpinya tidak menakutkan Zivanna tidak sampai demam.
Satu hal yang membuat Zivanna bertanya-tanya, kenapa laki-laki yang bersama Ayu tidak pernah kelihatan dengan jelas wajahnya. Pelaku pelecehan itu, dan juga laki-laki yang menemaninya makan di mimpinya tadi malam, Zivanna tidak bisa mengingat wajahnya. Sementara Suci dan Ida terlihat begitu jelas. Bahkan Alvaro yang hanya muncul sekali saja juga terlihat jelas. Apa bedanya?
Zivanna dan Rani segera berangkat. Seperti biasa, Zivanna memimpin seolah sudah tahu jalan. Setelah hampir lima belas menit mereka sampai di pintu masuk kuburan khusus warga desa Suka Makmur.
Sebenarnya Rani masih penasaran bagaimana Zivanna bisa tahu jalan-jalan di desa Suka Makmur. Tapi menanyakannya pun sepertinya akan sia-sia karena pasti Zivanna tidak akan menjawabnya.
Zivanna segera masuk, diikuti Rani di belakangnya. Rani berjalan ke arah kiri sementara Zivanna berjalan ke arah lain. "Non, makamnya kakek di sana," tunjuk Rani ke arah sebuah batu nisan yang terlihat berbeda dari yang lainnya.
"Oh... Iya." Zivanna berbelok lalu mengikuti Rani lalu berjongkok di depan batu nisan kakeknya selama beberapa saat.
Setelah selesai mengirim doa untuk sang kakek, Zivanna berdiri lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia melangkahkan kakinya menuju sebuah batu nisan bertuliskan "PRANOTO", makam bapaknya Ayu yang Zivanna sudah sangat hafal seolah setiap minggu dia datang mengunjungi makam itu.
Zivanna juga berjongkok di sana untuk mendoakan bapaknya Ayu. Setelah beberapa saat, Ayu berdiri tetapi kemudian celingukan.
Rani, meskipun terlihat heran tetap mengikuti di belakang Zivanna. "Cari apa, Non?" tanyanya ketika melihat Zivanna kebingungan.
"Makamnya Ayu. Mak Rani tahu?"
Rani menggeleng. Area kuburan itu cukup luas dan ada ratusan batu nisan di sana. "Tumben nggak tahu? Itu tadi makam Pranoto, bapaknya Ayu saja Non Ziva tahu," ucapnya. Padahal kalau dipikir-pikir bagaimana Zivanna tahu makam bapaknya Ayu jika makam kakeknya yang sudah pernah dia kunjungi saja dia lupa.
"Eh... " Zivanna baru sadar. Dia sama sekali tidak ada bayangan di mana letak makam Ayu. Biasanya dia hanya menuruti kata hati, atau mengikuti kemana kakinya melangkah, tetapi saat ini keduanya tidak bergerak.
"Tentu saja," gumam Zivanna. Dia tahu kenapa dia tidak bisa menemukan makam Ayu, karena gadis itu sudah meninggal. Penglihatannya hanya menyimpan memori ketika Ayu masih hidup. Ketika Ayu sudah meninggal tidak ada lagi yang dia lihat.
"Dia belum genap dua bulan meninggal. Pasti makamnya masih baru. Iya kan, Mak?" Zivanna mulai berjalan mencari makam yang terlihat baru.
"Tapi setelah Ayu, ada beberapa orang lagi yang meninggal. Jadi ada beberapa makam baru di sini," terang Rani yang bulunya tubuhnya mulai meremang. "Kenapa tidak mencari kegiatan lain yang lebih normal saja sih, Non?"
"Kalau mamak takut, tunggu di luar kuburan saja. Aku nggak apa-apa sendirian," kata Zivanna sambil mulai mencari makam yang terlihat baru.
"Sana, Mak. Itu ada tempat duduk. Mamak tunggu saja di sana. Aku nggak akan kabur kemana-mana. Nggak bakal kesurupan juga. Mamak tenang saja."
Setelah dipaksa oleh Zivanna, akhirnya Rani memilih menunggu di luar kuburan dimana ada sebuah bangku panjang yang memang disediakan bagi orang-orang yang sedang mengunjungi makam.
Setelah membaca beberapa batu nisan, akhirnya Zivanna menemukan batu nisan dengan tulisan "Rahayu Eka Dewi".