NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Naga Sidoarjo Mengguncang Jakarta

Pagi itu, lobi kantor V-Group yang megah di kawasan Sudirman mendadak hening. Semua mata tertuju pada seorang pria yang berjalan di samping Vanesha. Guntur, dengan jas slim fit hitamnya, berjalan dengan langkah santai, tapi matanya tetap jelalatan melihat gedung tinggi dari balik kaca.

​"Guntur, jaga sikap! Jangan celingukan kayak orang ilang. Sebentar lagi kita masuk ruang rapat utama," bisik Vanesha sambil tetap memasang wajah datar ala CEO dingin.

​Guntur cuma benerin dasinya yang terasa sedikit mencekik. "Nggeh Bos, tenang aja. Tapi ini kantor apa akuarium ya? Isinya kaca semua, apa nggak takut kalau ada burung nabrak?"

​Vanesha cuma bisa menghela napas panjang. Begitu pintu ruang rapat dibuka, sudah duduk beberapa pria tua berjas mahal dengan wajah serius. Di tengah-tengah mereka, ada Mr. Chen, investor besar dari Singapura yang terkenal sangat pelit pujian.

​"Vanesha, siapa pria ini? Saya minta kamu bawa ahli strategi logistik, bukan model majalah gagal," ucap salah satu direksi V-Group dengan nada meremehkan.

​Guntur bukannya marah, malah langsung duduk di kursi kosong paling depan, lalu naruh ransel bututnya di atas meja marmer yang mahal itu. "Kenalin Pak, nama saya Guntur. Ahli strategi jalur tikus dan penguasa aspal bawah tanah," sahut Guntur sambil nyengir.

​Mr. Chen mengernyitkan dahi. "Jalur tikus? Apa maksud kamu? Kami di sini bicara soal sistem logistik digital terintegrasi!"

​Guntur berdiri, dia berjalan ke arah layar monitor besar di depan. Dia nggak pakai pointer mahal, tapi malah pakai pulpen murah yang dia ambil dari saku jasnya.

​"Begini Mr. Chen yang terhormat. Sampeyan punya teknologi hebat, punya truk ribuan. Tapi kalau truk sampeyan tertahan preman di pelabuhan atau kejebak macet karena nggak tahu jalan pintas, teknologi sampeyan itu cuma jadi rongsokan mahal," ucap Guntur tegas.

​Suasana ruangan langsung sunyi. Guntur melanjutkan dengan gaya bicaranya yang santai tapi tajam.

​"Saya punya jaringan ojek di seluruh pelosok. Kami tahu jalan mana yang lubangnya dalam, jalan mana yang premannya minta jatah gede, dan jalan mana yang bisa bikin barang sampeyan sampai satu jam lebih cepat daripada pakai GPS."

​Mr. Chen mulai tertarik. "Lalu, apa jaminan kamu kalau barang saya aman dari jarahan?"

​Guntur tertawa kecil, suara tawanya memenuhi ruangan. "Jaminannya adalah nama saya. Di jalanan, orang tahu siapa Sang Naga. Kalau ada yang berani nyentuh barang dengan stiker V-Group, berarti mereka nyari masalah sama ribuan ojek yang ada di belakang saya."

​Salah satu direktur mencoba mendebat. "Ini konyol! Kita tidak bisa mengandalkan preman pasar untuk bisnis triliunan!"

​Guntur menatap direktur itu dengan tajam. "Justru itu kesalahan sampeyan, Pak. Sampeyan terlalu tinggi duduk di kursi empuk sampai lupa kalau bisnis itu jalannya di aspal, bukan di awan. Sekarang pilih, mau barang sampeyan sampai dengan selamat atau mau sok elit tapi rugi miliaran?"

​Mr. Chen tiba-tiba bertepuk tangan pelan. "Menarik. Sangat menarik. Vanesha, pria ini punya 'insting binatang' yang tidak diajarkan di sekolah bisnis mana pun. Saya suka keberaniannya."

​Vanesha tersenyum tipis, dia merasa menang telak. "Jadi, Mr. Chen setuju untuk kontrak kerja sama ini?"

​"Dengan satu syarat," ucap Mr. Chen sambil menunjuk Guntur. "Saya mau pria ini yang memimpin operasional di lapangan secara langsung."

​Guntur langsung garuk-garuk kepala. "Waduh Mr. Chen, kalau saya jadi pimpinan, nanti saya nggak bisa narik ojek lagi dong? Tapi ya sudahlah, demi Mbak Vanesha yang galak ini, saya terima tantangannya."

​Selesai rapat, Vanesha menarik Guntur ke ruangan pribadinya. Begitu pintu tertutup, Vanesha langsung teriak kegirangan. "Guntur! Kamu gila! Kamu baru saja memenangkan kontrak terbesar tahun ini!"

​Guntur santai saja, dia malah mulai melepas jas mahalnya dan hanya menyisakan kemeja putihnya. "Nggeh pun, Bos. Tapi hadiahnya apa ini? Masa cuma ucapan terima kasih?"

​Vanesha mendekat, menatap Guntur dengan binar mata yang berbeda. "Kamu mau apa? Uang? Mobil baru?"

​Guntur menggeleng pelan, dia mengambil rokok kretek dari sakunya (tapi belum dinyalakan). "Saya cuma mau satu hal, Mbak V. Habis ini, ajak saya cari warung bubur ayam yang enak. Saya sudah kangen bau knalpot jalanan, di sini AC-nya terlalu dingin buat jiwa rakyat jelata saya."

​Vanesha tertawa, tawa yang benar-benar lepas. "Oke, Naga Sidoarjo. Kita cari bubur ayam paling enak di Jakarta. Pakai mobil mewah saya, tapi kamu yang nyetir!"

​"Siap, Bos Mak Lampir! Laksanakan!" seru Guntur sambil hormat dengan gaya kocloknya. Hari itu, Jakarta resmi mengenal siapa Guntur sebenarnya. Bukan hanya ojek dari kampung, tapi Naga yang baru saja menelan kesombongan para penguasa gedung pencakar langit.

Vanesha beneran nuruti janjine. Mobil sport mewah werno abang sing regane miliaran saiki disetiri karo Guntur. Tapi jenenge Guntur, gayane nyetir mobil mewah malah koyok nyetir angkot kejar setoran.

​"Guntur! Pelan-pelan sedikit! Ini mobil mahal, bukan motor matic kamu yang remnya blong itu!" teriak Vanesha sambil pegangan erat ke handle pintu.

​Guntur malah asyik ngguyu sambil muter setir nganggo siji tangan. "Walah Mbak V, mobil ngeten iki lak eman nek gak digawe mlayu. Mesine njerit-njerit njaluk digas iki!"

​"Tapi jangan di tengah kemacetan begini juga! Kita mau cari bubur, bukan mau balapan liar!" seru Vanesha maneh.

​Akhire, mobil mewah iku mandeg nang pinggir dalan, nang ngarep rombong bubur ayam sing rame banget. Guntur mudun karo gaya sok elit, padahal kancing klambine wis dibukak telu dadi ketok kaos singlete sing werno putih rada kuning.

​"Mbak, bubur dua! Satu gak pakai diaduk, satunya lagi terserah Mbak Vanesha ini, dia biasanya makan berlian soalnya," bengok Guntur nang tukang bubure.

​Vanesha mudun karo rai sing abang mergo isin dadi pusate perhatian wong-wong nang kono. Bayangno wae, mudun teko mobil miliaran tapi mangane nang kursi plastik pinggir dalan.

​"Guntur, kamu bener-bener ya... semua orang ngelihatin kita!" bisik Vanesha karo lungguh nang kursi plastik sing rada goyang.

​Guntur santai wae, dheweke malah njupuk krupuk nang kaleng. "Mbak V, dadi wong sugih iku ojo kaku-kaku banget. Iki loh bumbu kehidupan sing asli, aroma knalpot campur kecap manis."

​Pas bubure teko, Vanesha nyoba sak suapan. Dheweke meneng sak deg, mripate merem melek. "Kok... enak banget ya? Lebih enak daripada sarapan di hotel tadi."

​Guntur ngguyu kenceng. "Nah, lak bener toh? Lidah sampeyan iku asline lidah rakyat jelata, cuma gengsine wae sing dhuwur koyok monas."

​Vanesha meneng ae, dheweke malah asyik mangan bubure nganti entek resik. Guntur ndelok Vanesha karo mesem tipis, ono roso bangga sithik iso nggarai CEO galak iki dadi "menungso" sedilut.

​"Mbak V, suwun ya wis percoyo karo aku nang rapat mau. Aku ngerti sampeyan asline wedi nek aku nggawe rusuh," ucap Guntur saiki rodok serius.

​Vanesha nyawang Guntur, mripate dadi sayu. "Jujur, saya memang takut. Tapi pas kamu bicara soal 'nyawa' bisnis itu ada di jalanan, saya sadar kalau saya memang butuh orang gila kayak kamu buat jaga V-Group."

​Guntur manthuk-manthuk, terus dheweke njupuk rokok kretek kesayangane. "Nggeh pun, sesuk perang sing asline dimulai. Rian lan komplotane pasti gak meneng wae ndelok kontrak iki dadi nggone awake dhewe."

​Vanesha nyekel tangane Guntur sedilut. "Jangan khawatir, sekarang kamu nggak sendirian. Naga Sidoarjo dan Mak Lampir Jakarta sudah jadi satu tim. Kita lawan mereka bareng-bareng."

​Guntur kaget, tapi terus ngguyu ngakak. "Walah, Mbak V wis gelem dipanggil Mak Lampir saiki? Nggeh wes, ayo balik hotel. Aku wis gak betah nggawe jas iki, pengen ndang sarungan maneh!"

​Malam iku, Jakarta dadi saksi yen ojek sengklek teko Sidoarjo wis siap ngerubah peta bisnis ibu kota. Guntur wis gak wedi maneh karo kemewahan, mergo dheweke ngerti, senajato mangane bubur pinggir dalan, naga tetep wae naga sing iso ngobong opo wae nganggo geni keberanianne.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!